Showing posts with label BERITA. Show all posts
Showing posts with label BERITA. Show all posts

Tuesday, January 08, 2013

SERI WAWANCARA

Tuesday, January 08, 2013
Dari dalam ruang kerja utamanya, Mbak Isma masih enjoy di kursinya yang sudah usang. Sudah berjam-jam dia di sana. Lamat-lamat terdengar percakapan lewat phone speaker bersama seorang yang entah siapa dan dari mana. Pastinya, dia sedang diwawancara. Tentunya soal Komunitas Matapena. Barangkali setelah selesai, baru kita dapat mengetahui siapa dan apa kepentingan wawancara tersebut.
Nah, klik di sini untuk menyimak pengalan adegan inteview yang sedang berlangsung.[]



6 komentar

Sunday, November 18, 2012

Redaksi Merapat

Sunday, November 18, 2012
Hasan, Khanif, Imron, Rohim, Adi, Wahed, Khairi, Anis

Setelah seminggu sebelumnya (11/11) komunitas Matapena kumpul di stand Matakopi ketika event pameran IKAPI DIY, guna membahas tema buletin edisi Desember 2012. Hari ini (18/11)  redaktur buletin Matapena kembali rapat redaksi. Rapat dihadiri seluruh anggota redaksi minus Halimatus Sa’diyah dan Tika Fitriyah yang sedang dalam tugas redaksi ke Jakarta. Sisanya, selain redaktur lama, ada beberapa nama baru yang mulai hari ini bergabung sebagai anggota redaksi. Mereka adalah Abdul Rahman Wahid (Wahid), Imron Hakiki (Ron), Khairi Esa Anwar (Khairi), dan Muhammad Adi (Adi). 
Rapat redaksi kali ini merencaakan penerbitan buletin satu bulan sekali. Penerbitan majalah enam bulan sekali dan pengelola buletin Matapena on line. Harapannya, dengan buletin edisi on line, bisa memudahkan khalayak luas mengakses buletin Matapena secara langsung. So, nantikan buletin edisi Desember 2012 dengan tema Pesantren dan Menulis. Semoga dengan tema ini bisa memantik jiwa kepenulisan di kalangan pesantren pada khususnya. [Ayul]


1 komentar

Wednesday, November 07, 2012

Kabar dari Tasik II

Wednesday, November 07, 2012
Baru beberapa menit setelah postingan Kabar dari Tasik, sekitar pukul 03.00 dini hari, tim panitia dari calon tuan rumah LSdP #9 sudah sampai di terminal Giwangan Yogyakarta. Rombongan yang menurut rencana berjumlah empat orang ternyata cuma dua orang yang datang. Noverita (ketua panitia LSdP #9) dan seorang pendamping perjalanannya.

Sementara Lena Sa'yati dan pendamping hidupnya, M. Syakhruzzaky Romadloni (selamat ya... atas pernikahan kalian), batal ikut serta dalam kunjungan ke Yogyakarta kali ini. Berdasarkan informasi dari Nove (sapaan akrab pemilik nama panjang Noverita Mustika Ati), Teh Lena tidak jadi berangkat karena sakit. Moga lekas baikan ya, Teh...

Kisaran pukul 14.00 WIB, tim fasilitator sudah menunggu Nove di Stand Matakopi Kafee yang kebetulan hari itu buka di lokasi pameran buku IKAPI DIY. Di sanalah perbincangan membahas rencana pelaksanaan LSdP #9 dimatangkan. Wal hasil, tim panitia dibantu fasilitator Komunitas Matapena sudah siap menerima pendaftaran peserta dengan ketentuan sebagai berikut:

- Peserta adalah remaja berusia 15-22 tahun.
- Mengisi formulir pendaftaran (disediakan di lokasi kegiatan).
- Membayar kontribusi @Rp150.000.
- Peserta akan mendapatkan makalah, tanda pengenal, kartu anggota komunitas, tas, sertifikat, dan buku antologi karya peserta serta fasilitas akomodasi dan konsumsi selama pelatihan.
- Menyerahkan foto diri (pose bebas tapi sopan, ukuran maksimal 3R)
- Menyerahkan salah satu karya yang pernah dibuat, baik yang pernah dimuat di media massa maupun yang belum.
- Peserta bersedia tinggal di lokasi selama kegiatan.
- Pendaftaran bisa dilakukan di sekretariat panitia; Pondok Pesantren Riyadlul ‘Ulum Wadda’wah Kp. Condong, Ds. Setianegara, Kec. Cibeureum, Kota Tasikmalaya Jawa Barat 46196 Telp. (0265) 7077821
- Pendaftaran bisa melalui 
 email: admin@komunitasmatapena.com 
          matapena_jogja@yahoo.com atau 

Informasi juga bisa diakses di www.matapenatasik.blogspot.com 

Batas waktu pendaftaran sampai hari Kamis, 20 Desember 2012.

Di antara sekian konsep yang sudah disiapkan tuan rumah, pelaksanaan LSdP #9 ini rencananya akan membawa peserta ke Rest Area Urug Kota Tasikmalaya pada hari ketiga. Malam harinya, penutupan acara akan menghadirkan sastrawan-sastrawan nasional seperti Acep Zamzam Noer (Sastrawan Nasional Senior), Bode Riswandi (Sastrawan dan Dosen Universitas Siliwangi Tasikmalaya), dan M. Irfan Hidayatullah (Sastrawan-Alumni PP Riyadlul 'Ulum Wadda'wah Condong Tasikmalaya). Tentu, selama kegiatan berlangsung, peserta akan didampingi oleh fasilitator-fasilitator dari Komunitas Matapena.

Dan jangan sampai lupa, LSdP #9 ini akan diselenggarakan pada 28-30 Desember 2012. Peserta terbatas untuk 200 orang.

Untuk formulir pendaftarannya bisa mengunduh bitmaps di bawah ini:


Hayu ka Tasik...[MF] 

1 komentar

Kabar dari Tasik

Di penghujung tahun ini, Liburan Sastra di Pesantren (LSdP) #9 bakal bertempat di Tasikmalaya. Sahabat Matapena Rayon Tasikmalaya, PP Riyadhul 'Ulum wad Da'wah Condong, sedang sibuk mempersiapkan segalanya. Jika pada LSdP sebelum-sebelumnya peserta ditarget maksimal 100 orang, kali ini bakal dinaikkan dua kali lipat. Melihat target sedemikian rupa itu, setidaknya mengajak kita untuk sama-sama berpartisipasi dalam rangka menyambut sekaligus mengapresiasi kerja keras yang sedang digarap Sahabat Matapena di Tasik sana.
Ya, memang jauh. apalagi jika dibayangkan jarak tempuh dari Banyuwangi dan Situbondo. Tetapi jangan dikira mereka akan menyerah dengan pertimbangan itu. Karena mereka yakin dengan kemungkinan sebaliknya, bahwa jarak sudah tidak lagi menjadi pertimbangan utama. Lain lagi jika terdapat pertimbangan waktu yang tidak berpihak dari beberapa daerah sehingga menuntut mereka untuk menunda perhelatan yang selalu dinanti-nanti tersebut.
Sebagai gambaran awal, LSdP #9 akan dilaksanakan pada 28-30 Desember 2012 di PP Riyadhul 'Ulum wad Da'wah Condong Tasikmalaya. Tempat di mana hampir setiap kali LSdP Matapena selalu ada peserta delegasi dari sana. Ya, seperti delegasi dari daerah-daerah lain seperti Banyuwangi dan Situbondo, atau bahkan Pulau Bali dan Madura. Lagi pula, LSdP yang terselenggara di luar Jogja sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2010 lalu, di STAIT Raden Wijaya Mojokerto. kemudian dijeda perhelatan di Yogyakarta lagi sebanyak 2 kali LSdP (Dusun Santan Pajangan Bantul--LSdP #5, dan PP Kaliopak Yogyakarta--LSdP3 #6). Dan pada kesempatan berikutnya, LSdP diselenggarakan di UNSIQ Wonosobo dengan tuan rumah Sahabat Matapena Rayon Wonosobo dari PP Al-Asy'ariyyah. Disambung LSdP berikutnya di MA Hasyim Asy'ari Bangsri Jepara. 
Nah, pada perhelatan terkhir itu, LSdP #9 yang bakal diselengarakan ini mulai ditarik ke sana ke mari oleh Sahabat Matapena dari beberapa daerah. Wal hasil, Tasikmalaya adalah yang paling siap untuk menjadi tuan rumah.
Rencananya, hari ini (07 November 2012) sebagian dari penggerak Matapena Tasikmalaya akan bertandang ke Yogyakarta untuk melakukan koordinasi terkait preparasi LSdP #9 nanti. Apa hasil dari koordinasi itu, akan segera kami sampaikan pada Sahabat-sahabat sekalian.
Sampai jumpa...[MF]

