Friday, September 21, 2012
GSM: Gerakan Santri Menulis
by matapena di 8:27 PM Friday, September 21, 2012Label: WORKSHOP 4 komentar
Wednesday, March 09, 2011
ARJUNA menulis CINTA
by matapena di 6:54 PM Wednesday, March 09, 2011Label: WORKSHOP 1 komentar
Wednesday, August 20, 2008
Rekam Proses Pelatihan
by matapena di 9:13 AM Wednesday, August 20, 2008Part 2
Selasa pagi, pukul 08.30, kegiatan dimulai. Usai opening ceremony dan sedikit pengantar dari Gus Adib dan Mas Amir, Fina membagi pengalamannya dalam menulis. Ternyata peserta cukup apreasiatif. Sesi ini pun berubah menjadi sesi curhat kepenulisan, sahut-menyahut antara peserta putera dan puteri yang berjumlah 37 anak. Memang agak teoretis, dibandingkan dengan sesi Mas Joni yang langsung pada praktik.
Sebelumnya aku mengajak teman-teman untuk melihat lagi jadwal yang ditawarkan. Perubahannya tidak prinsip, hanya penambahan waktu untuk shalat. Sementara untuk materi, sebatas pembahasan itu sepertinya tidak ada masalah. Meskipun ada banyak teori tawaran dari pesantren yang tidak dimasukkan. Terlalu teoretis. Teman-teman juga aku minta untuk menulis tentang bagaimana bayangan mereka tentang pelatihan ini.
Soal mendatangkan semangat Mas Joni memang ahlinya. Malah dia tak mengenal teori dan tetek bengek aturan menulis. Usai bercerita tentang pengalaman dan proses kreatifnya, ia mengajak teman-teman bermain teka-teki. Menemukan pernyataan yang tidak tepat dalam sebuah tulisan. Untuk menunjukkan bahwa dalam menulis cerpen pun logika dan kebenaran umum harus tetap dipegang. Teman-teman tampak asntusias mengikuti model belajar ala Mas Joni. Selain karena Mas Joni itu lucu jadi suasana belajar jadi asyik dan seru.
Setelah itu Mas Joni langsung pada praktik menulis. Ia coba mebangkitkan kreativitas peserta untuk menuliskan realitas yang nyata, khayalan, pengandaian, atau alur cerita yang dibuat secara bersama-sama. Tulisan yang bersumber dari realitas dengan menuliskan kembali tentang sosok Gus Adib, imajinasi bahkan khayalan yang tidak masuk akal, semua dituliskan dalam bentuk cerpen. Untuk praktik membikin alur, Mas Joni bermain reportase tentang teka-teki menghilangnya Evita dari kelas.
Praktis Mas Joni memang hanya mengupas dan praktik menulis cerpen. Tidak juga sampai pada pengembangan materi tentang penulisan novel. Sebelum istirahat maghrib, Mas Joni meminta teman-teman untuk menulis / menyerahkan cerpen sungguhan, puisi, atau karya tulis yang lain. Dan, malam harinya, Mas Joni mengajak peserta untuk mereview hasil tulisan. Sampai hampir pukul 10.00 malam.
Part 3
Hari kedua, pukul 06.00, dimulai dengan out bond ke pendopo terdekat. Tanpa Mas Joni yang rencananya memang akan bertolak ke Jogja pukul 10.00 bersama Mas Yanto. Mahbub memimpin meditasi di dalam ruangan bulu tangkis. Sementara aku coba mengajak peserta untuk bermain diksi dan perasaan. Tujuan kegiatan ini sebenarnya untuk pembebasan pikir dan rasa, selain membebaskan diri dari ketakutan-ketakutan, kekhawatiran, ketidakpercayaan diri ketika akan menulis. Maka kita bermain tiup balon sampai meletus. Bagi siapa pun ketika meniup balon pasti akan merasa takut dan khawatir jika letusannya akan membuat sakit dan lain sebagainya. Tapi, peserta justru ditantang untuk meniup sampai meletus.
“Bagaimana rasanya setelah meletus?” Mahbub bertanya. “Puas,” jawab salah seorang peserta. “Biasa saja,” jawab yang lain. “Ternyata tidak apa-apa,” sambung yang sebelahnya. Dan, ini membuktikan bahwa ketakutan dan kekhawatiran itu lebih sering hanya bikinan perasaan yang dibuat-buat.
Selesai permainan, teman-teman kembali ke pesantren untuk mandi dan makan. Pukul 08.30 kembali berkumpul di aula untuk sesi Non-Fiksi dan Berita. Berbeda dengan Mas Joni, sesi hari kedua ini lebih banyak memakai metode ceramah dan tanya jawab. Selain memahami bentuk tulisan lewat contoh-contoh berita, esay, dan resensi yang difotokopi. Sebelum berbagi pengalaman tentang pengelolaan mading dan majalah, aku mengajak teman-teman untuk menulis berita tentang sebuah peristiwa pemilihan Miss Ma’had yang wawancaranya kita lakukan bersama-sama.
