Showing posts with label ROADSHOW. Show all posts
Showing posts with label ROADSHOW. Show all posts

Monday, March 12, 2012

Roadshow SMPN 1 Mojotengah

Monday, March 12, 2012
Jum'at, 10 Maret 2012 Seusai roadshow di MTsN Kalibeber, tim roadshow Matapena langsung bertandang ke SMPN 1 Mojotengah Wonosobo. Jarak tempuh dari MTsN Kalibeber tidak begitu jauh. Misalnya jalan kaki, bisa ditempuh sekitar 20 menit. Hanya saja, medannya menanjak sekitar 50 derajat. Dengan tim yang berjumlah enam orang, sementara kendaraan yang ada cuma satu (motor), terpaksa harus diangkut bertahap. Rupanya, di SMPN 1 Mojotengah para peserta sudah menunggu tim roadshow Matapena. Begitu tim masuk area, peserta yang berjumlah 45 siswa hablur ke ruang kelas. Kemudian acara dimulai dengan sedikit pengantar dari Bapak Wakasek. Setelah itu, sepenuhnya acara diserahkan pada tim roadshow. Muhammad Mahrus mengawali dengan cerita seputar komunitas dan sejarah berdirinya. Di sela-sela penyampaian yang tidak formal

0 komentar

Sunday, March 11, 2012

MTsN Kalibeber Wonosobo

Sunday, March 11, 2012
Sabtu, 10 Maret 2012 Dingin kota Wonosobo sedikit berkurang, kala tim roadshow Komunitas Matapena bertandang ke Kalibeber Wonosobo. Jarak tempuh dari PPTQ Al-Asy'ariyyah yang terajangkau membuat mereka memilih jalan kaki saja menuju MTsN Kalibeber, lokasi roadshow dalam rangkaian kegiatan baru Komunitas Matapena (Bioskop Murah untuk Rakyat). Pertimbangannya sederhana, area pedukuhan dan suasana pesawahan adalah representasi lokalitas bangsa kita. Itu saja. Rombongan tim waktu itu ada Bagi kalian yang kemarin mengikuti Liburan Sastra di Pesatren #7, kalian pasti tau rute tersebut. Kalian melewatinya pada hari kedua malam dari Unsiq menuju PPTQ Al-Asy'ariyyah untuk mengikuti sesi Tahlilan

0 komentar

Friday, February 17, 2012

Al-Falah Jember Membedah MAFIA

Friday, February 17, 2012
Gerbang kuno PP Al-Falah Jember

Hari sudah menjelang maghrib ketika rombongan tim #Roadshow Matapena sampai di PP Al-Falah Jember. Sang ketua Rayon rupanya sudah galau menunggu sejak siang. Katanya, dia sangat kahwatir kami nyasar atau sebagainya akibat jaringan media komunikasi yang (sedang) tidak stabil. Sementara, rute menuju Al-Falah sebenarnya tidak terlalu susah untuk dilacak. Memang banyak cara yang digunakan

0 komentar

Tuesday, February 07, 2012

WC TERPANJANG #ROADSHOW

Tuesday, February 07, 2012

Dia terlahir dengan nama Muhammad Kholil. Nama yang begitu religius dan dahsyat meskipun sudah tidak asing di telinga kita. Tapi, buat Sahabat kita yang satu ini, nama lahirnya tersebut mengalami "evolusi" sedemikian rupa hingga tidak ada satu frase pun yang mengaitkannya dengan nama (popular)-nya sekarang. Sabda, begitulah kini ia disapa. Dia memang bukan siapa-siapa. Pun tidak sombong dengan menganggap dirinya sebagai siapa. Dan Sahabat-sahabat juga gak perlu khawatir, karena dia adalah Sahabat kita. Pernah dia bilang kepada dunia kalau dia ingin menjadi penulis (semoga keinginannya menyubur…). Sama seperti kita.


sekilas MA Zainul Hasan PI

Kali ini, dalam rangkaian #roadshow Matapena ke Jawa Timur, Kang Peppi dkk. bisa singgah dan silaturrahmi dengan Sahabat-sahabat santri PP Zainul Hasan Genggong Probolinggo, berkat konsolidasi Sahabat kita yang satu ini. Ya, Sabda. Tak kurang dari seminggu, Sabda menyampaikan maksud dan tujuan #roadshow ini ke pihak pesantren. Dalam hal ini merujuk pada Bpk. Haqqul Yaqin, S.Fil.I, MA. Beliau adalah kepala Madrasah Aliyah Zainul Hasan. Entah jurus apa yang dipakainya dalam konsolidasi singkat ini sehingga pihak sekolah yakin bahwa dia adalah “anak yang baik”. Lho? Hehe… (mangap, eh, maap, gurau dikit ya...).


Oke, kembali ke cerita.
Sabda, adalah alumni PP Zainul Hasan Genggong Probolinggo yang pertama kali menyambungkan komunikasi dengan pihak sekolah. Wal hasil, tim #roadshow komunitas Matapena disambut hangat dalam forum yang penuh dengan semangat belajar. Baik secara formal, pun kultural. Meskipun kali ini Matapena hanya bisa bermuwajjahah dengan Sahabat-sahabat santri puteri saja. (Semoga santri putera segera…).

Pada sesi pertama, Kang Peppi Al-Ikhtiqom mecairkan suasana dengan gaya khasnya yang memang sedikit berantakan. Terutama jenggotnya… hehe. Tapi biasanya, jenggotnya itu yang membuatnya susah untuk dilupakan orang. Kenapa? Anggap saja mangkelin…!!! (Sekali lagi, maaph. hihihi). Sementara, peserta forum terpesona dengan performanya di depan dengan alat bantu presentasi yang disiapkan panitia. Semuanya oke, pokoknya.


memukau

“Adakah di antara teman-teman yang memiliki jiwa artis…?” tanyanya. Semua peserta hanya bergemuruh, tanpa jawab. “Jika ada,” lanjutnya, “berarti sama dengan saya. Karena saya memang dilahirkan untuk menjadi artis.” Sontak saja peserta terpingkal-pingkal. Ya, begitulah sedikit tentang Kang Peppi. Dia memang dibesarkan di lingkungan artis-artis (pesantren Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta). Dari menjadi seorang teatrawan hingga menyutradarai beberapa pementasan. Termasuk pementasan-pementasan yang diselenggarakan komunitas Matapena di berbagai even. Dan, film pendek berjudul Hadrah Cinta, yang adaptasi dari novel Hadrah Cinta karya Mbak Pijer Sri Laswiji adalah buah karya pertamanya menuju sutradara kawakan. (Semoga, Amien)

Kembali ke Pesantren Zainul Hasan.
Di sana, di luar acara formal, tim #roadshow berkali-kali diingatkan oleh Sabda, bahwa mereka punya WC terpanjang se-Genggong. Karena penasaran, Kang Peppi membuktikan kesungguhan cerita Sabda. Benar saja, Kang Peppi begitu takjub setelah melihatnya secara langsung. Bahkan, untuk mengobati rasa penasarannya itu, dia mencobanya beberapa kali. Hmmmm, gimana ya rasanya? Hehe. Bagi Sahabat-sahabat Matapena yang juga penasaran, silakan sesekali berkunjung ke sana, dan buktikan sendiri. Tapi itu di asrama putera. Kalo di puteri sama gak ya? Nah, kalau itu, mari tunggu lewat novel-novel yang bakal ditulis Sahabat-sahabat kita di sana. Setujaaaa?!!


seorang peserta yang naskahnya kini dalam proses pembacaan kepala sekolah
dan segera, akan dikirim ke komunitas matapena

Terakhir yang sempat terekam dari Zainul Hasan, adalah harapan panitia akan kunjungan Matapena di lain waktu dan kesempatan. Mereka ingin ada ikatan silaturrahim yang kuat sehingga teman-teman yang lain, yang belum berkesempatan mengenal Matapena secara langsung, pada saatnya mendapat kesempatan tersebut. Nah, jika demikian, silakan teman-teman mengkoordinir yang lain untuk bergabung dengan komunitas Matapena. Sederhananya, teman-teman nantinya akan semakin bertambah kenalan dari berbagai penjuru Jawa, dan kelak se-Nusantara. Dalam rangka menghidupkan tradisi kepenulisan dan sastra pesantren. Dimana secara keseluruhan dibingkai dalam SANTRI INDONESIA MENULIS.[MF

3 komentar

Wednesday, February 01, 2012

DI MALANG TAK MALANG

Wednesday, February 01, 2012
Roadshow Komunitas Matapena kali ini mengambil secara acak di beberapa daerah di Jawa Timur. Titik pemberangkatan awal berlokasi di Malang, tepatnya di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I Gondanglegi Malang. Menurut informasi dari Kang Mahbub Djamaluddin, Raudlatul Ulum Gondanglegi termasuk dari tempat yang dikunjungi Matapena pada Roadshow gelombang pertama, kira-kira pada pertengahan tahun 2007. Di sana pula awal kali Matapena melakukan workshop selain di beberapa pesantren. Ada sejumlah anggota dari Raudlatul Ulum Gondanglegi yang ternyata samapai saat ini masih menetap. Kesemuanya adalah santri puteri.


Di Raudlatul Ulum, kunjungan Matapena kali ini diisi dengan bedah novel MAFIA THREE IN ONE karya Muhammad Mahrus, santri pesantren tersebut yang kini tinggal di Yogyakarta. Acara digelar pertama kali di komplek puteri dengan dihadiri hamper seluruh penghuni asrama puteri. Antusiasme santri puteri begitu hebat menjamu tim roadshow sewaktu forum berlangsung. Barangkali karena buku yang dibedah adalah buah tangan santri sana sendiri. Tampaknya, mereka juga ingin suatu ketika, karya mereka juga akan diapresiasi semacam itu.


Dari raut muka mereka, ada banyak yang ingin diutarakan. Entah dalam bentuk curahatan, tanggapan, pertanyaan, dan sebagainya. Sayangnya, mau atau tidak acara mesti dibatasi. Pun, acara yang dimulai sejak selepas isya’ itu berakhir sekitar jam setengah dua belas malam. Ya… barangkali harus diadakan di lain waktu lagi. Kan tinggal mereka yang menentukannya. Iya, to?


Di malam berikutnya, acara digelar di aula putera. Pesertanya tak kalah banyak, sih. Tapi rata-rata mereka lebih memilih diam. Beda dengan yang puteri. Di sisi-lain, kebanyakan dari santri putera di sana memang relatif masih kecil. Ketika bedah novel berlangsung, sebagian dari mereka cuma bengong. Bisa jadi karena memang mereka nggak nyambung dengan tema diskusinya. Wah, sayang sekali. Tapi setidaknya, beberapa dari mereka yang nyambung masih bisa menghidupkan forum. Bahkan, sebelum acara diakhiri, mereka minta diputarin film pendek produksi Matapena; HADRAH CINTA.[MF]

0 komentar

Friday, March 27, 2009

Sungguh, Malam Yang Bergairah!

Friday, March 27, 2009
Jalanan desa jejeran wonokromo pleret bantul yogyakarta memang lengang jika sudah memasuki waktu awabain (red: di antara maghrib dan isya’) namun sahut menyahut suara orang mengaji quran serta ustadz atau kiai membalah kitab membuat suasana hidup dalam gairah belajar tiada henti.

Satu dua kendaraan bermotor lewat. Disusul satu dua sepeda. Semua penumpangnya mengenakan peci dan bersarung. Saya dan Irawan Fuadi (anggota komunitas matapena nurul ummah), pelan mengendarai sepeda motor. Kira-kira 20 km/jam. Dari jalan imogiri barat selatan pasar wonokromo, kita ambil jalan ke timur. Sekitar 200 m baru ke selatan mengikuti jalan tanah dan di kiri jalan kira-kira setelah 100m, kami berhenti di depan asrama putri PP Fadlun Minallah komplek Halimatus-sa’diyah. Di sana kami disambut oleh Mas Yasin, salah satu ustadz pondok yang teranyata adik kelas saya di UIN Sunan Kalijaga Pendidikan matematika.

