Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Friday, February 25, 2011

Menyemaikan Nilai-Nilai Sastra di Pedesaan*

Friday, February 25, 2011
Menyimak kegiatan LSdP (Liburan Sastra di Pedesaan ) #5 yang diadakan oleh Komunitas Matapena Yogyakarta, 26-28 Desember 2010 memberikan nuansa yang baru bahkan bisa dikatakan berbeda dari LSdP sebelumnya yang berlokasi di pesantren. Hal ini karena LSdP kali ini diadakan di pedesaan yang masih memegang tradisi dan budaya lokal masyarakat setempat. Tepatnya di Dusun Santan Guwosari Pajangan Bantul, dusun yang juga sering digunakan untuk kegiatan yang bersifat akademis, seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN)dan Latihan Kader Dasar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (LKD PMII) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Lalu bagaimana jika kegiatan sastra–yang selama ini masih dianggap ekslusif–berbaur dengan kondisi sosial masyarakat setempat? Tentu sebuah pertanyaan menarik akan muncul. Mungkinkah sastra bisa menjadi bagian dari masyarakat yang sarat dengan nilai-nilai luhur atau dapatkah sastra mengangkat harkat dan martabat umat manusia dus penduduk sebuah dusun? Sebuah karya sastra lahir dari persentuhan seseorang baik secara langsung atau tidak dengan ranah sosial. Akan tetapi, selama ini sastra belumlah begitu karib di kalangan masyarakat awam kalau tak boleh dibilang tak dikenal sama sekali.

Lalu apa yang bisa diharapkan dari sebuah karya sastra? LSdP adalah bagian dari kegelisahan para pegiat dan penikmat sastra yang menamakan diri Komunitas Matapena, yang coba diwujudkan dalam bentuk kegiatan positif. Komunitas Matapena yang selama ini konsen terhadap pernik-pernik lokalitas merasakan pula bagaimana kondisi masyarakat sekarang yang tak sedikit mulai tercerabut dari akar nilai-nilai kemanusiaan. Sementara manusia memiliki sebuah nilai di dalam nuraninya yang masih tersimpan, seperti nilai-nilai kejujuran, perdamaian, kebersamaan, dan lain sebagainya. Nilai tersebut adalah ruh seyogyanya mengisi sebuah karya sastra. Nilai-nilau itu pulalah yang masih banyak dilahirkan dan bertebaran dalam kebudayaan masyarakat pedesaan. LSdP bisa menjadi alat untuk menyemaikan kembali rasa kebersamaan, kejujuran, cinta dan kasih sayang di dalam kehidupan yang beraneka ragam.

Nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra baik itu puisi, cerpen, novel–melalui LSdP–haruslah transformasikan terus kepada generasi -generasi baru sebagai bagian untuk menyemaikan nilai-nilai luhur dalam berkarya sastra. Sebuah karya sastra yang yang tidak melahirkan sisi-sisi ruang kemanusiaan tentulah akan menguap begitu saja, tidak akan membekas bagi orang-orang yang menikmatinya. Baik itu pembaca, masyarakat, atau penulis itu sendiri.

Tentu bukan hal yang mudah untuk menyebarkan nilai-nilai kejujuran, gotong royong, perdamaian dan lain sebagainya, butuh sebuah proses panjang dan berkesinambungan dari setiap generasi. Paling tidak dari sebuah karya sastra yang ditulis oleh orang yang berhati jernih dan memiliki kemanusiaan tentu akan melahirkan sebuah karya sastra yang berpengaruh terhadap perubahan kebudayaan manusia. Tanpa itu semua sebuah karya sastra akan dianggap sebagai barang yang dijual murah.

Persoalan yang terjadi di masyarakat akan bisa dijawab oleh karya sastra yangmemiliki sifat kemanusiaan. Manusia dan karya sastra dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Sastra membutuhkan manusia-manusia yang berhati jernih untuk bisa menangkap kondisi sosial masyarakat yang terus berkembang untuk kemudian dituangkan dalam sebuah karya. Perkembangan kebudayaan umat manusia itu tidak mengenal batas ruang dan waktu baik di pedesaan maupun perkotaan. Ketika penyebaran nilai-nilai sastra sudah merata maka sebuah karya sastra akan memiliki derajat yang tinggi. Amin.[]

*Humam Rimba Palangka. Lahir di Kebumen, 6 Mei 1982. Pernah bergiat di Komunitas Sangkal Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta. Karyanya pernah dibukukan dalam Antologi Jalalah, diterbitkan di Majalah BAKTI dan Indipt Online. Sekarang aktif di Komunitas Remaja Desa Kembaran.

1 komentar

Wednesday, July 23, 2008

DEAD POETS SOCIETY

Wednesday, July 23, 2008
DEAD POETS SOCIETY; PESANTREN DAN SASTRA YANG MEMBEBASKAN

Dead Poets Society (DPS), film produksi Peter Weir dan Paul Junger Witt, dibintangi antara lain; Robin Williams, yang berperan sangat apik sebagai seorang guru bahasa, pertama kali di rilis tahun 1989. Film ini mengambil setting sekolah khusus remaja (laki-laki), Welton College, di mana para muridnya berasal dari kalangan orang-orang ternama. Mereka yang sekolah di sini wajib tinggal di asrama dengan aturan-aturan yang sangat ketat dan disiplin tinggi. Karena mereka tengah disiapkan sebagai calon-calon pemimpin generasi aristokrasi baru di Amerika.