0 komentar

Monday, May 28, 2012

Ngopi Moeng Mampir Oerip

Monday, May 28, 2012
Bagi Sahabat-sahabat yang kebetulan berkunjung ke Jogja, dan ingin silaturrahmi ke Komunitas Matapena, sekarang bisa langsung menuju ke Waroeng Kopi Matakopi. Rumah Kreatif Komunitas Matapena sekarang sudah pindah lagi (menyatu/menjadi satu/bersatu/apapun deh istilahnya, hehe) dengan Matakopi.
Matakopi sudah dibuka sejak tanggal 7 April 2012. Beralamat di Jeruk Legi Banguntapan Bantul Yogyakarta. Pastinya, tempatnya asyik dan inspiratif.




Ngopi Moeng Mampir Oerip hanya bisa dipahami setelah kalian berkunjung sendiri. Menu-menunya yang spesial dan original tidak kalah dengan racikan barista-barista Nusantara. Kopi Spiritual, Kotang Spiritual, Kopi Paranormal, Kotang Paranormal, Kopi Peppi, Kotang Peppi, Kopi Rencong, Kopi Joran, Kopi

2 komentar

Tuesday, March 29, 2011

Selayang Pandang Workshop Klaten

Tuesday, March 29, 2011
KLATEN-penuh bahagia. Tiga hari sudah berlalu dengan suasana yang bahagia. Tim dari Komunitas Matapena bekerjasama dengan Pon Pes Al-Muttaqien Klaten berhasil menyelenggarakan Workshop Living Values Education (LVE) bertemakan "Belajar Bareng Menghidupkan Nilai-Nilai di Pesantren" dengan lancar. Semenjak awal pelaksanaan, indikator keberhasilan acara tersebut tampak pada antusiasme calon peserta workshop. Mereka yang terdiri dari delegasi 30-an Lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal, pada pelaksanaannya memenuhi presensi kegiatan dalam setiap session. Memang barangkali mereka memiliki motivasi yang berbeda. Namun yang dapat mempertemukan mereka dalam acara tersebut, satu di antaranya adalah semangat untuk tholabul 'ilmi. Acara ini, disengajakan dalam rangka mewujudkan aktivitas pendidikan yang berbasis nilai meski langkah yang dilakukan melalui workshop tersebut adalah satu langkah kecil. Secara konseptual, realisasi ini merupakan wujud dari gagasan yang lahir dari musyawarah 20 pendidik dari seluruh dunia dengan berbagai kegelisahan (konvensional dan universal) dari Negaranya masing-masing (termasuk Indonesia). Pada pertengahan 90-an, lahirlah semangat yang hingga saat ini dikenal dengan Living Values Education (Pendidikan Menghidupkan Nilai). Sedikit demi sedikit, semangat ini ditularkan pada para pendidik di Indonesia sendiri. Baik secara individu maupun institusional. Dalam perjalanannya, di Indonesia mulai bermunculan beberapa tokoh seperti Budhy Munawar Rahman yang sekaligus menjadi penanggung jawab program ini di Indonesia. Kemudian Saifudin Amsa, seorang praktisi pendidikan yang kini masih melanjutkan S2-nya di Kampus Sanata Dharma Yogyakarta, serta D. Zawawi Imron, Penyair dan pendidik kawakan dari Madura. Selain itu, dalam pelaksanaannya, konsep pelatihan tersebut sengaja dikemas secara sederhana dan santai. Sehingga materi-materi dalam setiap session bisa disampaikan kepada peserta secara maksimal meski dengan durasi waktu yang terbatas. Terbukti bahwa sebagian besar pesertanya menyampaikan apresiasi positif dalam beberapa kesempatan. Sebagaimana yang disampaikan Ustadz Sunaryo saat kami wawancarai di sela-sela waktu break. "Saya harap acara ini tidak berhenti sampai di sini. Dalam arti, dari Tim Matapena bisa memberikan follow up pada kami di kemudian hari," ungkap Beliau dengan mantap. Hal senada juga disampaikan Bu Atik, seorang pengajar di salah satu Sekolah Dasar di Klaten. Bahkan Beliau menyampaikan rasa kegembiaraannya atas pelaksanaan workshop tersebut. Menurutnya, banyak hal-hal sederhana yang sebelumnya sudah dipahami akan tetapi belum tergambar secara baik untuk dilakukan dalam aktivitas sehari-hari. "Dengan pelaksanaan pelatihan ini, saya jadi terinspirasi untuk menjadi pengajar yang baik," tandasnya. Sementara, dalam kesempatan yang lain, Gus Jazuli selaku Shohibul Bait, menilai acara inilah yang memang semestinya harus dilakukan oleh para pendidik sekarang. Dengan melihat situasi zaman serta konfigurasinya terhadap realitas yang terjadi di masyarakat dan lingkungan pendidikan terutama, masyarakat harus bahu-membahu dalam rangka memajukan sistem transformasi ilmu pengetahuan di Negara ini. "Ya, memang harus dilakukan dari yang terkecil dan terdekat dengan kita."[MF]

1 komentar

Friday, June 13, 2008

NAPAK TILAS: MALANG PENUH KENANGAN...

Friday, June 13, 2008
Senin, 26 Mei 2007...Masih terlintas di pikiranku, satu wajah yang akan kutemui nanti selepas maghrib. Wajah yang teduh, lembut dan... Aaah, kugelengkan kepala dan mencoba memfokuskan pandangan pada betapa berantakannya tempat ini. Spanduk-spanduk yang siap dibentangkan, karton, megaphone dan kertas-kertas bertuliskan tuntutan aksi bertebaran di ruang diskusi kantor PMII Cabang Kota Malang, tempat ampiranku sebelum ber cuap-cuap di Hall Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB). Di organisasi ini aku digembleng hingga mendapat banyak pengalaman dan aku sangat berterimakasih untuk itu.

Trrit trritt...sebuah sms melesak ke HP ku: ”Mbak, sudah siap atau belum? Kami akan jemput ke sana.” dan setelah kupastikan semuanya sudah ready kubalas sms dari Samsud, punggawa acara di FIA. Tak lama kemudian, sebuah mobil yang menurunkan tiga cowok mendekati kantor dan tanpa basa-basi yang berlebihan, kami segera meluncur menuju kantor BEM FIA. Sesampainya di sana, barulah aku tahu bahwa pembanding kali ini adalah ukhti dari KAMMI. Akhirnya, setelah menunggu sambil ber haha-hihi dengan beberapa ukhti, aku, Samsud dan ukhti Yani siap beraksi. Samsud selaku moderator memberikan waktu kepada Yani terlebih dulu karena ia punya appoinment dengan koleganya. Yani tak memberikan kritik apapun bahkan membantu promosi novel dengan banyak mengungkap nilai plus dari Trilogi Ning Aisya. Yang sempat membuatku tersenyum, ia mengatakan ”Membaca karakter Ning Aisya, saya seperti melihat refleksi diri saya sendiri.” Lah, kenapa begitu saja aku tersenyum? Ya, karena dia hanya membaca sekuel 1 dan 2 (sekuel ke 3 kebetulan lagi kosong), wah....coba dia baca sekuel 3. Aisya kan sudah nakal-nakalnya!

