Showing posts with label kegiatan. Show all posts
Showing posts with label kegiatan. Show all posts

Saturday, November 12, 2011

Remaja di Hawaii Belajar tentang Indonesia

Saturday, November 12, 2011
Cerita tentang Fall Conference 2011 di Hawaii
Oleh Isma Kazee

Sepulang dari Canada, aku langsung asyik dengan persiapan Fall Conference untuk remaja tentang Indonesian culture, yang pelaksanaannya atas inisiatif Pacific Asian Affairs Council (PAAC). Tepatnya Sabtu, 22 Oktober 2011, sehari penuh. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin PAAC setiap tahunnya, dan kenapa Indonesian culture diangkat sebagai tema, sepertinya karena dua sebab. Pertama, kebetulan karena momen APEC di Hawaii, di mana Indonesia sebagai salah satu anggotanya, dan kedua, karena hasil penelitian Ann Dunham, ibunya Obama, tentang Indonesia tengah digelar di East West Center, dan ini menjadi salah satu tempat yang dikunjungi para peserta.

Keseluruhan program terbagi menjadi dua kegiatan, pertama adalah cultural booth. Ini menjadi tanggung jawab panitia dari Indonesian student. Dimulai pukul 09.00 sampai 11.30 AM. Pesertanya lumayan banyak, ada 200 remaja. Mereka dibagi ke dalam beberapa grup, bergerak secara bergiliran dan berantai ke beberapa pemberhentian. Pemberhentian pertama adalah ballroom, untuk mendengar penjelasan tentang bagaimana sih Indonesia itu, lalu menuju ke pemberhentian kedua yaitu music gamelan di art bulding. Berlanjut ke East West Center gallery untuk melihat pameran kerajinan Indonesia, dan pemberhentian terakhir adalah cultural booth yang ditungguin sama mahasiswa Indonesia. Setiap grup, mereka dibagi ke dalam tiga kegiatan: bermain, memakai baju daerah, dan menari. Setelah grup pertama ini selesai, grus kedua datang menggantikan giliran, begitu seterusnya. Per grup mendapat jatah 15 menit doang. Singkat banget.

banyak peserta, kami kuwalahan hehe
menjelaskan tentang peta Indonesia

Sayangnya, mahasiswa Indonesia yang terlibat tak begitu banyak, kurang dari 10 orang kalau tak salah. Biasa, dengan alasan sibuk mengerjakan tugas atau alasan lain. Padahal, menurutku ini momen bagus untuk promote Indonesian culture, sasarannya remaja lagi. Mungkin karena pekerjaanku di rumah berhubungan juga dengan remaja, aku jadi tertarik dan suka sekali. Para ABG Hawaii itu juga tampak sangat menikmati. Bermain lompat tali dengan tali karet yang dianyam. Lucunya, ada seorang guru yang tampak antusias ingin belajar bagaimana menganyam karet untuk lompat tali. Roma yang kebagian tugas menjaga stand ini, tampak lihai melompati tali dan menantang teman-teman untuk melompat setinggi-tingginya. Dan berhasil, hehe. Anak-anak itu jadi tertantang untuk ikut juga jumpalitan.

lompat tali
lari-lari tali hehe

Di bagian baju daerah, kami menyediakan seragam tari saman, kebaya, baju bodo, baju Bima, baju palembang dan baju Jawa. Tak banyak koleksinya, itu pun memakai baju koleksi pribadi. Tapi, tetap seru! "Do you wanna try this?" kami menawarkan. Dengan berbinar mereka menjawab, "Sure." Mulailah kami sibuk melayani hehe. Pasang ini dan itu, lalu dipotret. Mereka kelihatan cantik dan elegan. Komentarnya macam-macam, tapi rata-rata mereka mengatakan, "wow, it's hot." Hehe, maklum. Biasanya pakai tengtop, trus pakai kebaya dan jarik, jelas berbeda rasanya. Mereka juga bertanya, kapan kostum ini dipakai, untuk harian atau pada event tertentu. Atau bertanya, bagaimana cara membuatnya, terbuat dari apa dan lain sebagainya.

stand baju daerah
panembahan senopati bule hehe
nona-nona bermata sipit pakai baju daerah
calon miss universe nih anak, tinggi, cantik hehe

Booth yang ketiga adalah belajar menari poco-poco. Arum yang menjadi pengajarnya. Tadinya sempat bermasalah dengan sound system. Aku sampai naik ke kamar untuk ambil laptop gedeku supaya suara musiknya bisa lebih kenceng. Tapi, syukur bantuan alat-alat sound system segera datang. Seru dan ramai. Meskipun gerakannya sederhana, poco-poco lumayan menantang juga. Karena gerakannya ngebit juga musti ingat apakah bergerak ke kanan atau ke kiri. Aku suka sekali poco-poco, dan karena Arum sendirian, aku kadang bolak-balik, dari booth baju daerah ke booth tarian. Untuk info tentang poco-poco, kami sediakan pamflet yang bisa mereka baca.

menari poco-poco
penari Gandrung

Lalu, bagian kedua dari Fall Conference ini dimulai pukul 13.00 sampai 16.00 berupa Quiz contest tentang APEC dan di sela-sela menunggu pengumuman pemenang, kami menari Gandrung, tarian khas Lombok. Debut pertama grup Cinta Indonesia dengan tari Gandrung. Selesai acara, capekku luar biasa. Tapi senang dan puas, selain karena bisa memperkenalkan budaya Indonesia juga belajar tentang kemasan kegiatan menarik untuk remaja :))

1 komentar

Monday, April 13, 2009

On Air di Puisi Pro 2 FM RRI

Monday, April 13, 2009
Paling kiri pegang mik; mbak Hanna sang penyiar puisi pro tengah ada mbak Evi Idawati penyair dan pinggir kanan dan paling berdiri; mbak Isma Kazee ketua matapena


Yang pegang mik mas Aprinus Salam (dosen sastra Indonesia dan kritikus sastra) sedang berkomentar tentang pembacaan puisi yang dilakukan para peserta lomba Puisi Pro. Di sampingnya mas Giring salah satu juri lomba hanya tersenyum saja.

Masyarakat bawah pohon; Ahmad Kekal Hamdhani sang penyair bawah pohon, dan gitaris Munajat Sunyi para aktifis Tahlilan Sastra, memukau penonton dengan musikalisasi puisi.

acara berlangsung mulai pukul 19.00 hingga pukul 21.30. semua berjalan lancar. Dari 10 finalis, ada 5 orang peserta yang datang. dan dari 5 peserta yang datang ada 3 juara yang dipilih juri. tapi maap, saya lupa siapa aja yang menang. maaf ya!

0 komentar

Saturday, April 11, 2009

Bedah Calon Novel;

Saturday, April 11, 2009
JEJAK SUNYI PENYAIR DAN NOVEL BELUM BERJUDUL
Sabtu, 4 April 2009 pukul 14.00 lebih sedikit, Rumah Kreatif Matapena kembali ramai. Sembilan orang penulis dan calon penulis melingkar di ruang tengah, ruang yang biasa digunakan untuk ngobrol dan diskusi teman-teman anggota komunitas matapena. Di tengah-tengah lingkaran ada suguhan teh anget, Fried Tahu (atau menurut tulisan di bakulnya Tahu Kentucky) dan irisan buah melon. Zaki Zarung yang membawa diskusi siang itu. Ia memperkenalkan dua penulis yang bakal novelnya akan dibedah. Hadir Humam Rimba Palangka yang sengaja hadir dari Kebumen khusus untuk acara ini. Sedangkan Rendy Jean Satria penulis Jejak Sunyi Penyair berhalangan hadir. Sedang ada acara di Bandung.

Setelah acara dibuka, Rimba mendapat kesempatan pertama untuk memresentasikan novelnya.

“Novel saya ini bercerita tentang peristiwa yang memang benar-benar pernah terjadi pada teman saya. Jadi saya ingin menuliskannya… “

Rimba memulai cerita dengan kisah temannya yang kemudian ia tuliskan dalam novel. Adalah Sunardi, pemuda yang supel, pinter, baik, dan macam-macam lagi. Ia nyantri di sebuah pesantren di Kebumen nyambi sekolah di SMU. Kisah terjadi di SMU. Ada tokoh Vina menarik perhatian Sunardi. Konflik muncul ketika Vina ternyata anak seorang yang dahulu terkena kasus salah tangkap karena dianggap oknum PKI. Sunardi berjuang untuk mengungkap kebenaran itu dan juga berusaha memperjuangkan hak Vina.

Menurutnya tidak ada dosa turunan, ketika orang tua pada jaman dulu melakukan kesalahan, lalu sang anak juga turut memanggul dosanya hingga segala konsekuensi atas dirinya menjadi buruk.

Hujan turun deras dengan tiba-tiba ketika Rimba mengakhiri presentasinya Suara petir dari langit dan deru angin yang kencang di luar Ruamh semakin menjadi. Tepat ketika Fuad memulai proses pembedahan dengan mengemukakan bahwa alur novelnya kurang ada ledakan. Pettt! Matilah lampu. Tidak cuma lampu. Rupanya listrik padam. Karena ruang lumayan gelap, Pijer Sri Laswiji segera bangkit dan mencari lilin serta korek api. Diskusi makin hangat dengan nyala redup dua buah lilin di atas gelas. “Sebelumnya saya mau tanya, Kang. Kenapa sampean mengangkat ide tentang PKI. Lalu di situ juga ada setting pesantren. Tentang ide novel sampean tersebut., sampean sebenernya ingin menyampaikan tentang apa toh? Hubungannya PKI dan dunia pesantren juga. Saya itu belum nangkap utuhnya novel sampean e…” Pijer menambahkan.