Film ini bercerita tentang seorang guru yang memberi inspirasi anak didiknya untuk mengubah pandangan dan sikap mereka agar hidup lebih dinamis, percaya pada pilihan sendiri dan berani menyuarakan ketertarikan serta bakat personalnya. Untuk melakukan sesuatu yang dianggap mustahil di sekolah itu, sang guru pun mengajarkan mereka puisi dan sastra. Sesuatu yang kelak mendorong perubahan, gejolak di kalangan para guru dan pimpinan institusi yang bersangkutan. Dengan hasil akhir, sang guru (yang menjadi guru favorit di sekolah itu) harus pergi karena dianggap bersalah.


Berikut saya kutip ringkasan film DPS yang saya ambil dari november-november.blogspot.com. Blog ini milik seorang Ibu muda bernama Ratna Noviasari (Ibunya Nisa, begitu si Ibu ini memperkenalkan dirinya). Perempuan berjilbab ini, secara pribadi belum saya kenal dan sampai tulisan ini saya buat pun belum sempat saya berkomunikasi dengannya. Secara etis memang saya sudah meminta ijin mengutip narasinya tentang film DPS. Film ini kebetulan juga salah satu film favorit saya. Sekitar tahun 1991, ketika saya masih semester awal kuliah film ini telah berulang-ulang saya tonton.

Film ini secara khusus menginspirasi saya untuk membentuk sebuah kelompok sastra di kampus IAIN Sunan Kalijaga (sebelum berubah menjadi UIN) bernama Komunitas Anak Merdeka (KAM). Di waktu-waktu senggang kami berkumpul melingkar dan setiap individu membacakan puisi-puisinya. Ketika komunitas Matapena (berdiri 2005), kumpulan para penulis muda berlatar pesantren ini sedang giat-giatnya menyelenggarakan road show dan temu penulis sambil mengembangkan workshop creative writing untuk para santri, saya seperti diingatkan kembali oleh film ini.

Google searching cukup berjasa mempertemukan saya dengan blog Ibu muda ini. Saat itu, saya sedang mencari tulisan-tulisan orang seputar film DPS untuk menjadi bagian dari metode refleksi dalam kegiatan Liburan Sastra di Pesantren (LSDP) komunitas Matapena. Blog Ibu muda ini menulis apresiasi yang cukup bagus tentang film tersebut. Berikut adalah ringkasan yang saya ambil dari blog-nya, dengan beberapa potongan konteks yang saya anggap tidak perlu.

    “Film ini bercerita tentang Mr Keating (Robin Williams) yang menjadi guru di Welton, sekolah berasrama khusus putra. Di tengah-tengah suasana asrama yang kaku, peraturan yang ketat dan cara mengajar yang kuno (orang dulu bilang DDCCH: Duduk, dengar, catat, hapal) keberadaan Keating memberikan suasana baru. Cara Keating mengajar bukan saja menarik tapi juga membuka pandangan baru bagi siswa Welton. Beberapa siswa Welton (Neil, Todd, Cammeron, dll) yang menjadikan Keating sebagai guru favorit mencoba mengikuti masa lalu Keating ketika menjadi siswa di Welton dengan membentuk Dead Poets Society (DPS). DPS adalah kelompok yang selalu mengadakan pertemuan rahasia di sebuah gua dekat sungai tak jauh dari asrama. Dalam pertemuan itu setiap anggota membacakan puisi. Baik puisi karya pengarang terkenal maupun puisi karangan sendiri, selain itu mereka juga berdiskusi tentang berbagai hal. Pendeknya, pemikiran murid-murid Keating mengalami keterbukaan dan kebebasan. Mereka kemudian menjadi berani mengambil keputusan yang diyakini oleh hati mereka. Salah satunya Neil, siswa yang sangat cerdas dan sangat tertarik pada teater. Namun keinginannya ditentang oleh ayahnya. Neil bersikukuh, sehingga akhirnya ayahnya memutuskan untuk memindahkan Neil dari Welton dan memasukkannya ke sekolah militer. Neil yang tidak mau menerima akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menembakkan pistol ke kepalanya. Kejadian ini menghebohkan dan membuat gusar seluruh orangtua murid. Para orang tua murid mendesak sekolah untuk bertanggung jawab. Karena didesak, akhirnya sekolah mencari kambing hitam. Kambing hitamnya adalah Keating. Guru yang dianggap nyeleneh ini didakwa mempengaruhi para siswa untuk melakukan pemberontakan. Penghianat selalu ada dalam kasus seperti ini. Cammeron menjadi penghianat yang membocorkan mengenai Dead Poets Society demi menyelamatkan diri. Para anggota Dead Poets Society didesak untuk menandatangani pernyataan yang menyalahkan Keating. Keating berhasil dikeluarkan dari welton, namun Keating juga berhasil menjadikan murid-muridnya menjadi orang-orang yang berpikiran merdeka dan berani menentukan mana yang benar dan mana yang salah. Keating berhasil memberikan 'pendidikan' dalam arti yang sesungguhnya. Di akhir cerita, ketika Keating hendak meninggalkan kelas, para muridnya berani berdiri di atas meja beramai-ramai di depan mata kepala sekolahnya.”
Sekolah berasrama Welton (Welton College) mungkin tak ubahnya Pesantren. Lembaga pendidikan yang telah lama ada di bumi nusantara sejak beberapa abad yang lampau, khususnya di pulau Jawa. Gambaran umum tentang Pesantren dapat dibaca dalam tulisan Abdurrahman Wahid, “Pesantren Sebagai Subkultur”, “Tradisi Pesantren,”-nya Dzamahsyari Dhofier dan KH. Saefuddin Dzuhri dalam “Guruku Orang-orang Pesantren”. Secara ringkas, Pesantren merupakan tempat para santri tinggal (mondok), untuk menimba ilmu dari sang guru (Kiai). Orang-orang pesantren sudah teramat biasa hidup dalam aturan-aturan yang ketat, batasan-batasan pergaulan yang dilandaskan pada keyakinan agama. Itulah mengapa para santri sering menyebut Pesantren sebagai ‘penjara suci’.