Menarik. Karena ternyata banyak angle yang muncul dalam berita yang teman-teman tulis sesuai dengan sumber berita yang diwawancara. Dari panitia Miss Ma’had, pengurus, pemenang Miss Ma’had, sampai kecurigaan ada persengkokolan antara panitia dan si pemenang. Jika dibandingkan dengan tulisan fiksi bersama Joni, tulisan berita teman-teman lebih bagus. Bisa jadi karena mereka cenderung dengan bahasa baku, yang juga diamini oleh Mas Joni seperti yang ditemukannya dalam cerpen teman-teman.
Pada sesi lembaga pers dan menejemen redaksi, aku lebih banyak mengajak teman-teman untuk berbagi pengalaman bekerja di majalah dinding. Karena pada dasarnya mereka sudah terbiasa dengan kerja keredaksian, hanya objek dan wilayahnya sedikit berbeda. Metode ini cukup efektif, pertama, melatih keberanian berbicara, kedua, tidak membosakan karena lebih dinamis dibanding ceramah oleh pemateri. Demikian juga tentang struktur keredaksian dan layout majalah. Sampai sore sebelum istirahat maghrib, teman-teman kita minta untuk menuliskan apa yang belum dipahami selama proses dua hari pelatihan.
Ada beberapa hal yang kemudian kembali dijelaskan oleh Mahbub, dan tentang berita dan perbuletinan aku coba bertanya dan menjelaskan langsung ke masing-masing kelompok. Selain mempersiapkan makalah untuk difotokopi dan dibagikan ke peserta.
Kelompok kerja bulletin dibagi empat, sesuai dengan sekolah masing-masing. Yaitu, Madin putera, M3R, MAN, dan Madin puteri. Lebih dulu mereka menentukan nama bulletin, staf redaksi, rubrikasi, juga tema yang akan diangkat. Dari hasil keliling, aku menemukan tema-tema yang menarik. Seperti tentang bahwa santri tidak hanya bisa menulis pegon, yang lalu dikaitkan dengan kegiatan training writing skills ini. Aku juga sempat ikut menajamkan tema, beberapa aspek yang bisa diangkat, juga proses penulisan berita. Saat itu aku yakin betul kalau anggukan paham mereka akan muncul dalam sebuah tulisan dan bulletin yang menarik. Dan, itu akan bisa aku lihat esok hari.
Part 4
Pagi, pukul 06.00 kembali teman-teman mengikuti out bond. Menuju ke pantai kartini, gratis dengan bekal surat sakti. Di taman pantai teman-teman kita ajak bermain yang tujuannya adalah membentuk team work yang kompak. Pertama, permainan kait siku. Kedua, permainan bentuk bisu. Ketiga, rangkai cerita. Dan, permainan berjalan seru.
Usai istirahat mandi dan makan, pukul 09.00 teman-teman melanjutkan kerja pembuatan bulletin. Beberapa anak melakukan wawancara, menulis, mencetak tulisan lewat print out, atau melayout. Pukul 12.00 belum juga selesai, dan mendapat tambahan waktu hingga pukul 02.00. Penambahan waktu ini membuat fasilitator tidak bisa membaca dengan intensif hasil pekerjaan teman-teman. Hanya sepintas, dan masukan juga hasil evaluasi disampaikan sebelum acara penutupan. Aku juga sempat membaca tulisan pada majalah yang mengangkat tema tentang santri yang tidak cuma bisa nulis pegon. Dan hasilnya, memang butuh proses untuk menjadi lebih baik. Sementara Fina bertugas membaca diary dan menentukan teman-teman yang mendapatkan novel Matapena. Penutupan pukul 15.30, dihadiri juga oleh Gus Mus.
Dalam sambutannya Gus Mus juga menegaskan bahwa menulis adalah sebuah proses yang tidak bisa dilakukan secara instan. Senada dengan kisah perjalanan hidup Mas Jony yang berdarah-darah dalam proses kepenulisannya. Makanya ia pun berkali-kali mengatakan, jika tidak mau gigih dan rajin membaca, silakan mundur dari menjadi penulis. Ini sekaligus menjadi rekomendasi pelatihan ini. Bahwa ini adalah awal untuk teman-teman Rembang bisa terus intens menulis juga membaca. Bahwa pembagian kelompok kerja bulletin juga awal teman-teman untuk membuat karya baru dalam bentuk majalah. Kelompok itu apakah akan bisa berfungsi atau tidak, proses menjadinya juga ada pada keseriusan teman-teman untuk bekerja. Dan, dalam waktu dekat PR fasilitator adalah membuat review majalah, dan rekap buku harian teman-teman peserta selama pelatihan. Selain tetap membuka sambungan komunikasi lebih jauh secara profesional. Biar kesuksesan jadi milik kita semua! Setelah acara foto-foto, yang mana katanya kamera yang aku pinjam batereinya habis tapi ternyata tidak dan aku pun nggak dapat foto-foto itu (hiks..hiks..), aku dan teman-teman dari Jogja juga Mas Amir mohon pamit.