Selain itu Pijer juga menilai penokohan dalam novel Rimba masih kurang kuat, karakter tokohnya belum terwakilkan dalam narasi maupun dalam dialog.

Rimba hanya menthuk-menthuk dan mengatakan, “saya akan mencatat masukan-masukan teman-teman untuk perbaikan novel ini,”

Wawan, anggota baru dari PP Luqmaniyah Jogja berkomentar, “tentang judul kok belum ada? Terus perlu adanya pembagian sub tema biar lebih focus, diberi mungkin akan lebih baik kalau diberi subjudul…,”

Tri Wahyuningsih -yang novelnya ‘Jadi Santri’ bakalan terbit- berkomentar, “Teknis penulisan kurang nyaman dibaca, EYD kurang diperhatikan, jadinya bacanya agak terganggu,”

Zaki Zarung berkomentar tentang setting. Menurutnya, penggarapan setting suasana kurang jadi. Sebab kadang ada kata yang ga masuk. Tema tentang PKI yang diangkat penulis sebenarnya sangat bagus, cuman kurang tergarap sejak awal. “Kenapa konflik tentang keluarga Vina dengan latar belakang PKI yang jadi inti tema tidak dimunculkan dari awal,”

Mahbub mengiyakan komentar Pijer tentang penggarapan karakter tokoh-tokohnya. Menurutnya karakter belum tergarap maksimal. Apa yang ingin diceritakan, antara sinopsis denganm novel yang ditulis kurang sesuai. Apa yang diceritakan dalam sinopsis tidak didapatkan dalam novel.

Fuad, “Endingnya kurang logis, kenapa tiba-tiba Sunardi di rumah sakit, sebabnya apa? Kok kayaknya tidak ada hubungannya dengan konflik sebelumnya. Hujan semakin deras. Kritikan atas novel juga menderas. Rimba nampak basah berkeringat geram. Dalam wajahnya menyimpan dendam akan pembuktian, bahwa ia siap mengejutkan pada sesi pertemuan selanjutnya.

“Akan ku buat kalian terkejut dengan evolusi novelku. Sekarang boleh kalian mengguyurku dengan kritik tajam. Esok, kalian akan tercengang melihat kupu-kupu menguar dari novelku. Tunggulah!” kata Rimba dalam hati.

Bahasan novel Rimba selesai. Giliran novel Jejak Penyair milik Rendi Jean Satria yang dibedah. Fuad kehilangan kata-kata untuk mengatakan novel ini tidak bagus. Bahasa indahnya sudah menutup mulutnya untuk menilai aspek yang lain. Namun beda dengan Baroroh yang mengatakan kalau paragraf-paragraf yang disusun panjang-panjang, pembaca menjadi bosan.

Menurut Pijer, penokohan sudah bagus, karakter tokohnya sudah tergarap. Tapi menurutnya ini belum bisa disebut novel, karena belum ada pengembangan konflik. Konflik yang dibangun hanya satu. Lebih dekat dengan sebutan cerpen panjang, katanya. Zaki berkomentar tentang pemakaian kata. Pilihan katanya kadang kurang matching. Misal, plural da konvensional yang disandingkan dengan istilah Indonesia puitis yang kurang ngeh. Ending juga tergesa dipaparkan. Akan lebih asyik kalau dibuat menggantung aja samapi ketika akhirnya karya puisi sang tokoh dimuat di koran, kata Zaki mengakhiri komentarnya.

Ah, lagi-lagi banyak kritik. Namun secara keseluruhan novel ini sudah bagus. Tinggal sedikit digoyang sudah layak diterbitkan.

Hujan mulai reda. Satu persatu peserta bedah calon novel pulang ke kandang masing-masing. Zaki dan Rimba masih tinggal di rumah kreatif menunggu maghrib. Baru setelah maghrib mereka menuju Kotagede menemui beberapa kawan lama; reuni. Dan keesokan harinya ia pulang ke Kebumen membawa bara dalam catatannya.

0 komentar

Thursday, March 26, 2009

Mendadak Diskusi Bareng Katrin Bandel

Thursday, March 26, 2009
; Lokalitas dalam Sastra

(Jogja RKKM, Sabtu, 21 Maret 2009) Garasi rumah kreatif lumayan sejuk waktu itu. Semilir angin yang masuk lebih banyak dari pada yang di dalam ruang tengah. Katrin yang semula ada di dalam ruang tengah kini beranjak ke garasi di susul teman-teman lain; pijer, isma, mahbub, sachree, dan zaki. Banyak senyum menghias bibir Katrin siang itu. Ia nampak ramah dan bahagia. Ia senang karena memang sudah lama ingin bertemu dengan penulis-penulis matapena untuk menyampaikan komentar-komentarnya mengenai novel-novel pop pesantren matapena.
Tepat pukul 13.20 ketika teman-teman lain berkumpul, -ufi, shofa, jajang, ahsin, irfan ipenk, aya, dan umi- zaki membuka acara dengan salam dan sedikit pengantar tentang mendadak diskusi di siang itu.

“tema kali ini adalah lokalitas dalam sastra. Jadi apa sih yang dimaksud dengan lokalitas dalam sastra itu? Dan local itu yang bagaimana? Bagaimana lokalitas dalam karya matapena? Bagaimana menulis novel yang melokal dan menarik?” lalu zaki mempersilakan Katrin untuk memaparkan pandangannya tentang hal-hal tersebut.

“Matapena sudah sangat local dan menarik kok,” kata katrin.

“kenapa?” lanjutnya, “Tahun 70-an ada novel warna local: seperti Ronggeng Dukuh Paruk yang memaparkan adat local atau etnis tertentu. Sedangkan Matapena bukan hanya memuat lokalitas etnis tertentu, namun satu institusi tertentu. Nilai-nilai pruralitas menjadi kelebihan novel-novel pesantren matapena. Novel yang mengungkapkan etnis tertentu biasanya hanya mengagungkan entitas tertentu. Pendatang sebagai pengganggu dan jahat. Pesantren lebih plural. Dan itu menarik.

“Lalu yang dimaksud dengan warna local itu apa? Lokalitas itu apa?”

“Dalam novelnya, Ahmad Tohari menggambarkan setting tempat dengan sangat teliti.

Begitu pula Matapena, novel-novel ini sudah mengambarkan dengan teliti sebuah pesantren. Warna local sudah digambarkan dengan baik. Yang khas dari matapena sendiri adalah bahasa yang hybrid dan campur baur –Indonesia, Arab, Inggris, Sunda, Madura, Jawa, dll-. Itu sangat menarik. Apalagi jika ditambah dengan glosari, itu akan lebih akan menarik lagi sebab karena bahasa yang beragam dengan idiom, Inggris, Arab, Indoneisa, Jawa, Madura, dan lain sebagainya kadang membuat orang yang belum kenal pesantren jadi perlu dibantu dengan glosari tersebut,”

“Yang penting dalam buku berwarna local adalah nilai local. Ahmad Tohari menggambarkan nilai moral pada novel pertama Dukuh Paruk yang agak menyimpang dari sekitarnya dengan wajar. Di akhir trilogy Dukuh Paruk seolah harus dibawa ke nilai islam. Di matapena, nilai-nilai di pesantren yang berbenturan terjadi negosiasi dengan berbagai nilai. Yang pada akhirnya menemukan pemecahannya sendiri.”

Kira-kira itulah yang menarik dari novel-novel pesantren matapena menurut Katrin Bandel. Pertanyaan pertama muncul dari Zaki tentang apakah novel local itu tidak universal? Lalu maksud dari Universalitas dalam karya sastra itu bagaimana?

Menjawab pertanyaan Zaki, Katrin mengajak flashback ke masa lalu, bahwa pernyataan tentang universalitas itu adalah nonsen. Universal itu tak lain adalah nilai yang diciptakan barat. Di Indonesia? Novel remaja yang kota justru lebih sempit.

“Jika dibandingkan antara novel Ahmad Tohari dan Ayu Utami? Ahmad Tohari lebih menarik karena menawarkan hal baru. Novel Ayu Utami itu sok universal; Amerika dan Indonesia seolah tidak ada bedanya. Sok mengglobal yang pada akhirnya malah terkesan dibuat-buat. Ayu Utami banyak ngomong tentang sex yang ia sendiri tidak fahami,”

“Satu lagi yang menarik; sastra warna local ditulis oleh orang yang memahami yang dibicarakan. Pengalaman langsung itu kerasa sekali. Pemula menulis pengalaman pribadi,”

Lalu perlahan katrin membuka tumpukan novel di depannya dan mengangkat sebuah novel berjudul Perempuan Berkalung Sorban (PBS).

“Ini novel jelek. Lebih menarik matapena. Dalam novel-novel matapena ada kritik untuk pesantren tetapi selalu ada negosiasi. Rasa cinta penulis pada pesantren begitu terasa, namun tak menutup untuk tetap berbenah, harus ada yang diubah lebih baik lagi,"

“Pada PBS, ia tidak menggarap setting lokalitas, sosiologis pesantren dengan baik. Seperti apa pergaulan di dalam pesantren. PBS menggambarkan pesantren itu tertutup dan mengerikan. Yang ada hanya gambaran hitam putih tentang moralitas pesantren. Hitam putih digambarkan lewat tokoh yang kadang 100% persen jahat dan kadang 100% baik. Itu membuat membosankan. Tokoh matapena memiliki juga kesalahan, aka tetapi tetap berusaha memperbaiki diri.”

“Jika novel matapena dibaca orang non-islam; ini sebagai jihad yang diterima, dunia pesantren menjadi dunia yang ramah dan bisa dibayangkan sebagai sesuatu yang tidak mengerikan. Namun pada PBS, dunia Islam itu terasa kaku dan menggerikan; tertutup dan perempuan ditindas di dalamnya. Harusnya lebih bernuansa. Dilihat pula kontribusi pesantren pada kebaikan.”