Setelah pukul 8.30, kami bertiga menuju komplek putra untuk melangsungkan acara. Ada sekitar 20 santri putra dan 30 santri putrid yang mengikuti acara ‘yuk nulis yuk bareng komunitas matapena’. Peserta diikuti oleh peserta dari umur 13 hingga 25 an. Mulai dari usia SMP hingga kuliah semester 6.

Acara dimulai dengan MC mbak Wasilatur Rahmah yang membuka dengan basmalah bersama, lalu sambutan oleh lurah pondok kang Ari Wibowo.
“nulis…” kata MC.
“yuuuukkkk….,” sambut audien.
Sungguh malam yang meriah di dusun yang penuh gairah ini.

Setelah dipersilahkan, saya mulai mengajak teman2 santri melakukan penggalian kemampuan menulis yang selama ini masih tersimpan rapi di dalam hati. Dengan sedikit permainan interaktif, acara menjadi lebih hidup malam itu. Beberapa santri; Siful, Ahsan, Mira, Shidiq, dan lainnya membagi hasil karya fiksi ‘dua menit’nya. Ada yang lucu, ada yang sedih, ada pula yang romantis. Disusul Fuad yang membagikan pengalamannya menjadi anggota komunitas dan prosesnya menulis novel. Sekitar satu jam kemudian, kita mulai sesi dialog.

Dalam dialog diketahui ternyata ludah banyak yang punya hobi menulis, baik puisi, cerpen bahkan bakal novel. Ada Resti, Nayla, Farid, juga mahmudah yang sharing ide dan pertanyaan. Selanjutnya mas Ari wibowo, pak lurah pondok, tunjuk tangan paling akhir. “Saya harap kegiatan ini masih akan berlanjut bukan hanya sampai di sini. Banyak sebenarnya santri yang punya hobi dan keinginan serta kemampuan menulis, namun semua masih tak tahu mau diapakan tulisan itu. Dengan adanya pendampingan dari komunitas matapena ini semoga kemampuan habit itu bias menjadi lebih hebat lagi di masa datang.”
“Amien, jawab saya lirih.

Sungguh, pondok di tengah dusun asuhan Kiai Khatib Mashudi K ini sangat nyaman dan bergairah. Pukul 22.10 menit saya dan Fuad meninggalkan tempat asri itu. Dan seolah ada satu yang tertinggal di sana: rindu!

0 komentar

Thursday, March 26, 2009

Olala, Resmi-Phobia!

Thursday, March 26, 2009
PP Darun-Najah Jakarta Selatan
15 Maret 2009
oleh Mahbub Dje


Meski sudah janjian pukul 15.00, kenyataannya kami baru dijemput bakda ashar, sekitar pukul 17.00. Sebelumnya, kami harus menyamakan persepsi dulu dengan Zaki Zarung, mengingat sebelumnya terdapat sedikit kesalahpahaman. Setelah terjadi negosiasi, akhirnya kami berangkat bersama. Seperti kemarin, kami menjemput Restu di depan UIN. Sementara Restu datang, Zaki menemui sahabat lamanya, dan melobi dia untuk ikutan roadshow. Sebab, memang agenda hari itu adalah roadshow. Mungkin sekitar 10 menit, dan dari depan UIN, di saat maghrib mulai menggantung, kami meluncur menuju Darun Najah.

Hari itu minggu sore, dan jalanan lumayan lancar. Memang, selancar-lancarnya Jakarta, masih saja ada yang macet. Di beberapa ruas jalan, terutama di beberapa kilo sebelum Darun Najah, kemacetan terjadi. Iring-iringan kendaraan bergerak seperti semut. Seorang relawan—ah, benarkah ia relawan?—berdiri di tengah pertigaan, berusaha mengatur lalu lintas yang padat. Saat melewatinya, sopir kami membuka kaca jendela dan memberikan selembar uang seribuan untuknya.

Satu tarikan gas, mobil pun sampai di depan pintu gerbang pesantren. Perlahan, mobil memasuki pelataran pesantren. Luas sekali. Dan gelap. Tampaknya mati lampu. Hanya masjid berlantai dua itu yang kelihatan benderang. Santri besar kecil terlihat hilir mudik. Mobil berhenti di samping masjid, dan kami pun turun.

Kang Slamet langsung beraksi. Dengan baju seragam hitam-merahnya, ia segera menelpon panitia lokal. Ternyata, yang ditelepon sudah berada di depan masjid. Dari remang-remang, lelaki itu muncul dan menyalami kang Slamet. Kemudian, kami diajak ke tempat penerimaan tamu. Lilin menyala di meja-meja. Beberapa gadis cantik (cantik, sebab remang-remang—entah kalau terang) terlihat mempersiapkan minuman dan ube rampenya. Ustadz Masruin yang kemudian banyak menemani kami. Dia masih muda. Kutaksir, usianya sekitar 25-an tahun. Alumni pesantren Gontor yang asli Pemalang ini, beberapa saat kemudian mempersilakan kami pindah tempat duduk; ke meja makan. Wow, baik banget.

Yup, ternyata sate dan sop segar sudah menanti kami. Kang Slamet, Mas Dani, Zaki, dan teman-teman lain masih malu-malu. Aku malah berlagak jadi tuan rumah, mempersilakan mereka, mengajak Ustadz Masruin untuk turut serta menemani. Diselingi ngobrol ringan, kami pun menikmati makan malam yang segar dan romantis itu. Aku katakan romantis sebab lilin-liln menyala, dan pembicaraan yang hangat demikian asyik mengalir seakan kami sudah begitu dekat. Wah-wah-wah.

Sambil menanti listrik hidup, dilatari oleh suara-suara santri dari arah masjid, kami berbincang banyak hal. Mulai dari pengalaman hidup Ustadz Masruin di Gontor hingga hukum rokok di pesantren. Kisaran 20 menit kemudian, acara siap dimulai. Kami pun diajak ustadz Masruin ke tempat acara; sebuah aula besar terbuka di belakang masjid. Dari jauh, aku sudah keder dulu melihat tatanan ruangan yang begitu resmi. Kursi berjajar dibagi dua kelompok. Panggung setinggi setengah meter melebar di depan. Meja yang tinggi tertulis ‘pemateri’; ‘moderator’, aqua botol dan gelas-gelas bening ala pesta bergaya Eropa. Ah, resmi sekali. Kayak sarasehan aja.


Kami duduk di shofa bagian paling depan. Tempat duduk vip, sebab para peserta duduk di kursi plastik ala mantenan. Lalu acara dimulai. Kulihat arloji di hp-ku sudah menunjukkan pukul 20.00 ketika seorang santri naik ke mimbar, menjadi MC sekaligus membuka acara dengan resminya. Lalu pembacaan ayat suci al-Qur’an. Hm, resmi sekali. Untung gak pake sambutan segala. Sebab, MC langsung menyerahkan forum ke kami.

Kemudian, Zaki menyerahkan forum kepadaku. Aku mengajak para audiens merenungkan kembali tentang pentingnya kepenulisan. Kubuka dengan kata-kata sayyidina Ali, “Al-‘Ilmu Shoid wal-kitabah qayyiduh.” Lalu kuajak peserta menyelami, bagaimana nasib ummat islam jika al-qur’an tidak dituliskan. Bagaimana kalau hadits-hadits dan kitab-kitab keagamaan tidak dibukukan. Ilmu umat Islam tentu habis terkikis. Milan Kundera bilang, “Jika kamu ingin menghancurkan peradaban suatu bangsa, hancurkanlah buku-bukunya.” Maka, lihatlah bagaimana mundurnya peradaban Islam ketika buku-buku umat Islam dibakar dan dihanyutkan oleh Hulagu Kan saat Baghdad kalah perang. Setelah aku cukup, Restu masuk. Seperti biasa, Restu memberikan teori singkat kepenulisan novelnya. Menulis novel harus ‘tanpa kepala’. Perasaan, jiwa, tumpahkan saja. Lalu setelah selesai, baru dikoreksi ulang, kalau perlu cari teman sebagai pembaca pertama.


Pada sessi berikutnya, acara tanya jawab pun digelar. Sesudah dirasa cukup, Zaki kembali membawa audiens untuk mempraktikkan cara praktis menulis. Zaki meminta audiens menuliskan 4 kalimat dialog antara dua tokoh. Kemudian beberapa voulentir dari peserta membacakannya. Setelah dirasa cukup, Zaki meminta peserta memperbaiki tulisannya dengan menambahkan setting dan narasi. Dan, jadilah tulisan itu lebih baik dan lebih enak dibaca. “Nah, gampang kan bikin novel?”

Pada sessi ketiga, pembaca diajak mengenal lebih jauh tentang matapena, bagaimana cara-cara menjadi anggota komunitas, dan pengumuman bahwa Ustadz Masruin adalah koordinator pendaftaran. Lalu zaki menyerahkan acara kepada MC kembali. Kulihat ustadz Masruin dipersilakan memimpin doa ketika hp-ku menunjukkan pukul 21.59. Setelah doa, kami bertiga—Zaki, aku, Restu—dikasih kenang-kenangan dari Darun Najah. Tas kertas berisi kalender Darun Najah, CD profil, dan leaflet profil pesantren. Kami pun berpamitan.


“Bagaimana Kang Slamet?” tanyaku ketika mobil perlahan menyusuri pelataran pondok. “Alhamdulillah.” “Alhamdulillah piye?” “Suksess... sing penting kan acara sukses. Kalau masalah dagangannku, tak usah terlalu dibahas...”


Aku tahu apa maksud Kang Slamet, dan tak pernah bertanya lagi. Menikmati perjalanan, ataupun ngobrol santai, lebih nikmat untuk dilakukan daripada ngobrol serius apalagi ngobrol resmi kayak tadi.[]