Yogya, 08 Agustus 2008
Isma kazee
Label: WORKSHOP 2 komentar
Tuesday, April 29, 2008
Workshop Jurnalistik dan Pentas Teater di Pekalongan
by isma di 9:48 AM Tuesday, April 29, 2008
Pelatihan Jurnalistik ini digelar tanggal 28-30 Maret 2008 bekerja sama dengan PMII STAIN Pekalongan dan IPPNU Pekalongan. Diikuti oleh perwakilan SMA dan Madrasah Aliyah di Pekalongan yang berjumlah 30 anak, bertempat di Gedung sekolah YMI Wonopringgo. Dengan fasilitator Zaki Zarung dan Restu RA.
Satu minggu kemudian, bersamaan dengan digelarnya Pemeran Buku Nasional di GOR Pekalongan tanggal 5-10 April 2008, Juspek Community mementaskan naskah teater “Girl Makes Trouble” karya Zaki Zarung gubahan dari novel yang ditulis oleh Restu RA. Meskipun tanpa workshop teater, berkat semangat dan keseriusan mereka untuk berlatih, juga arahan dari Mbah Marijan dan Laila, mereka berhasil membuktikan bahwa remaja memang menyimpan banyak talenta dan potensi. Dengan iringan tabuhan rebana dan zimbe, setiap aktor tampak berusaha untuk total berperan di atas panggung.
Adalah Nida yang berperan sebagai Fina. Dalam sesi berbagi pengalaman usai pentas, ia menuturkan kebanggaan hatinya bisa tampil di atas panggung memerankan tokoh utama dalam novel GMT itu. “Fina itu girl makes trouble. Tapi itu hanya cap, karena sebenarnya dia punya potensi di bidang mading,” jelasnya.
Sementara Laila, mengungkapkan rasa bangganya atas semangat teman-teman Juspek Community. “Lokasi yang jauh tak menyurutkan langkah mereka untuk terus latihan, hingga terpentaskannya teater sederhana ini,” akunya dengan mata berbinar.
Label: acara, WORKSHOP 0 komentar
Monday, March 31, 2008
Pelatihan Karya Ilmiah Populer
di MA An-Nuqayah Guluk-Guluk Madura
by
matapena
di
9:10 AM
Monday, March 31, 2008
Kali kedua nih buat saya, kembali bertandang ke negeri atas air, alias Madura... Dari halaman LKiS, Mas Hartono dan Joko mengawal keberangkatan saya dan Mahbub. Menuju terminal Solo untuk menjemput Fina dan temannya, Izzah. Sampai Ngawi, kami berhenti untuk makan siang. Dengan menu pecel, soto, dan rawon yang kami tancap habis.
Meskipun sudah lega, toh perjalanan tetap saja tak kunjung sampai. Baru sekitar pukul 12.00an malam kami bersama rombongan Mas Amir tiba di An-Nuqayah. Lalu, Mas Amir mengantar saya, Fina, dan Izzah ke Ndalem Nyi Ulfa. Saat itu, kami hanya punya satu pilihan, segera berebah memejamkan mata. Tidur dengan sukses tanpa iringan cerita dongeng sama sekali.
Semua Berjalan...
Minggu, 30 Maret 2008
Pukul 05.00 aktivitas pagi dimulai. Mandi, ngobrol, makan, ngobrol, dan siap-siap mengikuti acara pembukaan pelatihan. Tidur semalam yang tanpa gangguan, sudah cukup membuat kami tampak segar dan siap berpose di depan kamar. Foto-foto dulu...hihi. *proyek narsis*
Dari Late saya, Fina, dan Izzah menuju tampat pelatihan untuk acara pembukaan. Dimulai pukul 09.00. Dihadiri oleh 30 peserta dari anak-anak MA An-Nuqayah, juga kepala sekolah, guru, dan dari SF, Mar Amir dan Pak Nanang. Usai pembukaan, stadium general yang sedianya akan dihadiri juga oleh seluruh siswi MA, diundur esok siang dan bertempat di aula. Jadi, untuk pagi itu Fina berbagi pengalaman menulisnya hanya dengan peserta pelatihan.
Tapi, sebelum Fina bermain panas-panasan (baca: ngompori) peserta bahwa menulis itu gampang, lebih dulu saya ngobrol soal beberapa kesepakatan dalam pelatihan. Seperti materi, penjadwalan, dan latihan yang harus teman-teman lakukan. Karena mareka sudah lebih dulu membaca jadwal dan usulan materi yang sudah ditempel di pengumuman, so proses kesepakatannya tak perlu waktu lama. ”Jadi, kita penutupan hari Senin sore ya,” saya kembali menegaskan, dan spontan dijawab dengan teriakan kecewa, ”Haaaaa!” Jawaban teriakan juga mereka koorkan, tapi yang ini teriakan berjenis surprise dan merasa tertantang, ketika saya meminta mereka untuk menulis lembar harian selama proses pelatihan. Ini metode untuk membuat mereka selalu menulis, apa pun itu. Tak dibatasi. ”Dan yang tulisannya bagus, akan mendapat satu dari 8 buku yang disediakan Matapena,” lanjutku dan mereka pun kembali berteriak sama-sama, ”Haaaaaa!”