Film DPS menjadi cermin yang cukup muqtadhal hal (kontekstual) untuk melihat bagaimana jalan pembebasan –sebagaimana ditunjukkan film ini-- sastra itu berlangsung. Dinamisme, kegairahan, kegembiraan anak-anak muda, pencarian dan usaha keras –seperti ditunjukkan oleh komunitas Matapena—dalam merumuskan eksistensi mereka tampak begitu meyakinkan. DPS harus saya anggap sebagai film terbaik untuk melihat bagaimana sastra menemukan rumahnya. Sebuah tontonan bernilai sastra dan inspiring dalam menatap dunia Pesantren kita dewasa ini.

Pesantren Dan Metode Sastrawi (Al-Manhaj Al-Adaby)
Tradisi dan pola belajar mengajar di Pesantren sangatlah berbeda dengan dunia luar. Cara mereka mengatur waktu menjadi tidak biasa jika diterapkan dalam kehidupan umum. Para santri pun tidak diperbolehkan keluar-masuk sembarangan dari lingkungan Pesantren tanpa ijin dari pengasuh atau pengurus. Biasanya, pengurus adalah santri senior yang ditugaskan Kiai untuk mengawasi para santri. Gambaran kehidupan di lingkungan Pesantren yang cukup ketat ini dimaksudkan sebagai pengejawantahan nilai-nilai keagamaan seperti; menjaga amanah. Sebab, para santri ini tidak hanya berasal dari lingkungan Pesantren itu sendiri, tetapi juga mereka datang dari berbagai pelosok daerah. Para orang tua menitipkan anak-anak mereka untuk dididik agama. Kepercayaan (amanah) itulah yang dijaga Pesantren agar para santri belajar sungguh-sungguh dan tidak mengecewakan orang tua dan masyarakat yang menunggu peran mereka.

Di lingkungan Pesantren, sekalipun mata pelajaran sastra tidak diajarkan secara khusus, instrumen-instrumen pemahaman sastra dan pendekatan sastrawi dalam praktek pendidikan ala Pesantren sesungguhnya menjadi metode yang sangat kuat berakar. Secara teoritik mungkin hal ini tidak disadari sebagai bagian dari metode. Pada kenyataannya, gaya dan suasana, tradisi dan pola belajar mengajar di Pesantren sangat mengedepankan pendekatan-pendekatan sastrawi.

Tradisi melantunkan dan menghafal bait-bait nadhom sebagai penghantar mata pelajaran ilmu alat seperti; nahwu dan shorof memudahkan mereka mencerna pemahaman atas ilmu itu sendiri. Kajian-kajian atas kitab kuning karya ulama dan shalaf al-shalih lainnya, untuk sebagian di antara kitab-kitab tersebut ditulis dengan tekstur sastrawi dan berunsur puitik, seperti kitab Zubad, misalnya, cara mengkajinya pun dimulai dari melantunkan dan menghafal bait demi bait isi dari kitab tersebut, betapapun materi dari kitab-kitab itu berisi ajaran-ajaran tasawuf, teologi maupun kaidah-kaidah fiqhiyah dan ilmu-ilmu alat (pengetahuan gramatika bahasa Arab). Kebiasaan sedemikian, secara tradisional membuat lingkungan Pesantren dan para santri khususnya begitu akrab dengan syair-syair, nyanyian-nyanyian, puji-pujian yang menjadi penghantar mereka dalam menghafal pelajaran dari mana pemahaman dan pengetahuan agama mereka ditransferensikan.

Metode sastrawi pada akhirnya menjadi jiwa dari tradisi dan pola belajar mengajar di lingkungan Pesantren itu sendiri. Sekalipun para santri tidak secara teoritik belajar sastra, dunia sastra itu sendiri bukan sesuatu yang asing di lingkungan mereka. Kegiatan-kegiatan haflah (pertemuan para santri) yang secara periodik dilakukan biasa ditampilkan pula pementasan-pementasan kesenian khas Pesantren seperti; kasidah, terbangan, pentas rebana dan lain-lain. Bahkan di waktu-waktu tertentu pula selalu ada kegiatan lomba seperti; membaca kitab al-Barzanji dan hapalan bait-bait alfiyah Ibnu Malik dan sebagainya.