Pada season tanya jawab, peserta banyak bertanya mengenai teknis penulisan, dan di akhir acara mereka menjawab tantanganku dengan mendeklamasikan puisi tanpa membawa secarik kertas. Mereka berhasil!! Ah...senangnya melihat mereka antusias! Pukul 13.30, mataku tiba-tiba terasa berat. Setelah undur diri dan berbincang dengan panitia usai bedah novel, Samsud mengantarkanku kembali ke Kantor PMII yang memang hanya berjarak 2 Km dari FIA. Begitu sampai kantor, aku menyegel sebuah kamar dan mem privatisasi nya untuk 2 jam ke depan.
Sore hari kulalui dengan diskusi mengenai rencana aksi Menolak Kenaikan BBM yang digelar besok siang. Pukul 17.30, adzan maghrib berkumandang dan kami segera menunaikan sholat maghrib berjama’ah. Setelah menyantap rawon favoritku, aku diantar teman menuju UKM UAPM (Unit Aktivitas Pers Mahasiswa) yang pernah menjadi sekolah kedua ku. Melewati gedung UIN yang menjulang, aku benar-benar ulap (terkesima). Keren banget! Asli! Coba gedung kuliahku dulu sebagus ini! Aku belum tanek menikmati indahnya UIN Malang, kawanku sudah menyeret ke UAPM. Sudah ditunggu kawan-kawan katanya. Di UAPM...tempat yang memiliki akar sejarah kuat di hidupku, aku merasa begitu haru, malu, senang, tumplek bleg jadi satu. Mulai dari tatapan kagum kawan-kawan, kernyitan penuh heran, hingga gojlokan yang tak kunjung usai mewarnai 2 jam pertemuan kami.
Dan, aku tak tau pada detik keberapa persisnya, wajah teduh itu datang dengan senyum yang amat kukenal. Seketika, UAPM mengganggu tetangga UKM dengan riuh tepukan, siul dan entah apalagi. Aku yakin wajahku memerah, tapi aku mencoba mengembalikan fokus kawan-kawan pada diskusi sastra yang sedang kami lakukan. Yang paling kusyukuri dari pertemuanku dengan kawan-kawan UAPM adalah, aku bisa membuktikan diri bahwa meski aku hanya sebentar di UAPM, aku bisa menjadi seseorang yang berbeda (thanks a lot MATAPENA). Pukul 20.00 kami harus mengakhiri diskusi karena (aku baru tahu tentang ini) ada jam malam di kampus. Yah, meski sebenarnya kami masih betah, akhirnya kami hengkang juga.

Adalah Ani Rufaidah, orator ulung, penulis handal (ia juara LKTI tingkat Nasional) sekaligus kawanku di PMII dan UAPM yang mengajakku ke Averrous, sebuah NGO yang dimotori oleh kaum aktivis yang mengedepankan demokrasi dan progresifitas berfikir. Sesampainya di Averrous, yang buku-bukunya tadi pagi kutemukan di kantor PMII, aku menjadi mustami’ yang nggak nyambung dikarenakan keterlambatan hadir dan mata yang tidak bisa diajak kompromi. Pukul 22.30, aku menyerah. Diskusi ini bisa berlangsung sampai dini hari, sedangkan besok masih banyak yang harus kulakukan. Kami pamit dan Ani mengajakku ke kantornya, KOMDEK (Komunitas Malang untuk Demokrasi) yang dihuni oleh dua orang cewek. Masih belum subuh saat aku terbangun dan melihat Ani dan temannya masih berkutat dengan kesibukan. ”Belum pada tidur dari semalem?!” Mereka menggeleng sambil senyum-senyum penuh arti. Wah, kalau jadi aktivis ya gini deh, nglowo!

Sudah masuk 27 Mei 2008 ketika mantan sekertaris umum PMII Malang menjemputku di KOMDEK. Usai sarapan dan berkeliling di areal kampus, akhirnya aku bertemu dengan Azizah Hefni alias Zizi, cerpenis jebolan Bahrul Ulum yang sudah mengantongi predikat juara 2 lomba tulis cerpen tingkat nasional yang diselenggarakan Menpora. Kami berdua meluncur ke rumah sastrawan Malang kaliber nasional, Ratna Indraswari Ibrahim. Ia banyak bertanya mengenai tulisanku. Melihat Mbak Ratna yang sangat produktif di usia senja, hatiku begitu trenyuh. Mengapa aku tidak pernah semangat menulis, padahal Allah sudah memberiku tubuh yang sehat dan usiaku masih muda.
Pukul 13.30 siang, aku dan Zizi pamit. Tak berapa lama usai kami merebahkan badan, pukul 16.00 aku dibawanya menuju UKM LKP2M (Lembaga Kajian Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa) untuk mengisi diskusi sastra. Sejatinya, LKP2M banyak menelurkan orang-orang berbakat. Sebut saja, Fauzi Muda, penulis buku Perempuan Hitam Putih; Pertarungan Kodrat Hidup vis a vis Tafsir Kebahagiaan dan Sufi Juga Manusia, juga Ahmad Makki Hasan yang sangat produktif menulis di situs Penulis Lepas dan di banyak media. Tepat saat adzan magrib berkumandang, kami bubar barisan dan aku mengisi waktu dengan mencari makan. Pukul 20.00, aku didaulat untuk sharing pengkaderan di PMII Rayon Chondrodimuko UIN Malang. Energiku sudah menurun dan saat jarum jam menunjuk ke angka 22.00 aku minta undur diri. Maksud hati ingin segera tidur, tapi sahabat-sahabat Chondro dan BEM Tarbiyah menghendaki perbincangan intens mengenai bedah novel Ning Aisya yang akan diselenggarakan 7 Juni nanti. Aku menurut dan bilang pada mereka, ”Langsung pada persoalan ya, aku capek.”
Ha..ha...siapa nyana, di cafe lesehan N-PYE yang semarak, aku berjumpa dengan banyak sahabat PMII termasuk Fauzi Muda dan Liga Alam (teman di Forum Penulis Kota Malang yang merupakan penulis beberapa novel dan buku yang aku lupa judulnya). Ah, kalau bukan karena diingatkan kawanku, mungkin aku akan terus nyerocos padahal kala itu jarum jam sudah menujukkan pukul 1 dini hari. Aku pun bergegas pergi dan semuanya kembali ke base camp masing-masing. Pagi harinya (28 Mei), aku mengisi waktu dengan silaturrahmi ke Pak Marno, dosen favoritku dan ke beberapa teman lama. Merapat di pukul 8 malam, aku didaulat untuk mengisi di HIMMABA (Himpunan Mahasiswa Malang Alumni Bahrul Ulum) hingga pukul 11. Bergerak menjauh dari kantor Himmaba, aku merasa plong, esok hari aku sudah bisa kembali ke rumah. Tapi, ternyata masih ada satu hal yang menyesakkan dadaku.

Wajah teduh itu masih saja pucat. Di selaput tenggorokannya ada darah yang hanya tampak ketika ia batuk dan mulai meludah. Dan semua orang meyakini itu terjadi karena aku pergi darinya 3 tahun silam..

2 komentar

Friday, July 06, 2007

LIPUTAN METRO TV

Friday, July 06, 2007



Liputan tentang novel pop pesantren dan Matapena di MetroTV, Jum'at, 16 Maret 2007 pukul 20.00 WIB, program Indonesia Now.

0 komentar

Monday, June 25, 2007

Membincang MATABACA Edisi Juni 2007

Monday, June 25, 2007



MATABACA Juni mengupas soal “Sastra Islami, Oh Indahnya”. Katanya karena boming Ayat-Ayat Cinta… Bagi yang suka novel bernuansa Islam, judul itu tidak asing lagi, saking bomingnya mungkin lalu kemudian ini dipandang sebagai fenomena untuk “sastra islami”.

Sebenarnya saya kurang begitu sreg dengan istilah sastra islami. Karena, termaknakan sebatas label, kemasan, dan berbau-bau Islam. Lebih bagus Sastra Islam pemaknaannya daripada Sastra Islami. Cuma, lagi-lagi, perdebatan selanjutnya adalah soal pemaknaan istilah dan definisi. Dan saya, temasuk orang yang paling tidak mau terjebak soal perdebatan itu.

Kalaupun kemudian Matapena yang menerbitkan novel pop pesantren didaulat untuk jadi salah satu responden, mungkin karena pesantren identik dengan Islam. Sudah pasti. Lalu, novel pop pesantren dikelompokkan dalam “sastra islami”. Ini menurut kacamata MATABACA.

Cuma, pada prinsipnya, kata si redaktur Matapena, “Kami tidak familiar dengan label sastra islami. Kami lebih memilih untuk menyebut karya kami dengan novel pop pesantren. Novel karena berbentuk novel, pop karena dikemas dengan kemasan dan bahasa yang populer/dikenal, pesantren karena memang bercerita tentang kehidupan pesantren.” Jadi, masih menurutnya, tanpa label “islami”-pun, novel pop pesantren sudah jelas Islam.

