Showing posts with label bedah buku. Show all posts
Showing posts with label bedah buku. Show all posts

Friday, February 17, 2012

Al-Falah Jember Membedah MAFIA

Friday, February 17, 2012
Gerbang kuno PP Al-Falah Jember

Hari sudah menjelang maghrib ketika rombongan tim #Roadshow Matapena sampai di PP Al-Falah Jember. Sang ketua Rayon rupanya sudah galau menunggu sejak siang. Katanya, dia sangat kahwatir kami nyasar atau sebagainya akibat jaringan media komunikasi yang (sedang) tidak stabil. Sementara, rute menuju Al-Falah sebenarnya tidak terlalu susah untuk dilacak. Memang banyak cara yang digunakan

0 komentar

Tuesday, February 07, 2012

WC TERPANJANG #ROADSHOW

Tuesday, February 07, 2012

Dia terlahir dengan nama Muhammad Kholil. Nama yang begitu religius dan dahsyat meskipun sudah tidak asing di telinga kita. Tapi, buat Sahabat kita yang satu ini, nama lahirnya tersebut mengalami "evolusi" sedemikian rupa hingga tidak ada satu frase pun yang mengaitkannya dengan nama (popular)-nya sekarang. Sabda, begitulah kini ia disapa. Dia memang bukan siapa-siapa. Pun tidak sombong dengan menganggap dirinya sebagai siapa. Dan Sahabat-sahabat juga gak perlu khawatir, karena dia adalah Sahabat kita. Pernah dia bilang kepada dunia kalau dia ingin menjadi penulis (semoga keinginannya menyubur…). Sama seperti kita.


sekilas MA Zainul Hasan PI

Kali ini, dalam rangkaian #roadshow Matapena ke Jawa Timur, Kang Peppi dkk. bisa singgah dan silaturrahmi dengan Sahabat-sahabat santri PP Zainul Hasan Genggong Probolinggo, berkat konsolidasi Sahabat kita yang satu ini. Ya, Sabda. Tak kurang dari seminggu, Sabda menyampaikan maksud dan tujuan #roadshow ini ke pihak pesantren. Dalam hal ini merujuk pada Bpk. Haqqul Yaqin, S.Fil.I, MA. Beliau adalah kepala Madrasah Aliyah Zainul Hasan. Entah jurus apa yang dipakainya dalam konsolidasi singkat ini sehingga pihak sekolah yakin bahwa dia adalah “anak yang baik”. Lho? Hehe… (mangap, eh, maap, gurau dikit ya...).


Oke, kembali ke cerita.
Sabda, adalah alumni PP Zainul Hasan Genggong Probolinggo yang pertama kali menyambungkan komunikasi dengan pihak sekolah. Wal hasil, tim #roadshow komunitas Matapena disambut hangat dalam forum yang penuh dengan semangat belajar. Baik secara formal, pun kultural. Meskipun kali ini Matapena hanya bisa bermuwajjahah dengan Sahabat-sahabat santri puteri saja. (Semoga santri putera segera…).

Pada sesi pertama, Kang Peppi Al-Ikhtiqom mecairkan suasana dengan gaya khasnya yang memang sedikit berantakan. Terutama jenggotnya… hehe. Tapi biasanya, jenggotnya itu yang membuatnya susah untuk dilupakan orang. Kenapa? Anggap saja mangkelin…!!! (Sekali lagi, maaph. hihihi). Sementara, peserta forum terpesona dengan performanya di depan dengan alat bantu presentasi yang disiapkan panitia. Semuanya oke, pokoknya.


memukau

“Adakah di antara teman-teman yang memiliki jiwa artis…?” tanyanya. Semua peserta hanya bergemuruh, tanpa jawab. “Jika ada,” lanjutnya, “berarti sama dengan saya. Karena saya memang dilahirkan untuk menjadi artis.” Sontak saja peserta terpingkal-pingkal. Ya, begitulah sedikit tentang Kang Peppi. Dia memang dibesarkan di lingkungan artis-artis (pesantren Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta). Dari menjadi seorang teatrawan hingga menyutradarai beberapa pementasan. Termasuk pementasan-pementasan yang diselenggarakan komunitas Matapena di berbagai even. Dan, film pendek berjudul Hadrah Cinta, yang adaptasi dari novel Hadrah Cinta karya Mbak Pijer Sri Laswiji adalah buah karya pertamanya menuju sutradara kawakan. (Semoga, Amien)

Kembali ke Pesantren Zainul Hasan.
Di sana, di luar acara formal, tim #roadshow berkali-kali diingatkan oleh Sabda, bahwa mereka punya WC terpanjang se-Genggong. Karena penasaran, Kang Peppi membuktikan kesungguhan cerita Sabda. Benar saja, Kang Peppi begitu takjub setelah melihatnya secara langsung. Bahkan, untuk mengobati rasa penasarannya itu, dia mencobanya beberapa kali. Hmmmm, gimana ya rasanya? Hehe. Bagi Sahabat-sahabat Matapena yang juga penasaran, silakan sesekali berkunjung ke sana, dan buktikan sendiri. Tapi itu di asrama putera. Kalo di puteri sama gak ya? Nah, kalau itu, mari tunggu lewat novel-novel yang bakal ditulis Sahabat-sahabat kita di sana. Setujaaaa?!!


seorang peserta yang naskahnya kini dalam proses pembacaan kepala sekolah
dan segera, akan dikirim ke komunitas matapena

Terakhir yang sempat terekam dari Zainul Hasan, adalah harapan panitia akan kunjungan Matapena di lain waktu dan kesempatan. Mereka ingin ada ikatan silaturrahim yang kuat sehingga teman-teman yang lain, yang belum berkesempatan mengenal Matapena secara langsung, pada saatnya mendapat kesempatan tersebut. Nah, jika demikian, silakan teman-teman mengkoordinir yang lain untuk bergabung dengan komunitas Matapena. Sederhananya, teman-teman nantinya akan semakin bertambah kenalan dari berbagai penjuru Jawa, dan kelak se-Nusantara. Dalam rangka menghidupkan tradisi kepenulisan dan sastra pesantren. Dimana secara keseluruhan dibingkai dalam SANTRI INDONESIA MENULIS.[MF

3 komentar

Wednesday, February 01, 2012

DI MALANG TAK MALANG

Wednesday, February 01, 2012
Roadshow Komunitas Matapena kali ini mengambil secara acak di beberapa daerah di Jawa Timur. Titik pemberangkatan awal berlokasi di Malang, tepatnya di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I Gondanglegi Malang. Menurut informasi dari Kang Mahbub Djamaluddin, Raudlatul Ulum Gondanglegi termasuk dari tempat yang dikunjungi Matapena pada Roadshow gelombang pertama, kira-kira pada pertengahan tahun 2007. Di sana pula awal kali Matapena melakukan workshop selain di beberapa pesantren. Ada sejumlah anggota dari Raudlatul Ulum Gondanglegi yang ternyata samapai saat ini masih menetap. Kesemuanya adalah santri puteri.


Di Raudlatul Ulum, kunjungan Matapena kali ini diisi dengan bedah novel MAFIA THREE IN ONE karya Muhammad Mahrus, santri pesantren tersebut yang kini tinggal di Yogyakarta. Acara digelar pertama kali di komplek puteri dengan dihadiri hamper seluruh penghuni asrama puteri. Antusiasme santri puteri begitu hebat menjamu tim roadshow sewaktu forum berlangsung. Barangkali karena buku yang dibedah adalah buah tangan santri sana sendiri. Tampaknya, mereka juga ingin suatu ketika, karya mereka juga akan diapresiasi semacam itu.


Dari raut muka mereka, ada banyak yang ingin diutarakan. Entah dalam bentuk curahatan, tanggapan, pertanyaan, dan sebagainya. Sayangnya, mau atau tidak acara mesti dibatasi. Pun, acara yang dimulai sejak selepas isya’ itu berakhir sekitar jam setengah dua belas malam. Ya… barangkali harus diadakan di lain waktu lagi. Kan tinggal mereka yang menentukannya. Iya, to?


Di malam berikutnya, acara digelar di aula putera. Pesertanya tak kalah banyak, sih. Tapi rata-rata mereka lebih memilih diam. Beda dengan yang puteri. Di sisi-lain, kebanyakan dari santri putera di sana memang relatif masih kecil. Ketika bedah novel berlangsung, sebagian dari mereka cuma bengong. Bisa jadi karena memang mereka nggak nyambung dengan tema diskusinya. Wah, sayang sekali. Tapi setidaknya, beberapa dari mereka yang nyambung masih bisa menghidupkan forum. Bahkan, sebelum acara diakhiri, mereka minta diputarin film pendek produksi Matapena; HADRAH CINTA.[MF]

0 komentar

Friday, June 13, 2008

NAPAK TILAS: MALANG PENUH KENANGAN...

Friday, June 13, 2008
Senin, 26 Mei 2007...Masih terlintas di pikiranku, satu wajah yang akan kutemui nanti selepas maghrib. Wajah yang teduh, lembut dan... Aaah, kugelengkan kepala dan mencoba memfokuskan pandangan pada betapa berantakannya tempat ini. Spanduk-spanduk yang siap dibentangkan, karton, megaphone dan kertas-kertas bertuliskan tuntutan aksi bertebaran di ruang diskusi kantor PMII Cabang Kota Malang, tempat ampiranku sebelum ber cuap-cuap di Hall Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB). Di organisasi ini aku digembleng hingga mendapat banyak pengalaman dan aku sangat berterimakasih untuk itu.