0 komentar

Wajah-wajah Polos Itu

Catatan Silaturahmi Komunitas Matapena ke PP Darur Rahman Jakarta Selatan
14 Maret 2009
oleh Mahbub Dje
Aku keluar dengan tergesa-gesa. Beberapa kali, zaki maupun isma sudah memanggil lewat miscall mereka. Pas dhuhur tadi, kami memang sudah janjian akan ketemu di pelataran hotel Syahida. Dari kaca jendela, seraya menunggu pintu lift terbuka, kulihat rerintik hujan sudah membasahi aspal dan dedaunan. Ah, malas sekali kalau menjadi lebat rasanya. Berdoa semoga tak bertambah deras, kulangkahkan kaki ke dalam lift dan turun ke lantai I. Keluar dari lift, aku berlari. Lama nggak berlari. Sudah lama nggak menggerakkan tubuh. Bu Taka bilang, jika tubuh lelah dan bosan, sewaktu-waktu bergeraklah. Tapi belum lagi sepuluh langkah berlari, kudengar klakson mobil itu, dan seorang perempuan turun ketika aku menengok, dan melambaikan tangan. Aha, Isma rupanya. “Ayo cepet!” katanya dengan mimik yang memelas dan tekanan manjanya. “Dienteni, je!” Tanpa komentar, aku masuk langsung ke mobil. Menyalami para muka asing yang kemudian kuketahui sebagai teman-teman LKiS wilayah barat. Setelah menarik nafas sehembusan, barulah kusadar bahwa Isma malah keluar. “He, mau ke mana?” “Aku nggak ikut.” Lalala ola ... Btw, the show must go on! Kami pun menembus belantara jalan raya jakarta. Digempet bus kota, dikeroyok sepeda motor. Bergerak menuju PP Darurahman. Aku tidak menghitung waktu. Di jalan, aku lebih banyak tertidur daripada melihat waktu. Yang kutahu, tiba-tiba mobil melambat, memasuki sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui satu mobil, dan di ujungnya terdengar hingar-bingar speaker. Tampaknya, acara dibuat gedhe-gedhean, pikirku. Waktu maghrib hampir habis ketika kami menginjakkan kaki di Darurahman yang megah itu. Kang Slamet segera melenggang, mengerjakan tugasnya. Mencari panitia setempat. Sementara aku, zaki, dani plus temannya, dan restu, duduk menunggu di emperan. Sesekali bercengkerama. Atau melihat cewek-cewek cantik sekadar cuci mata. Kang Slamet datang. Tapi acara belum segera dimulai. Terpaksalah kami menunggu lebih lama lagi. Bagiku, Darurahman adalah pesantren yang unik, khususnya dilihat dari setting bangunannya. Gedungnya berbentuk segiempat, ruang-ruangnya saling berhadapan dengan ruang kosong di tengahnya. Di ruang kosong seukuran lapangan sepakbola ini, mobil-mobil diparkir. Suasana menjadi makin megah karena ruang kosong yang dikelilingi gedung berlantai tiga ini ditutup oleh atap mahabesar, dengan lampu-lampu terang di ujung-ujungnya seperti bulan kembar empat yang memerakkan bumi. Malam itu, seakan siang di sana. Tampaknya, hanya ada satu akses jalan keluar pesantren, yaitu jalan sempit seukuran mobil lebih sedikit yang sekarang kami tongkrongi. Santri-santri berhilir mudik, dan beberapa kali mobil keluar masuk. Kami menikmati kebosanan kami. Sebab, ternyata yang hilir mudik tak Cuma santri, tapi juga orang-orang umum yang entah siapa: Orang tua dengan anak-anaknya, cewek tak berjilbab dibonceng cowok keren, anak-anak kecil tanpa peci tanpa sarung. Dan di sini, kecurigaan kami membengkak perlahan. Mungkinkah suara hingar bingar itu bukan diperuntukkan bagi acara kami? Siapakah mereka yang hilir mudik tanpa kostum santri ini, dan dengan tujuan apa? Kecurigaan kami berbuah benar. Setelah mengorek keterangan, ternyata kami harus termangu. Ada acara hajatan di tetangga pesantren. Ah, mungkin bukan tetangga pesantren; mungkin masih kerabat pesantren.
***
Acara dimulai pukul 20.00, di lantai II. Kang Slamet dan baladewanya sudah menggelar buku-buku di luar. Zaki masuk, mengomando dan mengajak audiens berdiri. Bernyanyi “Kalau kau suka hati tepuk tangan ...”. Aku dan Restu masih di luar, berusaha mendengarkan suara Zaki yang—dari arah kami—kalah keras dari hingar bingar shalawatan modern yang bergemuruh dari samping pesantren, dari arah acarah hajatan itu. Kuamati wajah-wajah itu, wajah-wajah polos yang masih suci dari dosa. Tampaknya mereka masih kelas 1 atau kelas 2 SMP. Kuhitung acak, sekitar 60 anak. Putra-putri hampir seimbang. Kulihat lagi, satu deretan putri yang paling depan tampak lebih dewasa. Mungkin mereka berusia SMA-nan, dan jumlah mereka hanya 6 anak. Nantinya, akan kulihat bahwa merekalah yang paling antusias daripada yang lain; mungkin karena usia? Aku masuk forum setelah Zaki mempersilakan. Juga Restu. Kami duduk di depan dan Zaki mulai mengajak peserta bermeditasi. Setelah cukup, aku berbicara. Aku turun dari kursi dan menjemput mereka. Tapi, terus terang, suara bising di luar itu bikin konsentrasiku buyar. Aku berusaha konsisten menggali motivasi kepenulisan mereka. Meski aku nggak tahu, apakah pesan sampai atau tidak. Wajah-wajah mereka yang polos—bahkan terkesan tanpa ekspresi—membuatku agak pesimis. Meski demikian, alhamdulillah semua unsur-unsur negatif itu dapat kutampik, walau agak kecewa karena antusiasme audiens tergolong rendah, terlihat dari respon dan partisipasi mereka yang kurang baik. Lalu Restu masuk. Dengan gaya khasnya, Restu mengajak audiens kepada cara-cara praktis menulis novel. Restu bilang, saat menulis novel, seseorang harus menghilangkan pikirannya. Ia harus menulis dengan hati, menumpahkan seluruh isi jiwanya ke dalam kertas. “Meski tidak nyambung, tidak apa-apa. Teruskan sampai selesai. Baru setelah selesai, kemudian diedit lagi.” Bahkan, Restu mendiktekan point-point praktis menulis novel, lalu mengetes audiens dengan tanya jawab. Meski agak bergaya ‘guru’, beberapa kali audiens merespon juga dengan lumayan baik. Setelah Zaki masuk lagi dan sessi pertanyaan digelar, juga setelah cuap-cuap tentang komunitas matapena, acara diakhiri pada pukul 21.55.
***
Pasca acara, sambil menunggu Kang Slamet mengemas barang-barangnya, kami berbincang-bincang dengan santri senior di sana. Bincang-bincang tidak resmi, sebab masing-masing dari kami mendekati orang yang berbeda. Setelah berpamitan, kami pun melenggang. Penat-penat, dan dah ngantuk. Mobil pun menjadi media yang paling nikmat menumpahkan mata berat ini. Nyaris tanpa perbincangan, setelah mengantar restu di depan UIN, kami sampai di Syahida Inn pukul 23.45. Kepala pening dan mata ngantuk itu terkurangi ketika sekelebatan wajah para santri Darurahman yang polos itu kembali terbayang. Ah, semoga dari sana, dari wajah-wajah polos itu, kan lahir karya-karya yang berkarakter. Amin.

105 komentar

Friday, February 22, 2008

Apa yang Harus Aku Tulis?

Friday, February 22, 2008

Ini pengalamanku beberapa hari yang lalu, ketika aku bareng Hilma berkesempatan mengikuti roadshow penulis ke beberapa pesantren di Mranggen Demak. Antara lain, Pesantren Ki Ageng Giri, Pesantren Al-Amin, SMA Mambaul Ulum, SMA Ma'arif Nggablok, dan Pesantren Mansya'ul Huda. Kalau dihitung-hitung, kali ini adalah perjalanan keduaku bersama Hilma, penulis novel Jadilah Purnamaku, Ning.

Jumlah pesantren di Indonesia memang ribuan. Ini sudah jelas. Tapi, kalau semua pesantren bisa dijangkau dengan mudah karena lokasinya di perkotaan misalnya, tunggu dulu. Karena setelah beberapa kali roadshow, justru kami selalu terdampar di sebuah pesantren yang posisinya hampir-hampir di ujung kota. Melewati jalan berkelok dengan medan yang bisa membuat kita bergoyang ke kiri ke kanan. Bukan jalan beraspal tentunya. Kalaupun beraspal, dijamin sudah berlobang dimakan air, usia, atau gilasan roda.

Tapi, ibarat Lintang dalam Laskar Pelanginya Andrea Hirata, di tempat yang terpencil dan hampir tak terjamah itu, pasti selalu ada mutiara. Kadang sudah terlihat dan tinggal mengaisnya. Tapi, sering kali butuh ketelatenan dan kerja keras untuk membuatnya menjadi mutiara. Oleh kita yang tahu kalau sesuatu itu adalah mutiara, atau oleh si calon mutiara itu sendiri.
"Mbak, aku ingin sekali jadi penulis," ungkap seorang siswi SMA Ma'arif di Nggablok. Hai, nama kampungnya saja terdengar aneh bukan?
"Bagus. Kamu tinggal selalu berlatih."
"Tapi, saya tidak punya bakat."
"Percayalah, bakat itu hanya 1%. Sisanya, 99% adalah kemauan dan latihan."
"Mmm... tapi, apa yang harus saya tulis, Mbak?"

Sampai di sini aku menoleh ke arah Hilma. Kalau pertanyaannya adalah bagaimana menuliskan gagasan yang sudah ada di kepala, bagaimana memulai dan membuat ending... masih bisa aku jelaskan. Tapi, kalau yang ditanyakan apa yang harus saya tulis? Hm... agak susah menjelaskannya. Karena pertanyaan ini sangat mendasar. Katakanlah sangat berkaitan dengan latar belakang sebuah tulisan meng-'ada'.

"Kalau kamu ingin berdakwah, maka tulislah petuah-petuah agama dan bunyi-bunyi serta kandungan ayat-ayat kitab suci. Kalau kamu ingin berbagi perasaan, tuliskanlah apa yang tengah kamu rasakan, sudah kamu rasakan, dan pernah kamu rasakan. Kalau kamu ingin menyuarakan nasib rakyat jelata, tuliskan saja pengalaman hidup para petani yang selalu tertindas, para pengamen dll. Kalau kamu ingin menawarkan gaya hidup baru remaja, tuliskan saja gaya hidup asyikmu di pesantren..."

Jadi teman, rasakan dulu kegelisahanmu... jika ingin menulis...

1 komentar

Tuesday, June 26, 2007

ROADSHOW MATAPENA
KE PESANTREN WONOSOBO
Selasa-Rabu, 19-20 Juni 2007

Tuesday, June 26, 2007


Oleh Pijer Sri Laswiji

Selasa pagi tanggal 19 Juni 2007, tepatnya jam 05.30, setelah shalat shubuh sebelum matahari terbit, sebuah mobil box yang dikemudikan Pak Affandi berhenti di depan masjid Al-Faruq PP Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta.

"Itu apa ya mobilnya?" gumamku sembari berjalan mendekati mobil. "Pak Pandi ya?" tanyanya kemudian, karena masih agak gelap sehingga mata tidak bisa melihat dengan jelas.
"Sudah siap, Mbak Pijer?" sahut yang ditanya.
"O iya, Pak. Bentar, aku ta'ijin dan pamitan dulu sama teman-teman."

Begitulah, perjalanan roadshow ke Wonosobo dimulai. Aku, ditemani Pak Affandi, bagian pemasaran LKiS berangkat dari Yogyakarta jam 05.30 dengan mobil box yang dipenuhi kardus buku-buku LKiS. Perjalanan pagi yang sejuk menyusuri jalanan pegunungan yang berkelok-kelok dan naik turun namun penuh pemandangan hijau. Dua setengah jam kemudian tibalah di desa Munggang, kecamatan Mojotengah Wonosobo.

"Uli, kita sudah sampai nih, sekarang di depan Masjid Munggang. Kamu sini dong, aku nggak tahu rumahmu!" seruku via handphone.
Beberapa detik kemudian, muncullah Uli Maftukhah, pengarang novel Blok I dengan wajah hingar bingar menyambut. Ia segera mengajak aku dan Pak Pandi singgah di rumahnya.

Aku dan Pak Pandi bisa beristirahat agak lama di rumah Uli, karena ternyata acara bedah novel Blok I dimulai jam 10.00 WIB. Bahkan, kami sempat kenalan dan ngobrol dulu dengan beberapa panitia acara Bedah Novel tersebut yang ternyata teman-teman "gengnya" Uli. Kalau tidak salah namanya "Laskar Oneng"! Ada Fariq, Mudrikah, Jo, dan Erna. Mereka adalah para supporter Uli sehingga sukses menyelesaikan novel Blok I.


BEDAH NOVEL "BLOK I" DI SMU TAKHASUS PP AL-ASY'ARIYAH, KALIBEBER, MOJOTENGAH WONOSOBO
Selasa, 19 Juni 2007


Matahari belum juga menampakkan wajah kuningnya karena mendung begitu rata meliputi langit Wonosobo. Bahkan diiringi rintik gerimis, mobil box yang ditumpangi aku, Uli dan Pak Pandi memasuki kawasan PP Al-Asy'ariyah. Sepertinya, acaranya lumayan besar, karena dari luar tampak ramai para siswa berseragam SMU dan terdengar lantunan lagu-lagu hadrah menyambut kedatangan.