Ohya, saya tertarik sama pernyataan Dian Guci, seorang penulis yang kebetulan juga berkomentar tentang “sastra islami” dalam MATABACA. Katanya:
“Sastra Islami itu sebetulnya nggak perlu mengusung ayat-ayat segala macam. Tidak perlu menyebutkan identitas Islam sebetulnya. Tidak perlu menerjemahkan suatu ayat Al-Qur’an, tapi merupakan nilai universal yang dikandung dalam agama Islam. Sebenarnya saya capek dengan label sastra islami ini. Kalau kita lihat karya Steinback yang berjudul The Grapes of Wrath, bercerita mengenai kemiskinan yang bisa mengkafirkan orang. Belum lagi karya Hamka dan Harimau-Harimau Mochtar Lubis. Menurut saya, karya-karya mereka merupakan sastra yang mengandung nilai Islam. Kebanyakan karya islami yang ada sekarang hanya mengobarkan cuap-cuap doang alias hanya bisa menyebut bahwa saya orang Islam dan harus berdakwah.”

Nah, ini kan pendapat. Dan, setiap orang berhak punya pendapat. Bukankah perbedaan adalah rahmat?

0 komentar

Monday, March 26, 2007

BERITA:
Tempo edisi 26 Februari-4 Maret 2007

Teenlit dari Bilik Pesantren

Monday, March 26, 2007

Novel-novel pop marak diproduksi para santri. Tabir pesantren diungkap dengan gaul.

Cinta kemuliaan, membuat Dahlia rela banting tulang menjadi penari untuk menghindari keluarganya yang miskin. Cinta kebaikan membuatnya selalu ingin belajar untuk lebih baik. Dahlia memang perempuan yang dipenuhi cinta. Tak heran jika puetra dua pengasuh pesantren, Aiman dan Bilal jatuh hati padanya.
Jalinan cerita juga memunculkan konflik. Mbah Jalaluddin Rumi, ayah Aiman, membela Dahlia ketika Kiai Umar dan ormas Islam lainnya menyudutkan Dahlia dengan tariannya--yang dianggap haram.
Ada kisah lain lagi. Seuntai mawar dan surat berisi puisi tanpa nama pengirim tiba-tiba muncul di asrama pesantren puteri tiap akhir pekan. Mawar dan puisi itu ditujukan kepada Zahra. Pesantren puteri itu pun jadi geger.
Zahra tak tahu siapa pengirimnya. Karena itu ia bungkam ketika ditanya oleh petugas keamanan pondok. Gosip pun bererdar. Ada lesbi di asrama itu yang diam-diam mencintai Zahra. Sanah, santriwati senior yang selama ini dikenal dekat dengan Zahra, jadi tertuduh.
Isu ini khas pesantren, karena memang tak boleh seorang laki-laki pun memiliki akses ke pesantren puteri, kecuali keluarga kiai.
Dua cerita di atas adalah cuplikan novel Tarian Cinta dan Gus Yahya Bukan Cinta Biasa, dua dari banyak novel bergaya teenlit yang lahir dari pesantren, sekolah yang selama ini dianggap tidak gaul.
Kehadiran teenlit (teen literature) pesantren adalah buah dari maraknya novel teenlit impor yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Teenlit terjemahan itu menampilkan tokoh dan gaya hidup remaja kota yang relatif liberal. Remaja belasan tahun sudah terbiasa berciuman dengan lawan jenis dan pergi ke pesta-pesta.
Novel remaja, karya anak muda yang hidup dalam dunia yang berkecukupan ini, kerap menampilkan tokohnya yang mempunyai mobil probadi, kerap berlibur ke seantero dunia, nongkrong di kafe, memuja bintang pop, dan berbelanja di pertokoan terkenal.
Dengan mengadaptasi gaya dan teknik penceritaan seperti itu, sejumlah pengarang muda di Indonesia menulis teenlit ala Indonesia. Jumlahnya sangat fenomenal. Bahkan, beberapa di antaranya telah diangkat ke layar perak dan layar gelas.
Kini hadir pula novel pop gubahan para santri belia yang memberi warna tersendiri dalam dunia buku sastra remaja.
Teenlit pesantren berbicara tentang remaja dan ditulis oleh remaja. Fina Af’idatussofa, penulis Gus Yahya Bukan Cinta Biasa, misalnya tahun ini baru menjelang 17 tahun. Sementara Maia Rosyida, penulis Tarian Cinta, belum lagi 20 tahun.
“Gaya bahasa yang digunakannya pun sama, yakni bahasa gaul remaja yang sedang tren: penuh dengan istilah Inggris, banyak akronim dan style Jakarta,” jelas Redaktur Majalah Seni Gong, Hairus Salim.
Tapi jika ditelesik, kata Manajer Matapena, Nur Ismah, tetap ada sesuatu yang berbeda dalam teenlit pesantren. “Ada semacam pandangan khas pesantren, yang membuat ia tidak sekadar jadi cerita cinta remaja saja,” jelas Ismah (baca: Menelusuri Lokalitas Pesantren).
Ia lalu mencontohkan karyanya, Jerawat Santri. Ada tokoh Mahsa yang memberikan semacam kuliah mengenai reproduksi berdasarkan kaca mata fikih dan psikologi sosial kepada yuniornya, Una. Dalam Coz Loving U Gus karya Pijer Sri Laswiji (2006), ada tokoh Rara yang menolak poligami. Untuk itu, Rara yang berjilbab modis mesti membatah dan berdebat dengan para seniornya di kampus.
Sedang dalam Taria Cinta karya Maia Rosyida dikisahkan kearifan dari Mbah Jalalauddin Rumi. Sang kiai tak serampangan memberi fatwa haram tarian Dahlia yang meniru gaya Toxis-nya Britney Spears.
“Nah, itu kan bukan sekadar cerita-cerita remaja to?” tegas Nur Ismah.
Ciri khas teenlit pesantren juga dipaparkan Hairus Salim. “Ada istilah-istilah fikih, referensi kitab dan buku pesantren, humor ala pesantren, bahasa prokem pesantren, dan lain-lain,” kata Salim yang sering meneliti sastra pesantren. Tengok polah Hadziq, santri Mbah Jalaluddin Rumi dalam Tarian Cinta, yang bersemangat membahasa kitab Qurratul Uyun. “Sengaja milih kitab yang agak menghibur. Maksudnya yang agak ‘porno’ biar nggak terlalu pusing dengan rumus nahwunya,” tulis Maia Rosyida dalam Tarian Cinta.
Ana FM dalam Cinta Lora menggunakan istilah ilmu hadis, serta panggilan khas untuk putera kiai di Madura yaitu Lora—disingkat dengan Ra—juga ditampilkan. “Menrut cerita yang dapat dipertanggungjawabkan alias mutawatir, Ra Faris dikenal sebagai aktivis yang superaktif dan tidak pernah ada kata cewek dalam kamus hidupnya,” tulis Ana.
Karya Fina, Maia, Ismah, Ana, dan banyak penulis muda lainnya itu dipublikasi penerbit Matapena yang berbasis di Yogyakarta. Lembaga ini memang paling giat membidani kelahiran teenlit pesantren. Kehadiran novel-novel itu dimaksudkan untuk mengisi kekosongan dari novel remaja yang sudah terbit. “Matapena ingin memperkenalkan sosok remaja pesantren yang selama ini luput dari perhatian, bahkan sering dianggap tidak gaul,” kata Nur Ismah.
Untuk kepentingan ini, dibentuklah Komunitas Matapena. Ini adalah komunitas penulis muda pesantren. Mereka berkeliling ke sejumlah pesantren, menggelar diskusi buku dan membuat workshop penulisan. Kini sudah ada 45 rayon yang berbasis di pesantren-pesantren di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Untuk Jakarta dan Banten sedang dirintis. “Jumlah penulis yang telah direkrut sekitar 300-an,” ujar Ismah.
Sejak berdiri pada akhir 2005, Matapena berhasil meluncurkan 20 novel. Beberapa di antaranya telah dicetak ulang, bahkan Santri Semelekete karya Ma’rifatun Baroroh dan Pangeran Bersarung sudah dibeli sebuah rumah produksi untuk diangkat ke layar sinetron.
Sedangkan Forum Lingkar Pena (FLP) yang juga giat mengembangkan kemampuan menulis di kalangan remaja Islam mengakui tidak mempunyai lini khusus yang menangani sastra pesantren. “Walaupun begitu, ada juga novel dari komunitas kami yang mengambil latar cerita kehidupan pesantren,” kata Ketua FLP Yogyakarta I. R. Wulandari.
Menurut Salim, pertumbuhan generasi baru penulis novel dari pesantren saat ini bagi cendawan di musim hujan. Unik, memang. Mengingat umumnya pesantren masih melarang santrinya membaca buku-buku ‘putih’, yaitu buku karya penulis anyar apalagi dianggap pop. “Mereka hanya diwajibkan untuk membaca dan mempelajari kitab kuning, yakni buku-buku keagamaan yang ditulis dalam bahasa Arab,” ungkap Salim.
Pandangan ‘kaku’ seperti itulah yang menyulitkan Ismah masuk ke pesantren. Tetapi setelah melakukan pendekatan kepada kalangan pimpinan pondok bahwa gerakan ini untuk kepentingan satri, barulah kehadiran mereka disambut baik. “Kini bukan lagi kami yang menawarkan, sejumlah pesantren juga telah meminta para penulis Matapena untuk memberikan workshop penulis di pesantren-pesantren mereka,” jelas Ismah.
Jika diperkirakan ada sekitar 3 jutaan santri di seluruh Indonesia, maka hadirnya karya-karya remaja pesantren jelas cukup rasional dari segi pasar. Tapi bukan soal pasar yang paling penting. Komunitas Matapena, dengan caranya sendiri telah mengembangkan kegiatan menulis. Mendorong minat baca, kini mereka jadikan sebagai suatu gerakan. Sebuah tindakan terpuji yang patut didukung, bukan dipasung.