Isma bertanya. “Sebagai pemula, sepertinya lebih menarik jika ditarik ke ranah lebih luas, lokalitas di tingkat global itu bagaimana? Bagaimana tentang pandangan local itu tidak ngetrend dan tidak popular. Bagaimana menggali kemauan remaja menulis tentang dirinya?”

Katrin menjawab. “fenomena novel remaja sangat khas. Remaja menulis itu suatu hal yang menggembirakan. Remaja Islami yang sains fiction menarik juga.”

Ufi bertanya, “kesImpulan lokal sangat menarik bagi yang di luar. Bagaimana jika ingin membuat imajinasi yang dahsyat? Apakah itu juga menarik?”

Katrin menjawab, “Sains fiction itu bias jadi lokal? Biasanya konflik yang timbul berangkat dari renungan jaman sekarang. Hubungan pengalaman dengan membaca? Tentu saja saya tertarik dengan sesuatu yang belum saya kenal. Namun saya juga tertarik dengan dunia saya yang ditulis orang lain, karena akan ada prespektif berbeda. Merefleksikan pengalaman sendiri bisa nyambung. Kalo mencoba meniru jadinya mentah. Kalo di kontek Indonesia, kurang universal dan kurang menarik, kekhasan Indonesia itu pluralitas; bahwa setiap karya ada tarik menarik dalam budaya Indonesia tentang pesantren dan dunia luar pesantren. Islam dan non-islam. Ketat dan non-ketat. Pertemuan antar etnis di pesantren. Bukan hanya tentang pesantren di Jawa. Tapi semuanya. Saya pernah berkunjung ke pesantren di Kalimantan, dan memang tipologinya hampir sama dengan pesantren di Jawa.”

“Dalam karya sastra yang ‘universal’, semisal karya Ayu Utami seakan-akan tidak ada konflik moral. Dia tidak menggarap konflik moral. Dia hanya mau provokasi bahwa seakan-akan semua orang berlaku seperti para tokohnya. Padahal tidak sama sekali bahkan di Amerika. Ayu Utami tidak menggarap konflik itu.”

“Lalu lokalitas itu sebenarnya apa? ya tidak ada! Semuanya universal,” Tapi implementasi nilai-nilainya saja yang berbeda antara sebuah masyarakat tertentu dengan masyarakat di luarnya. Novel yang membahas tentang kalangan menengah atas biasanya tidak disebut dengan warna local tapi universal. Hal ini dikarenakan definisinya yang tidak adil. Universalitas dikaitkan dengan global, yang umumnya barat.”

“Dunia jadi global karena ada kolonialisme. Global itu Amerika maka menjadi universal karena relasi kekuasaan global. Selalu ada konteks politik di dalam kontoks sosial.”

Diskusi terus berlanjut, Jajang menganggap bahwa sebenarnya tidak ada nilai universal. Katrin hanya menggaris bawahi pentingnya negosiasi dalam konflik karya sastra. Dan referensi sangat penting agar semakin banyak prespektif dalam karyanya. Ia juga menjawab pertanyaan Pijer tentang haruskah lokalitas itu tidak ada di tempat lain? Ia menjawab tidak, yang penting kesadaran lokal itu di pupuk. Bahkan menjadi lokalitas universal, kata zaki mencoba menambah.

Diskusi berakhir pukul 15.10. tak terasa sudah dua jam lebih. Juga tak terasa dari tadi hujan deras mengguyur membuat dingin hawa siang itu. Sebab yang terasa adalah hangat bara pencarian ilmu. Yang menguarkan pesona lokalitas masing-masing individu menyatu dalam universalitas nilai; keinginan untuk membuat dunia lebih baik. (zz)

0 komentar

Tuesday, March 24, 2009

TAHLILAN SASTRA KE-2

Tuesday, March 24, 2009
Lampu 50 watt di atas panggung menyala. Wajah Zaki Zarung yang malam itu mengantarkan acara “tahlilan sastra kedua”, mulai terlihat. Ia membuka acara dengan mengajak peserta menciptakan hening dalam diri mereka, mengisi relung jiwa dengan lirih doa. Satu menit. Dan sebuah syair keluar dari mulut zaki.

bukan cerita tv ; joni af seperti terlempar ke masa lalu saat rumputan masih hijau di bawah rumah panggung yang rimbun reriuh seribu masalah di atasnya yang belum tercium dan ketika air kali membuat becek jalanan menuju surau dan cerita hantu menjelang petang membuat enggan beranjak dari pembaringan tak hendak diri mengaji meski belum ada tv yang begitu memenjara mata dan hati mulutmu memahat arca candi relief hidup yang tak terlupa ada mawar ada carun yang kesemua-mua sangat santun mengalir hanyutkan diri di kali belajar dari mulutmu kawan dari hati jangan henti memahat, kawan jangan henti sebelum aku kembali ke penjara, kawan ke dalam kotak tv Jogja, 25 nov 2007

Kemudian Mahbub Jamaludin menuju panggung ia baca sebuah puisi Akhmad Fikri AF tentang pengalaman naik pesawat terbang. Katanya, “lebih hebat dari shalat,” sebab begitu dekat dengan Sang Pemilik Hayat.

Puisi ini termuat dalam antologi tunggal Bebek Kong Draman (2009). Seletah Mahbub, Hugeng S Dharma beraksi membaca puisi lamanya ketika merangsang cinta kawula muda. Rupanya ia bernostalgia. Kadang proses awal kepenyairan seseorang sangat laik tuk dikenang.

Malam tahlilan sastra itu tambah meriah ketika Muhammad Mahrus membacakan cerpen berjudul “orang tua di tiang gantung”.

Namun ternyata tak kalah meriah lagi ketika komunitas bawah pohon – Danny, Faisal dan Irul melakukan eksplorasi pembacaan puisi. Mereka menamakannya ‘raperisasi puisi’. Menyanyikan lagu Bondan Prakosa dengan iringan gitar. Gelora para muda ini menguar. Membuat tahlilan lebih khusuk dalam keriangan.

Langsung sebelum momen dahsyat ini lewat, Teguh Wangsa Gandhi, membacakan syair ‘busuk’-nya yang gelap dan mengakhirinya dengan geguritan yang padang tentang manusia serupa burung terbang disalah musim. “mabur salah mongso” katanya. Semua jadi terangguk, kadang bahkan sering manusia tak berbuat dengan tepat, banyak khilaf dan keliru.

Setelah penyair-wan menguasai dari mula, kini giliran penyair-wati; Retno Iswandari memukau penonton lewat lentik kuat suara hatinya. Mengabarkan puisi eropa milik penyair ketika masa tua; duduk tergugu di depan perapian yang kian padam. Maka buku adalah teman dan sekaligus halaman tempat bermain dan menyiram kehidupan. Dan satu puisinya meluncur lebih dahsyat, tentang ‘rindu tak perlu bertemu’ hingga ‘tentang terbakar tanpa api’. Ia menghafal semua puisinya meski kadang mengakui, “saya sedikit lupa, jadi maaf,”

Dilanjut Sachree M Daroini membaca dua puisi Akhmad Fikri AF. Dengan suara dan mimik jiwa yang menguarkan bara semangat tak kenal padam, ia sukses membuat audien yang semula akan pamit menjadi enggan meninggalkan ruang.

Berturur selanjutnya adalah sahabat dari Kutub, Selendang Sulaiman (nama orang), yang bertutur tentang sosok sastrawan yang pada minggu ini diperingati haulnya, KH Zaenal Arifin Thoha (Alm). Lalu Andi baitul kilmah menutup malam tahlilan sastra dengan imaji ke negeri meraih mimpi.

Acara berakhir pukul 21.41, dan dilanjut dengan bincang santai di rumah kreatif matapena hingga mata tak lagi kuat menahan kantuk.

Tiba-tiba Pijer Sri Laswiji mengirim sms ke beberapa teman: Acara ini lebih baik dari kemarin. Aku jadi ingin bisa bikin puisi dan sekaligus membacakannya dengan hebat seperti teman-teman lain, tapi sayang yang perempuan pada kemana ya? Apakah perempuan enggan melukis dunia dengan syair mereka?

Tak ada yang menjawab tuntas pertanyaan itu. Yang jelas malam itu, dari 30 orang yang hadir, hanya 3 orang perempuan yang datang. Itupun retno iswandari saja satu-satunya yang menulis dan membacakan puisinya. Atau karena acara yang diadakan malam hari? Entahlah. Yang jelas perlu kita lihat satu bulan lagi, pada tahlilan satra ke-3 nanti. Semoga semua menjadi lebih indah adanya… (zz)


0 komentar

Tuesday, March 03, 2009

Grand Opening Rumah Kreatif Matapena

Tuesday, March 03, 2009
Minggu, 1 Maret 2009 Rumah Kreatif Komunitas Matapena yang beralamat di Jl Parangtritis Km4 Perum Perwita Regency jl Beta no12 Salakan Baru Sewon Bantul, dibuka secara resmi oleh Akhmad Fikri, pembina komunitas. Ditandai dengan pemotongan tumpeng di depan para anggota, undangan dari komunitas lain di Jogja.

Rumah Kreatif ini didedikasikan untuk para anggota dan remaja pada umumnya sebagai tempat untuk berkreasi dan berekspresi bersama di bidang sastra dan kepenulisan. Untuk menggali pengalaman hidup dan menunjukkan identitas diri yang berakar pada lokalitas dan tradisi.