Tradisi dan kultur Pesantren yang akrab dengan dunia sastra itu dari tahun ke tahun, seperti tak habis-habisnya melahirkan para pegiat sastra baik yang berkecimpung di tingkat lokal maupun nasional seperti; Faizi El sael, Ahmad Syubanudin Alwi, Haqqi al-Anshory, Arief Fauzi Marzuki, Acep Zamzam Nur, D. Zawawi Imran, Ahmad Tohari, Ragil Suwarna Pragolapati (Alm.), Zaenal Arifin Thoha (Alm.), KH. Maman Imanul Haq, Ahmad Zaky (Zaky Zarung), Mahbub Jamaluddin, Sachree M. Daroini, Kaje Habib, Nor Ismah (Ismah Kajee), Ma’rifatun Baroroh, Pijer Sri Laswiji, Ully, dan tentunya masih banyak lainnya yang tidak sempat disebut di sini.

Pengalaman dan keakraban bersastra yang melekat dalam tradisi dan pola belajar mengajar di lingkungan Pesantren itu menjadikan sastra tak ubahnya jiwa dari kehidupan Pesantren itu sendiri. Sastra seperti menemukan rumahnya yang nyaman. Kegiatan sastra begitu nyata dihidupkan, tapi juga barangkali masih malu-malu untuk diakui sebagai bagian dari tradisi Pesantren itu sendiri. Karenanya, proses mengembangkan sastra di lingkungan Pesantren pada akhirnya harus terus menerus dilakukan, bukan semata-mata karena sastra menjadi jembatan penghubung pembelajaran ilmu-ilmu agama. Lebih dari itu, usaha ini dilakukan sebagai bentuk pertanggung jawaban religi atas nilai-nilai agama itu sendiri. “Innallaha jamilun yuhibbu al-jamal.” Allah lah yang terindah. Dia yang menyintai keindahan. Dan, puncak dari segala yang bernama keindahan adalah kembali ke asal mula keindahan dengan cara-cara yang sarat keindahan pula (husnul khotimah).

Sastra Sebagai Jalan Pembebasan
Sastra merupakan jalan pembebasan. Ia hadir di tengah carut marut kehidupan dan sistim sosial yang mampat. Sastra juga menjadi kunci pembuka kebuntuan akibat ketatnya aturan-aturan yang memancung kreativitas dan kebebasan individu. Sastra di lingkungan Pesantren menjadi jalam pembebasan dari kebuntuan memahami pelajaran dan pendalaman ilmu-ilmu agama. Sastra diakui atau tidaki telah menjadi wasilah (penghubung) internalisasi pendalaman pengetahuan di bidang agama.

Perlu dikemukakan pula di sini, lingkungan Pesantren pada umumnya miskin pengakuan dan cenderung ‘alergi’ terhadap sastra. Bahkan, sastra dianggap sebagai bidang keilmuan yang tidak penting diajarkan. Kecenderungan ini berawal dari munculnya anggapan bahwa sastra akan mendekatkan seseorang pada aspek-aspek ‘ma’ashiy’ (sesuatu yang bersifat maksiat) dan karena itu bersastra (baca: berkesenian) sebagai sesuatu yang tabu bagi para santri yang sedang menempuh pendidikan agama. Walaupun sebetulnya bukan sastra itu sendiri tetapi lebih pada persoalan sosiologis. Bahwa sastra, dalam pengertian dunia seni misalnya, cenderung berdampak pada kegiatan-kegiatan yang secara normatif melanggar kaidah-kaidah ajaran agama.
Namun demikian, lingkungan Pesantren tidaklah memungkiri peranan metode sastrawi dalam transferensi ilmu-ilmu keagamaan. Pada kasus ini tampak adanya pola hubungan, sebagaimana telah dikemukakan, masih malu-malu. Di satu pihak sastra tidak dianggap sebagai unsur penting dalam pengajaran, sementara di pihak lain sastra digunakan sebagai instrumen pola belajar mengajar di lingkungan Pesantren.

Secara teoritik mereka tidak perlu mengerti apa itu sastra. Hidup dan aktivitas sehari-hari mereka di lingkungan Pesantren selama bertahun-tahun pada akhirnya justru menjadi jalan sastra itu sendiri. Mereka adalah lakon dalam pentas laku sastra di lingkungan Pesantren. Jadi, sastra di lingkungan Pesantren bukanlah sesuatu yang menempel dan atau ditempelkan begitu saja. Jalan sastra yang lahir dari tradisi panjang itu merupakan sesuatu yang sudah ratusan tahun melekat. Sejarahnya begitu panjang sebagaimana Pesantren itu sendiri. Sastra, dan dengan demikian metode sastrawi di lingkungan Pesantren diakui atau tidak hakikatnya adalah ‘nalar religi’ lain yang dikembangkan Pesantren secara ‘given’ atau dalam bahasa Pesantrennya sesuatu yang bersifat ‘laduniyah’.

Seiring dengan perkembangan jaman, sastra telah menjadi ‘living tradition’ di lingkungan Pesantren yang tidak lekang di makan waktu. Bilamana mereka telah menjadi bagian dari kehidupan yang lebih umum metode sastrawi ini menjelma dalam habit kerja-kerja kultural mereka di masyarakat. Hal ini misalnya dapat dilihat dari sisi keluwesan dan kelenturan orang-orang Pesantren menerima hal-hal baru tanpa merasa perlu menjadi bagian dari kebaruan itu sendiri. Dalam arti, semodern apapun orang Pesantren bukan hal mudah bagi mereka untuk mengubah kultur kepesantrenan mereka. Menjadi modern bukan berarti menjadi orang lain yang sama sekali baru. Sebuah eksperimentasi yang miskin apresiasi bahkan dari negara sekalipun. Wallahu’alam.
---------------------------------
Akhmad Fikri AF. adalah direktur penerbit LKiS Jogjakarta dan pembina komunitas Matapena. Menulis puisi sejak 18 tahun yang lalu. Sebagian puisi-puisinya dipublikasikan di NEW KIDS ON THE BLOG-nya sendiri.