Oleh: Nurul H. Maarif, Gamal Ferdhi

0 komentar

Sunday, March 25, 2007

BERITA:
Tempo edisi 26 Februari-4 Maret 2007

Menelusuri Lokalitas Pesantren
Nur Ismah, Manajer Matapena

Sunday, March 25, 2007

Kiprah perempuan mungil itu memang tidak bisa dipisahkan dari teenlit (teen literature) pesantren atau yang kadang disebut novel pop pesantren. Nur Ismah, nama perempuan kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, 23 Desember 1978 ini, adalah Manajer Matapena, sebuah divisi di penerbit Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) Yogyakarta.
Matapena khusus menerbitkan karya-karya sastra remaja dari kalangan pesantren dan bercerita tentang remaja pesantren. Namun Ismah bukan sekadar manajer. Penulis dengan nama pena Isma Kazee ini, telah membesut dua teenlit pesantren yaitu Jerawat Santri (2006) dan Ja’a Jutek (2007).
Pesantren memang bukan dunia asing bagi Ismah. Pahit manisnya masih membekas hingga sekarang. Maklum, ia menghabiskan tujuh tahun masa remajanya di Pesantren Putri Al-Fathimiyyah, Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur.
Selepas dari pesantren, Ismah hengkah ke Yogyakarta dan mengambil kuliah di Jurusan Sastra Arab, Universitas Islam Negeri (UIN), Sunan Kalijaga. Kegiatan menulis yang ia pupuk sejak nyantri dan keterlibatannya dalam dunia pers mahasiswa, mengantar Ismah ke dunia kini.
Ismah punya alasan kenapa harus membesarkan teenlit pesantren. “Selain ingin menandingi gaya hidup remaja perkotaan yang ditawarkan teenlit pada umumnya, juga ingin menunjukkan Islam pesantren yang membumi.”
Hal itu ia tunjukkan dalam karyanya. Tengok saja Jerawat Santri. Di situ ada tokoh Mahsa yang memberikan semacam kuliah mengenai reproduksi berdasarkan kaca mata fikih dan psikologi sosial kepada yuniornya, Una.
Contoh lain bisa disimak dalam Coz Loving U Gus karya Pijer Sri Laswiji (2006). Di sana, ada episode ketika tokoh Rara menyatakan poligami. Untuk itu, Rara membantah dan mendebat para senior yang disebutnya sebagai kalangan dombor. “Nah, itu kan bukan sekadar cerita cinta remaja toh?” kilah Nur Ismah.
Ismah menambahkan, ada kisah tentang kearifah Mbah Malaluddin Rumi, dalam Tarian Cinta karya Maia Rosyida. Pesan pokoknya: tak serta-merta memfatwa haram tarian Dahlia yang mirip Toxic-nya penyanyi tenar Britney-Spears. “Kalau novel lain, hal itu pasti haram,” kata Ismah.
Namun dalam cara berbicara, hobi, pakaian, selera musik dan film, jelas Ismah, teenlit pesantren tetap mengikuti pakem zamannya. “Remaja di mana pun, kini memiliki kultur gaul yang pada dasarnya adalah kultur global atau kultur MTV. Televisi jelas menjadi ‘imam’ dari kultur ini,” kata Ismah.
Karena itu, ujar Ismah, banyak orang menilai teenlit pesantren tak beda dengan teenlit pada umumnya. Bahkan dituding tak punya ciri khas. “Penilain ini kalau semata melihat kemasannya,” kata mantan reporter majalah perempuan dan anak MITRA YKF-LKPSM Yogyakarta ini.
Tapi jika ditelesik, kata Ismah, ada ciri khas dalam teenlit pesantren. “Ada semacam pandangan khas pesantren yang membuat ia tidak sekadar jadi cerita cinta remaja saja,” jelasnya.
Banyak tradisi pesantren yang belum diolah jadi cerita. Sebab itu, Ismah yakin bahwa tema-tema pesantren tidak akan pernah habis digali. “Pesantren seperti juga etnik, memiliki lokalitasnya sendiri. Nah, lokalitas-lokalitas itulah yang akan terus kita telusuri.”

Oleh: Hairus Salim dan Gamal Ferdhi

0 komentar

Saturday, March 24, 2007

BERITA: Tempo edisi 26 Februari-4 Maret 2007

Sastra Pop Kaum Sarungan

Saturday, March 24, 2007

Oleh: Ahmad Suaedy
Direktur Eksekutif The WAHID Institute—Jakarta


Dalam konteks pergeseran peran pesantren, fenomena teenlit sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Ia boleh jadi merupakan buah dari proses perubahan dan terbangunnya sistem baru dari dunia yang pernah dianggap paling kolot itu.