Trrit trritt...sebuah sms melesak ke HP ku: ”Mbak, sudah siap atau belum? Kami akan jemput ke sana.” dan setelah kupastikan semuanya sudah ready kubalas sms dari Samsud, punggawa acara di FIA. Tak lama kemudian, sebuah mobil yang menurunkan tiga cowok mendekati kantor dan tanpa basa-basi yang berlebihan, kami segera meluncur menuju kantor BEM FIA. Sesampainya di sana, barulah aku tahu bahwa pembanding kali ini adalah ukhti dari KAMMI. Akhirnya, setelah menunggu sambil ber haha-hihi dengan beberapa ukhti, aku, Samsud dan ukhti Yani siap beraksi. Samsud selaku moderator memberikan waktu kepada Yani terlebih dulu karena ia punya appoinment dengan koleganya. Yani tak memberikan kritik apapun bahkan membantu promosi novel dengan banyak mengungkap nilai plus dari Trilogi Ning Aisya. Yang sempat membuatku tersenyum, ia mengatakan ”Membaca karakter Ning Aisya, saya seperti melihat refleksi diri saya sendiri.” Lah, kenapa begitu saja aku tersenyum? Ya, karena dia hanya membaca sekuel 1 dan 2 (sekuel ke 3 kebetulan lagi kosong), wah....coba dia baca sekuel 3. Aisya kan sudah nakal-nakalnya!

Pada season tanya jawab, peserta banyak bertanya mengenai teknis penulisan, dan di akhir acara mereka menjawab tantanganku dengan mendeklamasikan puisi tanpa membawa secarik kertas. Mereka berhasil!! Ah...senangnya melihat mereka antusias! Pukul 13.30, mataku tiba-tiba terasa berat. Setelah undur diri dan berbincang dengan panitia usai bedah novel, Samsud mengantarkanku kembali ke Kantor PMII yang memang hanya berjarak 2 Km dari FIA. Begitu sampai kantor, aku menyegel sebuah kamar dan mem privatisasi nya untuk 2 jam ke depan.
Sore hari kulalui dengan diskusi mengenai rencana aksi Menolak Kenaikan BBM yang digelar besok siang. Pukul 17.30, adzan maghrib berkumandang dan kami segera menunaikan sholat maghrib berjama’ah. Setelah menyantap rawon favoritku, aku diantar teman menuju UKM UAPM (Unit Aktivitas Pers Mahasiswa) yang pernah menjadi sekolah kedua ku. Melewati gedung UIN yang menjulang, aku benar-benar ulap (terkesima). Keren banget! Asli! Coba gedung kuliahku dulu sebagus ini! Aku belum tanek menikmati indahnya UIN Malang, kawanku sudah menyeret ke UAPM. Sudah ditunggu kawan-kawan katanya. Di UAPM...tempat yang memiliki akar sejarah kuat di hidupku, aku merasa begitu haru, malu, senang, tumplek bleg jadi satu. Mulai dari tatapan kagum kawan-kawan, kernyitan penuh heran, hingga gojlokan yang tak kunjung usai mewarnai 2 jam pertemuan kami.
Dan, aku tak tau pada detik keberapa persisnya, wajah teduh itu datang dengan senyum yang amat kukenal. Seketika, UAPM mengganggu tetangga UKM dengan riuh tepukan, siul dan entah apalagi. Aku yakin wajahku memerah, tapi aku mencoba mengembalikan fokus kawan-kawan pada diskusi sastra yang sedang kami lakukan. Yang paling kusyukuri dari pertemuanku dengan kawan-kawan UAPM adalah, aku bisa membuktikan diri bahwa meski aku hanya sebentar di UAPM, aku bisa menjadi seseorang yang berbeda (thanks a lot MATAPENA). Pukul 20.00 kami harus mengakhiri diskusi karena (aku baru tahu tentang ini) ada jam malam di kampus. Yah, meski sebenarnya kami masih betah, akhirnya kami hengkang juga.

Adalah Ani Rufaidah, orator ulung, penulis handal (ia juara LKTI tingkat Nasional) sekaligus kawanku di PMII dan UAPM yang mengajakku ke Averrous, sebuah NGO yang dimotori oleh kaum aktivis yang mengedepankan demokrasi dan progresifitas berfikir. Sesampainya di Averrous, yang buku-bukunya tadi pagi kutemukan di kantor PMII, aku menjadi mustami’ yang nggak nyambung dikarenakan keterlambatan hadir dan mata yang tidak bisa diajak kompromi. Pukul 22.30, aku menyerah. Diskusi ini bisa berlangsung sampai dini hari, sedangkan besok masih banyak yang harus kulakukan. Kami pamit dan Ani mengajakku ke kantornya, KOMDEK (Komunitas Malang untuk Demokrasi) yang dihuni oleh dua orang cewek. Masih belum subuh saat aku terbangun dan melihat Ani dan temannya masih berkutat dengan kesibukan. ”Belum pada tidur dari semalem?!” Mereka menggeleng sambil senyum-senyum penuh arti. Wah, kalau jadi aktivis ya gini deh, nglowo!

Sudah masuk 27 Mei 2008 ketika mantan sekertaris umum PMII Malang menjemputku di KOMDEK. Usai sarapan dan berkeliling di areal kampus, akhirnya aku bertemu dengan Azizah Hefni alias Zizi, cerpenis jebolan Bahrul Ulum yang sudah mengantongi predikat juara 2 lomba tulis cerpen tingkat nasional yang diselenggarakan Menpora. Kami berdua meluncur ke rumah sastrawan Malang kaliber nasional, Ratna Indraswari Ibrahim. Ia banyak bertanya mengenai tulisanku. Melihat Mbak Ratna yang sangat produktif di usia senja, hatiku begitu trenyuh. Mengapa aku tidak pernah semangat menulis, padahal Allah sudah memberiku tubuh yang sehat dan usiaku masih muda.
Pukul 13.30 siang, aku dan Zizi pamit. Tak berapa lama usai kami merebahkan badan, pukul 16.00 aku dibawanya menuju UKM LKP2M (Lembaga Kajian Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa) untuk mengisi diskusi sastra. Sejatinya, LKP2M banyak menelurkan orang-orang berbakat. Sebut saja, Fauzi Muda, penulis buku Perempuan Hitam Putih; Pertarungan Kodrat Hidup vis a vis Tafsir Kebahagiaan dan Sufi Juga Manusia, juga Ahmad Makki Hasan yang sangat produktif menulis di situs Penulis Lepas dan di banyak media. Tepat saat adzan magrib berkumandang, kami bubar barisan dan aku mengisi waktu dengan mencari makan. Pukul 20.00, aku didaulat untuk sharing pengkaderan di PMII Rayon Chondrodimuko UIN Malang. Energiku sudah menurun dan saat jarum jam menunjuk ke angka 22.00 aku minta undur diri. Maksud hati ingin segera tidur, tapi sahabat-sahabat Chondro dan BEM Tarbiyah menghendaki perbincangan intens mengenai bedah novel Ning Aisya yang akan diselenggarakan 7 Juni nanti. Aku menurut dan bilang pada mereka, ”Langsung pada persoalan ya, aku capek.”
Ha..ha...siapa nyana, di cafe lesehan N-PYE yang semarak, aku berjumpa dengan banyak sahabat PMII termasuk Fauzi Muda dan Liga Alam (teman di Forum Penulis Kota Malang yang merupakan penulis beberapa novel dan buku yang aku lupa judulnya). Ah, kalau bukan karena diingatkan kawanku, mungkin aku akan terus nyerocos padahal kala itu jarum jam sudah menujukkan pukul 1 dini hari. Aku pun bergegas pergi dan semuanya kembali ke base camp masing-masing. Pagi harinya (28 Mei), aku mengisi waktu dengan silaturrahmi ke Pak Marno, dosen favoritku dan ke beberapa teman lama. Merapat di pukul 8 malam, aku didaulat untuk mengisi di HIMMABA (Himpunan Mahasiswa Malang Alumni Bahrul Ulum) hingga pukul 11. Bergerak menjauh dari kantor Himmaba, aku merasa plong, esok hari aku sudah bisa kembali ke rumah. Tapi, ternyata masih ada satu hal yang menyesakkan dadaku.

Wajah teduh itu masih saja pucat. Di selaput tenggorokannya ada darah yang hanya tampak ketika ia batuk dan mulai meludah. Dan semua orang meyakini itu terjadi karena aku pergi darinya 3 tahun silam..