Kesan pertama, sambutan teman-teman sangat antusias. Saya suka itu. Mungkin karena mereka adalah 30 peserta pilihan dari sekian jumlah peserta yang mendaftar. Mereka juga aktif dan penuh semangat. Kondisi ini tentu saja menjadi sumbangan energi buat Fina pada sesi stadium general. Pertanyaan mereka seperti aliran air yang tak usai-usai. Gemlondor...
Demikian juga ketika sebelum istirahat, saya mengajak teman-teman memahami wilayah karya ilmiah populer. Enak sekali proses pemetaannya karena mereka ikut terlibat dengan mereka-reka posisi beberapa jenis tulisan. Suasana jadi lebih hidup dan penuh semangat. File powerpoint saya untuk materi ini, sukses tidak terpakai. Percuma deh lemburku yang semalaman itu.
Mahbub juga sempat mengajak teman-teman bergame ria, sebagai penjajagan awal. Game bermain imajinasi dan menulis terbatas. Hasilnya, penuh variasi dan terbukti mereka memang sudah bisa menulis.
Sebagai contoh, ada yang nulis ini:
Gelap! Baru saja aku melihat kegelapan dan kekosongan. Sesaat pikiranku tenang. Aku bertualang. Pikiranku bertualang tanpa arah berjalan tanpa tahu apa yang akan ia tuju. Disana ada tempat. Luas tak berbatas, tak bertepi. Mungkin hal ini terlalu fiktif untuk sekedar dibayangkan tapi itulah perjalanan yang aku tempuh. Aku tak tahu yang berjalan itu pikiranku, perasaanku, atau entahlah. Tapi akhirnya perjalananku terhenti di terminal tok-tok-tok K’ Mahbub. Kelihatan sekali kalau teman-teman An-Nuqayah memang teope begete.
Usai istirahat zhuhur, saya minta Mahbub untuk memulai lebih dulu dengan sesi Pra Penulisan yaitu tentang ide dan gagasan. Karena saya masih sowan dengan penyair Guluk-Guluk, M. Faizi. Bincang-bincangnya tidak lama, hanya mereview email juga penyerahan katalog penulis dari Guluk-Guluk. Ternyata banyak juga, ada ratusan. Sampai di kelas, Mahbub sudah beraksi dengan keahlian barunya, presentasi dengan laptop dan LCD. Point yang dipowerkan ternyata lumayan banyak. Mulai dari memburu ide yang bagai kilatan cahaya sampai bagaimana ide itu bisa dikembangkan dan dirumuskan. Harusnya sesi metode penelitian sosial (MPS) dibicarakan sebelum istirahat ashar. Tapi, karena Mahbub sepertinya belum selesai memuntahkan semua ilmu idenya, jadi MPS-nya diundur setelah shalat ashar.
Semula saya agak khawatir kalau materi MPS ini hanya akan membuat teman-teman merasa rumit karena terkesan teoretis banget. Apalagi saya juga pakai LCD, jadi terkesan seperti kelas beneran. Bukan model fasilitasi seperti ketika kita bareng-bareng memahami peta karya tulis ilmiah. ”Teman-teman sudah belajar metode penelitian sosial kan?” tanyaku menyelidik. Karena setahuku materi ini menjadi sub pembahasan pelajaran sosiologi. Dan, ternyata benar. So, sesi ini sebenarnya hanya sebatas mengingatkan kembali dengan menekankah bahwa praktik penelitian tidak akan serumit yang dijelaskan oleh teori.

Usai sesi MPS, teman-teman dikelompokkan menjadi 10, dengan 3 orang tiap kelompoknya. Setiap satu kelompok adalah tim kecil yang akan melakukan penelitian sederhana. Cukup dengan menentukan tema/masalah, sumber data, teknik pencarian datanya, dan lalu dituliskan dalam empat jenis penulisan yang ditawarkan: artikel, berita, esai, atau fiksi. Tugas penulisan ini dibebankan pada tiap individu, dan dalam satu kelompok tidak boleh berjenis tulisan sama.