4 komentar

Thursday, June 21, 2007

Ledakan Sastra Pesantren Mutakhir:
Cinta, Kritisisme, dan Industri
Sabtu, 3 Maret 2007

Thursday, June 21, 2007


Esai: Ridwan Munawwar

Sejak sekitar awal millennium ke-3, sastra pesantren di Indonesia menunjukkan geliat yang tidak main-main. Kreatifitas dan produktivitas sastra pesantren meningkat drastis baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Tentunya ini suatu hal yang signifikan dan positif, meski menyimpan komplikasi keunikan tersendiri di belakangnya. Di satu sisi, fenomena ledakan sastra pesantren menunjukkan sekaligus mengukuhkan eksistensi pesantren sebagai salah satu unit peradaban yang tak pernah kering dari penciptaan-penciptaan baru, khususnya dalam dunia kesusasteraan.

Padahal kita tahu, bahwa terma kesenian sampai saat sekarang masih menjadi suatu hal yang problematik dalam paradigma dan mainstream keagamaan kalangan pesantren. Seni (fan) dan kesenian (al-fannan) dianggap urusan yang tidak esensial, bahkan dicurigai sebagai sesuatu yang bisa melenakan orang, membuat penikmatnya berleha-leha, melalaikan orang dari urusan syari'at (Zainal Arifin Toha, 2002).

Klaim ini diperkuat oleh adanya suatu histeria historis; dimana banyak sekali literatur keilmuan klasik (fiqh) yang dipergunakan pesantren yang menghukumi seni itu syubhat, makruh bahkan haram. Celakanya, hukum-hukum fiqih ini kemudian difahami dengan sempit, rigid dan membuta, tidak disertai dengan penggalian dengan wawasan hermeneutik. Interpretasi terhadap teks-teks fiqih terhadap kesenian seharusnya kritis dan kompherensif dalam mempertimbangkan berbagai konteks (asbabul wurudl) dimana hukum fiqih tertentu dikeluarkan; situasi sosio-kulturnya, situasi historis, situasi politik, bahkan situasi psikologis saat itu.

Padahal, diharamkannya anasir kesenian tidak lepas kondisi historis saat itu, yakni adanya political clash dan cultural clash antara umat Islam dengan umat Kristen. Kebetulan saat itu peradaban umat Kristen terkenal dengan keseniannya yang amat kental, sehingga mengundang ketegasan kaum agamawan Islam (fuqaha) untuk menumbuhkan militansi umatnya dengan melakukan berbagai langkah preventif agar umatnya tidak meniru kebudayaan lain.

Karena itu, ledakan sastra pesantren boleh dikatakan sebagai pemberontakan terhadap rigiditas dalam menjalankan syari'at, skripturalisme, tekstualisme, otoritarianisme fiqih minded yang terkadang membelenggu kreativitas berbudaya dan 'buta konteks'. Kesusasteraan pesantren meronta-ronta dalam hasrat yang menggebu untuk senantiasa menghidupkan dan membumikan nilai-nilai estetika sebagai ejawantahan atas prinsip; "Tuhan itu indah dan mencintai keindahan" (Al Hadits).


Kanon Sastra Pesantren


Dewasa ini, secara kualitatif, dinamika sastra pesantren bisa kita analisis salah satunya adalah melalui pelbagai macam perubahan serta pergeseran corak orientasi paradigmatik yang menjadi substansi dalam karya sastra yang bersangkutan. Maka, bertambahlah 'spesies' baru, genre baru ke dalam khazanah sastra pesantren mutakhir; sastra pop pesantren dan sastra pesantren yang subversif. Keberadaan dua spesies baru ini tidak hanya melengkapi dan menemani kanon sastra pesantren yang sudah ada, tetapi juga di banyak sisi menyimpan suatu potensi dialektis dan kritis baginya; intertextual clash (benturan intertekstual).

Sebagaimana kita kenal dari jejak historisnya, sastra pesantren kita dikenal sebagai genre sastra yang giat mengangkat tema-tema nilai esoterik keagamaan; Cinta Illahiyyah, pengalaman-pengalaman sufistik, cinta sosial (habluminannaas), atau ekspresi dan impresi transendental keindahan alam semesta (makrokosmos). Mayoritas begitu kental dengan nuansa religius. Ini terlihat begitu jelas dalam karya-karya sastrawan pesantren tahun 90-an Acep Zamzam Noor, D Zawawi Imron, Zainal Arifin Toha, Jamal D Rahman, Abidah el-Khaeliqi, Kuswaidi Syafi'ie, Faizi L. Kaelan dan sastrawan-sastrawan lain yang ruang kreasi mereka bertempat di lingkungan geografis yang bernama pesantren.