2 komentar

Thursday, April 24, 2008

Keriangan dalam Bedah Novel Ning Aisya
dan Jadilah Purnamaku, Ning

Thursday, April 24, 2008
13 April 2008, gegap gempita sastra pesantren bergema di bumi Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang. Lautan ilmu yang berisikan tinta-tinta mulia sesuai dengan titah KH. Wahab Hasbullah pendiri Bahrul Ulum yang tertuang dalam surat al-Kahfi ayat 109 mulai terbaca. Minggu yang tercatat dalam benak-benak santri jadi saksi tersendiri, kalau sastra pesantren mulai meretas dalam dada mereka. Bedah novel dengan tema “Menguak Keajaiban Pesantren Melalui Pena” agaknya menjadi testimoni dalam perjalanan sastra Indonesia. Trilogi Ning Aisya yang ditulis oleh Camilla Chisni dan Jadilah Purnamaku Ning oleh Khilma Anis, menjadi bukti, pesantren tak hanya berkutat dengan tradisionalisme, lebih dari itu ternyata santri bisa meramaikan kancah dunia modern.


Kedua penulis muda berbakat tersebut merupakan kakak kelas saya di PP. Bahrul Ulum dan menempuh lintas pendidikan di MAN Tambakberas Jombang. Usai acara dibuka oleh sambutan panitia dan pengasuh, bedah novel yang merupakan rangkaian dari acara Mentoring yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul Ulum (Himabu) ini, segera diambil alih oleh saya selaku moderator.

Bedah novel Trilogi Ning Aisya (TNA) dan Jadilah Purnamaku, Ning (JPN) dimulai dengan paparan dari Pembanding, yakni Dra.Nur Faizah, guru bahasa Indonesia di MAN Tambakberas Jombang. Bu Nunung, begitu ia akrab disapa, pertama kali mengupas mengenai JPN. Bu Nunung mengatakan bahwa Khilma dalam kapasitasnya sebagai alumni kelas Bahasa, banyak menggunakan diksi yang sarat metafor. Kedekatan Khilma dengan dunia pewayangan, mengantarkan JPN sebagai novel yang penuh dengan deskripsi pewayangan yang terkadang membuat orang harus mengerutkan dahi. Kritik yang kemudian dilontarkan Bu Nunung pada Khilma adalah mengenai banyaknya kata-kata berbahasa Jawa yang sulit dimengerti karena berhubungan dengan dunia pewayangan. Dan meskipun sudah ada terjemahannya, peletakan terjemahan pada end note, membuat pembaca harus membolak-balik JPN agar mengerti kata-kata tersebut. Selain itu, Bu Nunung juga sedikit dibingungkan oleh penggunaan sudut pandang, ada kalanya menggunakan sudut pandang orang pertama, ada kalanya menggunakan sudut pandang orang ketiga.

Usai memberikan komentar pada JPN, Bu Nunung mulai membincang TNA. Dalam TNA, Bu Nunung menyatakan kemafhumannya pada bahasa lugas dan kritis yang diusung oleh penulisnya. “Tulisan Ning Mila ini khas anak IPA; lugas,” demikian komentar Bu Nunung. Yang membuat Bu Nunung salut adalah keberanian penulis untuk melakukan kritik dari dalam (internal critic) karena Camilla sendiri merupakan bagian dari pemegang estafet kepesantrenan. Berbeda dengan JPN yang menggunakan alur maju, TNA menggunakan flash back sebagai alurnya. Adapun kritik yang dilontarkan terkait dengan TNA adalah munculnya kesulitan dalam membedakan mana kisah yang terbaca dalam agenda dan mana kisah yang terjadi pada saat pembacaan terhadap agenda terjadi, dan ini adalah hal yang mengganggu keasyikan membaca TNA.

Setelah pembedah memberikan komentar, giliran Khilma menyampaikan sedikit cerita mengenai JPN yang mengetengahkan konflik percintaan yang terbelenggu dalam trah pesantren dan trah kejawen dengan Nawang Wulan sebagai tokoh utamanya. Dengan kalimat-kalimat yang lincah, Khilma banyak mengupas mengenai penulisan dan visi Matapena. Khilma menekankan tentang mudahnya menulis dan asyiknya menjadi penulis.

Tak berselang lama, giliran Mila menyampaikan sekelemit kisah terkait TNA. Mila mulai berbicara dengan berdiri di depan forum dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan atraktif sehingga forum menjadi lebih hidup. Dalam pemaparan singkatnya, ia menekankan bahwa menulis merupakan sebuah proses. Kadang mudah, kadang susah. “AA. Navis mengirimkan 99 cerpen dan kesemuanya ditolak. Sampai akhirnya, Robohnya Surau Kami, menjadi cerpen pertamanya yang diterima publik,” tandasnya. Terkait dengan TNA, penulis yang kini sedang menyelesaikan studi S2 di UIN Jogja ini mengungkapkan bahwa TNA dibangun berdasarkan pembacaan Aisya atas masa lalunya. TNA merupakan suatu karya yang mengajak pembacanya untuk berpetualang menelusuri sudut-sudut pesantren dengan melakukan pembacaan terhadap realitas di dalamnya dengan kritis namun tetap santun.

Usai pemaparan tersebut, giliran peserta melakukan tanya jawab. Pukul 13.00, usai pembagian doorprize, 70 peserta bedah buku memberikan applaus untuk ketiga narasumber. Saya pun tersenyum lega, “Alhamdulillah acara berlangsung sukses.” Tak lama, tiba-tiba pundak saya ditepuk seseorang. Sosok yang sudah saya anggap kakak sendiri itu tersenyum cengengesan, “Tar malem anak-anak Himabu kuajak ke rumah. Ya..tahlil ama dinner gitu. Nah, habis ini Iluk bantu-bantu aku ya?” Kutatap Ning Mila dengan cengiran juga, “Ok, Boss!”

Ditulis oleh Asiyah Lu’lu’ul Husna
Mahasiswi Jurusan BI UNY
Penulis puisi “Keraguanku” yang dimuat di Horison, April 2006

5 komentar

Tuesday, April 22, 2008

Diklat Jurnalistik dan Bedah Novel Ning Aisya
Di PP Al-ISLAM Joresan Mlarak Ponorogo

Tuesday, April 22, 2008
Jum’at, 11 April 2008, Pondok Pesantren Al-Islam Joresan Mlarak Ponorogo dibuat geerr oleh kedatangan penulis muda yang selalu tampak ceria, Camilla Chisni. Gadis bernama asli Nisa’ul Kamilah Chisni ini sengaja menginjakkan kaki di bumi Ponorogo untuk memenuhi undangan OPMI (istilah lain untuk OSIS) dalam rangka Diklat Pers dan Jurnalistik & Bedah Novel Trilogi “NING AISYA”.

Di hari sebelumnya, Muhammad Adib Rifa’i, jurnalis sekaligus konsultan teknologi informasi di Ponorogo menularkan keahlian jurnalistiknya pada 150-an peserta. Dan Bedah novel ini merupakan penghujung dari rangkaian acara tersebut. Meski sebagai acara penghujung, para peserta justru makin antusias dan semangat hingga acara ini selesai. Dan yang menjadi motivasi terbesar dari peserta adalah adanya bedah novel yang langsung dikupas oleh penulisnya dari Yogyakarta, begitulah tutur Usman Wahyudi selaku panitia.

Tepat pukul 09.00, acara bedah novel dibuka oleh sang moderator Nurdiana santri kelas II Aliyah. Tak lama kemudian, Camilla menunjukkan kepiawaiannya dalam mengelola dan menggairahkan forum dengan berdiri di depan peserta dan berinteraksi langsung dengan mereka. Ia mengawali penuturannya dengan bertanya, “Ayo, yang suka nulis di agenda angkat tangan...” Dan para peserta pun mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. Dalam penuturannya, Camilla banyak melempar joke, pertanyaan bahkan bisa tertawa lepas di depan forum. Para peserta pun tampak antusias ketika Mila meminta mereka untuk tunjuk tangan dan mengungkapkan realitas negatif yang terdapat di pesantren. Mila pun menghubungkannya dengan petualangan Ning Aisya yang mencoba untuk mencari paradigma alternatif dalam memaknai sebuah problem di tubuh pesantren.

“Misalnya ada santri yang pacaran trus langsung dikeluarkan dari pondok, apa dia akan menjadi lebih baik?” demikian salah satu pertanyaan yang langsung direspon dengan beragam jawaban. “Dunia kita tidak hanya memiliki dua warna, hitam dan putih. Di sana ada abu-abu, kuning, coklat, dan sebagainya. Maka kenapa kita selalu memandang setiap masalah secara hitam putih?” Mungkin itulah yang menjadi misi Mila. Ia adalah orang yakin bahwa tidak ada kesempurnaan yang instan, semua butuh proses dan perjuangan.

Setelah berhasil membuat peserta Bedah Buku melempar applause berkali-kali, giliran Bu Tutik, guru Bahasa Indonesia yang mendapat jatah untuk menelaah Ning Aisya. Dalam pemaparannya, Bu Tutik memberikan ulasan mengenai urgensi sastra dan pengharapannya terhadap anak didiknya ke depan agar bisa seperti Aisya.

“Ning Aisya memang sedikit nakal, tapi nakalnya adalah nakal dalam rangka pencarian jati diri dan dia bertanggung jawab atas pencariaannya tersebut. Ning Aisya adalah prototipe anak yang selain cerdas, penuh prestasi dan penuh rasa ingin tahu, dia juga orang yang tidak mengandalkan trah kepesantrenan dan bisa maju tanpa embel-embel bapaknya yang seorang kiai.”