Acara ini dimeriahkan oleh hadrah kompleks Q Krapyak, monolog Hugeng Stya Dharma, pembacaan cerpen oleh Aufannuha Ihsani, pembacaan puisi oleh Retno Iswandari dan yang lain. Sawung Jabo and friends juga berkesempatan hadir, menyanyikan musik alternatifnya yang memukai hadirin. "Matapena semoga bisa menjadi kelanjutan Matabatin untuk memaknai denyut-denyut nadi kehidupan," ucapnya sebelum memetik gitarnya.


Ada banyak kegiatan yang akan digelar di Rumah Kreatif ini. Di antaranya yang dilaksanakan mingguan adalah:
- Ngobrol calon novel untuk sharing gagasan novel yang sedang ditulis.
- Tahlilan sastra adalah forum kumpul antarkomunitas2 dengan baca puisi, cerpen, monolog dan ngobrol seputar isu-isu komunitas
- Koran Sore, menelisik cerpen2 yang dimuat di koran
- Nobar alias nonton bareng film-film bagus di Rumah Kreatif
- Ngangkring yuuuk, bincang seputar sastra dan kepenulisan dengan mengundang nara sumber dengan menu khas kopi hitam dan gorengan
- Nyulik alias mengundang sastrawan atau penulis yang kebetulan main ke Jogja untuk didaulat ngobrol di Matapena
- SMS atau sinau menulis sampeiso, belajar nulis reguler satu tahun dua angkatan, diadakan secara kontineu dari gimana sih menulis itu sampai praktik dan siap dipublish.

Selain kegiatan seperti penerbitan bulletin, bikin film, roadshow ke sekolah-sekolah dan pesantren, Liburan Sastra di Pesantren, workshop kepenulisan dan perfilman, ikut serta dalam kegiatan komunitas lain.

Tertarik ingin bergabung?
Caranya mudah, cukup isi formulir dan mengganti biaya pembuatan kartu anggota Rp30.000. Juga, akan mendapat satu buku terbitan komunitas. Bisa datang langsung ke Rumah Kreatif Matapena, via email: matapena_jogja@yahoo.com.

0 komentar

Monday, January 19, 2009

Di Kaki Bukit Merapi
2-4 Januari 2009
Liburan Sastra di Pesantren II

Monday, January 19, 2009

Berlibur, bersastra, dan berkarya, tetap menjadi motto kegiatan Liburan Sastra di Pesantren II yang digelar oleh Komunitas Matapena di Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta. Empat puluh lima peserta datang dari Jawa Timur dan Yogyakarta untuk mengikuti kegiatan ini dari tanggal 2-4 Januari 2009.

Diiringi gemericik hujan, kegiatan diawali dengan rancak musik hadrah oleh santri-santri Pandanaran di Aula kompleks puteri. Usai seremonial pembukaan, Akhmad Fikri yang kemudian disusul oleh Kuswaedy Syafii berbicara tentang “Sastra, Pesantren, dan Pembebasan”. Bahwa sastra sebenarnya bagian tak terpisahkan dari kehidupan pesantren. Santri bersastra selama 24 jam, lewat nazham, dzibaan, shalawatan, usfuriyah. Sastra bagi santri akan berefek pada penguatan dzauq atau kepekaan pada rasa, dan kepekaan ini yang akan meluaskan cakrawala. Bagi Kuswaedy, cakrawala luas itulah pembebasan.

Fokus liburan sastra kali ini adalah penulisan cerpen. Dimulai dengan pengumpulan naskah cerpen tulisan temen-teman, sebagai bahan diskusi kecil di pematang sawah Pandanaran. Sebelumnya ngobrol kepenulisan dengan Mahbub dan Sachree. Mereka bercerita tentang proses kreatif mereka. Seperti yang dituturkan Hilma sang moderator bahwa setiap orang yang menulis pasti punya kisah dan cerita dalam kepenulisannya. Sementara, untuk kisah dan cerita teman-teman peserta dieksplorasi labih luas di kelompok kecil, di pematang sawah Pandanaran.

Usai bercengkerama dengan alam sawah, teman-teman diajak untuk kembali ke masa kecil mereka, bermain gobak sodor. Kembali merenda lokalitas yang mulai tercerabut. Ada yang masih ingat tentang permainan itu, ada juga yang sudah melupakan atau belum pernah mengenalnya. Cunik, salah seorang peserta dari Tulungagung berkomentar, “Masak pada nggak tahu sih permainan ini?” Tapi, seru! Dari peserta, fasilitator, sampai panitia, semua terlibat dalam permainan dan tertawa bersama. Agus Noor dan Joni Ariadinata yang didaulat untuk berbicara dengan detil soal ide-alur dan penokohan berhasil memukau peserta. Pada sesi pertama, bakda zhuhur, Agus menjelaskan bagaimana ide itu penting dicatat. “Saya buat file kalimat puitik. Saya tulis, tanpa tahu itu akan berguna kapan atau enggak. Misalnya, Lima Laki-Laki Lumpuh.” Selain membagi tips bagaimana menangkap ide dan merumuskannya, dan memompa semangat peserta untuk “memaksa diri” terbiasa menulis seperti yang ia lakukan dan berhasil. “Kejam pada diri sendiri adalah latihan menulis sebagai profesi. Seperti naik sepeda. Semakin ahli dan terbiasa. Menulis itu seperti naik sepeda, ada banyak cara untuk melakukannya. Artinya problem menulis itu ditentukan oleh bagaimana penulis itu.”

Pada sesi bakda ashar, Joni menjelaskan tentang penokohan secara detil. “Banyak cerpen yang terbit, tapi begitu banyak yang kita lupakan, salah satu sebabnya karena para penulis tidak memperhatikan tokoh yang dia tulis,” begitu ia memulai. Dan, meluncurlah banyak tips bagaimana menuliskan tokoh yang unik dan tak terlupa. “Untuk seorang pemula, cari sampel. Karena untuk menandai cerita, tokoh memang harus unik. Pembohong yang harus goblok banget, lugu ya lugu banget, jangan yang setengah-setengah. Ini kan mudah dilupakan bisa juga lewat psikologi nama, setiap nama kan punya muatan yang berbeda. Misalnya, Joni kesannya dugal, suka memperkosa orang. Gak mungkin orang desa yang jujur dan dekil.”

Malam harinya, teman-teman menonton film The Fredom Writer. Film tentang kekuatan sebuah tulisan yang bisa membongkar endapan dendam dan konflik antarras para murid di sebuah kelas. “Saya awalnya tidak tertarik. Tapi, setelah mengikuti, ternyata sangat inspiratif. Problem pendidikan yang kebetulan sedang saya hadapi di lingkungan tempat saya mengajar,” jelas Zakaria takjub. Dan, hal senada juga diungkapkan oleh peserta yang lain.

Selain pematang sawah Pandanaran, pada hari kedua teman-teman juga diajak berdekatan dengan alam kaki merapi, sambil berbincang soal setting dengan Evi Idawati. Menurut Evi, penulisan setting yang baik, mulailah dengan menuliskan apa adanya dari objek yang ditangkap, baru kemudian dibumbui dengan imajinasi dan pemaknaan. “Bahan penulisan setting bisa dengan datang langsung ke suatu tempat, wawancara, foto, gambar, rekaman video.” Dari kaki merapi, teman-teman dikondisikan untuk pementasan malam penutupan. Mementaskan Satu Babak tentang Hujan, karya Shachree adaptasi dai cerpen Aphoria Hujan karya Rasyid A, salah seorang peserta dari Darul Ulum Jombang. Malam penutupan dimeriahkan oleh pentas dadakan dari santri puteri Pandanaran juga peserta dengan pembacaan puisi dan olah suara. Faisal Kamandobat dan Retno juga ikut membacakan puisi. Kang Acep dan Goenawan Mohamad yang sedianya diundang hadir untuk orasi budaya bersama Bisri Efendi dari Lipi, berhalangan hadir. Dalam orasinya, Bisri mengungkapkan salah satu temuan filologi menarik tentang komik yang ditulis oleh seorang kiai. Selain bahwa sastra pesantren seyogianya tidak membuat ruang sendiri dan eksklusif.

Usai penutupan, teman-teman berkumpul di aula untuk acara perkomunitasan Matapena dan perpisahan. Banyak kesan, banyak kenangan, banyak semangat untuk tetap menulis. Tunggu kiriman antologi cerpen teman-teman… Sampai jumpa di Liburan Sastra berikutnya ya…

0 komentar

Wednesday, August 06, 2008

Unforgetable...

Wednesday, August 06, 2008
Yang tak terlupa dari Liburan Sastra di Pesantren...

para sastrawan yang berbaik hati meluangkan waktu

teman-teman peserta dari USP dan MQIP Putera Sampoerna Foundation, juga pesantren-pesantren, SMA, PT dan perseorangan dari Jogja, Cirebon, Wonosobo, Banyuwangi, Tuban, Malang, Pati, Kendal, Pekalongan...

teman-teman panitia dan fasilitator


para guru pembimbing, Bu Indri, Pak Marno, Pak Tauhid, Pak Zubaidi, dan Mas Amir dari MQIP Putera Sampoerna.


alam Kaliopak...


ketinggian Bukit Bangkel, tenda yang panas...


nulis-nulis, api unggun, mushala atap langit, pentas budaya...


Terima kasih...