Dan benar, acara yang dilaksanakan di aula yang luas itu terkesan resmi dan penuh persiapan. Tampak Background di tengah-tengah aula bertuliskan, "BEDAH NOVEL BLOK I, REVITALISASI RELIGIUSITAS DALAM REKONSTRUKSI MORAL DAN NALAR REMAJA. PENYELENGGARA: PMII KOMISARIAT AHIMSA UNSIQ & IPNU-IPPNU KOMISARIAT HASYIM ASY'ARI"

"Wuih, serius nih, temanya aja ada 'sasi-sasi'nya!" batinku sambil berpikir memaknai arti tema yang tertulis di background tersebut. Apalagi ketika Bapak Kepala Sekolah dan beberapa Dewan Guru rawuh dan duduk di kursi paling depan. Sepertinya Novel "Blok I"nya Uli memang mendapat respon yang bagus dari almamater SMU-nya.

"Novel Blok I ini meskipun seperti catatan harian biasa tetapi kita bisa membaca dan belajar dari kisah-kisahnya. Bagaimana cara mencari ilmu seorang santri dan sebagainya," kata pak Kepala Sekolah dalam sambutannya. Dia juga berharap kelak dari santri-santri PP Al-Asy'ariyah juga ada penulis baru lagi menyusul Uli.

Setelah seremonial, Bedah Novel yang dipandu oleh seorang moderator itu dimulai. Uli Maftukhah sebagai penulis didampingi Mas Fasikhul Ihsan sebagai pembahas. Uli menyampaikan sekilas tentang novel Blok I, tentang tokoh, setting, tema dan pesan yang ingin disampaikan dalam tulisannya.

"Orang mengira Renata dalam novel Blok I ini adalah penjelmaan dari saya," ucapnya di tengah-tengah presentasinya. Tapi menurutnya, meskipun dia memang pernah mondok dan nyantri di Blok I Pondok Pesantren Al-Asy'ariyah, dia bukan Renata. Uli hanya menuliskan beberapa pengalamannya tinggal di pesantren yang diramu dengan khayalannya tentang kehidupan Renata.

"Banyak yang bisa digali dari Pesantren dan diceritakan lewat novel sehingga hampir seperti realita," kata Mas Ihsan saat menyampaikan komentarnya terhadap novel Blok I. Sebagai pembahas, ia juga memberikan wawasan-wawasan tentang pesantren dan sastra santri.

Acara semakin semarak ketika dibuka forum dialog dengan dua termin pertanyaan. Pada termin pertama dan kedua, sebenarnya banyak peserta yang ingin menyampaikan pertanyaan. Tetapi karena hanya ada 5 novel Matapena sebagai doorprize, yaitu 3 novel Blok I karya Uli dan 2 novel Kidung Cinta Puisi Pegon karyaku, akhirnya moderator harus membatasi dan hanya memilih 5 orang penanya.

Mereka cukup antusias menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kepada Uli dan Mas Ihsan. Pertanyaan seputar novel Blok I, pengalaman Uli yang menarik dalam novel, bagaimana meramu budaya pesantren dengan budaya populer sehingga menjadi sebuah novel dan bagaimana sistem di pesantren ketika menyikapi perkembangan teknologi.

Bedah Novel selesai jam 13.00 WIB. Sebelum acara ditutup, aku maju ke mimbar untuk menyosialisasikan Matapena dan Komunitas Matapena. Dan ternyata, responnya cukup bagus. Beberapa peserta sudah ada yang mendaftar saat prosesi 'fans minta tanda tangan penulis'. Untuk selanjutnya, aku mengalihkan tugas pengumpulan data pendaftar anggota Komunitas Matapena itu kepada Uli.


MUHIBAH KE PP AL-MUBAROK,
MANGGISAN, MOJOTENGAH WONOSOBO.


Dari SMU Takhasus, rombongan kembali ke rumah Uli untuk beristirahat dan makan siang sambil menunggu jeda waktu untuk menuju PP Al-Mubarok Manggisan. Saat jam menunjukkan pukul 15.00, aku dan Uli yang baru bangun dari qoilulah (tidur siang) segera bersiap-siap karena pukul 16.00 harus sudah sampai di PP Al-Mubarok.

Aduh, hari memang lagi sejuk dan dingin, apalagi diiringi rintik hujan. Mobil box yang dikemudikan Pak Affandi sempat bolak-balik di jalan karena lupa pertigaan mana yang dilewati untuk menuju ke PP Al-Mubarok. Namun setelah akhirnya Uli memutuskan untuk turun dari mobil sejenak dan bertanya, terbukalah petunjuk jalan menuju tempat tujuan.

Nah, akhirnya rombongan sampai juga ke PP Al-Mubarok dengan masjid, asrama pesantren, dan menaranya yang tinggi. Suara riuh gaduh, sedikit cuap-cuap dan 'suit-suit' terdengar dari asrama santri putera yang berada di bagian samping depan ndalem Pak Kiai ketika Pak Pandi yang diiringi Uli dan aku menuju ndalem untuk 'kulonuwun'. Rombongan disambut oleh Bapak K.H. Nur Hidayat dan Ibu Nyai di ruang tamu ndalem. Pak Affandi segera 'matur' tentang maksud kedatangan rombongan Matapena, meskipun sebelumnya, pihak Matapena sudah menghubungi dan konfirmasi tentang kunjungan dan muhibbah tersebut.

Awalnya, mental Uli dan aku hampir surut ketika melihat roman muka dan tanggapan pak kiai. Ada semacam 'tawar-menawar' sejenak tentang acara tersebut. Bapak K.H. Nur Hidayat mengatakan bahwa dia dan santri-santrinya lebih suka buku-buku ilmiah keislaman, bukan 'novel'. Karena menurutnya 'novel' itu hanya seperti 'catatan harian'. Dia juga memberikan gambaran tentang santri-santrinya sehingga merasa kurang yakin jika sore itu acaranya bisa diikuti sebagian besar santrinya, terutama putra.

"Pembicaranya dua gadis yang masih 'kinyis-kinyis' ini?" ucap Pak Kiyai sambil tertawa. "Wah, kalau misalnya lebih tua sedikit begitu saya berani membawa mereka ke hadapan santri-santri saya," lanjutnya.

Begitulah pak kiai memberikan alasan. Karena di pesantren tersebut, intensitas bertemunya santri putra dan santri putri memang sangat terbatas. Sehingga dikhawatirkan dalam acara nanti justru tidak serius, tapi malah jadi 'gojlogan'. Wah, sebenarnya aku tidak gentar dengan penggambaran tersebut, tapi menurut Pak Affandi mereka harus menghormati 'tradisi lokal' pesantren. Akhirnya, acara dilaksanakan di pondok putri dan hanya diikuti para santri putri yang berjumlah kurang lebih 50 orang.

Di ruangan yang kira-kira berukuran 5x6 meter itu, para santri putri sudah duduk bersimpuh. Mereka begitu 'anteng' dan khusyuk saat Pak K.H Nur Hidayat memberikan pengantar sejenak. Wajah-wajah mereka tertunduk, tidak ada yang berani mengangkat wajah. Setelah pak kiai "miyos" dari ruangan, aku dan Uli dipersilahkan untuk maju dan memulai acara.

Aku yang mendapat kesempatan pertama untuk berbicara, menyampaikan salam kenal dari Matapena. Memperkenalkan novel-novel pop pesantren sebagai genre baru dan bacaan santri serta memprovokasi mereka untuk mengembangkan sastra pesantren. Selanjutnya, giliran Uli yang berbicara, ia beruasaha membangkitkan semangat santri dalam dunia tulis-menulis. Uli juga sedikit membagi pengalaman menulisnya pada Novel Blok I.

Suasana agak sedikit kaku. "Diniyah banget!" batinku ketika menyaksikan para santri yang semuanya membawa buku tulis dan bolpen, mencatat materi yang diberikan pembicara seperti mencatat pelajaran. "spaneng". Bahkan ketika aku menjawab pertanyaan Opi, salah satu santri yang menanyakan bagaimana cara memulai dan menyelesaikan novel, mereka minta didekte ulang tentang '5 W 1 H".

Maklum, mungkin acara seperti itu masih jarang dilakukan di pesantren. Santri kelihatan masih pasif. Saat dibuka termin dialog, mereka masih malu-malu untuk bertanya. Tapi sebenarnya, bakat menulis mereka justru bisa dikembangkan dari hal tersebut. Mencatat pelajaran. Selain Opi, Arini juga bertanya tentang bagaimana novel yang baik, dan dijawab aku, "Novel yang baik adalah novel yang selesai dan bermanfaat".

Acara dialog dan temu penulis Matapena tersebut hanya berlangsung sebentar karena azan maghrib sudah berkumandang. Aku dan Uli segera menutup acara. Setelah itu mereka keluar dan langsung memburu bazar buku. Beruntunglah punya teman seperti teman-temannya Uli yang senantiasa membantu dan mendukung. Karena Pak Affandi tidak diperkenankan masuk ke kawasan pondok puteri, akhirnya staf 'badal' anggota "laskar"nya Uli, yaitu Mudrikah, Erna dan Jo yang menggantikan Pak Affandi mengurus Bazar Buku.

Sambil menunggu prosesi jual beli buku, aku, Uli, Mudrikah, Erna dan Jo bergantian shalat magrib. Setelah itu kami dipersilahkan untuk menikmati hidangan di ruang makan ndalem dulu. “Terima kasih, Pak Kiai. Suguhannya enak!” Jam 06.15 WIB, kami pamitan kepada Bapak Kiai dan Ibu Nyai.


MUHIBBAH KE PP ROUDLOTUT THULAB

Rabu, 20 Juni 2007. Pagi kembali hadir mengawali hari dengan wajah cerahnya. Sepertinya cuaca sedikit hangat dibanding hari sebelumnya. Mobil box yang ditumpangi rombongan Matapena berangkat dari rumah Uli menuju PP Roudlotut Tholibin. Jam 09.00, rombongan tiba. Uli dan aku turun lebih dulu lalu segera menuju ruang tamu pondok puteri Roudlotut Thulab. Sementara Pak Affandi memarkir mobil dahulu baru menyusul.

Di ruang tamu, rombongan disambut hangat oleh Bapak Selamet Zakariya dan Mbak Jamilatun Nafiroh selaku pengurus PP Roudlotut Thulab. Kami berbincang-bincang sebentar, membicarakan model acara yang akan dilaksanakan. Pak Selamet mohon maaf karena hari itu bertepatan dengan acara "Manasik" jadi perhatian di pondok terbagi. Selain itu ia juga menjelaskan bahwa untuk menjaga tradisi di pesantren, karena pembicaranya putri semua, acara diselenggarakan di pondok putri dan hanya diikuti santri putri. Saat Pak affandi menyinggung tentang buku-buku bacaan santri, Pak Selamet mengatakan bahwa bacaan santri di PP Roudlotut Thulab sangat dibatasi. Hanya sebatas buku-buku pelajaran dan kitab untuk mengaji.

Jam 09.30 WIB, acara dimulai. Uli dan aku dipersilakan menuju aula kegiatan yang berada dilantai 2. Saat memasuki aula yang luas dan memanjang itu penuh dengan para santri, aku dan Uli merasa optimis. Apalagi ketika Pak Selamet Zakariya membuka acara, memperkenalkan para penulis. Dan ketika aku bertanya "Siapa di antara teman-teman santri ini yang ingin menjadi penulis?" hampir semua peserta yang berjumlah kurang lebih 100 orang itu mengacungkan jari.