Sebelum season tanya jawab dibuka, Camilla memberikan intruksi agar peserta membuat puisi dan berani membacakannya di depan forum. Keantusiasan peserta terlihat pada sesi tanya jawab, mereka saling berebut untuk menyampaikan berbagai pertanyaan dan pendapat mereka, ada yang bertanya mengenai proses kreatif, penggalian ide, penokohan, hingga pada pertanyaan mengenai nilai-nilai apa yang ingin diungkap oleh penulis melalui novel Ning Aisya. Dengan senyum yang khas, Mila menjawab pertanyaan demi pertanyaan sembari menegaskan kembali mengenai pentingnya mencari jati diri dengan mengungkapkan maqolah, “seorang pemuda bukanlah orang yang bangga mengatakan inilah bapakku, tapi yang dengan tegas mengatakan inilah aku!”
Di akhir acara, Mila mempersilakan para santri utuk unjuk kebolehan dalam berpuisi. Para santri yang berebut tersebut tidak dapat tampil semuanya karena yang ditunjuk hanya empat orang dan mereka pun mendapatkan reward berupa novel. “Waw, bagus-bagus ya puisinya!” puji Mila pada peserta yang kontan membuat mereka tersipu.

Dan sebelum rangkaian acara ini ditutup oleh pimpinan pondok Drs. Ali Fikri, M.Pd.I, Camilla memberikan reward kepada Sriyanto sebagai penanya terbaik. Pada dentang ke-11, setelah acara usai para peserta langsung menyerbu penulis guna mendapatkan tanda tangan. Akhirnya, dikarenakan ada jum’atan, panitia mempersilahkan santri putra untuk meminta tanda tangan terlebih dahulu. Lucunya, di tengah-tengah kerubutan santri yang antre tanda tangan. Gadis alumni UIN Malang ini berbisik padaku, “La’, perutku mules. Mo ke kamar mandi. Takut gak keburu.”
“Walah Neng...Aneh-aneh wae!” timpalku sembari mengkode santri putri agar tanda tangannya di asrama saja.

Ah, jum’at yang indah...
Azan pun mulai bertalu menggetarkan naluri ubuddiyah...

Ditulis oleh Lailatu Rohmah, S.Pd.I
Mahasiswi S2 MKPI, pembimbing bagian Bahasa OPMI dan Forum Ilmiah Santri PP.Al Islam Joresan Mlarak Ponorogo.

4 komentar

Saturday, March 15, 2008

Dari Menyesal, Cilok, Sampai Kearifan
By: Khilma Anis

Saturday, March 15, 2008
Inilah untuk pertama kalinya saya merasa menyesal menulis novel. Sialnya perasaan itu datang di kota kelahiran saya sendiri..hiks.. hiks…

PERJALANAN YANG MEMBUAT SAYA LUNGKRAH
Saya yang kecapekan Road Show di Demak dan semarang bareng Mbak Ismah, menderita demam tinggi malam itu. Di tengah gigil saya, masuk sms Asnawan, presiden mahasiswa STAIN Jember. “Neng Khilma, tanggal 8 besok Stain Jember mau bedah buku ‘Jadilah Purnamaku Ning’ karya njenengan. Bisa kan?” Saya yang sudah lama ngempet pengen pulang karena kangen sama adik saya, Haidar yang sedang lucu-lucunya, langsung menjawab Iya. Tanpa menayakan itu event apa. Bagaimana mekanisme acaranya. Apalagi siapa pesertanya. Inilah kecerobohan yang nantinya membuat saya menyesal.

Jogja–Jember sungguh perjalanan yang melelahkan. Tapi lelah saya langsung hilang karena dini hari itu yang njemput saya di terminal adalah abah saya sendiri. Kala itu beliau gagal sembunyikan rasa bangga pada keberhasilan yang telah diraih puteri pertamanya (makasih Matapena…). Dan, inilah hasil perjalananku 8-10 Maret 2008

WAWANCARA DENGAN RADAR JEMBER
Siangnya, abah mengantar saya ketemu dengan Pak Kun, wartawan Radar Jember yang ternyata telah membuat janji dengan abah saya untuk mewawancarai saya terkait dengan lahirnya novel (di kota saya, memang belum pernah ada penulis muda, apalagi perempuan).

Di dalam mobil abah saya bilang, beliau juga telah dihubungi redaktur Prosalina (radio terbesar kota setempat) untuk forum jumpa penulis pada malam minggunya. Saya sangat berbinar-binar membayangkan on air, terlebih setelah saya mendengar sendiri nama saya disebut-sebut dalam iklan acara radio.

Ternyata abah saya membawa saya ke Cuklu Art Galery. Ketika Pak Kun datang, saya merengek–rengek pada abah saya agar melihat lukisan seharga empat ratus juta. Supaya abah tidak di samping saya ketika saya terlalu bersemangat menjawab pertanyaan-pertanyaan Pak Kun. Pemilik galeri langsung sigap mendampingi abah saya melihat-lihat. Saya jadi tak malu ketika bilang, “Pak Kun, fotonya yang cakep ya…,” Pak Kun ngakak. Saya takut kalau ribuan eksemplar koran itu mencetak foto saya yang tak cantik (inilah kenapa Mbak Ismah sering bilang pada saya kalau saya ‘banci’ kamera. Saya memang hobi foto, hehe).

NGISI DI PELATIHAN IPNU
Kali ini ibu saya memaksa saya ngisi di IPNU cabang Jember yang sedang adakan Diklatama CPB, semacam pelatihan untuk calon Banser. Saya langsung mengelak. Di samping saya lelah, saya berpikir kalau itu forum pelatihan yang tak ada kaitannya dengan tulis-menulis. Lokasinya saja di gunung. Ibu saya memaksa tapi saya tetap enggan. Saya baru luluh ketika ketua IPPNU, Mbak Nita nelpon, tentu saja setelah dibisiki ibu saya, “Tolong Mbak Khilma ya…kebetulan nanti ada forum peluang bagi pemuda NU, menjadi penulis itu kan juga sebuah peluang….” Saya tak bisa berkata tidak.

Teman-teman IPNU Jember yang jumlahnya hampir 150 itu ternyata antusias. Berkali-kali saya tegaskan pada mereka bahwa Matapena memberi wadah pada para pemula untuk mewujudkan cita-citanya. Saya katakan, saya prihatin dengan minimnya penulis dari kader NU. Kalau semua hanya berjibaku pada tradisionalisme, NU pasti ditinggalkan sejarah.

KOK FOTONYA JELEK BEGINI...
Pagi-pagi adik saya heboh melihat foto saya di halaman depan Radar Jember. Ia baca keras keras judulnya, Khilma Anis, Angkat Poligami Kyai, yang langsung direspon dengan kernyitan dahi abah saya yang sedang browsing internet (novel saya kan memang bukan tentang poligami). Saya langsung jelaskan pada abah saya bahwa mungkin menurut Pak Kun itu judul paling menarik untuk masyarakat Jember yang mayoritas pesantren. Ibu saya sambil memakai mukena untuk shalat dhuha melirik koran itu dan berkata, “Kok fotonya jelek begini.” Saya cuma mesem, kecut, tapi tak berhasil kecewa. Sungguh menyenangkan dibaca banyak orang, kalau biasanya hanya karya saya, ini tentang diri saya. Alhamdulillah.

TRAGEDI DI STAIN JEMBER
Saya menolak diantar abah saya meski panitia berkali-kali minta abah saya datang pada acara itu. Ternyata itu keputusan yang salah. Seharusnya abah saya ada di sana ketika saya di habisi. Dibantai. Di kuliti. Hehe.

Sampai di STAIN Jember, saya kaget karena ternyata bedah buku saya menjadi agenda teratas Pekan Ilmiah yang sedang berlangsung. Sang presiden, Asnawan, ditemeni Pak Dawud redaktur Prosalina langsung menggiring saya ke aula utama yang sudah sesak oleh peserta.

Di forum ternyata saya ditemani Narasumber dan Pembanding. Bu Raudlatul Jannah, Dosen Komunikasi penyiaran yang mantan wartawan harian Nusa, Bali. Pak Abdurrahman, seorang profesor yang juga guru besar bahasa di STAIN. Saya sedikit merinding, bukan karena tak siap, tapi tak habis pikir bahwa novel saya yang pop begitu dibahas oleh orang-orang akademisi. Momennya pekan ilmiah lagi!

Dan benar, setelah sedikit pujian, ada 18 kritik menggigit yang dikatakan Ibu Jannah dan ditampilkan lewat proyektor dengan sangat detil. Lengkap dengan halamannya. Salah satunya bahwa karakter Yasfa pada novel saya terlalu perempuan, hingga kalimat pada subuh yang putih dan anggukan yang cantik yang bagi Bu Jannah rancu. Tuduhan Bu Jannah bahwa saya menganggap pembaca bodoh dengan banyaknya kesamaan diksi, bahwa penggambaran saya kurang perfect padahal saya ini jurnalis kampus. Juga semua kritik yang lain. Ironisnya semua masuk akal.

Saya tak hanya percaya bahwa Bu Jannah membaca novel saya hingga 8 kali, tapi juga sangat yakin! Pak Abdurrahman yang mirip Pramudya Ananta Tour mengkritik novel saya dan perpijak pada karya sastra angkatan 60-an. Beliau menyayangkan ending novel saya yang terlalu tiba-tiba. Menyarankan untuk mengakhiri saja pada doa Nawang. Forum sedikit kacau. Tiba-tiba seorang peserta menegaskan bahwa yang ia butuhkan adalah proses kreatif saya. Bukan kritik atas novel yang belum mereka baca. Bu Jannah meminta klarifikasi saya atas kritik-kritiknya.