Teenlit (teen literature) pesantren atau sastra pop remaja pesantren boleh jadi merupakan kelanjutan perubahan dunia pesantren yang terlanjur terbuka atas informasi dan tak bisa lagi menolak perubahan. Namun, dunia dan bakat alam mereka seperti luput dari pengamatan banyak pihak. Para santri remaja itu begitu tekun dengan dunia mereka sendiri, tak peduli hiruk-pikuk para orang tua mereka.
Meskipun kini pesantren sedang digempur dari berbagai arah dan ditarik kanan kiri, para santriwan yang suka pakai sarung dan mukena bagi santriwati, itu rela berjam-jam nongkrong di depan komputer.
Mereka menulis, merefleksi dan menggugat lingkungan dan pemikiran dunia mereka sendiri yang selama ini dianggap menyesakkan. Hasilnya adalah novel, cerpen, kumpulan puisi, dan karangan lainnya. Beberapa karya mereka bahkan dibeli oleh production house (PH) untuk diangkat ke sinetron TV.
Dahsyatnya arus informasi melalui berbagai saluran, tidak mungkin dicegah dengan cara apa pun. Internet dengan seluruh situsnya dan TV dengan semua kanal yang ada dengan mudah bisa diakses oleh segala umur. Hanya kesadaran pribadi dan lingkungann yang bisa membimbing mereka. Para penulis remaja itu, adalah di antara mereka yang mampu memanfaatkan arus informasi tersebut dengan maksimal untuk memproduksi gagasan.
Dilihat dari bahasa, jalan cerita, istilah yang digunakan, tak ada bedanya dunia para penulis pesantren ini dengan sastra pop remaja atau teenlit umumnya. Bedanya novel-novel itu banyak mengambil setting pesantren. Tak sedikit yang memakai term-term kutab kuning, menyinggung kehidupan agama, terkadang berupa kritik dengan sangat tajam.
Para santri remaja nan kreatif ini tentu harus terus didorong. Mereka sedang mencari dunia mereka sendiri dengan menggunakan referensi yang mereka pelajari di pesantren. Hal ini lalu mereka kaitkan dengan realitas yang mereka serap dari dunia nyata.
***
Dalam konteks pergeseran peran pesantren, fenomena teenlit sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Ia boleh jadi merupakan buah dari proses perubahan dan terbangunnya sistem baru dari dunia yang pernah dianggap paling kolot itu. Sejak digagas oleh Gus Dur dan kawan-kawan atas dunia pesantren dan Nahdhatul Ulama, gerakan pembaharuan itu bergulis terus hingga kini, melampaui apa yang dipikirkan saat itu.
Di pelbagai daerah, dari tingkat kecamatan hingga desa, di kawasan basis pesantren, para santri umunya punya komunitas tersendiri. Terbentuklah berbagai kelompok, seperti kelompok remaja, pelajar, dan mahasiswa yang berlatar belakang pesantren. Ada kelompok diskusi, kajian kitab kuning, bahtsul masail sampai kelompok advokasi serta tulis-menulis sampai pendidikan alternatif.
Tengok saja di ‘sekolah alternatif’ SMP dan SMU Qoryah Tayyibah, di Desa Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah. Di sekolah yang baru empat tahun berdiri itu, lahir tiga penulis berbakat, yaitu Maia Rosyida, Fina Af’idatussofa dan Upik. Sekolah ini dikelola dengan pendekatan semacam komunitas riset untuk anak-anak seusia pelajar. Mereka diberi fasilitas internet 24 jam sehari dan perpustakaan, serta dipersilakan untuk memilik topik kajian secara orang per orang dan kelompok. Tetapi setiap zuhur dan ashar mereka wajib berjamaah bersama dan di malam hari harus mengikuti sekolah diniyah di pesantren desa itu. Dan, guru hanya berfungsi sebagai pembimbing.
Komunitas Azan di desa Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat lain lagi. Kelompok yang dipimpin Acep Zamzam Noor, yang bergerak di wilayah kajian sastra, telah melahirkan puluhan seniman dan penulis. Bersama seniman di Tasikmalaya lainnya, mereka berhasil meyakinkan pemerintah daerah untuk mendirikan Gedung Kesenian, sejak 6 tahun lalu. Konon, ini adalah Gedung Kesenian pertama di Kabupaten di Indonesia.
Lambat-laun terbangun pula sistem penerbitan, percetakan, dan pemasaran. Penghargaan untuk para penulis, pemantauan bakat, dan mobilisasi karya-karya mereka makin digalakkan. Saya jadi ingat kata-kata Gus Dur suatu saat pada tahun 70-an di Institue Teknologi Bandung (ITB) bahwa kebangkitan Islam hanya akan terjadi jika telah ada kebebasan berkreasi dan kebebasan berekspresi di dunia Islam.

0 komentar

Friday, November 03, 2006

BERITA: Kompas, 3 November 2006

Friday, November 03, 2006
Pencerahan Novel Pop Pesantren

Novel pesantren yang banyak ditulis oleh santri masih diminati. Kebanyakan buku yang berkisah seputar kehidupan di pesantren itu ditulis dengan menggunakan bahasa gaul, seperti dalam novel chicklit atau teenlit.

“Berhenti!” Rara njumbul. Kaget banget. Suara dia? Kok nggak jamaah. Penasaran Rara membalikkan tubuhnya. Ia tidak berani menatap wajah seniornya itu. Bukan apa-apa, melainkan karena nggak mau melihat wajah sadisnya saja. Buat menjaga hati supaya tidak benci. Untung handphone sudah dititipin ke Kang Idris. Kalau belum?

____________________________

Oleh: Agnes Rita Sulistyawaty
Rara, santri di Pondok Pesantren Al-Firdaus, sedang asyik menjadi aktivis kampus di masa awal menjadi mahasiswa. Karena itu, ia selalu tiba di pondok setelah maghrib. Padahal, para santri diharuskan kembali ke pondok pukul 17.00. Jadilah malam itu Rara terkena omelan Mbak Durroh yang terkenal galak karena ia ditugaskan menjadi keamanan di pondok.
Rara memang bukan santri dalam kehidupan senyatanya. Ia menjadi tokoh yang hidup dalam novel Coz Loving U Gus karya Pijer Sri Laswiji. Walau tokoh rekaan, namun kehidupan yang dialami Rara ditemui juga dalam kisah sehari-hari para santri.
Rara dan kehidupannya adalah cerita tentang kehidupan di pesantren. Dengan dalih ingin mengenalkan kehidupan pesantren, Pijer dan kelompok menulis Matapena mewarnai dunia buku dengan cerita-cerita tentang pesantren.
Bahkan sejumlah tema yang tabu dibahas, kini menjadi bagian dari karya Matapena, seperti kehidupan lesbi, gay, atau kisah cinta santri dengan gus (anak kiai pondok pesantren). “Memang, kami sempat khawatir dengan pandangan masyarakat umum tentang pesantren. Tetapi, kenyataan di pesantren memang begitu. Jadi, kami tetap berani menuliskannya,” ucap Pijer Sri Laswiji (23).
Kehidupan pesantren yang menjadi komunitas hidup kaum muda muslim yang ingin memperdalam agama Islam, tidak diceritakan dalam bahasa yang kaku, meski warisan aturan yang ketat tentang kehidupan di komunitas ini masih tetap mewarnai kisah-kisahnya.
Bagi para penulis di Matapena, bertutur tentang kehidupan di pesantren bisa memakai bahasa gaul, seperti yang dilakukan Pijer. Di samping itu, tentu saja diksi serapan dalam bahasa Arab juga ikut menjadi bagian kata-kata dalam novel ini.
Dilihat dari sisi penulisan, novel dari Matapena ini tidak berbeda dengan novel-novel remaja (chicklit atau teenlit) yang sempat meledak awal tahun 2000-an. Matapena pun sengaja menyebut novel-novel mereka sebagai pop pesantren. “Komunitas dan novel ini lahir setelah kami melihat celah yang belum tergarap, yakni buku-buku cerita tentang remaja yang hidup di pesantren,” tutur Nur Ismah, Penanggung Jawab Komunitas Matapena, yang juga merupakan bagian dari LKiS.
Model penulisan dengan tema pesantren seperti ini banyak dilakukan juga oleh sejumlah pengarang lain. Sejumlah anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Yogyakarta juga mengerjakan novel-novel pesantren dengan bahasa yang sedang tren saat ini. “Proses novel pesantren di FLP dilakukan sesuai dengan keinginan dan latar belakang penulis yang sebagian memang pernah tingal di pesantren. Di FLP, tidak ada kelompok yang secara khusus menekuni penulisan novel pesantren,” ucap Ganjar Widiyoga, Ketua FLP Yogyakarta.
Banyak peminat
“Tidak mungkin novel pop pesantren ini masih tetap diterbitkan bila tidak laku di pasaran,” tutur Nurika Nugraheni, Ketua Divisi Supporting System FLP Yogyakarta.
Masih diminatinya novel-novel pesantren, seperti yang dikatakan Nurika itu, membuat napas novel pesantren tetap ada. Bahkan ketika chicklit dan teenlit mulai pudar satu atau dua tahun lalu, novel pesantren justru baru mulai muncul.
Matapena bahkan baru dibentuk Agustus 2005 dan setiap bulan rutin merilis setidaknya satu novel baru yang dicetak 3000 eksemplar. “Selain dipasarkan secara umum, novel pop pesantren ini juga kami bawa saat road show ke pesantren- pesantren untuk menjaring penulis baru,” kata Ismah.
“Jemput bola” ke 45 pesantren bahkan hingga Madura, terbukti efektif menjaring penulis baru. Hingga saat ini, setidaknya 300 penulis bergabung dengan Matapena. Setidaknya, jumlah ini merupakan angin segar bagi kelanjutan penulis novel dari Yogyakarta.
Bagi penulis novel, road show Matapena juga membawa kebanggaan bagi mereka. “Road show itu jadi seperti jumpa fans, karena sebagian besar pembaca novel pop pesantren adalah para santri,” ucap Pijer.
Secara tidak langsung, menjadi penulis meningkatkan kepercayaan diri sekaligus popularitas para pemudi ini. Keinginan untuk tenar karena tampil dalam ruang publik juga sering menjadi motivasi para pelajar dan mahasiswa yang ingin bergabung di FLP.
“Padahal, untuk menjadi tenar tidak terjadi begitu saja. Setiap orang harus bekerja keras agar tulisan mereka bisa dimuat,” ucap Ganjar. Visi untuk memasyarakatkan baca dan tulis inilah yang diemban FLP Yogyakarta. Dengan serangkaian proses pelatihan bagi anggota baru selama enam bulan dan memasukkan kebiasaan membaca dan menulis dalam rutinitas para anggota FLP, barulah anggota mulai menulis untuk dipublikasikan atau diikutsertakan dalam lomba.
Inilah sebuah potret novel pop pesantren yang hidup dari keberadaan pesantren di Yogyakarta serta upaya untuk memasyarakatkan kebiasaan baca tulis. Proses ini didukung dengan sebuah pasar yang masih tetap menjanjikan.