Akibat kentalnya nuansa tasawwuf, sastra pesantren sering diidentikan dengan sastra sufistik atau sastra profetik (nubuwwah). Dengan kata lain, karakter sastra sufistik telah menjadi kanon sastra (mainstream literature) dalam tradisi kesusasteraan pesantren. Dengan Cinta Ilahiyyah dan spirit religius yang menjadi grand theme, paradigma estetika utama dalam etos berkreasi, sastra pesantren sebenarnya membawakan relevansi yang cukup signifikan terhadap vitalitas tradisi keilmuan di pesantren itu sendiri; sastra pesantren menjadi salah satu media alternatif bagi para apresian untuk mengenal dunia tasawwuf. Dengan apresiasi yang kontinyu, paling tidak sedikit demi sedikit nilai estetika dan kearifan humanis-teologis yang inheren dalam karya sastra dapat membentuk suatu sikap yang eklektik dalam beragama bagi para apresian, salah satunya dicirikan dengan terbangunnya sinergitas pemahaman terhadap fiqih dan tasawwuf.

Dengan kentalnya nuansa Cinta Illahiyah ini pula, lengkaplah sudah sastra pesantren sebagai subjek mayoritas dari keluarga besar sastra Indonesia yang mengusung dan meng-eksplorasi simbol-simbol serta nilai religiusitas (Islam). Sekalipun tentu saja, secara hakiki nilai-nilai sufistik dan profetik tidak bersifat ekslusif untuk golongan tertentu, melainkan juga terbuka luas untuk kalangan non-pesantren. Namun, dewasa ini ada perkembangan yang cukup menarik; bahwa kalangan sastrawan pesantren ternyata tidak hanya menjadikan ke-tasawwuf-an sebagai grand theme dalam etos kreativitasnya; satu persatu mulai terlihat adanya keliaran, muntahan-muntahan kegelisahan untuk merambah ke sisi-sisi lain. Sastra pesantren berada dalam kegelisahan yang panas. Di sinilah saya melihat munculnya genre sastra pesantren yang subversif.

Yang paling ekstrim barangkali adalah novel Mairil (Pilar Media, Yogyakarta; 2005) karangan Syarifuddin yang sedemikian berani mengangkat sisi gelap pesantren; yakni abnormalitas perilaku seksual yang terjadi di pesantren (mairil; homoseksual). Detail-detail ilustrasi peristiwa yang diangkat dari fakta itu dinarasikan sedemikian vulgar. Boleh dikatakan bahwa novel ini subversif terhadap sistem tradisi pesantren; bukankah seksualitas dan cinta lawan jenis selama ini menjadi suatu hal yang (di) tabu (kan) di lingkungan pesantren? Faktanya; pembatasan pergaulan lawan jenis yang berlebihan merupakan faktor utama dari disorientasi seksual yang terjadi di pesantren. Meskipun tidak bisa tidak, di sisi lain novel ini potensial menciptakan suatu bias eksternal; dimana ia mengundang stigma buruk kalangan masyarakat terhadap pesantren sebagai institusi pendidikan berbasis agama.

Sayangnya, kritisitas novel Mairil ini tidak diimbangi dengan kebaruan corak dan wawasan estetika. Prestasi dari novel Mairil adalah kualitas dokumenter (Faruk HT, 2000) dimana ia berhasil mendongkrak sisi tersembunyi pesantren sebagai suatu sistem yang dinamis, dan bukan kualitas literer; kualitas stilistika, capaian estetika sastrawinya masih cenderung nge-pop. Namun, bagaimanapun inilah satu bentuk muntahan otokritik baru. Revolusioner terhadap kultur pesantren yang secara mayoritas cenderung patriarkhal dan mono-referen (hanya terpaku pada sistem referensi pemahaman tunggal).

Secara implisit, dapat kita interpretasikan bahwa kehadiran novel Mairil berusaha membuka cakrawala baru pemahaman tentang cinta; bahwa Cinta Illahiyah -yang sufistik- tidak begitu saja dengan gampang diraih secara instant. Demi kesuksesan dalam perjalanan mendaki tangga-tangga cinta, seorang insan mesti sabar dalam melewati tahapan-tahapan dimensional dari Jalan Cinta. Bukankah Ibn 'Arabi, sang maestro sufi itu pernah memberikan formulasi tentang Jalan Cinta; Cinta alami (cinta lawan jenis dan unifikasi makrokosmis), Cinta Ruhani, dan Cinta Illahi. Dan Cinta Alami menempati posisi yang amat vital; bukankah Ibn Arabi juga mampu menelurkan banyak karya lantaran motivasi psikologis yang kuat dari Nidzam, seorang wanita Baghdad yang dicintainya? Karenanya jatuh cinta terhadap lawan jenis merupakan suatu hal yang manusiawi dan tak bisa ditinggalkan.

Di wilayah sosio-internal, novel Mairil kiranya layak untuk mendapat perhatian dari kalangan elit pesantren. Suatu tantangan untuk berintrospeksi; bagaimana merekontruksi dan merevisi kembali penataan lingkungan pergaulan (millieu) antar lawan jenis, atau mulai mempertimbangkan pendidikan seksual yang efektif dan proporsional bagi santri-santrinya.