Aku memulai pembicaraan dengan bercerita panjang lebar tentang Novel-Novel Pop Pesantren dan Matapena. Tentang latar belakang dan masa depan novel-novel pop pesantren Matapena sebagai genre baru sastra pesantren yang menjadi bacaan alternatif santri dan remaja nonsantri pada umumnya. Dan seperti sebelumnya, karena memang sudah berbagi tugas, giliran Uli yang harus bisa memprovokasi santri untuk mengembangkan budaya tulis-menulis.

Tiba saatnya dibuka termin dialog, Mazidah mengawali dengan bertanya, "bagaimana cara membuat novel dan apa novel itu? Bedanya dengan buku dan majalah?" Wah, disinilah kepekaan aku dan Uli harus terangsang. Ternyata istilah "novel, majalah, dan buku" saja masih ambigu, belum paham betul, jadi harus berusaha mendekati mereka dengan bahasa yang sederhana.

Aku menjelaskan tentang macam-macam bentuk karya tulis, dari yang berupa fiksi maupun nonfiksi. Yang berjenis buku, novel, majalah. Sementara Uli menambahkan tentang majalah diding yang kemudian direspon oleh Mbak Uun sang ketua Pondok. Bahwasanya di pesantren tersebut belum memiliki media kreatifitas santri untuk menulis sejenis majalah dinding. Mereka minta diberi sedikit materi tentang bagaimana membuat majalah dinding.

Para santri cukup antusias mengikuti kegiatan tersebut. Terbukti banyak santri yang merespon dengan berbagai macam pertanyaan. Ada yang bertanya tentang teknik-teknik membuat novel dari membuat judul sampai ending, bagaimana proses kreatif penulis dalam menyelesaikan novel dan bagaimana cara mengirim novel. Selain itu, ada beberapa santri yang sudah terbiasa membaca novel, menanyakan perbedaan antara novel pop pesantren dengan novelnya Mira W, Ayat-ayat Cinta-nya Mas Habiburrohman, dan novel popnya T. Andar. Aku pun menjelaskan bahwa bedanya adalah novel-novel pop pesantren berkisah tentang cerita-cerita dari pesantren, berusaha menggali khazanah pesantren dan mengemban misi dan amanat pendidikan pesantren.

Aku juga menyampaikan bahwa mendidik dengan cerita itu lebih bisa menyentuh nurani pembaca ketika ada seorang santri yang bertanya "apakah novel tidak termasuk cerita bohongan, dan cerita bohong adalah dosa". Katanya, dulu dia pernah ditakut-takuti temannya dengan sebuah hadits "wa la tujalisu ma'al qashisin", tapi toh hadits tesebut bukan termasuk hadits shahih. Apalagi, bukankah Al-Qur'an juga mengajarkan bagaimana mendidik lewat kisah-kisah para nabi dalam ayat-ayatnya?

Di akhir acara, aku membacakan sedikit cuplikan novel "Coz Loving U, Gus" yang mendapat sambutan meriah dari para santri, karena kebetulan ada beberapa nama yang sama dengan santri dan ustadz di pondok pesantren tersebut. Juga, mengumumkan tentang "woro-woro" pembukaan pendaftaran anggota Matapena dulu beserta syarat-sayaratnya. Jam 12.30 WIB acara ditutup.


MUHIBBAH KE PP AL-MANSUR

Siang itu, rombongan tidak mampir dulu ke rumah Uli, tetapi langsung menuju ke PP Al-Mansur di kawasan Kauman Wonosobo. Karena waktu sudah menunjukkan jam 13.05 dan Pak Affandi sudah dikontak Mas Haqi Anshori bahwa para santri di PP Al-Mansur sudah siap, meskipun cuma sedikit. Karena para santri kalau siang hari banyak kegiatan di luar.

Jam setengah dua siang, rombongan Matapena tiba di PP Al-Mansur. Uli dan aku segera memasuki aula yang sudah siap dipandu oleh Mas Haqi. Tampak para santri putera di sebelah kiri dan santri puteri di sebelah kanan. Acara langsung dimulai. Mas Haqi memberikan pengantar sejenak dan memperkenalkan kedua penulis beserta novel-novelnya. Setelah itu aku mengawali sosialisai novel-novel pop pesantren dan Matapena. Lalu Uli tentang provokasi terhadap budaya tulis-menulis.

Mas Haqi sebagai moderator cukup mampu membangkitkan semangat para santri untuk bertanya kepada para penulis. Ada Nadzir yang bertanya tentang bagaimana pertama kali memulai proses menulis. Sofa yang bertanya tentang bagaimana menuliskan ide yang ada di otak. Lalu bagaimana cara membangkitkan semangat untuk menulis, memilih kata, dan hal-hal tentang proses kreatif. Uli dan aku bergantian membagi pengalaman kepada mereka.

Ternyata pertanyaan mereka tidak hanya seputar proses kreatif tetapi juga wacana bacaan. "Kenapa kok novel-novel Matapena itu rata-rata bercerita tentang kisah cinta di pesantren. Menurut saya itu temanya hampir seragam. Lalu, kalau novel pop Matapena juga novel islami, apa bedanya dengan novel-novel yang diterbitkan Forum Lingkar Pena," komentar Untung, salah seorang santri.

Aku mengungkapkan bahwa novel-novel Pop Matapena berbeda dengan novel-novel FLP yang cenderung mengarah pada Islam “normative”, sementara novel-novel pop Matapena adalah khas pesantren dengan budaya lokalnya yang membumi.

Selain santri putera, beberapa santri puteri juga mendapat kesempatan bertanya. Aku memperkenalkan tentang Komunitas Matapena dan adanya Bulletin Bianglala ketika Ari bertanya apakah Matapena bisa memfasilitasi mereka untuk berproses kreatif.

Jam 14.30 WIB, menjelang ashar, Mas Haqi mengakhiri acara. Sebelum penutup, sempat dibagikan doorprize dua buku. Rencananya dua buku untuk penanya terbaik itu adalah Blok I karya Uli dan salah satu novel karyaku. Tapi karena persediaan novel-novelku sudah habis ditinggal di kopontren PP Roudlotut Tholibin, akhirnya aku memungut satu novel Santri Baru Gede karya Zaki Zarung.


MUHIBBAH KE PP MUKHTARUL MUKHTAJ, KONGSI

Inilah perjalanan terakhir.
Sungguh tidak terbayangkan di benak kami tentang keunikan-keunikan pesantren yang ada di daerah Kongsi itu. Memang sebelumnya ada yang bercerita, kalau pesantren tersebut adalah pesantren santri kalong. Santri-santrinya tidak diasramakan, tetapi hanya datang ketika jadwal pengajian lalu pulang dan tidur di rumah masing-masing yang tak jauh dari pesantren tersebut.

Jam 18.30 WIB. Rombongan berangkat dari rumah Uli menuju PP Mukhtarul Mukhtaj. Meskipun jalanan malam berkabut, akhirnya rombongan tiba juga di komplek Pesantren Mukhtarul Mukhtaj. Seorang tinggi besar bernama Pak Yono menyambut rombongan dan menunjukkan tempat acara. Di antar Mas Jabir, koordinator acara, Uli, aku dan Pak Affandi menuju aula kegiatan di lantai dua.

Oh, sebuah pemandangan yang unik bagiku dan Uli, meskipun mereka sama-sama santri. Di ruangan yang kira-kira berukuran 4x 6 meter itu, tampak beberapa santri puteri yang masih memakai mukena duduk bersimpuh. Ada juga beberapa santri putera.

Awalnya aku agak ragu untuk memulai acara. Agak canggung mau memulai dari mana karena menurutku suasana malam itu mirip pengajian PKR (Pesantren Kilat Romadhon)nya di Gunung Kidul. Unik banget. Tapi akhirnya, aku pun memulai acara. Memperkenalkan diri, memperkenalkan Uli, Matapena dan Novel Pesantren. Begitu juga Uli, ia memperkenalkan tentang dunia tulis menulis. Mulai dari yang sederhana, yaitu SMS lalu majalah dinding.

Sebuah wacana baru bagi Uli dan aku tentang Pesantren Santri Kalong. Berbagai jenis santri dari berbagai macam latar belakang pendidikan. Wah, Uli hampir terpingkal-pingkal ketika seorang santri bertanya tentang "penulisan", tetapi yang dimaksud adalah bentuk tulisan tangan, 'gedrek' dan 'latin' supaya bagus. Atau istilah kerennya adalah "font". Selain itu aku dan Uli juga harus bersusah payah dulu menjelaskan tentang yang dimaksud dengan "tulis-menulis" dan novel. Meskipun agak kocak dengan pertanyaan beberapa santri putera yang konyol-konyol melebar tentang seni tulis dekorasi dan kaligrafi, tapi ada beberapa santri putri yang cukup antuisias bertanya tentang proses kreatif membuat cerpen lalu mengembangkannya menjadi sebuah novel.

Bincang-bincang antara santri PP Mukhtarul Mukhtaj berlangsung cukup lama. Sehingga akhirnya Uli memberikan saran kepada mereka untuk mulai belajar membuat mading. Belajar mengenal tulisan dan budaya tulis menulis dari yang sesuatu yang sederhana yaitu majalah dinding.

Perjalanan Roadshow di beberapa Pesantren Wonosobo berakhir jam 20.00 WIB di PP Mukhtarul Mukhtaj. Setelah itu kembali ke rumah Uli, shalat isya dan kembali ke Yogyakarta.

2 komentar

Tuesday, March 06, 2007

Perjalanan Workshop dan Temu Penulis Matapena

Tuesday, March 06, 2007

PP Al-Falah II, PP Darul Qalam,
PP La Tansa, dan PP Al-Mizan
21—28 Pebruari 2007


Perjalanan Dimulai…

Dari halaman kantor, perjalanan paling panjang dalam sejarah road show Matapena ini dimulai. Jamal mengawal keberangkatan saya, Jumawan, dan Ian menuju terminal, untuk menjemput Fina, Maia, dan Bu Dewi. Kasihan mereka ya, harus rela kelaparan menunggu kami sampai di terminal. Rencananya tiga orang dari Salatiga itu mau naik travel. Tapi, berhubung sang pemesan tiketnya kelupaan sampai jam pemberangkatan, terpaksa mereka naik bus dua kali turun sampai terminal Jogja.
Sebelum makan, lebih dulu Jamal membawa mobil menuju Nurul Ummah untuk menjemput Sobri. Jadi, total jiwa yang berangkat dari Jogja adalah 8 orang. Pas dan sesuai dengan jumlah jok mobil kita.
Alhamdulillah malam itu tidak gerimis apalagi hujan deras. Kita bertolak sekitar pukul sembilan malam, dikawal Jamal yang pegang kemudi. Dan, ketika sampai di Cilacap, saudara Ian menggantikan posisi Jamal. Menghemat waktu, yang biasanya dipakai Jamal untuk ngaso barang tiga puluh menit di pom bensin.
Dua puluh menit pertama, saya masih bisa bertahan, coba menemani Ian dengan ngobrol dari A sampai Z. Tapi, memasuki menit kedua puluh lima, mata saya sudah tiarap-tiarap. Memaksa saya untuk zzz…zzz…zzz, dan maaf, untuk selanjutnya saya tak ingat apa-apa lagi.