Bakda isya teman-teman kembali berkumpul di kelas, untuk sesi bentuk-bentuk penulisan. Pembagiannya adalah Fina bagian artikel, termasuk jenis penulisan karya ilmiah populer yang biasa dipakai, saya bagian berita, dan Mahbub bagian esai dan fiksi. Tapi, pada praktiknya mengalir saja antara saya, Fina, dan Mahbub. Ditengah-tengahi dengan pertanyaan dan melihat beberapa contoh yang sudah difotokopi. Sebelum forum ditutup, saya ada game olah kata. Jadi teman-teman mendapatkan acakan kertas yang bertuliskan satu kata dengan berbagai kategori. Tugas mereka selanjutnya adalah mengurutkan sesuai dengan kategori. Karena jumlah peserta adalah 30, biar tidak membingungkan satu kategori terdiri atas tiga kata. Hasilnya, tidak ada kesulitan yang berarti. Misalnya, kata ngapain, biarin, bo’ong mereka kelompokkan dalam kategori kata populer dsb.
Selesai game, pertemuan hari pertama pun berakhir, pukul 22.00 malam. Sebelum bubar, kita membagi kelompok untuk out bond esok hari. Sesuai dengan jumlah fasilitator, kelompok pun dibagi menjadi tiga. Setelah itu barulah teman-teman kembali ke kamar, Mahbub ke ruang tamu putera, sementara saya, Fina, dan Izzah ke kompleks Late.
Senin, 31 Maret 2008
Hari kedua, dimulai dengan out bond pukul 05.30. Sempat was-was, teman-teman bisa datang tepat waktu nggak ya? Ternyata, malah Mahbub yang molor. Biarpun sudah saya miscall berkali-kali sesuai dengan permintaannya semalam.
Hampir pukul 06.00 kelompok sudah siap dengan fasilitator masing-masing. Kami berpencar sesuai dengan usulan dan kesepakatan teman-teman peserta. Kelompok Fina menuju perpustakaan, kelompok Mahbub berhenti di halaman gedung STIKA puteri, sementara kelompok saya di emperan gedung sekolah MAK An-Nuqayah.
Pada intinya dalam out bond ini kami ingin mengajak teman-teman membuka mata dan imajinasi bahwa segala sesuatu yang ada di lingkungan itu tidak ada yang biasa-biasa. Semua bisa menjadi luar biasa dengan ditulis dan diteliti. Dari sampah, penjual ketaki, air mati, dan lain-lain.
Pukul 07.30 kita kembali berkumpul di MA An-Nuqayah untuk sedikit mengevaluasi materi secara keseluruhan. Semacam review kecil sebelum teman-teman bekerja di lapangan. Dalam proses selanjutnya, saya, Mahbub, dan Fina tidak berusaha mencampuri pilihan gagasan mereka. Kami membebaskan, termasuk bagaimana mereka bekerja dan berbagi tugas dalam satu tim dan akan dituliskan dalam bentuk apa. Tapi, kami siap berbagi jika memang ada satu dua hal yang ingin disoalkan.
Setelah istirahat makan pagi dan mandi, teman-teman sudah langsung berpencar dengan rencana masing-masing kelompok. Mahbub bersedia menjadi arca yang standby di kelas. Sementara saya, Fina, dan Izzah rencananya mau rental internet di perpus. Tapi, sayang lagi mati lampu. Jadi, selain mencetak beberapa makalah untuk difotokopi, kami jumpa fans kecil-kecilan di perpus. Dan, barulah pada pukul 11.00 ada jumpa fans besar-besaran (baca: stadiun general II bersama Fina) di aula yang diikuti oleh seluruh siswi MA An-Nuqayah.
Acara ini tidak diikuti oleh teman-teman peserta pelatihan, sebagaimana yang diusulkan mereka sebelumnya. Tapi, tiga kelas yang 2 skatnya dibuka itu lumayan sesak juga oleh para siswi yang duduk berjajar saling berhadapan. Seperti layaknya jumpa fans, mereka bertanya-tanya banyak soal proses kreatif kepenulisan Fina, juga model sekolah Qaryah Thayyibah. Di akhir acara saya menggarisbawahi sebuah pertanyaan, ”Gimana mengirimkan novel ke penerbit, susah tidak?” Tentu saja dengan tegas saya jawab, ”Tidak!” Dan, kalau perlu bukti silakan saja dicoba kirim ke Matapena.
Sepanjang pengamatan saya, antusiasme siswi An-Nuqayah ternyata juga muncul dalam sesi dialog dengan Fina. Sampai-sampai siswi kelas II QT ini menoleh ke arah saya dan berbisik pelan, ”Mbak, capek. Mbak Isma aja.” Baru deh, acara siang itu saya akhiri dengan menyisakan tatapan penuh harap, ”Lagi doooong...”
Saya dan Fina kembali ke kelas pelatihan yang sudah kosong. Sebelumnya Mahbub sudah menerima hasil diary dan penugasan kelompok, untuk kemudian supaya kami baca dan evaluasi. Tapi, karena waktunya sudah terpakai untuk stadium general II, sampai hampir setengah satu siang, praktis tidak ada waktu untuk membaca hasil tulisan teman-teman dengan seksama.