5 komentar

Monday, August 04, 2008

Asyiknya Liburan Sastra di Pesantren

Monday, August 04, 2008
Tak berlebihan jika berliburan sastra di pesantren dibilang asyik dan seru. Karena kegiatan yang sudah terlaksana 10-12 Juli 2008 yang lalu ini berusaha memadukan tiga bentuk kegiatan:

- Berlibur

Titik tekan dalam kegiatan ini adalah fun dan refreshing. Beberapa kegiatan yang menekankan poin berlibur di antaranya adalah jalan-jalan ke Kaliopak dan Bukit Bangkel. Dalam dua kali jalan-jalan itu, peserta didekatkan dengan keindahan alam, nuansa lokalitas, serta beberapa permainan untuk membebaskan ekspresi. Misalnya, permainan bercerita pada air, berbagi dengan batu, dan meniup balon.

Pada sesi penutupan, usai Pentas Budaya, ada acara bernyanyi bersama mengelilingi api unggun. Layaknya acara perkemahan, api ungun adalah puncak segala acara yang menyatukan kebersamaan dalam kedekatan rasa penuh keakraban.

Meskipun menghabiskan banyak tenaga, komentar memuaskan banyak dituliskan oleh teman-teman tentang liburan mereka, misalnya:

Khatim Maulina, Annuqayah Madura:
“Yang tak bisa dilupakan dari Liburan Sastra adalah out bond ke Kaliopak dan Bukit Bangkel. Tahu alam sekitar gitu.”

Tiara Pratidhina, SMAN 13 Surabaya:
“Liburan di desa yang masih asri. Asyik dan seru banget bisa ke Kaliopak.”

Izzatin Nisa’, Madrasah Muallimat Rembang:
“Aku mendapat suasana baru yang lain daripada yang lain/refreshing.”

Rizqi Wijanarko, PP Darul Amanah Kendal:
“Pengalaman out bond, tak terlupakan.”

Wahidah Nur K, MAN Wonokromo Yogyakarta:
“Pas mendaki ke Bukit Bangkel juga pas malam perpisahan, tak terlupakan.”

Dwina Azizah SN, SMAN 13 Surabaya:
“Pemandangan yang indah, yang tidak didapatkan di kota.”

Sa’duman Djaya, Annuqayah Madura:
“Tentunya ketika api unggun itu menyenandungkan bahwa kita sebentar lagi akan berpisah. Ini tak bisa terlupakan.”

Selain jalan-jalan, kegiatan fun yang lain adalah nonton film bersama di aula. Memutar film Died Poet Society. Meskipun tidak sekelas dengan bioskop 21, para peserta dan guru pembimbing tampak menikmati hingga pemutaran selesai. “Filmnya bagus,” lagi-lagi Pak Tauhid berkomentar penuh kekaguman.

- Bersastra

Kegiatan ini menitikberatkan pada apresiasi sastra, baik terhadap karya sendiri maupun orang lain. Beberapa kali yang berhasil dilakukan, pertama, memberikan komentar atas karya teman dalam kelompok-kelompok kecil. Baik ketika di Kaliopak maupun di mushala Atap Langit. Thayyibah Ali Sumarto dari MA Puteri An-Nuqayah sempat berbagi kesan, “Senang sekali saya di kelompok tadi. Kakak-kakak yang mahasiswa itu memberikan komentar untuk tulisan saya.”

Kedua, Pentas Puisi di mushala Atap Langit. Para peserta adalah para sastrawan, terbukti secara spontan mereka bisa tampil bergantian penuh percaya diri membacakan puisi dengan sangat baik.

Ketiga, apresiasi teater, wayang, dan film. Para peserta disuguhi pentas teater oleh Komunitas Sangkal, pentas wayang oleh Kajey Habib, dan pemutaran film Died Poet Society. Ketertarikan dan keseriusan mereka menikmati suguhan itu adalah sebuah apresiasi atas karya sastra yang divisualkan.

Di samping itu, termasuk dalam konsep ini adalah belajar tentang sastra dari banyak pengalaman, baik kepada para sastrawan senior, seperti Ahmad Tohari, D. Zawawi Imron, Acep Zam Zam Noor, Joni Ariadinata, Evi Idawati, kepada fasilitator yang merupakan para penulis novel Matapena, maupun kepada sesama teman peserta. Juga belajar tentang seluk beluk pentas karya yang divisualkan, seperti drama atau teater.

Tentang kebebasan berekspresi tanpa kungkungan teori ini, Atho’illah dari PP Langitan Tuban menuliskan, “Saya mendapatkan sebuah pengertian bahwa sastrawan harusnya bisa membaca kehidupan dan peka terhadap gejala sosial yang terjadi. Bahwa ternyata sastra itu membebaskan. Bukan kungkungan teori yang membuat jadi mengkerut,” tulisnya dalam lembar evaluasi hari pertama.

Pada dasarnya dalam diri setiap peseta sudah terdapat bara sastra. Oleh karena itu, yang diperlukan sebenarnya adalah contoh dan motivasi. Sehingga, dihadirkanlah motivasi dari para sastrawan senior, para penulis novel Matapena. Juga, lewat media film yang bercerita tentang kebebasan berekspresi dan menjadi diri sendiri, Died Poet Society. Bara sastra dan motivasi adalah awal proses untuk kemudian para peserta menjadi bersemangat untuk berkarya.

- Berkarya

Salah satu respon positif untuk semangat dalam berkarya dituliskan oleh seorang peserta dalam catatan kecilnya, “Ini akan jadi terakhir yang penuh tanda tanya. Aku bertekad, menulis sendiri di rumah dan tak akan pernah peduli siapa pun.” Juga dituliskan oleh Suyud dari Banyuwangi, “Aq akan jadi penulis!”

Beberapa sesi dalam Liburan Sastra memang diformat untuk membiasakan peserta berkarya, baik dalam bentuk tulisan seperti ketika jalan-jalan ke Kaliopak dan di sela-sela petualangan di Bukit Bangkel. Selain menulis puisi dan cerpen, ada juga permainan copy to under di mana peserta diminta meneruskan potongan cerpen menurut gagasan dan imajinasi mereka masing-masing. Permainan ini merangsang lahirnya cerita baru yang variatif dari sumber cerita yang sama, yaitu cerpen “Lukisan Kaligrafi” karya Gus Mus.

Termasuk dalam konsep berkarya adalah merancang pementasan untuk Pentas Budaya pada malam penutupan acara Liburan Sastra yang ternyata berhasil dengan baik. Solechah Delasari, dari SMAN 4 Yogyakarta menuturkan dalam catatan kecilnya bahwa malam penutupan di panggung menjadi momen yang tak terlupakan dari Liburan Sastra di Pesantren. Dia berkesempatan memandu pementasan dari kelompok puteri dengan gaya seperti membaca puisi. Sangat menarik.

Secara terpisah kelompok putera dan puteri bisa mempersembahkan satu bentuk pementasan yang menarik. Masing-masing kelompok menggarap sendiri mulai dari pilihan naskah cerita, tokoh, watak, karakter, musik, juga kostum. Dalam persiapan pementasan ini fasilitator tidak ikut terlibat sama sekali. Karena berangkat dari asumsi bahwa mereka memang sudah menyimpan bara sastra yang tak terbantahkan.

Memang, tiada gading yang tak retak, demikian juga dengan persiapan, perjalanan, dan ending dari kegiatan Liburan Sastra di Pesantren. Apalagi mengingat kegiatan ini adalah kegiatan pertama bagi Komunitas Matapena yang bersifat lebih luas daripada workshop-workshop kepenulisan yang selama ini dilakukan di beberapa rayon pesantren.

Tapi, datangnya banyak apreasiasi atas kegiatan ini, baik dari pendaftaran peserta, donasi, dan pesan kesan dari berbagai pihak bisa dijadikan sebagai ujung rekomendasi bahwa Liburan Sastra di Pesantren cukup menarik dan berjalan dengan baik. “Saya sangat respek dengan kegiatan ini. Panitia dan fasilitatornya gaul sesuai dengan selera kaum muda. Materi bagus, penyampaian materi sangat menyenangkan. Salut untuk anak-anak pesantren yang hebat, kreatif, dan inovatif. Menumbuhkan rasa ingin bersastra yang mendalam dan menambah persaudaraan,” demikian dituliskan Bu Indri, guru pembimbing SMAN 13 Surabaya. Salah satu sekolah dampingan USP Putera Sampoerna Foundation.

Senada dengan Bu Indri, Kang Acep juga menuturkan dalam orasi budayanya, “Acara semacam ini bukan hanya penting, tapi juga harus dilestarikan sebagai bagian dari pesantren. Karena kita tahu banyak sekali sastrawan-sastrawan kita yang dari pesantren. Ada beberapa kawan pengarang, di antaranya Muhammad Amri dan Rahmatullah Ali, mereka menjadikan pesantren sebagai setting yang kental.”

Sementara Evi Idawati secara terpisah mengungkapkan keterkejutannya atas acara ini. “Ini lebih bagus lho daripada acara yang kemarin. Coba aku tahu sebelumnya, anakku taksuruh ikut,” ucapnya penuh kekagumam.

Respon serupa juga banyak dilontarkan oleh teman-teman peserta:

Ahmad Syatori, PP Miftahul Muta’allimin Cirebon:
Jangan sampai di sini kegiatan LSDP, semoga tahun berikutnya bisa ditingkatkan.

Ainun Nahdhiyatin, PP Roudhotut Tholibin Rembang:
Sering-sering aja ngadain pelatihan kayak gini, soalnya banyak banget manfaatnya. Buat suasana yang berbeda agar tambah semangat.

Miftachul Alam, SMAN 19 Surabaya:
“Amazing, bagi pemula seperti saya yang mendapatkan pengalaman berharga tentang sastra.”

Rochmad Hartadi, PP As-Salafiyah Mlangi:
Ada follow upnya kayaknya oke tuh.

Hanik Amaria, SMAN 13 Surabaya:
“Ya, maju terus, dan diadakan lagi yang lebih seru dari ini.”