PP. Al-Falah II Nagrek Bandung
Workshop Penulisan Novel I


Saya membuka mata ketika mobil sudah memasuki jalan gang menuju Al-Falah II, ketika azan subuh mengalun dari masjid pesantren. Lebih cepat dari perjalanan ke Al-Falah II yang dulu. Kita langsung berpencar, cewek ke kobong puteri, cowok ke kobong putera, istirahat barang beberapa jam untuk acara workshop siang harinya.
Pukul 08.00 pagi kita terpaksa bangun dulu, setelah antri kamar mandi bareng santri puteri dan sepatu bagus saya kena guyur air, untuk sowan Pak Kiai. Rasanya senang dan bahagia sudah disambut dan diterima dengan baik oleh pengasuh Al-Falah II itu. Meskipun Al-Falah II lebih memprioritaskan pengajaran dan seni baca Al-Qur’an, Pak Kiai tetap memandang pentingnya tulis-menulis, yang menurutnya adalah pengikat untuk semua materi dan pengalaman santri. Tanpa ikatan, semua yang diketahui dan dialami santri pasti akan hilang sia-sia.
Workshop di Al-Falah II diikuti oleh 39 anggota komunitas. Tapi, dalam perjalanannya beberapa anak absen karena kesibukan dan kegiatan yang lain. Workshop dibuka pukul 13.00 oleh Pak Uyun, dan ditutup Jum’at sore, menjelang maghrib oleh Pak Kiai langsung.
Hari pertama forum masih tampak kaku. Masih taraf penyesuaian. Pertama penyesuaian Fina dan Maia untuk mengisi pelatihan, penyesuaian peserta putera berbaur dengan peserta puteri, dan penyesuaian para peserta sama model pembelajaran orang dewasa. Sementara untuk penyesuaian peserta putera berbaur dengan peserta puteri dan penyesuaian dengan pendidikan orang dewasa, bisa dicairkan dengan model permainan. Daripada mereka duduk berbaris menjadi dua bagian, putera dan puteri, yang berjarak lima meteran, dengan ruangan aula yang luuuuwwwaaaas banget. Pantes bisa menguras suara!
Sesi berikutnya, peserta lebih diintensifkan dengan permainan dan kelompok. Yaitu, untuk sesi penggalian ide dan gagasan, pengenalan struktur cerita, sampai praktik penulisan. Dengan model permainan, paling tidak peserta jadi tidak diam di tempat, dan curah gagasan bisa lebih bebas dengan forum yang lebih kecil.
Untuk praktik penulisan mulai pukul 08.00—14.00, dengan setting cerita tidak harus pesantren. Secara tidak mudah ternyata untuk membuat mereka tertarik dengan dunia sendiri dan menuliskannya untuk orang lain. Malah masih banyak yang model tulisannya sejenis diakhiri dengan pertobatan setelah melakukan kesalahan atau dosa.
Tapi, ada juga yang sudah lumayan bagus tulisannya, tinggal rajin digesek saja. Fina sama Maia juga tampak terkesan. Malah kalau kata Fina, setting Al-Falah II sama persis dengan imajinya tentang pesantren dalam Gus Yahya. Acara ditutup menjelang maghrib, dan kami pamit. Bertujuh tanpa Shobri, dari Al-Falah II bakda maghrib, kami menuju Gondrong Petir Tangerang, tempatnya Kafi bersaudara.

PP Darul Qalam
Gintung Tangerang
Creative Writing dan Temu Penulis Matapena


Sebelum sampai Gintung kita sempat makan-makan di tol Cikampek, dan duduk-duduk sebentar di teras rumah Kafi sambil menunggu Ian pinjam mobil untuk angkut buku sama Engkongnya. Perjalanan menuju Gintung kurang lebih dua jam. Kira-kira pukul sebelas malam kita sampai di wisma PP Darul Qalam.
Beginilah enaknya bertamu di pesantren modern. Sudah disediakan kamar untuk istirahat dan melepas lelah. Berupa wisma berlantai dua. Kita dapat nomor 207 sama 208. Berhadap-hadapan.
Pukul 06.00 saya sudah bangun, dan pagi itu suara saya langsung berubah bunyi. Entah karena apa, dan kalau menurut analisa Jamal, gara-gara sop buntut di tol Cikampek semalam. Kasihan! Mana di tempat ini, menu sarapan paginya pakai nasi uduk ples sambal jengkol lagi. Sangat tidak nyaman di tenggorokanku. Tapi, alhamdulillah, saya masih bisa menjelaskan kedatangan sama Ustadz Odi yang berdasi, juga tentang keunikan Matapena yang lain daripada yang lain. Saya juga masih bisa menyapa teman-teman PP Darul Qalam yang hadir pagi itu, sekitar 120-an anak. Dari kelas SMA. Acara pertama pembukaan, dilanjut dengan sharing kepenulisan oleh Maia dan Fina. Mencakup semua materi yang sudah saya tuliskan dalam jadwal. Hanya saja ada perubahan, untuk sharing dipadatkan sampai sebelum zhuhur, sehingga bakda zhuhur teman-teman langsung praktik bikin tulisan.
Suasana dan jalannya forum di PP Darul Qalam lebih cair dan semarak. Mungkin karena Maia dan Fina sudah terkondisikan sama model fasilitasi, dan anak-anak biasa berbaur antara cowok dan cewek. Potret santri modern. Berseragam celana-atasan serba putih dan ber-id card.
Termasuk ketika temen-temen diminta sama Maia untuk menceritakan keunikan Darul Qalam. Meluncurlah cerita jaros, shopping malam (ngambil banyak cd di jemuran malam-malam), all in one (sikat gigi, sabun, sampo, bareng-bareng ples cara penanggulangannya), termasuk kenakalan-kenakalan mereka yang khas santri. Cuma sayangnya, yang unik-unik itu justru luput dari pengamatan mereka pas penggalian ide. Untuk soal ini memang masih susah buat mengajak santri lebih melihat ke dalam diri dan pesantren mereka. Ada beberapa yang sudah nulis dalam bentuk novel di buku tulis mereka. Sudah bagus. Tinggal temanya aja yang belum mematapena.
Acara berlangsung sampai malam, bakda isya. Beberapa peserta ada yang tertarik sama komunitas Matapena. Dan, setelah konsultasi sama pembimbing, saya menitipkan formulir untuk dikoordinasi. Besok, sekalian mengirimkan kembali hasil tulisan mereka yang bagus ke Darul Qalam, bisa ditindaklanjuti pertemuan berikutnya. Kita resmi meninggalkan Darul Qalam jam sepuluhan. Dengan rombongan bersepuluh, ketambahan Deny, Damawi, dan Kafi. Perjalanan ke La Tansa kurang lebih dua jam, melewati perbukitan yang gelap gulita. Seperti mau masuk ke sarang penyamun!

PP La Tansa Mashiro
Rangkasbitung Banten
Creative Writing dan Temu Penulis Matapena


Udara di La Tansa lebih dingin, jadi malas buat bangun. Acara pagi dimulai dengan sowan ke rumah Pak Ardian, putera mahkota pengasuh La Tansa. Menjelaskan maksud kedatangan dan lain sebagainya. Ini adalah almamater saudara Ian dan Deny. Sambutan Pak Ardian sangat responsif, secara ini juga merupakan kegiatan yang ditawarkan oleh alumni, apalagi misi La Tansa adalah mencetak generasi santri di berbagai lini dengan skill pilihan masing-masing, termasuk tulis-menulis dan kewartawanan.
Acara di La Tansa tidak jauh berbeda dengan di Darul Qalam. Hanya saja tidak secair di Darul Qalam. Mungkin karena pesertanya dipilih, dan energi fasilitornya sudah di ambang batas. Kelihatan banget kalau Fina dan Maia sudah bosen dan jenuh. Sementara suara saya belum juga pulih.
Tapi, respon peserta yang berjumlah 100-an itu lumayan bagus. Bisa diajak ngobrol soal tema yang menarik untuk dituliskan dari pesantren. Terutama dukungan dari pengasuhnya, Pak Sholeh, menantu, suami kakaknya Pak Ardian. Malah ada beberapa yang sudah nulis novel. Cuma ya, belum novel pop pesantren. Rata-rata mereka belum merasa tertarik untuk menuliskan tema yang satu ini. Meskipun sebelum praktik, Fina dan Maia sudah membeberkan sisi menariknya tema pesantren.
Acara ditutup pukul lima sore. Dan, Pak Adrian membuka tangan lebar-lebar untuk pendampingan komunitas, dan meminta Ustadz Pipin untuk mengkoordinasi.
Malam harinya, bakda maghrib, kita sowan-sowan lagi sambil menikmati makan malam ples nunggu mau dibelikan durian buat oleh-oleh tapi tidak jadi. Kita resmi cabut dari La Tansa pukul delapan malam.

PP Al-Mizan
Rangkasbitung Banten
Creative Writing dan Temu Penulis Matapena


Perjalanan menuju Al-Mizan sempat diwarnai dengan adegan saya mabuk darat, sama mobil punya Engkong yang mogok. Bersyukur kita punya Jamal yang handal, dan Bu Dewi yang dengan ikhlas ngerokin dan mijitin saya. Terima kasih…
Di Al-Mizan kita menginap di wisma, seperti juga di La Tansa. Jadi, kedua pesantren ini juga tergolong modern, seperti tulisan yang tertera di gerbangnya. Pagi sebelum jam delapan, kita sowan dulu ke rumah Pak Kiai yang pakai jas rapi. Ada acara perkenalan dan menjelaskan maksud kedatangan.
Forum di Al-Mizan tak jauh berbeda dari La Tansa. Diikuti oleh 120-an santri. Sebelum sesi praktik kita pakai permainan puzzle cerita untuk mengenali yang namanya sturktur cerita. Cuma sepertinya masih perlu model permainan yang lebih menantang lagi, untuk membuat teman-teman di Al-Mizan bias lebih ekspresif. Forum ditutup pukul lima sore, sebelum pamitan sama Pak Ustadz pembimbing, saya sempat menjelaskan tentang komunitas Matapena. Dan, menurut Pak Ustadz, hasil pertemuan ini akan dilihat dulu, jika teman-teman tertarik dan ada minat, akan ada kontak dari pesantren untuk pertemuan berikutnya.
Sekeluar kami dari Al-Mizan, rasanya lega sekali. Paling tidak 80% perjalanan sudah terlewati. Tinggal satu, yaitu di Wahid Institute (WI). Bersyukur juga workshop di Al-Falah II ditaruh di depan. Ketika kondisi fisik dan psikis masih fit, secara di Al-Falah II jugalah yang perlu lebih banyak konsentrasi dan perhatian daripada empat tempat yang lain. Ini juga diakui oleh Fina dan Maia. Paling tidak, kenangan dan kesan manis di Al-Falah II bisa menjadi obor semangat, juga bahan pembicaraan dan olokan sepanjang perjalanan berikutnya.
Kita cabut pukul setengah enam. Sebelum kembali ke Gondrong Petir, mampir dulu ke rumah Deny, makan malam pakai sayur asem. Dan, tiba di rumah Kafi pukul sembilanan malam, masih juga dijamu pakai sayur asem. Mabok asem deh!