Tapi, tetap saya dan teman-teman sedikit memberikan review dan masukan, berangkat dari beberapa tulisan teman-teman yang saya baca. Sebagai sebuah kerja penelitian, paling tidak mereka sudah mengerti tahapan-tahapannya dan penulisannya. Ada yang nyaris sempurna, ada yang masih tertukar antara keinginan menulis soft news menjadi tulisan yang ”kebanyakan” opini. Yang menjadi kejutan adalah beberapa cerpen yang ditulis teman-teman. Bahasa mereka terbaca enak, seperti sudah biasa menulis, dan tentu saja saya tinggal menantang mereka, ”Saya tunggu novel pesantren kalian di meja redaksi.”
Acara selanjutnya adalah bincang follow up, seperti yang biasa kami lakukan dalam beberapa pelatihan. Intinya sih bagaimana teman-teman tidak mandeg sampai pelatihan ini usai. Mandeg menulis dan berproses bersama. Jika ini terjadi, amat sangat disayangkan. Dan, salah satu media pengsolidan adalah lewat komunitas, apa pun bentuk dan kegiatannya.
Semua Berakhir…
Selesai penutupan menjelang Maghrib, saatnya untuk berpamitan. Dua hari ternyata sangat cepat untuk pelatihan yang penuh antusiasme dan kedekatan. Dengan peserta, dengan panitia, dengan pengasuh lewat Mbak ULfa, juga dengan Sampoerna lewat Mas Amir. Sebelum meninggalkan Madura sempat berpamitan dengan M. Faizi kemudian ke rumah Abrori yang menepati janjinya untuk menjamu kami dengan kepiting, udang, dan cumi. Fina yang ngantuk saja tidak mau ketinggalan, apalagi Mahbub yang jarang-jarang makan seafood seperti itu. Nambah booo.
Perjalanan pulang terasa jauh lebih cepat dari perjalanan berangkat. Mungkin karena secara psikologis sudah tak ada tanggungan, seperti kata Mas Amir. Di Pamekasan Mas Hartono sempat mampir ke sebuah toko tempat menjual jajanan khas Madura. Tapi, dengan wajah kalah perang dia balik lagi ke mobil. Kenapa Mas ? tanya Mahbub. Masak jajanan khasnya marning? Kalau itu sih di kampungku ya banyak. Hehe. Ada-ada saja. Tapi, biarpun tanpa oleh-oleh, yang penting kami selamat sampai rumah masing-masing. Mampir ke Qaryah Thayyibah dulu mengantarkan Fina dan Izzah, dan ngobrol banyak soal pendidikan dengan Mas Bahruddin dan Pak Ridhwan. Juga melihat aksi Maia menggarap video klip dangdut pendidikan. Sempat berhenti di Solo dan Salatiga untuk makan, dan beberapa kali berhenti di POM untuk menjaga kesehatan kandung kemih *sok tahu*. Alhamdulillah, puji syukur... semua pun berakhir dengan baik. Semoga.
Yogyakarta, 31 Maret 2008
Label: WORKSHOP 1 komentar
Monday, March 10, 2008
Catatan dari PP. Al-Kamal Kunir Blitar
by isma di 9:55 AM Monday, March 10, 2008Alhamdu, aku dan Sachree sampai di blitar pukul 06.00 pagi. Semula kami akan langsung ke pondok al-Kamal, namun kenyataan berbicara lain; teman Sachree mengirimkan sms bahwa ia akan menjemput kami. Kami pun menunggunya. Tak lama kemudian, datanglah ia dengan Mio-nya.
“Jare arep nggowo mobil? Lha kancaku ini mau dibonceng di mana?” Sachree menodong janji temannya, yang kemudian kuketahui bernama Dul, alumni Akidah Filsafat Sukijo.
“Lagi diservis! Bisa bertiga, kok! Ayo!”
Kami cenglu hingga sampai di rumahnya, di kecamatan Udanawu yang berjarak 10-an kilometer.
Di Udanawu, kami beristirahat secukupnya. Mandi dan berakrab-akrab ria dengan empunya rumah. Bercerita tentang pembuatan film indie yang sering kali digarapnya. Berbicara tentang ternak lele yang sedang dirintisnya. Dan bernostalgia tentang Kampus Putih Sukijo.
“Aku murtaddin Tafsir Hadits,” kataku ketika ia bertanya di fakultas apa aku dulu. “Juga murtaddin Es-Ka.”
Menjelang zhuhur, kami cabut ke al-Kamal. Dengan mobil pick-up terbuka yang biasa dia gunakan untuk mengangkut genteng, kami meluncur.
“Makasih, Dul!” pekik kami ketika turun di depan ndalem Gus Luthfi, al-Kamal. Dan sekali lirik, kami melihat mobil merah itu duduk tenang di depan ndalem. Tahulah kami bahwa kang Ipenk telah terlebih dahulu sampai.
***
Acara Workshop Hari I, Sabtu 1 Maret 08
Pukul 14.30, barulah santri-santri kumpul di aula.
“Ayo, kang…” Gus Luthfi memberi aba-aba.