0 komentar

Friday, October 14, 2005

BERITA: Kedaulatan Rakyat, Jumat Wage (14 Oktober 2005)

Friday, October 14, 2005
Sastra Pop Pesantren Kian Diminati

Yogya (KR) – Sastra pop/populer kian diminati remaja. Minat ini tidak terbatas membaca karya-karya satra tersebut, tetapi juga semakin banyak remaja kita membuat karya fiksi sendiri kemudian diterbitkan. Realitas ini tentu sangat menggembirakan karena sebelumnya karya sastra pesantren masih sangat sedikit dibuat dan mengunjungi pembaca kita. Bahkan dalam pertumbuhan dan percaturan sastra Indonesia kurang diperhitungkan.

Hal ini diungkap oleh Nurul Huda SA, Supervisor Pemasaran Penerbit Matapena (Kelompok Penerbit LKiS), berkait Penerbit Matapena yang meluncurkan 5 novel sekaligus. Novel itu berjudul Santri Semelekete (karya Ma’rifatun Baroroh), Bola-Bola Santri (Shachree M Daroini), Kidung Cinta Puisi Pegon (Pijer Sri Laswiji), Dilarang Jatuh Cinta (S. Tiny), dan Santri Baru Gede (Zaki Zarung). Peluncuran dilakukan di Sodalounge, Jl Laksda Adisutjipto 43, Rabu (12/10) sore. Menyemarakkan kegiatan tersebut selain peluncuran dilakukan pembacaan sepenggal novel, sekaligus temu penulis.

Menurut Nurul Huda SA, sastra pop pesantren awalnya memang disingkiri. “Bahkan tidak banyak penulis yang tertarik menggarap wilayah cerita di dunia pesantren,” katanya. Seiring perjalanan waktu, sastra populer pesantren banyak menjadi setting cerita. Sebagaimana wacana yang muncul ke permukaan, pesantren memiliki dunia dan cerita sendiri. “Dunia dan cerita sendiri menjadi sebuah daya tarik untuk dikisahkan, diimajinasikan dalam karya-karya fiksi,” ucapnya.

Karya sastra pop pesantren terbitan Matapena

Tentu yang menarik, mereka yang menulis karya fiksi, paling tidak pernah ‘mencicipi’ dunia pesantren. Kehidupan yang dirasakan, diamati, dibesut dalam kemasan fiksi. Seperti anak muda di pesantren, meski memiliki aturan, tradisi sendiri juga merasakan dunia cinta. Serba-serbi ini menjadi mozaik dunia pesantren yang diungkapkan dengan bahasa popular, bahkan sangat gaul sebagaimana karya fiksi remaja di luar pesantren. “Kami sebenarnya ingin ruang baru bagi penulis muda, karena kami tahu potensi mereka besar. Tentu termasuk potensi pasar yang besar pula,” tandasnya. (Jay)-c

3 komentar

Thursday, October 13, 2005

BERITA: Kompas, 13 Oktober 2005

Thursday, October 13, 2005
Warna-Warni Kehidupan Santri dalam Novel

Zaki Zarung (kanan) tengah menceritakan isi novel karangannya, Santri Baru Gede, di Sodalounge, Rabu (12/10). Dalam kesempatan itu, empat novel lain juga ikut di-launching yakni Bola-Bola Santri, Dilarang Jatuh Cinta, Kidung Cinta Puisi Pegon, dan Santri Semelekete.

____________________________

Kia nggak tahu gimana harus bilang cinta. Trus dengan apa mesti ngomong sayang. Apalagi harus memanjat tembok tinggi yang namanya keamanan. Apa kata santri nanti?

Oleh: Lukas Adi Prasetya

Kia atau yang nama lengkapnya Husna Adzkia itu adalah seorang santri perempuan, yang juga mahasiswi dengan dengan agenda aktivitas yang lumayan banyak. Awalnya, niat Kia memutuskan masuk ke pesantren adalah murni nyantri. Namun, ketika mengenal Haidar, santri putra yang satu pesantren sekaligus satu kampus dengannya, berawal pula kisah cintanya.

Di pesantren, peraturan paling ketat adalah soal pacaran. Keinginan saling berkomunikasi antar mereka akhirnya bermuara pada majalah dinding (mading) di pesantren, yang kebetulan keduanya masuk dalam kepengurusan mading itu. Dan, akhirnya mereka saling bertukar ungkapan dengan puisi pegon (tulisan Arab namun berbahasa non-Arab) pada mading itu.
Itu adalah petikan novel berjudul Kidung Cinta Puisi Pegon karya Pijer Sri Laswiji yang di-launching dan dibedah di Sodalounge, Rabu (12/10). Bersamaan dengan itu dibedah pula empat buku lain yakni Santri Baru Gede (karangan Zaki Zarung), Dilarang Jatuh Cinta (karangan S. Tiny), Bola-Bola Santri (karangan Schachree M Daroini), dan Santri Semelekete (karangan Ma’rifatun Baroroh). Lima novel terbitan Matapena (kelompok penerbit Lembaga Kajian Islam dan Sosial/LKiS) itu secara umum bernuansa tentang pesantren dan kisah kasih para santrinya.
Santri Baru Gede bercerita tentang Raha, santri laki-laki yang menjalin kisah dengan seorang gadis yang berasal dari lingkungan luar pesantren. Sementara Dilarang Jatuh Cinta mengisahkan Zulaikha, santri perempuan yang selalu mempertanyakan jati dirinya karena ia tidak percaya takdir dan cinta.
Santri Semelekete menceritakan lika-liku Endang Jumilah alias Enjoy, siswi SMA yang badung. Gadis yang tergabung dalam G@sink (Gadis Sintinx), salah satu geng di SMA itu yang suka berulah tersebut akhirnya dimasukkan ke pesantren oleh orang tuanya. Di pesantren, Enjoy harus membiasakan diri dengan peraturan yang superketat, kegiatan segudang, jilbab, hingga baju gedombrohan. Namun, di lingkungan baru, gadis yang heboh ini sempat pula menaksir salah satu ustadznya.
Novel lain, Bola-Bola Santri, berkisah tentang Gus Mada, Gus Hisyam, dan Gus munir yang memikirkan bagaimana cara untuk menyelamatkan harga diri warisan kakek mereka yakni pondok dan santri Al-Bakir.
Retno Sufatni, Pemimpin Redaksi LKiS dan Nur Isma, Redaktur Matapena menuturkan, lewat lima novel ini mereka ingin mengangkat sisi lain pesantren lewat kacamata santri sendiri. Menurut Retno, lima novel yang disebutnya sastra pop pesantren ini bertujuan untuk mengomunikasikan budaya pesantren dengan budaya lain di luar pesantren, melalui kisah-kisah keseharian para penghuni pesantren (santri).
Itulah yang selama ini belum banyak tergali. Padahal, ujar Nurul Huda, Supervisor Pemasaran LKiS, sekarang ada 14.500 lebih pesantren di Indonesia dengan jumlah santri lebih dari 3,5 juta. Segmen ini belum tergarap, khususnya lewat novel. Nurul juga berpendapat, banyak sisi menarik yang bisa diangkat dari pesantren dan bagus untuk dituliskan.
Di pesantren, menurut Zaki Zarung yang juga tercatat sebagai santri Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta, hubungan antara perempuan dan laki-laki sangat dibatasi. “Padahal, usia santri kan baru kenceng-kencengnya, misalnya saat tertarik dengan lawan jenis. Peraturan pondok yang ketat membuat santri bisa jadi memilih kucing-kucingan untuk mencari-cari waktu karenanya,” kata Zaki.
Meski begitu, menyikapi masa remaja, setiap santri mestilah memegang prinsip agar tidak terjebak dalam hal-hal negatif, seperti pergaulan bebas dan narkoba. Juga, dalam pesantren harus pula dibangun sikap kritis dari santri karena itu juga bekal yang perlu didapat. “Saya pun juga melakukan otokritik terhadap pesantren bahwa remaja santri di pesantren jangan sampai apriori terhadap peraturan, tapi bagaimana menyikapi peraturan,” ujar Zaki sambil menambahkan, apabila santri berhadapan dengan dunia luar juga jangan bersikap kaku.