Saya seperti diserang sesak napas. Saya pikir saya akan dapat prestise dan pujian seperti di tempat lain, tapi ternyata saya dapat kritik pedas yang belum pernah sekalipun saya terima sebelumnya. Apalagi disampaikan oleh orang yang memang berkompeten pada bidangnya. Saya tahu mereka berdua bermaksud baik untuk laju karier penulisan saya, tapi karena ini yang pertama saya merasa sangat malu dan menyesal terlalu cepat menganggap karya saya maksimal. Padahal kritikus sastra menilainya bukan hanya halaman per halaman, tapi juga kata per kata.

Saya gagal menangis ketika di tengah klarifikasi atas krirtik itu orang terdekat saya mengirimkan sms, “Itu biasa. Nabi Muhammad saja juga dihabisi di daerahnya sendiri. Tetap semangat yaa..”

Ternyata menjadi penulis bukan saja harus lihai berbicara, tapi juga harus punya mental baja. Dan tahan terhadap segala macam rasa sakit.

ON AIR di PROSALINA
“Mbak Khilma kan dari pesantren, menulisnya kan juga tentang Pesantren. Saya minta dalil Qur’an atau hadits yang menyebutkan bahwa menulis novel itu adalah sebuah anjuran.” Saya langsung tergagap. Jika bukan on-air, saya tentu dapat jawaban yang pasti dari abah saya. Dengan pertimbangan singkat yang matang, saya jelaskan bahwa tugas karya sastra bukanlah berdakwah seperti khotbah Jum’at. Tapi menggetarkan jiwa. Saya sebut dalil, “Sanuqri’uka fala tansa illa masya Allah,” sekadar bertanggung jawab bahwa saya ini sepuluh tahun di pesantren (sepertinya Matapena memang harus adakan kursus dalil-dalil terkait dengan penulisan).

Presenter dan pemandu acara saya, Mbak Rini dan Mas dawud, dengan gaya yang ringan namun profesional membuat saya rileks. On air dan tanya jawab berlangsung dua jam tanpa terasa. Selain pertanyaan tadi, semua terjawab dengan enteng..

Di PMII CABANG JEMBER; kata mereka, seperti Mama Mia
Ternyata keluar dari ruang siaran, saya belum bisa istirahat, di samping abah saya, pengurus PMII cabang Jember meminta saya mampir ke kantor cabang. Diskusi di sana berjalan lancar dan dialektis. Saya sendiri tak menyangka peserta sebanyak itu. Banyak di antara mereka yang sungguh ingin jadi penulis. Saya sangat mendukung itu dengan meyakinkan bahwa Matapena pasti membantu siapa pun yang punya kemauan. Biar PMII tak hanya kritis anarkhis. Tapi juga kritis analitis.

Yang membuat saya diintrik seperti mama mia adalah karena saya diantar abah ibu saya, waktu itu sudah jam 12 malem. Jadi Wajar doong.

DI PESANTREN DAN MTS AL-AMIN

Ternyata perjuangan saya belum berahir. Paginya saya harus ngisi di Pesantren Al-Amien Ambulu tempat saya selama tiga tahun menimba ilmu ketika masih MTs. Tak ada yang aneh di sana, sama seperti Road Show di BlokAgung Banyuwangi, di Tambakberas dan di Demak; rasa heran, kekaguman, tanda tangan, dsb. Jika ada yang spesial adalah bahwa guru-guru membelikan saya cilok. Makanan kesukaan saya ketika saya masih santri baru gede dulu. Ini membuat saya tersenyum hingga relung hati.

Seharusnya saya tak menyesal. Toh Jadilah Purnamaku, Ning, dan Matapena sudah membawa saya ke mana-mana. Saya hanya harus menjadi penulis yang tak malas mempelajari semua hal. Karena menjadi penulis adalah titah dari Tuhan.

Kota saya membuat saya sadar, saya harus memberikan pemikiran, gagasan, harapan dan perasaan saya yang terbaik bagi pembaca yang jarang saya temui. Dan buat Bu Jannah, semuanya adalah proses pembelajaran yang berharga. Klarifikasi atas kritik-kritiknya akan ada di novel saya yang kedua. Matur Nuwun.

4 komentar

Thursday, February 14, 2008

Pelatihan Karya Tulis Santri dan Bedah Novel Ning Aisya
Se-Kabupaten Lamongan

Thursday, February 14, 2008
Kamis, 07 Pebruari 2008. Himpunan Alumni peduli Al-Fattah (HIMAPA), PK. PMII STIT Al-Fattah, dan Ponpes Al-Fattah bekerja sama dengan Penerbit LKiS Pelangi Aksara mengadakan Pelatihan Karya Tulis Santri dan Bedah Novel “Ning Aisya” se-Kabupaten Lamongan. Kegiatan ini dilaksanakan di aula PP. Al-Fattah Siman Sekaran Lamongan Jawa Timur, diikuti oleh sekitar 80 peserta yang terdiri dari mahasiswa, santri, dan pelajar tingkat SMA bahkan ada sebagian kecil pelajar SMP yang mengikutinya. Selain pelatihan dan bedah buku, panitia yang diketuai olah Ainul Abid juga mengadakan pameran buku dari Penerbit LKiS dan beberapa penerbit lain.

Tepat pukul 10 00 WIB pelatihan karya tulis santri dan Bedah Novel “Ning Aisya” Se-Kabupaten Lamongan secara resmi dibuka oleh Kepala Pondok Pesantren Al-fattah, Ustadz Humaidillah, S.Pd.I. Dalam sambutannya ustadz mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang membantu untuk menyukseskan kegiatan ini, terutama kepada LKiS dan HIMAPA.

Usai opening ceremony, acara dilanjutkan dengan penyampaian materi tentang Tekhnik Penulisan Berita dan Artikel yang disampaikan oleh Sholichan Arif, wartawan Surabaya Pagi. Peserta sangat antusias dan serius menyimak materi yang disampaikan oleh wartawan yang juga alumni PP. Al-Fattah ini. Terbukti ketika season tanya jawab dibuka oleh moderator banyak sekali peserta pelatihan yang mengacungkan tangan untuk bertanya. Namun karena waktunya terbatas, moderator hanya membatasi empat pertanyaan.
Pukul 12.00 BBWI giliran Nisa’ul Kamilah, Editor Jurnal Suluh S2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta serta penulis Trilogi Novel “Ning Aisya” melanjutkan pelatihan dengan materi Tehknik Penulisan Fiksi. Dalam sesi ini antusias peserta awalnya agak kurang karena cuaca yang panas dan menurunnya stamina peserta. Namun, berkat keahlian sosok yang punya nama pena Camilla Chisni ini suasana forum menjadi hidup kembali bahkan antusiasme peserta lebih tinggi dibanding materi pertama. Selain menyampikan materi seputar penulisan Fiksi, Milla juga mengajak peserta untuk langsung mempraktikannya. Peserta yang berhasil menulis dengan baik mendapat satu paket Novel “Ning Aisya” dari sang penulis.
Setelah istirahat selama hampir satu jam, tepat pukul 15.00 season Bedah Novel “Ning Aisya” dimulai. Tapi, sebelum Camilla Chisni memaparkan isi novel “Ning Aisya”, moderator mempersilakan peserta untuk unjuk sastra. Ada tujuh peserta yang menampilkan karya sastranya dalam bentuk puisi dan masing-masing mendapatkan kenang-kenangan novel dari HIMAPA dan Mila.

Dalam presentasi Mila bertutur tentang alur cerita novel, isi novel secara garis besar, dan latar belakang penulisan novel. Dilihat dari sudut kesusastraan, Drs. Sulaiman, pembanding yang tulisannya sering muncul di Horison dan salah satu penyusun soal UN 2007 mata pelajaran Bahasa Indonesia ini menyatakan bahwa secara umum Novel “Ning Aisya” sangat bagus sekali. Sebuah novel yang bercerita tentang kehidupan pesantren dan isinya sarat dengan pesan agama, moral, pendidikan, dan hiburan. Kekutan Novel ini ada pada penggunaan diksi yang hidup dan renyah, kritik yang dikemas manis, dan ketepatan alur yang menyebabkan pembacanya turut merasakan emosi Ning Aisya, si tokoh utama dalam novel tersebut.

Namun, ada dua catatan yang bisa direnungkan sebagai bahan perbaikan selanjutnya, yakni sulitnya membedakan antara cerita masa sekarang dengan kisah masa lalu sebagai hasil pembacaan pada Diary. Seperti yang diungkap Camilla sebagai otokritik atas novelnya, “Mestinya, ini bisa dibedakan dengan ‘kecerdikan layouter’. Penggunaan font yang berbeda atau diberi satu lembar kosong yang diberi satu coretan besar: Aisya dalam Kenangan, misalnya, sehingga lebih mudah dibedakan.” Drs. Sulaiman yang juga MC Jawa ini juga memberikan masukan agar menggunakan lebih banyak bentuk majaz agar lebih hidup, misalnya dengan kontra personifikasi, litotes, hiperbola, dan lain sebagainya.
Bedah novel “Ning Aisya” berlangsung hingga pukul 17 30. Wajah ceria dan senyum manis peserta menggambarkan bahwa mereka senang dan puas mengikuti pelatihan dan bedah novel ini. Di akhir acara, panitia memberikan kenang-kenangan kepada Camilla Chisni berupa photo yang bergambar cover novel “ning Aisya” sekuel 2 tapi wajahnya diganti dengan wajah Mila. Begitu pula LKiS memberikan satu paket Novel “Ning Aisya” kepada Pembanding.