Secara kuantitatif, sastra pop pesantren semakin menyemarakkan industri perbukuan. Sederetan nama sastrawan pesantren yang rata-rata berusia muda dengan karyanya tampil ke muka: Santri Semelekete (karya Ma'rifatun Baroroh), Bola-Bola Santri (Shachree M Daroini), Kidung Cinta Puisi Pegon (Pijer Sri Laswiji), Dilarang Jatuh Cinta (S. Tiny), dan Santri Baru Gede (Zaki Zarung) Salahkah Aku Mencintaimu (Ahmad Fazlur Rosyad) dan sederet nama lain yang tak bisa disebutkan satu-persatu. Motivasinya bisa beragam, atau barangkali sastra pop pesantren dipandang lebih prospektif dalam hal laba finansial? Terlepas dari semua itu, ini akan menjadi aset ekonomi para sastrawan.

Banyak kalangan elit sastra yang cenderung 'mengejek' akan keberadaan sastra pop, termasuk sastra pop pesantren. Budi Darma dalam esainya "Sastra Mutakhir Kita" (Horison, Februari 2000) menyatakan kekhawatirannya bahwa dengan industri, keberadaan sastra pop bukan hanya sekedar keberadaan, melainkan juga kekuatan yang akan menggeser keberadaan sastra serius". Ini saya kira suatu kekahawatiran yang agak berlebihan. Sementara, St Sunardi (2006) mengatakan" dalam setiap kebudayaan pop ada suatu jaringan kekuatan. Namun bagaimana kebijakan kita mengarahkannya untuk kepentingan-kepentingan kemanusiaan."

Dalam konteks sastra pesantren saya melihat bahwa relasi sastra serius pesantren dan sastra pop pesantren cenderung bersifat hierarkis, sinergis dan interdependen; bahwa dari minat terhadap karya sastra pop yang ringan itulah embrio tradisi membaca bisa terbangun. Karena itu animo masyarakat dan kalangan santri terhadap sastra pop pesantren tetaplah harus kita pandang positif. Bahkan penyair Jamal D Rahman dalam sebuah perbincangan tentang proses kreatifnya, mengaku mendapat modal senang membaca karena awalnya keranjingan membaca novel-novel 'kacangan' Freddy. S, tapi seiring dengan waktu dan intelegensinya yang terus berkembang ia pun beralih membaca dan menulis karya sastra sufistik yang high-quality.

Sastra pop juga berfungsi untuk 'latihan pemula', dan ini akan melanggengkan tradisi bersastra (baik kepenulisan maupun apresiasi) sehingga kontinuitasnya terjaga; bukankah hanya dengan hal itu literacy culture di pesantren bisa hidup, menyala dan terus memberi sumbangan-sumbangan berarti bagi peradaban? ***



Catatan Redaksi: Ridwan Munawwar, penyair dan esais. Saat ini menjadi ketua MUSIKATA gesellschaft (MG) Yogyakarta). Selain itu bergiat di Rumah Poetika dan Jamaah Seni KUTUB di kota yang sama. Domisili; Amabarukmo 01/01 no.84 Yogyakarta 55281.Kontak Person: 0817 0418187. Email: profesorridwan@yahoo.com

SUMBER: KLIK!

0 komentar

Wednesday, June 20, 2007

Sastrawan Muda (Pinggiran) di Pesantren
Minggu, 31/12/2006

Wednesday, June 20, 2007


TAHUN 2006, tahun penuh warna, akan segera berlalu.Tahun 2006,tentu menyisakan banyak cerita seputar jagat seni menulis. Sepanjang tahun penuh bencana itu, jagat seni menulis dan jagat perbukuan Indonesia masih didominasi karya sastra. Karya-karya sastra dari pelbagai macam genre muncul merebut simpati publik.

Semuanya serbariuh dan gemerlap. Namun, di balik gejala menggembirakan bagi dunia sastra itu, karyakarya sastra yang banyak bertebaran ternyata lebih banyak dihasilkan oleh para pemain lama, nyaris tanpa ada nama baru, apalagi penulis muda. Hanya ada nama Radhar Panca Dahana, Jakob Sumardjo, Remy Sylado, Maman S Mahayana,Ayu Utami, Nirwan Dewanto,Seno Gumira Aji Darma, Hudan Hidayat,Agus Noor,Puthut EA, Djenar Maesa Ayu,dan Dewi Lestari.

Mereka seolah dianggap sebagai ”selebritis” sastra yang tidak tergoyahkan. Adapun mereka adalah penulis yang telah teruji karya-karyanya, hal itu tidak perlu diperdebatkan lagi. Berderet karya berkualitas mereka adalah bukti nyata yang mampu menyaput sinisme yang diarahkan. Namun, bila dilacak lebih jauh lagi, bisa jadi itu adalah gejala minimnya kreativitas kita dalam menghasilkan penulis-penulis muda berbakat.Terutama, bagi kaum muda yang ada di pelosok desa atau juga di pesantren yang masih dianggap sebagai lembaga pendidikan nonformal yang udik.

Memang,ada banyak penulis muda yang muncul di tengah kesemarakan dunia penerbitan sastra kita. Buktinya, lima tahun terakhir ini, dunia penerbitan sastra banyak disemarakkan karya sastra pop dari penulis muda.Terbitnya buku-buku chicklitteenlit adalah bukti nyata menyeruaknya ”ruang gelisah” publik sastra kita untuk menggugat kemapanan penulispenulis tersohor.

Sedikit nama, di antaranya, sebut saja Rachmania Arunita dengan novel Eiffel I’m in Love yang laris manis bak kacang goreng di pasaran. Kemunculan Rachmania cukup fenomenal.Novelnya sejak terbit tiga tahun lalu, sudah naik cetak beberapa kali.Bahkan,meski sedikit berlebihan, Rachmania bisa disamakan dengan kisah novelis Helen Fielding yang novelnya, Bridget Jone’s Diary,menjadi buruan di pasar internasional.