Wahid Institute
Matraman Jakarta


Malam harinya saya sempat SMS sama Mas Suaedy soal acara dan waktu pelaksanaan di WI, dan dibalas pagi harinya. Acaranya pukul dua, dan semacam share pengalaman menulis dari saya, Fina , dan Maia. Oleh karena itu menurut Ian, berangkat pukul 11.00 masih bisa. Cuma karena saya pingin kopdar sama adikku, dan Maia pingin jalan-jalan ke Gramedia, akhirnya kita berangkat jam 10.00 menuju ke mall Taman Anggrek. Dari mall Taman Anggrek langsung menuju WI. Tapi, biarpun yang nyetir orang Jakarta, tetaaap saja pakai acara mubeng-mubeng nyasar. Suasananya jadi tambah panas dan gerah! Apes deh!
Sampai WI pas jam setengah dua, padahal kita belum makan. Semula mau makan di salah satu warung, tapi kata orang WI sudah disediakan. Akhirnya kita manut saja, yang ternyata mereka tidak tahu kalau kita datang berombongan. Jadi cuma menyediakan empat porsi pas. Kasihan! Tapi, tetap saya menjelaskan kalau para cowok itu adalah teman-teman saya yang juga kelaparan.
Setelah menunggu kami makan dan Mas Jamal dari Horison yang belum datang, acara di WI dimulai pukul dua siang. Dihadiri oleh 100-an peserta dari anak-anak SMA dan IPNU-IPPNU, juga undangan dewasa yang bukan anak ABG. Seumur-umur mengikuti forum, baru kali ini settingnya tampak serius dan ngartis. Bagaimana tidak, lha wong sepanjang acara blitz kamera tidak berhenti berkilap-kilap. Belum lagi, setelah forum saya langsung diserbu beberapa teman dari NU, LSM, staf perpustakaan, sekadar tukar kartu nama dan meminta izin untuk mewawancara Fina dan Maia *manajer abiz!*.
Saya juga bertemu dan ngobrol dengan Ruslan Ghofur yang sekarang sudah lulus dan sedang menggarap skenario untuk program pembelajaran di TVRI. Selain bertemu dengan Nur Hasyim yang editor dan penulis, Jefry yang kakak kelas di Adab… yang keheranan dengan suplemen liputan Matapena di Tempo. Juga, Hamzah Sahal yang … tapi tidak kesampaian.
Perjalanan forum di WI sangat seru dan menarik. Pertama Mas Suaedy memberikan sambutan. Setelah Mas Suaedy, saya mendapat kesempatan lebih dulu, menjelaskan tentang Matapena dan komunitas. Dilanjut dengan bagi pengalaman menulis oleh Maia dan Fina. Di forum ini ekspresi kebebasan mereka benar-benar keluar. Tidak ada kesan sok menggurui dan sok dewasa. Gaya bicara yang ceplas-ceplos dan apa adanya inilah yang beberapa kali membuat peserta dibuat terpingkal dan geleng-geleng kepala. Misalnya, ketika Fina bercerita tentang data novelnya yang hilang sampai menangis berhari-hari dan mogok sekolah, dan ini dituliskannya dalam Gus Yahya Bukan Cinta Biasa. Atau, Maia yang protes dengan redaksi karena pergantian judul dari Kiai Tawuran jadi Tarian Cinta.
Lebih menarik lagi ketika Mas Jamal coba memetakan posisi teenlit pesantren dalam bingkai sejarah kesusastraan Indonesia. Menurutnya, kelahiran teenlit jenis ini merupakan gebrakan setelah 1960-an pesantren muncul dalam sastra sebagai tema oleh Jamil Suherman. Kemudian periode berikutnya oleh Abidah el-Khaliqi dan Faradiba. Dan, baru lima atau sepuluh tahun terakhir, ketika terjadi gelombang besar dalam Sastra Indonesia dengan lahirnya penulis muda yang menuliskan pengalaman mereka, teenlit pesantren muncul menandai masuknya pesantren dalam tema sastra Indonesia modern yang mengayakan tema teenlit yang sudah ada. “Kelahiran ini sekaligus menandakan akhir dari alienasi pesantren dari kehidupan masyarakat kota,” tambah Mas Jamal.
Mas Jamal sangat apresiatif menyambut kemunculan sastra jenis Matapena. Kelahiran teenlit merupakan sesuatu yang menarik dalam sejarah sastra, terkait dengan sumbangsih untuk perkembangan Sastra Indonesia. Namun demikian, menurut Mas Jamal, perlu dijaga bagaimana teenlit ini tidak melupakan penggunaan bahasa Indonesia yang baku alias baik dan benar dan perlu juga dipikirkan untuk menjaga napas keberlangsungan teenlit ini mengingat napas hidupnya biasanya tidak panjang. Tapi, jika kekuatan santra ada pada lokalitas, yaitu sesuatu yang dekat dan lekat dengan penulis, teenlit pesantren sudah mempunyai satu peluang untuk menggali nilai dan aspek dari pesantren yang melimpah. Dan, jika ini dirangsang secara maksimal, para santri akan bisa menuliskan apa yang mereka khayati dan alami dengan baik.
Saya terus terang tertarik dengan penyampaian Mas Jamal, ples menumbuhkan kepercayaan diri sebagai penulis novel pop pesantren. Saya jadi berseloroh sama Maia lewat tulisan, “Seandainya ada penulisan sejarah sastra Indonesia kontemporer, maka nama kita akan tertulis di dalamnya sebagai penulis genre pop pesantren…hihihi.”
Acara di WI ditutup molor sepuluh menit dari rencana, 16.40 WIB. Saya, Fina, dan Maia mendapat dua amplop besar dari WI berisi klipingan koran tentang demokrasi dan kegiatan sastra, ditambah 3 eks buku terbitan WI. Setelah melayani beberapa teman, dari tukar kartu nama, foto bersama, kasih tanda tangan, sampai wawancara dan ngobrol, juga melayani tawaran makan dari Mas Suaedy yang ternyata nunggu pesanannya lamaaa benget! *sampai teman-teman rombongan jadi bete dan bermuram durja*, kami resmi cabut dari WI pukul setengah delapan malam.

Perjalanan Berakhir…

Perjalanan pulang dikawal sama Jamal lewat jalur selatan, mampir dulu di Al-Falah II mengambil pesanan dan menitipkan pesanan Maia buat some one. Sampai Cilacap, seperti perjalanan berangkat, setir dipegang sama Ian. Masih juga seperti kemarin berangkat, saya coba menemani dengan ngobrol dari Z sampai A. Suasananya sudah tidak sepanas siang atau segerah ketika di WI. Lebih dingin, segar, dan nyaman. Meski beberapa kali harus mencoba-coba jalur alternatif, secara dik sopir tidak biasa menunggui jalanan yang macet. Tapi, lagi-lagi mata saya sudah tiarap-tiarap, tidak sanggup lagi untuk terjaga. Akhirnya dengan sangat terpaksa saya terlelap dan tak ingat apa-apa lagi.
Saya terbangun ketika sudah sampai di Wates, lalu mampir di warung makan secara saya tidak tega membiarkan teman-temanku kelaparan sampai rumah. Mungkin karena kebaikan saya ini, Jamal dan teman-teman berkenan mengantarkan saya sampai jalan sempit depan rumah. Jadi terharu, apalagi saya cuma bisa bersalaman ala mahasiswa pergerakan, mengucap terima kasih, dan ber-say good bye. Senang bisa bekerja sama dengan kalian …

Yogyakarta, 6 Maret 2007

0 komentar

Friday, January 06, 2006

Menuju, Menyapa, dan Jatuh Cinta pada Al-Falah II …

Friday, January 06, 2006
Pukul 21.30-an saya, Pijer, Zaki, dan Sobri, juga Jamal memulai perjalanan Road Show Matapena kedua. Molor dari jam yang sudah disepakati, jam sembilan. Sempat kepikiran juga, bisa sampai Al-Falah tepat waktu nggak ya? Maksudnya, masih ada waktu untuk istirahat atau tidur-tiduran begitu. Kalau cuma delapan jam perjalanan sih kayaknya masih sempat. Tapi, kalau ternyata sepuluh jam? Mefet banget to? Untunglah malam itu tidak hujan deras, hanya gerimis. Laju mobil bisa dibikin agak ngebut dikit. Meski beberapa kali penumpang harus dibikin terlompat-lompat dari joknya gara-gara ban mobil melindas lubang-lubang jalan aspal yang rusak. Apalagi pas melewati jalan rusak di Majenang! Benar-benar nggak bisa disambi merem perjalanan malam itu. Malah kata Zaki pas kami ngaso di Buntu, ban mobil juga sempat melindas kepala ular lho. Klotas! Hiii …
Sampai Ciamis, pukul 4 pagi, kami mampir masjid. Cuci muka ples shalat. Sebelum kemudian melanjutkan perjalanan yang katanya masih tiga jaman lagi. Masih lama ya. Tapi, kami sudah masuk kawasan Sunda. Jadi, agak legaan. Karena perjalanan pasti akan segera berakhir di Nagrek. Melewati Tasik dan Garut yang penuh dengan jalan berkelok dan juga bolong-bolong.
Dan, sambil terus berusaha menikmati segarnya udara Sunda di pagi hari … (apalagi banyak mojang-mojang geulis yang lari-lari pagi di sepanjang jalan, kan hari Minggu. Zaki aja sampai mbela-mbelain membuka matanya yang masih lengket demi pemandangan itu) … Akhirnya sampailah kami di PP Al-Quran Al-Falah II. Jl. Raya Nagrek km.38 Nagrek Cicalengka Bandung Jawa Barat Sebuah pesantren yang lokasinya tepat berada di lereng bukit. Tak ada benteng tembok yang mengelilingi seperti umumnya bangunan pesantren. Meski ada gardu satpam sebelum masuk ke kawasan pesantren. Uniknya lagi, bangunan-bangunan di Al-Falah kalau dilihat dari kejauhan, tertata seperti membentuk anak-anak tangga.
Pada anak tangga pertama, ada balai kesehatan santri, kantor pesantren, dan masjid. Pada anak tangga kedua, ada gedung pertemuan yang dilengkapi dengan kolam ikan dan semacam dangau. Pada anak tangga ketiga, ada rumah Ayah dan Ibu … (ini adalah sebutan Santri Al-Falah untuk Pak Cecep dan Nyai beliau). Juga, gedung TK, lengkap dengan bandulan dan plorotan. Pada anak tangga keempat, agak ke Barat, ada asrama puteri. Nah, dari depan asrama ini, lereng perbukitan di bagian selatan begitu indah terpampang di hadapan mata. Sementara di bagian timur masih ada beberapa bangunan antara lain, asrama putera, gedung sekolah Aliyah, dan rumah para guru. Keseluruh bangunan itu dibuat berjarak dengan selingan pohon palem dan pepohonan yang lain. Jadi, dingin dan sejuk gitu.
Sebelum acara dimulai, habis merem barang sepuluh menit, mandi, dan makan nasi kuning, kami sowan dulu ke Ayah Cecep. Rumahnya bambu banget! Dari dinding, eternit, meja-kursi, lampu … Kami ngobrol seputar maksud, tujuan, dan harapan kedatangan kami ke Al-Falah. Dan, ternyata Ayah Cecep juga punya kegelisahan yang sama. Paling tidak kedatangan kami bisa menularkan virus kritis ke mereka. Dari membaca, kemudian menulis. Amiiin. Usai sowan, pukul sepuluhanlah, kami langsung ke aula pertemuan yang luasnya ‘ngarep-mburi’ (hampir sama) dengan balai Utarinya Mandala Bhakti Wanitatama. Lagi-lagi, dengan desain panggung yang bambu banget! Para santri yang berjumlah kurang lebih seratus orang duduk lesehan sesuai dengan jenis kelamin. Putera di sebelah kanan, puteri di sebelah kiri. Tanpa pembatas atau penutup. Bazar buku juga digelar di tempat ini, tepatnya di bagian belakang posisi duduk para santri.
Sebelum acara dimulai, lebih dulu para santri menunjukkan kebolehan mereka. Santri putera dengan nasyid, dan santri puteri kasidahan. Suara mereka bagus-bagus lho. Baru kira-kira pukul 11.00 sang MC mulai unjuk suara membacakan susunan acara. Pertama, pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Maklum pesantren Al-Qur’an, bacaannya merdu coy! Kedua, acara sambutan-sambutan. Ketiga, acara Bedah Novel Matapena yang dimoderatori oleh Sobri.
Kali ini Zaki mendapat kesempatan pertama untuk ngomong. Gayanya yang kocak, khususnya pas ngucapin salam, lumayan membuat para santri yang pendiam itu membuka suara. Dari sini suasana pun jadi lebih cair dan santai. Habis Zaki, Pijer menyusul. Di samping menceritakan apa yang sudah ia tulis dalam KCPP, ia juga menuturkan proses kreatif kepenulisannya. Dan, narasumber ketiga adalah Pak Yuyun Wahyudin yang bertindak sebagai pembedah, atau kritikuslah. Tapi, ternyata yang dilontarkan justru lebih banyak pujian dan sanjungan!
Tanpa ada maksud untuk promosi, begitu kata Pak Uyun, novel Santri Baru Gede dan Kidung Cinta Puisi Pegon memang sangat manarik. Selain ceritanya begitu dekat dengan tradisi pesantren, diksi-diksi agamanya juga sangat kental. Berbeda dengan novel-novel kebanyakan. Termasuk satu pujiannya untuk Raha, “… Ia mencoba untuk bersikap apik dalam kehidupannya …”
Untung saja Zaki menuliskannya Jadi, sepertinya enggak ada alasan untuk teman-teman tidak menuliskan cerita asyik kalian di bilik-bilik pondok Al-Falah. Iya kan?
(Minggu, 5 Januari 2006)