“Maklum, Mas. Mereka baru pulang tadi pukul 13.30. Lalu istirahat dan makan. Jadi, baru siap sekarang…” tekan kang Shofaul-Muttaqin, pengurus Markaz yang nantinya senantiasa mendampingi kami.
14.50, acara dimulai. Peserta ternyata tidak hanya dari PP al-Kamal saja, tetapi juga dari PP Darul Huda yang berada di dekatnya. Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci, lalu disusul dengan sambutan oleh Gus Luthfi, sambutan dari rombongan matapena—diwakili Sachree, dan ditutup dengan doa oleh Gus Luthfi.
Yang membuat kami lumayan terkesan, MC-nya pakai bahasa arab terus. Untung kami pernah mondok—meski nggak bisa ngomong arab, tapi paham kalau ada yang ngomong arab, meski sedikit-sedikit.
Sesudah seremonial selesai, kami tawarkan jadwal yang ada kepada forum. Tapi, sebagaimana di PP yang lain, di al-Kamal ini para santri juga ‘pasrah bongkoán’dan manut dengan jadwal. Hampir tidak ada reaksi—kecuali bengong—ketika kami menawarkan apakah jadwal perlu diubah atau tetap.
“Biar nanti penyesuaian-penyesuaian menyusul aja…” bisik Sachree di telingaku. Karena waktu semakin sore, kami langsung masuk ke forum I, tentang hal-hal sekitar tulisan. Aku kebagian nerangin masalah cerpen dan novel dan karakteristiknya. Kemudian Sachree menambahkan hal-hal yang belum aku singgung, khususnya tentang gambaran besar peradaban menulis yang kemudian dikerucutkan kepada novel, cerpen, resensi, dan artikel.
Beberapa menit sebelum forum ditutup, kami memberikan tugas untuk menulis diari. Dengan maksud demi kontinuitas tradisi menulis diary, kami semula mengharuskan agar mereka menulis dalam satu buku khusus untuk diary, namun Kang Shofa mengatakan bahwa buku diary dilarang keberadaannya di PP al-Kamal. Jadi, kami harus sedikit bernegosiasi:
“Bagaimana kalau diary di lembaran aja. Nanti langsung kami bawa ke Jogja.”
“Oh, kalau itu boleh.”
Pada pukul 16.30, acara diakhiri untuk istirahat, makan, mandi, dan shalat.
***
Setelah isya, tepatnya pada pukul 20.00, acara dilanjutkan pada sessi II, tentang ide, sumber-sumber ide, sense of idea, penulisan ide, dan pengembangan ide. Selain disuguhi materi, peserta juga diberi tugas untuk mencari ide. Lalu kertas mereka dikumpulkan, dan dibagikan lagi secara acak. Pihak yang menerima ‘ide’ orang lain itu bertugas mengembangkannya menjadi karangan (cerpen).
Pukul 22.45, acara sessi II ini selesai. Sebelum kami tutup, kami memberi kesempatan kepada forum tentang outbond besok pagi. Mereka sepakat dilaksanakan bakda shubuh. Lalu kami memberi penugasan (PR) agar peserta membuat cerpen.
“Cerpen kalian akan kami bawa ke Jogja…. minimal 3 halaman.”
“Ha? Banyak banget??!!”
Ternyata, mereka hanya salah persepsi. 3 halaman dikiranya tiga lembar kertas (atau 6 halaman bolak balik).
“Tiga muka… masak banyak?”
“Oo...”
***
Acara Workshop Hari II, Minggu 2 Maret 08
Pukul 05.00 atau 05.20 pagi, kami bangun. Itu pun digugah kang Ipenk (makasih kang). Tanpa perlu mandi dahulu, kami segera ke aula di mana anak-anak sudah menunggu. Kang Shofa menyambut,
“Mungkin di Mts saja, Kang. Kalau out-bond ke sawah kayaknya terlalu jauh.”
“Ya gak apa-apa. Yang penting waktunya cukup.”
Dan kami berangkat ke komplek sekolahan al-Kamal, yang letaknya hanya bersebelahan dengan komplek pesantren. Konon, sekolahan yang terdiri dari MTs, MAN ini dulunya milik al-Kamal. Tapi sesudah dinegerikan, Depag-lah yang menguasai. Entahlah.
Acara outbond ini, meski hanya sekitar setengah jam atau paling lama 45 menit, namun hamdulillah dapat dimanfaatkan secara optimal. Acara pertama, adalah observasi ide. Peserta dibebaskan bertebaran ke segala penjuru arah untuk mengamati apapun yang ada dan menari mereka. Lalu mereka dipersilakan menuliskannya. Acara kedua adalah game sinonim. Acara ini cukup ramai karena peserta dibagi menjadi beberapa kelompok yang saling ‘bermusuhan’, dan berlomba-lomba untuk mematikan ‘lawan’ dengan menuliskan kata yang sinonimnya sulit.