Senja mulai merapat ambang malam, para pemateri akhirnya undur diri dari lokasi dan panitia berharap bahwa kerja sama ini bisa berlanjut di masa mendatang.

Ditulis oleh M. Sya’roni S.Pd.I

0 komentar

Tuesday, June 26, 2007

ROADSHOW MATAPENA
KE PESANTREN WONOSOBO
Selasa-Rabu, 19-20 Juni 2007

Tuesday, June 26, 2007


Oleh Pijer Sri Laswiji

Selasa pagi tanggal 19 Juni 2007, tepatnya jam 05.30, setelah shalat shubuh sebelum matahari terbit, sebuah mobil box yang dikemudikan Pak Affandi berhenti di depan masjid Al-Faruq PP Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta.

"Itu apa ya mobilnya?" gumamku sembari berjalan mendekati mobil. "Pak Pandi ya?" tanyanya kemudian, karena masih agak gelap sehingga mata tidak bisa melihat dengan jelas.
"Sudah siap, Mbak Pijer?" sahut yang ditanya.
"O iya, Pak. Bentar, aku ta'ijin dan pamitan dulu sama teman-teman."

Begitulah, perjalanan roadshow ke Wonosobo dimulai. Aku, ditemani Pak Affandi, bagian pemasaran LKiS berangkat dari Yogyakarta jam 05.30 dengan mobil box yang dipenuhi kardus buku-buku LKiS. Perjalanan pagi yang sejuk menyusuri jalanan pegunungan yang berkelok-kelok dan naik turun namun penuh pemandangan hijau. Dua setengah jam kemudian tibalah di desa Munggang, kecamatan Mojotengah Wonosobo.

"Uli, kita sudah sampai nih, sekarang di depan Masjid Munggang. Kamu sini dong, aku nggak tahu rumahmu!" seruku via handphone.
Beberapa detik kemudian, muncullah Uli Maftukhah, pengarang novel Blok I dengan wajah hingar bingar menyambut. Ia segera mengajak aku dan Pak Pandi singgah di rumahnya.

Aku dan Pak Pandi bisa beristirahat agak lama di rumah Uli, karena ternyata acara bedah novel Blok I dimulai jam 10.00 WIB. Bahkan, kami sempat kenalan dan ngobrol dulu dengan beberapa panitia acara Bedah Novel tersebut yang ternyata teman-teman "gengnya" Uli. Kalau tidak salah namanya "Laskar Oneng"! Ada Fariq, Mudrikah, Jo, dan Erna. Mereka adalah para supporter Uli sehingga sukses menyelesaikan novel Blok I.


BEDAH NOVEL "BLOK I" DI SMU TAKHASUS PP AL-ASY'ARIYAH, KALIBEBER, MOJOTENGAH WONOSOBO
Selasa, 19 Juni 2007


Matahari belum juga menampakkan wajah kuningnya karena mendung begitu rata meliputi langit Wonosobo. Bahkan diiringi rintik gerimis, mobil box yang ditumpangi aku, Uli dan Pak Pandi memasuki kawasan PP Al-Asy'ariyah. Sepertinya, acaranya lumayan besar, karena dari luar tampak ramai para siswa berseragam SMU dan terdengar lantunan lagu-lagu hadrah menyambut kedatangan.

Dan benar, acara yang dilaksanakan di aula yang luas itu terkesan resmi dan penuh persiapan. Tampak Background di tengah-tengah aula bertuliskan, "BEDAH NOVEL BLOK I, REVITALISASI RELIGIUSITAS DALAM REKONSTRUKSI MORAL DAN NALAR REMAJA. PENYELENGGARA: PMII KOMISARIAT AHIMSA UNSIQ & IPNU-IPPNU KOMISARIAT HASYIM ASY'ARI"

"Wuih, serius nih, temanya aja ada 'sasi-sasi'nya!" batinku sambil berpikir memaknai arti tema yang tertulis di background tersebut. Apalagi ketika Bapak Kepala Sekolah dan beberapa Dewan Guru rawuh dan duduk di kursi paling depan. Sepertinya Novel "Blok I"nya Uli memang mendapat respon yang bagus dari almamater SMU-nya.

"Novel Blok I ini meskipun seperti catatan harian biasa tetapi kita bisa membaca dan belajar dari kisah-kisahnya. Bagaimana cara mencari ilmu seorang santri dan sebagainya," kata pak Kepala Sekolah dalam sambutannya. Dia juga berharap kelak dari santri-santri PP Al-Asy'ariyah juga ada penulis baru lagi menyusul Uli.

Setelah seremonial, Bedah Novel yang dipandu oleh seorang moderator itu dimulai. Uli Maftukhah sebagai penulis didampingi Mas Fasikhul Ihsan sebagai pembahas. Uli menyampaikan sekilas tentang novel Blok I, tentang tokoh, setting, tema dan pesan yang ingin disampaikan dalam tulisannya.

"Orang mengira Renata dalam novel Blok I ini adalah penjelmaan dari saya," ucapnya di tengah-tengah presentasinya. Tapi menurutnya, meskipun dia memang pernah mondok dan nyantri di Blok I Pondok Pesantren Al-Asy'ariyah, dia bukan Renata. Uli hanya menuliskan beberapa pengalamannya tinggal di pesantren yang diramu dengan khayalannya tentang kehidupan Renata.

"Banyak yang bisa digali dari Pesantren dan diceritakan lewat novel sehingga hampir seperti realita," kata Mas Ihsan saat menyampaikan komentarnya terhadap novel Blok I. Sebagai pembahas, ia juga memberikan wawasan-wawasan tentang pesantren dan sastra santri.

Acara semakin semarak ketika dibuka forum dialog dengan dua termin pertanyaan. Pada termin pertama dan kedua, sebenarnya banyak peserta yang ingin menyampaikan pertanyaan. Tetapi karena hanya ada 5 novel Matapena sebagai doorprize, yaitu 3 novel Blok I karya Uli dan 2 novel Kidung Cinta Puisi Pegon karyaku, akhirnya moderator harus membatasi dan hanya memilih 5 orang penanya.

Mereka cukup antusias menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kepada Uli dan Mas Ihsan. Pertanyaan seputar novel Blok I, pengalaman Uli yang menarik dalam novel, bagaimana meramu budaya pesantren dengan budaya populer sehingga menjadi sebuah novel dan bagaimana sistem di pesantren ketika menyikapi perkembangan teknologi.

Bedah Novel selesai jam 13.00 WIB. Sebelum acara ditutup, aku maju ke mimbar untuk menyosialisasikan Matapena dan Komunitas Matapena. Dan ternyata, responnya cukup bagus. Beberapa peserta sudah ada yang mendaftar saat prosesi 'fans minta tanda tangan penulis'. Untuk selanjutnya, aku mengalihkan tugas pengumpulan data pendaftar anggota Komunitas Matapena itu kepada Uli.


MUHIBAH KE PP AL-MUBAROK,
MANGGISAN, MOJOTENGAH WONOSOBO.


Dari SMU Takhasus, rombongan kembali ke rumah Uli untuk beristirahat dan makan siang sambil menunggu jeda waktu untuk menuju PP Al-Mubarok Manggisan. Saat jam menunjukkan pukul 15.00, aku dan Uli yang baru bangun dari qoilulah (tidur siang) segera bersiap-siap karena pukul 16.00 harus sudah sampai di PP Al-Mubarok.

Aduh, hari memang lagi sejuk dan dingin, apalagi diiringi rintik hujan. Mobil box yang dikemudikan Pak Affandi sempat bolak-balik di jalan karena lupa pertigaan mana yang dilewati untuk menuju ke PP Al-Mubarok. Namun setelah akhirnya Uli memutuskan untuk turun dari mobil sejenak dan bertanya, terbukalah petunjuk jalan menuju tempat tujuan.

Nah, akhirnya rombongan sampai juga ke PP Al-Mubarok dengan masjid, asrama pesantren, dan menaranya yang tinggi. Suara riuh gaduh, sedikit cuap-cuap dan 'suit-suit' terdengar dari asrama santri putera yang berada di bagian samping depan ndalem Pak Kiai ketika Pak Pandi yang diiringi Uli dan aku menuju ndalem untuk 'kulonuwun'. Rombongan disambut oleh Bapak K.H. Nur Hidayat dan Ibu Nyai di ruang tamu ndalem. Pak Affandi segera 'matur' tentang maksud kedatangan rombongan Matapena, meskipun sebelumnya, pihak Matapena sudah menghubungi dan konfirmasi tentang kunjungan dan muhibbah tersebut.