Ahmad Zainuddin, PP Roudhotut Tholibin:
“Untuk panitia, semoga pelatihan ini bukan yang pertama dan yang terakhir.”

Wachidah Nur K., MAN Wonokromo Yogyakarta:
“Besok adain lagi Mas/Mbak acara kayak gini.”

Khatim Maulina, MA An-Nuqayah Madura:
“Jangan jadikan kegiatan ini sebagai kegiatan yang terakhir kali.”

Atho’illah, PP Langitan Tuban:
“Jangan sampai gak diadain lagi.”

Ragil F.A, Komunitas Matapena rayon Wonosobo:
“Kegiatan ajaib.”

Susi Susanti, MA An-Nuqayah Madura:
“Adain tiap tahun, tambah dikembangkan lebih baik yah! Hanya orang yang separo hati yang mampu mendefinisikan kegiatan ini.”

Sholechah Delasari, SMAN 4 Yogyakarta:
“Subhanallah, ada banyak sekali pengalaman yang luar biasa dahsyat. Thanks panitia. Tahun depan ada lagi gak?”

Dan, Mas Amir Maaruf, Program Officer Madrasah Quality Improvement Program Putera Sampoerna Foundation yang mengikutsertakan teman-teman dari PP Roudhotut Tholibin Rembang dan MA An-Nuqayah Madura, menggarisbawahi dengan, "Well planed and well done," tentang kegiatan Liburan Sastra di Pesantren. Selain bisa menjadi inspirasi mengisi liburan yang asyik dan kreatif.

Beberapa masukan, evaluasi, dan koreksi atas banyak hal yang berkaitan dengan pelaksanaan Liburan Sastra di Pesantren tahun ini akan menjadi bara untuk pelaksanaan Liburan Sastra di Pesantren pada kesempatan liburan sekolah berikutnya dengan lebih baik dan sempurna lagi.

Terima kasih... Terima kasih...

2 komentar

Thursday, May 10, 2007

World Book Day 2007
26-29 April 2007
Gedung A Depdiknas Jakarta

Thursday, May 10, 2007

Rabu, 25 April 2007
Persiapan


Berangkat sore hari, pakai travel. Dengan pikiran kosong dari gambaran dan bayangan, akan seperti apa acara WBD besok. Karena belum ada satu pun dari kita yang pernah mengikuti Community Fair. Dan, ini menjadi pengalaman pertama yang mudah-mudahan bisa memberikan banyak pelajaran dan manfaat.
Sampai Jakarta, rencananya mau langsung istirahat di penginapan, tapi belum ada kamar kosong, secara jam cek out adalah pukul 13.00 WIB. Padahal waktu itu baru jam enam pagi. Kita pun kemudian meluncur ke Lakpesdam, tampat Sahal bekerja. Selain bisa buka mail untuk ngeprint beberapa berkas, kita juga dapat gratisan makan pagi dan siang.
Siang hari, setelah cek in, kita langsung ke lokasi WBD untuk menata stand. Dibantu sama Slamet dari perwakilan Jakarta. Beberapa perlengkapan yang belum ada, misalnya tali dan kertas manila, kita cari di Carrefour yang lokasinya cuma di sebelah gedung Diknas. Tikar yang sejak beberapa hari lalu sudah kita pesan, ternyata belum tersedia. Akhirnya sebagai alternatif, kita pakai selimut sebagai alas duduk lesehan. Acara beres-beres berlangsung sampai pukul setengah sepuluh. Dengan membawa beberapa PR bikin ilustrasi untuk hiasan dinding tripleks, dipasang esok harinya.


Kamis, 26 April 2007
Hari Pertama


Setelah makan pagi, kita menuju ke lokasi WBD. Banyak stand sudah terlihat rapi dan cantik. Rencana pertama adalah meneruskan dekorasi, sambil mengikuti pembukaan WBD di Panggung Utama yang terletak di depan stand Matapena. Acara dibuka oleh Prof Dr. Bambang Sudibyo. Dihadiri juga oleh Tantowi Yahya.


Acara diskusi atau workshop diadakan di dua panggung, Panggung Utama WBD dan Pangung Anak dan Remaja WBD. Lokasi Panggung Utama WBD lebih strategis karena di tengah jajaran stand komunitas. Sedangkan Panggung Anak dan Remaja, terletak di ujung pojok gedung A Diknas.
Semula acara Storytelling Matapena akan digelar di Panggung Anak dan Remaja. Panggung yang menurut kita kurang strategis. Apalagi pada jam yang sama Panggung Utama juga tidak dipakai. Mungkin karena pertimbangan itu, panitia kemudian memindahkan acara Storytelling Matapena ke Panggung Utama. Zaki dan Ruslan bertindak sebagai pemateri sekaligus storyteller, ditambah Adinda, adiknya Ruslan, sementara Hilma sebagai host. Saya sebagai penjaga stand, mengingat dua stand yang lain di hari pertama sudah kehilangan laptop masing-masing. Ambil dokumentasi juga terpaksa saya titipkan ke panitia.
Memang pesertanya tidak banyak, mengingat cuaca di luar hujan. Undangan yang sudah kita hubungi juga beralasan demikian. Tapi, pada sesi dialog lumayan juga yang berpartisipasi. Setiap penanya atau komentator mendapat kenang-kenangan buku dan pin. Berjumlah lima orang.
Kegiatan selama sehari, selain manggung storytelling, kita melayani beberapa pertanyaan pengunjung yang bertandang ke stand. Rata-rata ketertarikan mereka bermula dari foto yang kita pajang, kemudian berlanjut ke pertanyaan seputar teknis pengadaan workshop. Belum lagi kalau yang mereka inginkan adalah peserta dari anak-anak usia SD, secara mereka adalah guru sekolah dasar. Di luar kegiatan kita selama ini kan? Tapi, kita tetap optimis, memberikan jawaban, itu bisa direncanakan dan akan kita agendakan.
Tutup acara, pukul 09.00. Kali ini, kita mencoba berkenalan dengan busway. Kalau ingin menemukan suasana lelahnya ibukota dari wajah-wajah para penghuninya, naik saja angkutan ini. Sebuah potret yang membuat para pendatang seperti kita jadi ingin cepat kembali ke kampung halaman.

Jum’at, 27 April 2007
Hari Kedua


Acara hari kedua tetap sama. Menerima kunjungan dan menjawab pertanyaan pengunjung. Sambil bergantian kita berkeliling mengunjungi stand komunitas yang lain. Rata-rata cuma dihuni oleh panjaga stand. Paling ramai stand Komunitas Historia, stand yang berlokasi tepat di depan stand Matapena. Mereka adalah orang-orang yang suka berkeliling mengunjungi kota dan peninggalan sejarah di Jakarta. Mereka juga punya milis yang beranggotakan ribuan orang. “Ternyata belajar sejarah itu mengasyikkkan,” jelas Asep, si penggagas ide. Tentu saja karena dikemas dalam bentuk jalan-jalan, untuk masyarakat Jakarta bisa jadi alternatif mengisi hari libur.
Dari ke-43 stand yang ikut dalam WBD, datang dari Jakarta, Bogor, dan Bandung. Sementara sisanya dari Jogja dan Jawa Tengah: Matapena, Perpus keliling Satu Nama, Rumah Pelangi-Magelang. Rata-rata mereka juga menjual asesoris, misal Pin, pulpen, gantungan kunci, juga kaos. Padahal dalam WBD ada peraturan stand komunitas tidak boleh melakukan jual-beli. Malah ada stand Komunitas Kalam Bogor, yang semula sepi, tapi setelah menerima order bikin pin, stand pun jadi ramai dikunjungi. Tapi, buntutnya kita tahu, kalau itu menjadi alternatif kas masuk untuk membiayai kegiatan mereka. Salut ya!
Kita juga mengikuti acara yang berlangsung di Panggung Utama, cukup dengan duduk lesehan di stand sambil mendengarkan jalannya diskusi. Rata-rata pesertanya memang tidak banyak. Karena kebanyakan yang datang paling jalan-jalan mengelilingi pameran stand, setalah dari pameran buku, lalu pulang.
Stand Matapena yang rencananya mau memutar film, terpaksa dibatalkan, karena ada sepasang kabel colokan yang tidak terbawa. Alhasil, seperangkat tv dan salon cuma jadi hiasan, tiap malam diangkut dititipkan ke panitia, lalu diambil lagi esok paginya. Katanya kabel colokannya mau diambilkan, tapi tak kunjung datang juga. Jadi, kita memutar film pakai laptop, dengan tanpa suara.
Malam kedua acara cuma sampai pukul 08.00. Tadinya mau jalan-jalan. Tapi, mengingat kita mau bikin profil Matapena untuk difotokopi, kita pun balik lagi ke penginapan.