0 komentar

Tuesday, August 02, 2005

Yang Bertabur dari Bilik-Bilik Santri

Tuesday, August 02, 2005
“Makan, makan. Makanan datang!” Yeni berteriak sambil menggotong sebakul nasi. Di atasnya ada sebaskom sayur, dan atasnya lagi piring lebar berisi beberapa tempe mendoan. Dan masih nyangking sebuah bungkusan. Entah bungkusan apa. Setelah Yeni meletakkan barang-barang bawaannya di lantai, serentak teman-temanku mengambil piring masing-masing di rak. Aku pun segera menyusul. Lapar. “Nih, ada rejeki!” kata Yeni membuka bungkusan yang dibawanya. Martabak telor. “Pasti dari Kang Jangkung!” celetuk Yayah. “Kang Jangkung siapa sih?!” tanyaku. “Ah Kia. Kuper ya kuper, tapi sama info teman sekamar tuh ya harus ngertilah! Kang Jangkung itu…” “Pacar Yeni…,” sambung Diah pelan. “Ooo!” aku melongo dan mengangguk-angguk. Hm, ternyata pesantren bukan penghalang bagi mereka untuk berhubungan. Ada kantin pondok yang menjadi via gratis untuk kirim parcel. Jadi muncul rasa kepingin nih!
(Kidung Cinta Puisi Pegon)
Unik dan asyik. Inilah yang ingin digambarkan oleh Pijer Sri Laswiji, tentang kehidupan pesantren. Di tengah kesibukannya menjadi santri, penulis yang satu ini masih sempat juga menuliskan cerita yang indah-indah dari pesantren yang selama ini hanya ada dalam ingatan para santrinya. Selain Pijer, ada juga Zaki, Mahbub, Baroroh, Shachre, dan S.tiny. Novel-novel mereka sekaligus menjadi debut pertama para penulis muda tentang cerita dari ‘dunia lain’ yang bernama pesantren.

Kata Pijer, sebenarnya banyak hal dari pesantren yang bisa dijadikan ide bermodal pengamatan dan pengalaman. “Dari cerita teman-teman di pondok juga bisa. Nah, kebetulan untuk novelku ini terinspirasi oleh puisi-puisi Hugeng Satya Darma, guru puisiku,” jelasnya. Tidak jauh berbeda, ketika menulis Santri Semelekete Baroroh pun melakukan hal yang sama. “Nyomot dikit-dikit dari pengalaman sendiri, pengalaman teman, dan berkhayal,” akunya. Dalam novel pertamanya itu, ia mengisahkan bagaimana lucu, konyol, dan serunya menjadi santri baru.

Dan, masih banyak lagi yang bisa diceritakan dari pesantren. Apalagi, ia merupakan lembaga mandiri dan variatif sesuai dengan karakter kiai pengasuhnya. “Nah, itulah keunggulan pesantren. Meski ada cerita yang umum sifatnya, tapi lokalitas masing-masing pesantren memiliki cerita-cerita unik sendiri-sendiri,” komentar Mahbub, penulis Pangeran Bersarung. “Terutama kehidupan santrinya yang sebenarnya nggak mau ketinggalan zaman, namun agak norak. Santri itu orang yang kreatif dan apa aja bisa. Santri bisa jatuh cinta, bisa seorang petualang, bisa anak gaul, dan santri juga bisa nakal,” kata Shachre ikut berkomentar. Ia juga menambahkan kalau itu masih belum seberapa jika mau menggali objek imajinasi dari kitab kuning atau keluarga kiai.

Tapi, menulis tentang kisah pesantren, mau tidak mau memang harus paham dunia pesantren, meski tidak harus seorang santri. Apalagi sebuah karya fiksi yang banyak menekankan pencitraan. Maka beruntunglah Zaki dan kawan-kawannya yang telah dianugerahi dua kelebihan sekaligus, tinggal di pesantren dan bisa menulis. Meskipun bukan berarti tak ada kendala. Di samping faktor intern tentunya, seperti kehabisan ide dan kata sampai bingung mau menulis apa, Pijer mengakui kalau kendala utama dalam proses menulis adalah waktu. “Aku harus bisa memenej waktu dengan baik karena terbentur dengan kegiatan-kegiatan pondok,” lanjutnya. Sementara Baroroh menambahkan kalau lingkungan pondok yang ramai sering kali mengganggu konsentrasinya. “Di mana pun aku ngumpet, selalu saja ada orang. Apalagi kalau di kamar, uh pada ngobrol dan mondar-mandir melulu.” Itulah seninya curi-curi waktu demi hobi. Malah ada kejadian tragis seperti yang dialami Zaki. Ia rela berhadapan dengan Keamanan Pondok alias seksi Penjaga Tata Tertib, karena waktu pagi yang notabene waktu berkegiatan ia sering tidak kelihatan batang hidungnya. “Soalnya aku ngetik di kos temen-temen deket pondok. Pokoknya yang ada komputernyalah. Hehehe… jadi malu,” kenangnya lucu.

Namun, sesulit apa pun kondisinya, bagi Zaki, menuliskan kisah-kisah unik yang bahkan hanya bisa ditemukan di dunia pesantren merupakan proyek yang terus dijaga dan dibudayakan. Misalnya dalam bentuk teenlit maupun chicklit. Apalagi minat baca remaja terhadap buku-buku semacam itu sangat tinggi. “Tapi yang agak aku khawatirkan adalah buku-buku semacam yang ditulis bukan oleh orang pesantren. Hasilnya, tentu terjadi pemahaman yang salah, keliru, dan tidak benar sama sekali. Itu kan merugikan pembaca. Mereka dibohongi dan menerima barang mentah,” lanjut Zaki. Oleh karena itu bagi Shachre, sekaranglah saatnya santri punya kelas. Menulis tentang kehidupan mereka. Meski tetap bersarung dan berkopiah, bukankah tulisan merupakan bagian dari kreativitas? “Seorang santri tidak akan pernah menjadi kotor hatinya hanya gara-gara menulis,” jelas Shachre mantap.

Tinggal satu PR yang menurut Zaki harus diselesaikan. Menurutnya budaya oral yang selama ini berkembang di pesantren sedikit banyak mempengaruhi kebiasaan para santri untuk menulis. Hingga menurutnya perlu ada gerakan SSM alias Santri Suka Menulis di pesantren-pesantren, juga dibentuk halaqah-halaqah kecil sebagai ajang pembudayaan menulis di kalangan santri. Meskipun secara umum, Mahbub berpendapat kalau kalangan pesantren sudah mulai menghormati dunia tulis-menulis. Di kalangan santri pun, khususnya yang sudah melek baca buku, mulai ada kegelisahan dominasi tradisi oral. Kegelisahan yang juga dirasakan oleh Zaki dan kawan-kawan.

Pantaslah kalau mereka begitu bersemangat untuk terus menulis tentang dunia mereka itu. “Masalahnya pesantren itu cute habis sih,” ucap Shachre yang diam-diam ternyata sudah siap dengan naskah Love in Pesantren. Seperti juga Zaki yang bakal menceritakan santri yang kerjaannya molor melulu, atau Mahbub dengan tiga novelnya sekaligus. “Tiny never ending write!” S.tiny ikut berikrar mantap. Memang harus. Karena bagaimanapun menarik dan cute-nya cerita-cerita di balik tembok pesantren, tak akan bisa dinikmati jika tidak diceritakan kembali melalui tulisan tangan-tangan kreatif mereka. Iya nggak? :)

0 komentar