Awalnya, mental Uli dan aku hampir surut ketika melihat roman muka dan tanggapan pak kiai. Ada semacam 'tawar-menawar' sejenak tentang acara tersebut. Bapak K.H. Nur Hidayat mengatakan bahwa dia dan santri-santrinya lebih suka buku-buku ilmiah keislaman, bukan 'novel'. Karena menurutnya 'novel' itu hanya seperti 'catatan harian'. Dia juga memberikan gambaran tentang santri-santrinya sehingga merasa kurang yakin jika sore itu acaranya bisa diikuti sebagian besar santrinya, terutama putra.

"Pembicaranya dua gadis yang masih 'kinyis-kinyis' ini?" ucap Pak Kiyai sambil tertawa. "Wah, kalau misalnya lebih tua sedikit begitu saya berani membawa mereka ke hadapan santri-santri saya," lanjutnya.

Begitulah pak kiai memberikan alasan. Karena di pesantren tersebut, intensitas bertemunya santri putra dan santri putri memang sangat terbatas. Sehingga dikhawatirkan dalam acara nanti justru tidak serius, tapi malah jadi 'gojlogan'. Wah, sebenarnya aku tidak gentar dengan penggambaran tersebut, tapi menurut Pak Affandi mereka harus menghormati 'tradisi lokal' pesantren. Akhirnya, acara dilaksanakan di pondok putri dan hanya diikuti para santri putri yang berjumlah kurang lebih 50 orang.

Di ruangan yang kira-kira berukuran 5x6 meter itu, para santri putri sudah duduk bersimpuh. Mereka begitu 'anteng' dan khusyuk saat Pak K.H Nur Hidayat memberikan pengantar sejenak. Wajah-wajah mereka tertunduk, tidak ada yang berani mengangkat wajah. Setelah pak kiai "miyos" dari ruangan, aku dan Uli dipersilahkan untuk maju dan memulai acara.

Aku yang mendapat kesempatan pertama untuk berbicara, menyampaikan salam kenal dari Matapena. Memperkenalkan novel-novel pop pesantren sebagai genre baru dan bacaan santri serta memprovokasi mereka untuk mengembangkan sastra pesantren. Selanjutnya, giliran Uli yang berbicara, ia beruasaha membangkitkan semangat santri dalam dunia tulis-menulis. Uli juga sedikit membagi pengalaman menulisnya pada Novel Blok I.

Suasana agak sedikit kaku. "Diniyah banget!" batinku ketika menyaksikan para santri yang semuanya membawa buku tulis dan bolpen, mencatat materi yang diberikan pembicara seperti mencatat pelajaran. "spaneng". Bahkan ketika aku menjawab pertanyaan Opi, salah satu santri yang menanyakan bagaimana cara memulai dan menyelesaikan novel, mereka minta didekte ulang tentang '5 W 1 H".

Maklum, mungkin acara seperti itu masih jarang dilakukan di pesantren. Santri kelihatan masih pasif. Saat dibuka termin dialog, mereka masih malu-malu untuk bertanya. Tapi sebenarnya, bakat menulis mereka justru bisa dikembangkan dari hal tersebut. Mencatat pelajaran. Selain Opi, Arini juga bertanya tentang bagaimana novel yang baik, dan dijawab aku, "Novel yang baik adalah novel yang selesai dan bermanfaat".

Acara dialog dan temu penulis Matapena tersebut hanya berlangsung sebentar karena azan maghrib sudah berkumandang. Aku dan Uli segera menutup acara. Setelah itu mereka keluar dan langsung memburu bazar buku. Beruntunglah punya teman seperti teman-temannya Uli yang senantiasa membantu dan mendukung. Karena Pak Affandi tidak diperkenankan masuk ke kawasan pondok puteri, akhirnya staf 'badal' anggota "laskar"nya Uli, yaitu Mudrikah, Erna dan Jo yang menggantikan Pak Affandi mengurus Bazar Buku.

Sambil menunggu prosesi jual beli buku, aku, Uli, Mudrikah, Erna dan Jo bergantian shalat magrib. Setelah itu kami dipersilahkan untuk menikmati hidangan di ruang makan ndalem dulu. “Terima kasih, Pak Kiai. Suguhannya enak!” Jam 06.15 WIB, kami pamitan kepada Bapak Kiai dan Ibu Nyai.


MUHIBBAH KE PP ROUDLOTUT THULAB

Rabu, 20 Juni 2007. Pagi kembali hadir mengawali hari dengan wajah cerahnya. Sepertinya cuaca sedikit hangat dibanding hari sebelumnya. Mobil box yang ditumpangi rombongan Matapena berangkat dari rumah Uli menuju PP Roudlotut Tholibin. Jam 09.00, rombongan tiba. Uli dan aku turun lebih dulu lalu segera menuju ruang tamu pondok puteri Roudlotut Thulab. Sementara Pak Affandi memarkir mobil dahulu baru menyusul.

Di ruang tamu, rombongan disambut hangat oleh Bapak Selamet Zakariya dan Mbak Jamilatun Nafiroh selaku pengurus PP Roudlotut Thulab. Kami berbincang-bincang sebentar, membicarakan model acara yang akan dilaksanakan. Pak Selamet mohon maaf karena hari itu bertepatan dengan acara "Manasik" jadi perhatian di pondok terbagi. Selain itu ia juga menjelaskan bahwa untuk menjaga tradisi di pesantren, karena pembicaranya putri semua, acara diselenggarakan di pondok putri dan hanya diikuti santri putri. Saat Pak affandi menyinggung tentang buku-buku bacaan santri, Pak Selamet mengatakan bahwa bacaan santri di PP Roudlotut Thulab sangat dibatasi. Hanya sebatas buku-buku pelajaran dan kitab untuk mengaji.

Jam 09.30 WIB, acara dimulai. Uli dan aku dipersilakan menuju aula kegiatan yang berada dilantai 2. Saat memasuki aula yang luas dan memanjang itu penuh dengan para santri, aku dan Uli merasa optimis. Apalagi ketika Pak Selamet Zakariya membuka acara, memperkenalkan para penulis. Dan ketika aku bertanya "Siapa di antara teman-teman santri ini yang ingin menjadi penulis?" hampir semua peserta yang berjumlah kurang lebih 100 orang itu mengacungkan jari.

Aku memulai pembicaraan dengan bercerita panjang lebar tentang Novel-Novel Pop Pesantren dan Matapena. Tentang latar belakang dan masa depan novel-novel pop pesantren Matapena sebagai genre baru sastra pesantren yang menjadi bacaan alternatif santri dan remaja nonsantri pada umumnya. Dan seperti sebelumnya, karena memang sudah berbagi tugas, giliran Uli yang harus bisa memprovokasi santri untuk mengembangkan budaya tulis-menulis.

Tiba saatnya dibuka termin dialog, Mazidah mengawali dengan bertanya, "bagaimana cara membuat novel dan apa novel itu? Bedanya dengan buku dan majalah?" Wah, disinilah kepekaan aku dan Uli harus terangsang. Ternyata istilah "novel, majalah, dan buku" saja masih ambigu, belum paham betul, jadi harus berusaha mendekati mereka dengan bahasa yang sederhana.

Aku menjelaskan tentang macam-macam bentuk karya tulis, dari yang berupa fiksi maupun nonfiksi. Yang berjenis buku, novel, majalah. Sementara Uli menambahkan tentang majalah diding yang kemudian direspon oleh Mbak Uun sang ketua Pondok. Bahwasanya di pesantren tersebut belum memiliki media kreatifitas santri untuk menulis sejenis majalah dinding. Mereka minta diberi sedikit materi tentang bagaimana membuat majalah dinding.

Para santri cukup antusias mengikuti kegiatan tersebut. Terbukti banyak santri yang merespon dengan berbagai macam pertanyaan. Ada yang bertanya tentang teknik-teknik membuat novel dari membuat judul sampai ending, bagaimana proses kreatif penulis dalam menyelesaikan novel dan bagaimana cara mengirim novel. Selain itu, ada beberapa santri yang sudah terbiasa membaca novel, menanyakan perbedaan antara novel pop pesantren dengan novelnya Mira W, Ayat-ayat Cinta-nya Mas Habiburrohman, dan novel popnya T. Andar. Aku pun menjelaskan bahwa bedanya adalah novel-novel pop pesantren berkisah tentang cerita-cerita dari pesantren, berusaha menggali khazanah pesantren dan mengemban misi dan amanat pendidikan pesantren.

Aku juga menyampaikan bahwa mendidik dengan cerita itu lebih bisa menyentuh nurani pembaca ketika ada seorang santri yang bertanya "apakah novel tidak termasuk cerita bohongan, dan cerita bohong adalah dosa". Katanya, dulu dia pernah ditakut-takuti temannya dengan sebuah hadits "wa la tujalisu ma'al qashisin", tapi toh hadits tesebut bukan termasuk hadits shahih. Apalagi, bukankah Al-Qur'an juga mengajarkan bagaimana mendidik lewat kisah-kisah para nabi dalam ayat-ayatnya?

Di akhir acara, aku membacakan sedikit cuplikan novel "Coz Loving U, Gus" yang mendapat sambutan meriah dari para santri, karena kebetulan ada beberapa nama yang sama dengan santri dan ustadz di pondok pesantren tersebut. Juga, mengumumkan tentang "woro-woro" pembukaan pendaftaran anggota Matapena dulu beserta syarat-sayaratnya. Jam 12.30 WIB acara ditutup.