Sabtu, 28 April 2007
Hari Ketiga


Acara pertama meneruskan pembuatan profil Matapena, yang sering kali ditanyakan sama pengunjung. Selengkap-lengkapnya. Karena ternyata mereka lebih suka membawa kopian profil Matapena daripada mencatat alamat dan nomor telpon pada banner. Ya pastinya.
Hari ketiga, rencananya kita menawarkan pada pengunjung untuk uji coba menulis cerita singkat. Tapi, maaf. Tidak berjalan dengan baik. Meskipun pengumumannya sudah disebarkan lewat undangan via Insan Purnama, brosur, dan pengumuman di kertas manila. Mungkin karena merepotkan, daripada refreshing dan jalan-jalan, melihat-lihat, yang terkesan lebih rileks. Sementara undangan yang kemarin kita kirimkan ke SMA via Insan Purnama, terbukti belum ada yang memenuhi. Yang terlihat nongol cuma anak-anak PMII, dan pengurus IPNU juga cuma mengantar majalah edisi profil Fina Af’idatussofa karena ada rapat. Sempat juga jalan-jalan mengunjungi Panggung Anak dan Remaja, yang waktu itu ada Bengkel Kepenulisan dari FLP. Ternyata sama juga. Pesertanya cuma 10-an orang. Tidak lebih.
Meskipun demikian, profil Matapena yang ditaruh untuk diambil cuma-cuma, habis tak tersisa. Ada yang bertanya, “Ini di La Tansa ya?” sambil menunjuk foto kegiatan Matapena. Ada juga seorang ibu guru yang tertarik bertanya, “Kalau untuk anak SD bisa ngadain workshop gak?” Soal pertanyaan yang kedua ini, hampir setiap hari ada yang menanyakan. Sampai kita kepikiran untuk bikin program workshop untuk ditawarkan ke sekolah-sekolah SD. Hehehe.
Malam harinya sebelum ditutup, ada acara Ajang Kumpul Komunitas. Dengan menampilkan kreasi dan hiburan untuk semua. Matapena menampilkan Adinda, adiknya Ruslan, sama Zaki untuk baca puisi dan cerpen. Ada yang menampilkan operet dangdutan Roma Irama, tari salsa, lagu balada, dll. Tapi, kita tidak mengikuti acara sampai selesai, sudah larut malam.

Minggu, 29 April 2007
Hari Penutupan

Hari penutupan, di Panggung Utama masih berlangsung 2 sesi diskusi. Tentang prediksi terbitan Harry Potter dan prospek perjalanan komunitas ke depan. Beberapa acara pementasan yang direncanakan di Panggung Utama, sepertinya tidak jadi ditayangkan. Dilanjut dengan pengumuman lomba tabak buku, berburu buku, dan penutupan acara World Book Day 2007 oleh Kepala Dinas Perpustakaan Nasional Jakarta.
Dalam acara penutupan ini, dibuka dialog, untuk menyampaikan kritik dan saran. Asep dari Komunitas Historia, memandang positif kegiatan WBD. Hanya saja, publikasinya memang kurang bagus di samping terlalu mendadak. Kritikan ini juga diakui oleh Bapak Kepala Dinas yang baru mendapatkan undangan seminggu sebelum acara. “Jangankan Jakarta, orang satu gedung Depdiknas saja tidak semuanya tahu soal kegiatan ini kok.”
Pak Kadin juga sempat mempublikasikan kegiatan Community Fair serupa yang katanya akan dilaksanakan di TMII bulan Juni depan. Kok mendadak lagi? Bocoran sejenis ini juga didapat Zaki, yang katanya WBD tahun depan akan diadakan di Jogja. Sepertinya kita harus menunggu kebenaran 2 bocoran itu. Harapannya sih bocoran yang kedua yang benar terbukti. Jadi, selain Matapena sudah berpengalaman soal gambaran bagaimana pameran komunitas itu, juga lokasinya tidak perlu jauh-jauh naik travel. Amiin.
Pukul 17.15 kita resmi cabut, dengan travel yang sudah menunggu di depan gedung depdiknas. Mungkin bagi beberapa komunitas, ini pemandangan yang cukup mengherankan. Apalagi pas mereka tahu kita menginap di hotel. Secara hampir semua komunitas adalah swadaya dan minim fasilitas. Mereka menginap di stand. Yah, seperti kegiatan-kegiatan kampus dan gerakan mahasiswa gitulah. Salut ya!

0 komentar

Thursday, April 19, 2007

World Book Day
23-29 April 2007

Thursday, April 19, 2007

Pemrakarsa: Forum Indonesia Membaca
Penyelenggara: Forum Indonesia Membaca
Didukung oleh:
The Indonesian Literacy Institute
Perpustakaan Departemen Pendidikan Nasional


World Book Day yang dirancang oleh UNESCO sebagai sebuah perayaan buku dan literasi yang mendunia, perayaannya telah dimulai pelaksanaannya di Indonesia tahun 2006 oleh Forum Indonesia Membaca. Pada awalnya sebagai bagian dari perayaan Hari Saint George di wilayah Katalonia abad pertengahan para pria memberikan mawar pada kekasihnya. Namun sejak tahun 1923 para pedagang buku mempengaruhi tradisi ini untuk menghormati Miguel de Cervantes, seorang pengarang yang meninggal dunia pada tanggal 23 April sehingga sejak 1925 para perempuan memberikan sebuah buku sebagai pengganti mawar yang diterimanya. Pada masa itu lebih dari 400.000 buku terjual dan ditukarkan dengan 4 juta mawar.
Pada tahun 1995, Konferensi Umum Unesco di Paris memutuskan tanggal 23 April sebagai World Book Day karena festival Katalonia serta pada tanggal Shakespeare, Cervantes, Inca Garcilaso de la Vega, dan Josep Pla meninggal dunia, juga kelahiran Maurice Druob, Vladimir Nabokov, Manuel Mejia Vallejo dan Halldor Laxness. Walaupun pada kasus Shakespeare dan Carvantes ada sedikit perbedaan karena masing-masing meninggal dihitung dengan sistem kalender yang berbeda di mana masa itu Inggris masih mempergunakan sistem Kalender Julian sedangkan Katalonia mempergunakan sistem Kalender Gregorian.
Perayaan ini merupakan bentuk penghargaan dan kemitraan antara pengarang, penerbit, distributor, organisasi perbukuan, serta komunitas-komunitas yang semuanya bekerja sama mempromosikan buku dan literasi sebagai bentuk pengayaan diri dan meningkatkan nilai-nilai social budaya kemanusiaan. Secara umum, tujuan diselenggarakannya World Book Day sebagai sebuah world even adalah untuk menyemangati masyarakat, terutama kalangan anak-anak untuk mengeksplorasi manfaat dan kesenangan yang bias didapat dari buku dan membaca.
Acara-acara yang mengangkat dunia literasi sudah diselenggarakan di Indonesia, di antaranya adalah Hari Buku Nasional, Hari Kunjungan Perpustakaan, sampai berbagai pameran dan bazaar buku, di tingkat local maupun nasional. Seiring dengan adanya globalisasi informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan, sudah saatnya kita melebarkan aktivitas kita dalam dunia perbukuan dengan ikut berpartisipasi melakukan perayaan buku berskala internasional agar lebih menggaungkan literasi di tengah masyarakat Indonesia.
Forum Indonesia Membaca (FIM), sebuah organisasi kemasyarakatan yang berkonsentrasi di aktivitas literasi, berupaya membuka ruang partisipasi seluas-luasnya kepada masyarakat dalam penguatan budaya baca. Setelah sukses dengan World Book Day yang diadakan pertama kalinya di Indonesia pada tahun 2006 di gedung A Depdiknas Senayan Jakarta dan banyaknya permintaan dari komunitas literasi, penerbit buku, dan masyarakat umum maka di tahun 2007 Forum Indonesia Membaca berusaha merealisasikan kembali pelaksanaan World Book Day di Indonesia menjadi sebuah tradisi festival yang tujuannya untuk merayakan buku dan literasi, di mana acara World Book Day membuka partisipasi masyarakat sebesar-besarnya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya buku dan membaca, serta mengapresiasi dunia perbukuan.

Tema World Book Day 2007: Buku untuk Perubahan

Tempat Kegiatan: Gedung A Depdiknas Jl. Jendral Sudirman Jakarta

Nomor Stand Matapena: 27

Jadwal Kegiatan:

Kamis, 26 April 2007
Anak dan Remaja


09.00-09.30 WIB
Pembukaan oleh Prof. Dr. Bambang Sudibyo
Panggung Utama World Book Day 2007

09.00-19.30 WIB
Pameran Komunitas Literasi dan Bursa Buku Murah
Area World Book Day 2007

09.30-17.00 WIB
LITERACY: WORKSHOP 1
Pengenalan Athenaeum Light 6.0 dan 8.5
(tempat terbatas) Ruang belajar Perpustakaan Depdiknas
Kerjasama dengan Komunitas Athenaeum Light Indonesia (KALI)

10.00-11.00 WIB
LITERACY: TALK 1
Talkshow “Buku untuk Perubahan”
Moderator: Ali Muakhir
Pembicara: Cacha, Faiz, Izzati, dan Bella
Panggung Utama World Book Day 2007
Didukung oleh penerbit Mizan

11.00-12.00 WIB
LITERACY: GAMES
Dongeng dan Lomba Berburu Buku untuk Anak
Panggung Utama World Book Day 2007
Oleh HIMAKA Library Care
Didukung oleh Penerbit Erlangga dan Mizan
Informasi hubungi Riri 08174807809

11.00-13.00
LITERACY: MOVIE 1
Pemutaran Film: Multatuli (Rumah Dunia)
Ruang Tengah Perpustakaan Diknas
Oleh Rumah Dunia

12.00 WIB
LITERACY: QUIZ
Pembukaan Kuis Berburu Buku dan Tebak Buku untuk Remaja dan Dewasa
Meja informasi World Book Day 2007
Disponsori oleh Penerbit Erlangga

13.00-14.30
LITERACY: TALK 2
Literasi dalam Millenium Development Goals
Moderator: Harkrisyati Kamil
Pembicara:
1. Nasir Tamara – National Coordinator for Target MDGs UNDP
2. Amru Mahalli – Direktur CSR PT Riau Pulp and Paper
3. Perwakilan dari pendukung acara World Book Day 2007
Panggung Utama World Book Day 2007