0 komentar

Monday, December 26, 2005

The First Road Show ... to Jombang

Monday, December 26, 2005

Akhirnya, datang juga deh kesempatan buat Matapena menyapa teman-teman santri. Melihat lebih dekat seperti apa kehidupan mereka yang diam-diam menawarkan keunikan itu. Sudah pasti juga dong, Matapena juga punya keinginan menggandeng mereka untuk jadi penulis. Penulis bagi dunia mereka sendiri, untuk diri sendiri juga orang lain. Catet!
Road Show pun dimulai. Matapena segera meluncur ke kota Jombang, tempat Pondok Pesantren Tebuireng dan Pondok Pesantren Tambakberas berdiri.
Pukul 21.00-an mobil Matapena keluar dari garasi. Acara pertama adalah jemput-menjemput. Dari menjemput Pijer di Pondok Nurul Ummah, dilanjutkan ke tempat Mas Fikri. Jalanan sudah mulai sepi, apalagi cuacanya yang memang agak gerimis. Berrrr! Dingin! Membuat setiap orang memilih mengenakan kostum malem—celana, kaos, ples jaket item. Ples, satu menu tambahan lagi. Mau tahu? Bantal. Hehehe, tahu aja sih kesukaan kami!
Berenam (Jamal, Mas Fikri, Zaki, Shachree, Pijer, dan saya), rombongan Matapena meninggalkan Jogja. Sampai di Ngawi, kami ngaso sebentar, makan minum di angkringan khas sana. Pukul 03.40-an WIB atau menjelang subuh, mendaratlah kami di Jombang. Sepiii banget. Acara pertama jelas menghubungi Kang Ipeng, sudah siap belom tempat buat istirahatnya. Syukurlah, sidah sip. Kami pun langsung meluncur ke Tebuireng, tepatnya Wisma AFI (AFI banget gitu loh) yang kebetulan lokasinya berseberangan sama PP Tebuireng. Untuk mandi, nyelonjorin kaki, merebahkan badan, dll. Biar besok, pas ‘konser’ di pesantren, sudah bener-bener seger dan menarik!
Bedah Buku “Santri Semelekete” (PP Tebuireng Jombang, Jumat 23 Desember 2005)
Acara yang rencananya akan dimulai pukul 09.00 ternyata molor. Sambil menunggu, kami duduk-duduk di ‘semacam halte’ dekat parkiran di halaman depan tempat pertemuan. Kebanyakan santri, putera dan puteri, masih ramai mengerumuni gelaran buku-buku Pustaka Pesantren dan Matapena. Baik sebagai pembeli atau sekadar mengamat-amati judul-judul yang ditawarkan. Ada yang berpakaian rapi, ada juga yang masih pakai seragam khas santri. Sarungan!
Kelamaan menunggu, padahal Jum’at kan hari pendek, saya dan kawan-kawan pun menuju aula di lantai dua. Siapa tahu bisa segera dimulai. Tetapi, sampai di aula yang sudah digelari karpet hijau itu, ternyata masih kosong. Cuma ada beberapa orang panitia yang sibuk membetulkan mikrofon yang katanya bermasalah. Baru ketika mikrofonnya bisa buat berhalo-halo, satu per satu santri mulai berdatangan. Baik santri putera maupun puteri. Rupanya mereka boleh nyampur dalam satu ruangan, dengan lokasi duduk berseberangan. Mereka adalah para santri yang sekolah di SMU, dan beberapa yang sudah mahasiswa.
Eh, istilahnya kok SMU ya, bukan Aliyah? Menurut salah seorang dari santri puteri, di PP Tebuireng ada SMU dan Aliyah. Yang sekolah di SMU boleh cowok boleh cewek, tapi kalau Aliyah cuma buat santri cowok. Begitu ya? Sebenarnya saya masih mau tanya-tanya lagi, eh tuh mbak santri malah balik nanya, “Mbaknya utusan dari sekolah mana?” Hehehe. Jadi lupa deh mau nanya apa lagi. GR sih!
Tepat pukul 10.00 WIT (Waktu Indonesia Tebuireng) acara yang dihadiri oleh kurang lebih 40 santri itu pun dimulai. Pertama, pakai acara sambutan-sambutan, dari Matapena juga KISS. Kemudian masuk ke acara Bedah Buku “Santri Semelekete”. Eh, ini mesti diralat. Soalnya kan Baroroh nggak ikut. Lagi pula, konsep awalnya kan Temu Penulis Matapena.
Dari moderator, Zaki mendapat kesempatan untuk ngomong duluan, kemudian Shachree, Pijer, dan Redaktur Matapena. Di samping menceritakan apa yang sudah mereka tulis dalam novel-novel Matapena, mereka juga menyebarkan virus menulis ke para santri. “Saya saja yang bukan santri, sudah punya anak satu, bisa menulis tentang pesantren, apalagi temen-temen yang sudah jelas-jelas nyantri. Masak dari Tebuireng yang sebesar ini nggak ada yang bisa,” begitu Shachree ngompori mereka habis-habisan. Selain itu, mereka juga menuturkan proses kreatif kepenulisan mereka.
Usai mendengarkan ceramah dari penulis, seperti biasa acara dilanjutkan dengan dialog. Dilihat dari pertanyaan-pertanyaan mereka, rupanya mereka lebih tertarik menyoal tentang dunia tulis-menulis daripada membedah karya-karya yang sudah dihasilkan Zaki dkk. Wah, pertanda bagus nih. Welcome, mbak-mas, di dunia kepenulisan! Usai dialog acara ditutup. Pukul 11.10 WIT.
Peluncuran Novel Pop Pesantren Matapena (Aula Yayasan PP Bahrul Ulum Tambakberas, Jum'at 23 Desember 2005)
Dari Tebuireng, habis Jum’atan, habis cek out, habis makan nasi pecel di kota Jombang, kami menuju Tambakberas. Langsung ke Aula Yayasan PP Bahrul Ulum. Jadi, di Bahrul Ulum Tambakberas ini ada kurang lebih 15 pondok pesantren dengan kiai pengasuh masing-masing. Lembaga pendidikannya juga lengkap, dari TK, MI, SMP, MTsN, MTs Plus, SMA, MAN, MA Plus, MA PK, Muallimin Muallimat, Sekolah Persiapan PT, sampai Sekolah Tinggi BU. Tapi, semuanya menginduk ke Yayasan Bahrul Ulum. Nah, PPP Al-Lathifiyyah adalah satu pondok puteri yang ada di Bahrul Ulum, selain PPP Al-Fathimiyyah yang waktu itu juga kami kunjungi.
Sampai di tempat pertemuan, suasananya benar-benar jauh berbeda dengan waktu di Tebuireng. Ramai, berisik, dan banyak suara. Apalagi pas Mas Fikri didaulat untuk sambutan atas nama Matapena. “Cakep…cakep!” “Huaaa….!” “Suit…suit!” Dan, seruan sejenislah yang sanggup mengundang kegeeran. Tak ketinggalan Zaki dan Shachree yang juga laki-laki kebagian teriakan itu. Kasihan Pijer dong hehehe.
Pukul 14.00 WIT (Waktu Indonesia Tambakberas) para penulis kembali berbagi cerita. Seperti di Tebuireng, di depan para santri putri Al-Lathifiyyah beserta undangan yang jumlahnya kurang lebih 100-an jiwa, mereka juga menceritakan sedikit isi novel mereka dan proses penulisannya. Tapi, mereka lebih banyak membombardir para santri dengan virus menulis. Sementara saya kebagian jatah memoderatori jalannya diskusi. Sesi ngomong ini tidak terlalu lama, karena memang disengaja untuk mengintensifkan sesi dialog.
Acara sore itu diakhiri pukul 16.10. Sebenarnya masih ada santri yang mau nanya. Tapi kami masih harus memenuhi undangan ketemu sama komunitas Ikatan Penulis Muda PPP Al-Fathimiyyah Bahrul Ulum.
Keluar dari ruangan aula, para penulis langsung diminta untuk ninggalin ‘jejak’ tanda tangan di buku para santri, juga alamat dan nomor Hp! Walhasil, kami nggak bisa buru-buru ke Al-Fathimiyyah mengejar sisa waktu sore. Sementara saya sempat ngobrol sama Pak Faizun, pembimbing santri Al-Lathifiyyah. Menurut beliau, kegiatan seperti ini sangat positif untuk menumbuhkambangkan potensi santri dalam dunia tulis-menulis. “Soalnya kadang kita bingung juga mau menghubungi penerbit mana ketika ada tulisan dari para santri,” lanjutnya. Hubungi Matapena aja, Pak! Atau besok kami hubungi. Oke!
Menyapa Ikatan Penulis Muda (PPP Al-Fathimiyyah Bahrul Ulum Tambakberas, Jumat, 23 Desember 2005)
Pukul 16.20 barulah kami bisa bebas dari kepungan santri Al-Lathifiyyah II. Dari Aula Yayasan Bahrul Ulum kami berjalan kaki menuju Al-Fathimiyyah yang berjarak kurang lebih 50 meter. Sore itu gerimis, belum lagi jalanannya juga penuh genangan air. Untung ada santri Al-Fathimiyyah yang kebetulan ikut hadir di aula yayasan. Jadi, bisa menunjukkan langkah menghindar dari genangan itu. Kami langsung menuju ke ndalem Neng Ida, ngobrol sebentar sambil menunggu persiapan tempat pertemuan.
Ternyata tempat pertemuannya di mushala. Posisinya ada di tengah bangunan pesantren. Para laki-laki tadinya agak kikuk juga ketika harus memasuki sarang ‘penyamin’. Membayangkan kehebohan santri Al-Lathifiyyah yang over yang baru saja dialami. Itu saja tidak di kandang sendiri. Apalagi, sekarang? Bakal di atas over kali ya. Eh, tetapi tak taunya suasananya benar-benar berbeda. Teman-teman tenang-tenang saja menyambut kami. Duduk lesehan tanpa tikar. Empat puluhan orang ada kayaknya. Sementara kami dapat tempat duduk di atas kursi. Kayak pengajian.
Tanpa bertele-tele acara langsung dimulai. Yang pertama mendapat kesempatan berbicara adalah Mas Fikri. Intinya memperkenalkan Matapena dan ngajak temen-temen untuk menulis. Dilanjut dengan sedikit sharing pengalaman dari para penulis. Sayangnya memang tidak bisa lama-lama, waktunya sudah mepet maghrib. Belum ada dialog sama mereka. Akhirnya dengan terpaksa cuma bisa kasih kesempatan ke satu orang untuk bertanya. Padahal, mereka pada rame-rame tunjuk tangan lho…
Tapi, apa mau dikata. Waktu memang bergerak begitu cepat. Pas azan Maghrib, ngobrol bareng anak-anak IPM pun harus disudahi. Saya and the geng berpamitan. Menyudahi serangkaian ‘sapaan’ di Jombang. Bye bye… semoga kita bisa ketemu lain hari. Amiin.

0 komentar