Selain Rachmania,ada nama Icha Rahmawati sebagai penulis muda nan berbakat. Novelnya, Cintapuccino, booming dan kini sudah naik cetak dua belas kali. Di satu sisi, kemunculan penulispenulis muda itu patut mendapat apresiasi.Namun,di sisi lain,hal itu juga menunjukkan perbedaan budaya tulis yang mencolok antara anak muda kota dan anak muda di pelosok desa. Dua penulis muda yang saya contohkan di atas adalah ”produk” dari perkotaan.

Bagaimana dengan anak muda dari dunia pesantren? Jawabannya jelas, dalam dunia penerbitan sastra kita, sangat sulit ditemui nama yang ”berbau”pesantren. Namun itu dulu. Cerita muram tentang minimnya karya sastra dari pelosok atau komunitas yang selama ini dianggap ”pinggiran” seperti pesantren kini telah berakhir. Setahun belakangan ini, tidak sedikit karya sastra dari sastrawan muda ”pinggiran” itu yang berhasil menghiasi etalase-etalase toko buku di Tanah Air.

Ada nama Shachree M Daroini, Ma’rifatun Baroroh,Fahrudin Nasrulloh, Pijer Sri Laswiji, Zaki Zarung, S Tiny, dan Mahbub Jamaludin. Shachree M Daroini menulis novel Bola-Bola Santri, Ma’rifatun Baroroh menulis Santri Semelekete, Pijer Sri Laswiji menulis Kidung Cinta Puisi Pegon, Zaki Sarung menulis Santri Baru Gede, S Tiny menulis Dilarang Jatuh Cinta, dan Mahbub Jamaludin menulis Pangeran Bersarung.

Novelnovel yang ditulis oleh sastrawan belia pesantren tersebut meminjam analisis puisi model Hipolyte Taive, pada dasarnya merupakan perwujudan dari teori ketergantungan karya literer dengan fenomena pada zaman dan lingkungannya. Karya literer (puisi, novel) selalu mencobamerefleksikan,mencatat,dan menafsirkan problematika zaman dan lingkungannya. Paling tidak, karya tersebut memang berusaha menjadikan dirinya sebagai saksi atas berbagai peristiwa dan kondisi sosial.

Dalam konteks ini,tangan-tangan kreatif dari komunitas ”lain” bernama pesantren itu mencoba memotret realitas keseharian pesantren lengkap dengan dinamikanya. Realitas keseharian, seperti perilaku gus (putra kiai) ketika santri jatuh cinta dan kerja keras untuk belajar di tengah kesederhanaan disajikan dengan sangat jujur dan bernas. Masyarakat yang menganggap pesantren sebagai komunitas udik dengan baju kumal dan penyakit kulit para santri akan dibuat ”insaf”bahwa pesantren ternyata juga sangat berpotensi dalam penerbitan sastra. Novel Bola-Bola Santri karya Shachree,misalnya, mampu memotret dengan cukup utuhperjalananhidupseoranggusalias putra kiai.

Kisah pergaulan gus dengan sesama gus,para santri,juga warga sekitar kampung mengusung nilai lokalitas ala pesantren yang cukup kental. Novel-novel mereka memang kental dengan nuansa pesantren. Suasana udik ala pesantren ditampilkan apa adanya.Novel-novel ini, meski masih sangat sederhana, sudah bisa mengusung semangat estetika lokal—semangat yang melandasi pelaksanaan Kongres Cerpen Indonesia di Riau beberapa waktu lalu.

Meski tak sesempurna Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari dalam mengusung semangat lokalitas, novel-novel mereka tetap mampu menyeruakkan aroma pesantren. Penggunaan istilah-istilah yang biasa dipakai di pesantren,seperti roan, ghasab, pawestren, ndalem, dan takzir sangat membantu novel-novel mereka menjadi semakin terasa ”nyantri”. Lalu, apa langkah yang tepat bagi sastrawan muda ”pinggiran” ini ke depannya?

Langkah awal brilian berupa lahirnya novel-novel di atas perlu lebih didukung publik sastra guna pengembangan sebuah karya sastra yang lebih serius dan tematik,mulai dari plot maupun materi cerita. Dengan begitu, kemunculan mereka tidak sekadar ”hangat-hangat tahi ayam”sehingga kita bisa memacu lahirnya sastrawan-sastrawan muda dari pesantren.

Terkait dengan itu, mungkin ada yang menganggap saya berlebihan dengan menyebut mereka sebagai ”sastrawan” hanya karena karya mereka belum benar-benar teruji seperti karya ”selebritis” sastra papan atas Indonesia. Sudahlah, buang jauh pola pikir positivisme seperti itu.Toh mereka juga berkarya. Itu sudah cukup untuk mengatakan bahwa pemilik tangan-tangan kreatif dari pesantren itu sebagai seorang sastrawan, meski dengan embel-embel ”pinggiran”.(*)


MOHAMMAD ERI IRAWAN Santri ”jalanan” di sejumlah pesantren di Jember, aktif di Rumah Baca dan Diskusi Taman Katakata Jember, Jatim

SUMBER: KLIK!

4 komentar