14.30-16.00
LITERACY: COMMUNITY 1
Story Telling: Cerita dari Bilik Santri
“Pst..ssst… Dari Bilik Santri Ada Cerita Lho…”
Pembicara:
1. Zaki Zarung penulis Santri Baru Gede
2. Ruslan Ghofur penulis Geng Kopi ubruk
Panggung Anak dan Remaja
Oleh Matapena Community
Informasi hubungi Isma 08157970372


16.00-18.00
LITERACY: WORKSHOP 2
Dari Sekolah Hogwarts: “Belajar Singkat Arithmancy dan Anagram”
Panggung Anak dan Remaja
Oleh Indo-Harry Potter
Informasi hubungi Hadi 08567876956

16.00-18.00
LITERACY: MOVIE 2
Pemutaran Film the Chorus
Di Ruang Baca Perpustakaan Diknas


Jum’at, 27 April 2007
Kembali ke Masa Lalu


09.00-19.30
Pameran Komunitas Literasi dan Bursa Buku Murah
Area World Book Day 2007

09.30-11.30
LITERACY: TALK 3
Retrospeksi “Sutan Takdir Alisyabana”
Moderator: Heni Irawati
Pembicara:
1. Abu Hasan Asyari
2. Akmal Naseri B. (wartawan dan mailing list Apresiasi Sastra)
3. Ibnu Wahyudi (Dosen sastra UI)
Panggung Utama World Book Day 2007

11.00-13.00
LITERACY: MOVIE 4
Pemutaran Film Freedom Writers
Ruang Baca erpustakaan Diknas

14.00-16.00
LITERACY: TALK 4
Menilik Budaya Lisan dan Aksara Daerah
Moderator: Afzon Dakka (Komunitas Kajian Dongeng)
Pembicara:
1. Maya Ramayanthi (Pusat Kajian Dongeng UI)
2. Pudentia (Asosiasi Tradisi Lisan dan Dosen Sastra UI)
3. Aryo (Klub Pecinta Bacaan Anak)
Panggung Utama World Book Day 2007
Kerja sama dengan Komunitas Kajian Dongeng

15.00-17.00
LITERACY: WORKSHOP 3
“10 Cara Pedekate dengan Komik”
Ruang Belajar Perpustakaan Diknas
Oleh Masyarakat Komik Indonesia
Informasi hubungi Oyas 081322338807 Atau Wahyu 08151892437

16.00-17.30
LITERACY: WORKSHOP 4
Dari Sekolah Hogwarts: “Belajar Singkat dari Kartu: Trading Card Game Harry Potter, UNO Harry Potter, dan Ramalan Tarot”
Panggung Anak dan Remaja
Oleh Indo Harry Potter
Informasi hubungi Hadi 08567876956

16.00-18.00
LITERACY: MOVIE 4
Pemutaran Film dari Rumah Pelangi
Ruang Baca Perpustakaan Diknas
Oleh Rumah Pelangi

18.30-20.00
LITERACY: TALK 5
Reproduksi Cerita Lama
Moderator: Wien Muldian (Perpust Depdiknas)
Pembicara:
1. Merdy (Komunitas Wayang)
2. Pandu Ganesha (Paguyuban Karl May Indonesia)
3. Rieza Fitramuliawan (Tjerita Silat)
Ruang tengah Perpust Diknas


Sabtu, 28 April 2007
Membaca dan Menghibur
>

09.00-1930
Pameran Komunitas Literasi dan Bursa Buku Murah
Plasa Depdiknas

09.30-11.30
LITERACY: TALK 6
Read Aloud
Moderator: Rudy Sulistyawan (Britzone)
Pembicara:
1. Rito Triumbarto
2. Walter Brownsword
Panggung Utama World Book Day 2007

10.00-12.00
LITERACY: MOVIE 5
Sejarah yang Gaul dan Enak Dikonsumsi
Pemutaran Film Dokumenter Kota Lama dan Diskusi
Ruang baca Perpustakaan Diknas
Oleh Komunitas Historia
Informasi hubungi Rommy 0816100622

11.30-13.30
LITERACY: COMMUNITY 2
Bengkel Pena FLP (konsultasi penulisan)
Panggung Anak dan Remaja Oleh FLP
Informasi hubungi Koko 081367675459

12.00-13.30
LITERACY: COMMUNITY 3
Create a Poem
Pembicara: Melanie
Ruang Baca Perpustakaan Diknas
Oleh Britzone Library@Senayan Speaking Club
Informasi hubungi Pras 085692028625

12.00-13.30
LITERACY: COMMUNITY 4
Selamat Datang di Hogwarts
Panggung Utama World Book Day 2007
Oleh Indo Harry Potter
Informasi hubungi Hadi 08567876956

13.00-17.00
LITERACY: TALK 7
Read and Write: Jika Cerdas Tidak Harus Mahal
Dibuka oleh Sarwono Kusumaatdja (DPD DKI Jakarta)
Moderator: Oni Suryaman
Pembicara:
1. How to Read a Book oleh Bagus Takwin dan Rieke Dyah Pitaloka
2. Writing Without Teacher oleh Donny Gahral dan Fira Basuki
Ruang Tengah Perpustakaan Diknas
Oleh Indonesia Publishing
Informasi hubungi Ari 0818126 707

13.30-14.00
LITERACY: EVENT 1
Penyerahan sumbangan buku dari Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia dan Himpunan Mahasiswa Indonesia Utrecht kepada SDN I Legokherang-Kuningan dan SD Perguruan Rakyat 2 Jakarta.
Panggung Utama World Book Day 2007
Aoleh Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia (APISI)

14.00-16.00
LITERACY: TALK 8
Biblioholic Lifestyle
Moderator: Firman Venayaksa
Pembicara:
1. Joko Pinurbo (Budayawan)
2. Iwan Gayo (Penulis)
3. Dessy Sekar Astina (Forum Indonesia Membaca)
Panggung Utama World Book Day 2007

15.00-17.00
LITERACY: WORKSHOP 4
“10 Cara Pedekate Dengan Komik”
Ruang Belajar Perpustakaan Diknas
Oleh Masyarakat Komik Indonesia
Informasi Kedau Sinau dan PP Muhammadiyah

16.00-17.30
LITERACY: BOOK
Bedah Buku Khadijah
Panggung Utama World Book Day 2007
Oleh Penerbit Pena Pundi Aksara

18.30-21.00
LITERACY: ART
Ajang Kumpul Komunitas Buku
Musikalisasi puisi oleh SASINA UI, Teater Dils, Roma Merana Rumah Baca Kwartet, Tari Salsa Trio Ceriwis, Duet Pianika, Rumah Pelangi, Library Lovers Club SMU 49 Jakarta
Panggung Utama World Book Day 2007


Minggu, 29 April 2007 Komunitas

09.00-19.30
Pameran Komunitas Literasi dan Bursa Buku Murah
Plasa Depdiknas

09.30-10.30
Operet Anak dan Soft Launching Website KKS Melati
Panggung Utama World Book Day
Oleh KKS Melati

09.00-11.00
LITERACY: WORKSHOP 5
“10 Cara Pedekate Dengan Komik”
Ruang Belajar Perpustakaan Diknas
Oleh Masyarakat Komik Indonesia
Informasi hubungi Oyas 081322338807 atau Wahyu 08151892437

09.00-15.00
LITERACY: COMMUNITY 6
Literasi untuk Keluarga Muda
Ruang Tengah Perpustakaan Depdiknas
Oleh Lembaga Bina Anak dan Pengembangan Masyarakat Fedus


10.31-11.30
LITERACY: WORKSHOP 6
Pelajaran Tengwar
Panggung Anak dan Remaja
Oleh Eorlingas
Informasi hubungi Riri 0811968625

11.30-13.00
LITERACY: COMMUNITY 7
Bengkel Pena FLP (Konsultasi Penulisan)
Panggung Anak dan Remaja
Oleh Forum Lingkar Pena
Info hubungi Koko 081367675459

11.00-12.30
LITERACY: FORUM 2
Kopi Darat Komunitas Literasi Maya
Pembicara: Para Moderator Milist Literasi
Panggung Utama World Book Day 2007

13.00-14.00
LITERACY: TALK 9
Bincang Santai “Menunggu Harry Potter 7 Terbit: Catatan, Prediksi, dan Harapan”
Pembicara:
1. Poppy Kartadikarya (Penerjemah Magical World of Harry Potter)
2. Andari Karina Anom (Wartawan Tempo)
3. Hadi Patronossto
Moderator Indo Harry Potter
Panggung Utama World Book Day 2007
Oleh Indo Harry Potter Info Hubungi Hadi 08567876956

13.00-15.00
LITERACY: EVENT 2
Lomba Membuat Komik
Tema”Pengalaman Tak Terlupakan Seumur Hidup”
Panggung Anak dan Remaja
Oleh Masyarakat Komik Indonesia

14.00-14.30
LITERACY: COMMUNITY 8
Pertunjukan Teater Meldic
Panggung Utama World Book Day
Oleh Yayassan Mitra Netra

14.30-15.00
LITERACY: EVENT 3
Pengumauman Lomba Asah Otak
Taman Bacaan Mutiara Ilmu
Di Panggung Utama Worl Book Day
Oleh Mutiara Ilmu

15.00-17.00
LITERACY: FORUM 3
Semua Bisa Melakukan Perubahan
Moderator : Agus Irham
Pembicara:
1. Ibu Jaojah (Library Lovers Club SMU 49)
2. Ima (Mutiara Ilmu)
3. Anya (Komunitas Bunga Matahari)
Panggung Utama World Book Day 2007

17.00-17.30
Pengumuman Lomba Berburu Buku dan Tebak Buku untuk Remaja dan Dewasa sekaligus Penutupan Perayaan World Book Day 2007. Panggung Utama World Book Day 2007

Jadi, silakan menyemarakkan World Book Day 2007... :)

0 komentar