MUHIBBAH KE PP AL-MANSUR

Siang itu, rombongan tidak mampir dulu ke rumah Uli, tetapi langsung menuju ke PP Al-Mansur di kawasan Kauman Wonosobo. Karena waktu sudah menunjukkan jam 13.05 dan Pak Affandi sudah dikontak Mas Haqi Anshori bahwa para santri di PP Al-Mansur sudah siap, meskipun cuma sedikit. Karena para santri kalau siang hari banyak kegiatan di luar.

Jam setengah dua siang, rombongan Matapena tiba di PP Al-Mansur. Uli dan aku segera memasuki aula yang sudah siap dipandu oleh Mas Haqi. Tampak para santri putera di sebelah kiri dan santri puteri di sebelah kanan. Acara langsung dimulai. Mas Haqi memberikan pengantar sejenak dan memperkenalkan kedua penulis beserta novel-novelnya. Setelah itu aku mengawali sosialisai novel-novel pop pesantren dan Matapena. Lalu Uli tentang provokasi terhadap budaya tulis-menulis.

Mas Haqi sebagai moderator cukup mampu membangkitkan semangat para santri untuk bertanya kepada para penulis. Ada Nadzir yang bertanya tentang bagaimana pertama kali memulai proses menulis. Sofa yang bertanya tentang bagaimana menuliskan ide yang ada di otak. Lalu bagaimana cara membangkitkan semangat untuk menulis, memilih kata, dan hal-hal tentang proses kreatif. Uli dan aku bergantian membagi pengalaman kepada mereka.

Ternyata pertanyaan mereka tidak hanya seputar proses kreatif tetapi juga wacana bacaan. "Kenapa kok novel-novel Matapena itu rata-rata bercerita tentang kisah cinta di pesantren. Menurut saya itu temanya hampir seragam. Lalu, kalau novel pop Matapena juga novel islami, apa bedanya dengan novel-novel yang diterbitkan Forum Lingkar Pena," komentar Untung, salah seorang santri.

Aku mengungkapkan bahwa novel-novel Pop Matapena berbeda dengan novel-novel FLP yang cenderung mengarah pada Islam “normative”, sementara novel-novel pop Matapena adalah khas pesantren dengan budaya lokalnya yang membumi.

Selain santri putera, beberapa santri puteri juga mendapat kesempatan bertanya. Aku memperkenalkan tentang Komunitas Matapena dan adanya Bulletin Bianglala ketika Ari bertanya apakah Matapena bisa memfasilitasi mereka untuk berproses kreatif.

Jam 14.30 WIB, menjelang ashar, Mas Haqi mengakhiri acara. Sebelum penutup, sempat dibagikan doorprize dua buku. Rencananya dua buku untuk penanya terbaik itu adalah Blok I karya Uli dan salah satu novel karyaku. Tapi karena persediaan novel-novelku sudah habis ditinggal di kopontren PP Roudlotut Tholibin, akhirnya aku memungut satu novel Santri Baru Gede karya Zaki Zarung.


MUHIBBAH KE PP MUKHTARUL MUKHTAJ, KONGSI

Inilah perjalanan terakhir.
Sungguh tidak terbayangkan di benak kami tentang keunikan-keunikan pesantren yang ada di daerah Kongsi itu. Memang sebelumnya ada yang bercerita, kalau pesantren tersebut adalah pesantren santri kalong. Santri-santrinya tidak diasramakan, tetapi hanya datang ketika jadwal pengajian lalu pulang dan tidur di rumah masing-masing yang tak jauh dari pesantren tersebut.

Jam 18.30 WIB. Rombongan berangkat dari rumah Uli menuju PP Mukhtarul Mukhtaj. Meskipun jalanan malam berkabut, akhirnya rombongan tiba juga di komplek Pesantren Mukhtarul Mukhtaj. Seorang tinggi besar bernama Pak Yono menyambut rombongan dan menunjukkan tempat acara. Di antar Mas Jabir, koordinator acara, Uli, aku dan Pak Affandi menuju aula kegiatan di lantai dua.

Oh, sebuah pemandangan yang unik bagiku dan Uli, meskipun mereka sama-sama santri. Di ruangan yang kira-kira berukuran 4x 6 meter itu, tampak beberapa santri puteri yang masih memakai mukena duduk bersimpuh. Ada juga beberapa santri putera.

Awalnya aku agak ragu untuk memulai acara. Agak canggung mau memulai dari mana karena menurutku suasana malam itu mirip pengajian PKR (Pesantren Kilat Romadhon)nya di Gunung Kidul. Unik banget. Tapi akhirnya, aku pun memulai acara. Memperkenalkan diri, memperkenalkan Uli, Matapena dan Novel Pesantren. Begitu juga Uli, ia memperkenalkan tentang dunia tulis menulis. Mulai dari yang sederhana, yaitu SMS lalu majalah dinding.

Sebuah wacana baru bagi Uli dan aku tentang Pesantren Santri Kalong. Berbagai jenis santri dari berbagai macam latar belakang pendidikan. Wah, Uli hampir terpingkal-pingkal ketika seorang santri bertanya tentang "penulisan", tetapi yang dimaksud adalah bentuk tulisan tangan, 'gedrek' dan 'latin' supaya bagus. Atau istilah kerennya adalah "font". Selain itu aku dan Uli juga harus bersusah payah dulu menjelaskan tentang yang dimaksud dengan "tulis-menulis" dan novel. Meskipun agak kocak dengan pertanyaan beberapa santri putera yang konyol-konyol melebar tentang seni tulis dekorasi dan kaligrafi, tapi ada beberapa santri putri yang cukup antuisias bertanya tentang proses kreatif membuat cerpen lalu mengembangkannya menjadi sebuah novel.

Bincang-bincang antara santri PP Mukhtarul Mukhtaj berlangsung cukup lama. Sehingga akhirnya Uli memberikan saran kepada mereka untuk mulai belajar membuat mading. Belajar mengenal tulisan dan budaya tulis menulis dari yang sesuatu yang sederhana yaitu majalah dinding.

Perjalanan Roadshow di beberapa Pesantren Wonosobo berakhir jam 20.00 WIB di PP Mukhtarul Mukhtaj. Setelah itu kembali ke rumah Uli, shalat isya dan kembali ke Yogyakarta.

2 komentar

Thursday, February 01, 2007

Bedah Buku Gus Yahya Bukan Cinta Biasa

Thursday, February 01, 2007


Kamis tanggal 1 Februari 2007 acara bedah buku di pesantren Annawawi dimulai. Menurut manual acara seharusnya dimulai pada jam 13.00, namun karena harus menunggu siswa program MAK keluar dari kelas, mau tidak mau acara pun diundur sampai jam 14.00. Sementara Maiya dan Fina yang berangkat dari Salatiga jam sembilan sudah dari jam 11.30 sampai di Annawi.

Yang menarik adalah ketika acara belum dimulai banyak dari beberapa peserta yang nyelonong masuk ke ruang tamu sekadar untuk meminta tanda tangan dari sang novelis muda. Dan karena yang datang dari Qoryah Toyyibah ada tujuh orang lima cewek dan tiga cowok, mereka banyak yang kecele salah minta tanda tangan.
Acara pun dimulai, diawali dengan sambutan-sambutan. Pertama dari ketua panitia, kedua dari kepala sekolah, ketiga dari ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Annawawi atau STAIAN. Hingga pada jam 14.30 tiba waktunya bedah buku Gus Yahya Bukan Cinta Biasa.
Sebelum Fina dan Maiya mendapat giliran ngomong, awalnya dijelaskan tetek bengek tentang Matapena oleh Shachree. Setelah itu, mulailah Fina memaparkan sekitar novelnya dan sekitar proses kepenulisannya, dilanjutkan oleh Maiya yang juga memaparkan novelnya yang berjudul Tarian Cinta.
Seperti sudah menjadi warna di setiap bedah novel Matapena, apalagi yang bertemakan cinta, pasti ada dialog seru seputar cinta dalam perspektif para peserta yang kesemuanya adalah santri yang baru gede.

“Kalau Anda menyebutkan Gus Yahya bukan cinta biasa, lalu yang biasa dan luar biasa seperti apa?” seorang penanya begitu antusias.
“Ya, yang luar biasa itu ketika kita menyandarkan cita pada Allah. Nah, yang biasa itu ketika kita mencintai sesamamu saja,” demikian jawab Fina dengan senyumnya yang khas dan selalu menghiasi jalannya bedah novel.
Sementara Maiya yang juga dari Qoryah Toyyibah lebih memberikan stimulus dan motivasi kepada para santri agar juga menulis. “Jadi menulis novel itu sama sekali tidak mengganggu belajar, bahkan,” kata cewek yang pernah nyantri di salah satu pesantren di Yogyakarta ini, “menulis novel juga belajar yang sangat mengasyikkan…”
Acara yang mendapatkan sambutan luar biasa, baik dari panitia maupun peserta itu diakhiri pukul 16.00. Diikuti oleh sekitar seratus lima puluhan peserta, dari santri Annawawi sendiri dan beberapa pesantren dan SMU di seluruh Purworejo.

2 komentar