Sesudah itu (sekitar pukul 06.30), kami kembali ke pondok. Untuk istirahat dan ngaji minggu pagi.
***
Pukul 08.30 acara baru dapat dilanjutkan. Yakni sessie III, Mengenal Struktur Cerita. Setelah mengenalkan struktur cerita dengan metode ceramah-dialog, sessie ini diisi juga dengan game sebagai pendalaman materi sekaligus praktek dari teori yang ada. Masing-masing peserta diberi satu lembar kertas lalu disuruh menuliskan nama tokoh. Lalu kertas digeser, peserta menuliskan karakter tokoh. Kertas digeser, peserta menuliskan setting tempat. Kertas digeser, peserta menuliskan gambaran detail tentang setting tempat tersebut. Kertas digeser, peserta menuliskan setting waktu. Kertas digeser, dan peserta menuliskan gambaran detail tentang setting waktu tersebut. Kemudian peserta disuruh memadukan unsur-unsur yang ada dalam kertas (tokoh, karakter, setting tempat dan waktu), menjalinnya sehingga menjadi sebuah cerpen.
Pada sela-sela membikin cerpen itu, ada kabar dari pengurus Markaz Pesantren bahwa acara workhop akan dihentikan pukul 17.00 mengingat malam harinya bakda maghrib pengajian tidak libur. Kami tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali hanya mengangguk saja.
Pukul 12.00, forum ditutup. Kami tugaskan mereka untuk meneruskan PR cerpen-nya dan menyelesaikannya sebelum pukul 5 sore.
“Untuk buku diary, nggak usah terlalu dikejar. Yang penting selesaikan cerpennya yang akan kami bawa ke Jogja. Dan lagi, cerpen anda itu berfungsi sebagai ‘biaya’ untuk mendapatkan pin cantik matapena.”
“Horeee!!!”
***
Bakda dhuhur, sekitar pukul 13.30, acara baru dapat dilanjutkan. Kami melakukan evaluasi terhadap 2 cerpen dadakan mereka. Kami membacanya di depan mereka, lalu merangsang mereka agar mengkritik cerpen teman mereka sendiri. Mulanya mereka takut-takut-malu, namun kemudian pada berani juga. Nah, gitu… baru namanya santri…
Sesudah evaluasi cerpen, mengingat waktu yang sudah mepet, kami langsung masuk ke problem solving. Kami membagi kelompok menjadi tiga. Putri yang jumlahnya terlalu besar kami bagi jadi dua—masing-masing sekitar 15 anak—sedangkan putera yang cuman beberapa anak tidak kami bagi.
“Kami tidak bisa mendampingi kalian seterusnya. Karena itu, silakan bermusyawarah dan berdiskusi tentang kesulitan-kesulitan dalam menulis. Nanti seterusnya, sesudah workshop ini, kalianlah yang akan memecahkan masalah kalian sendiri; maka dari itu, manfaatkan komunitas kalian….untuk maju bersama.”
Mulanya, mereka canggung juga. Tapi diskusi berjalan juga kemudian. Kami sebagai fasilitator hanya menarik permasalahan-permasalahan yang terkumpul dan sudah diperbincangkan, lalu menggarisbawahinya dengan sedikit komentar dan bercerita tentang pengalaman kami; atau membahas panjang lebar permasalahan yang belum terselesaiakan.
Sebelum acara penutupan diupacarakan, para peserta dipanggil satu persatu. Mereka harus menyerahkan cerpennya dan menukarnya dengan pin matapena. Yah, seperti wisuda itu lah…
Pukul 16.45 acara seremonial penutupan dimulai. Gus Lutfi memberikan sambutan. Matapena diwakili Mahbub memberikan sambutan. Dan terakhir, acara ditutup dengan doa bersama oleh Gus Lutfi.
Wednesday, March 05, 2008
Fasilitator Workshop,
Mahbub Dje
Sachree
Label: WORKSHOP 2 komentar
Thursday, August 09, 2007
Sebuah Laporan Perjalanan Workshop
MAN MODEL Ciwaringin Cirebon
1-2 Agustus 2007
by
matapena
di
2:18 PM
Thursday, August 09, 2007
Sebelum harga tiket, tentu ada alasan lain mengapa kami memilih kereta api. Suasana baru—yang mungkin bisa dijadikan ide-ide segar bagi pikiran. Kebebasan bergerak, tidur, dan tentunya buang air. Juga tidak pakewuh kalau mau menyulut sigaret atau sekedar kentut—yang tanpa bunyi—mengingat angin yang terus mengganti udara di ruangan gerbong. Dan yang terakhir, terbukanya kemungkinan mendapat teman bicara yang asyik.
Memang benarlah. Harapan kami terwujud di Gaya Baru Malam Selatan. Kami duduk bersama dua kawan baru. Satu dari Purwokerto, satu dari Tegal. Keduanya berencana pulang setelah merantau di Madura. Sepanjang perjalanan kami bicara ini dan itu. Hal-hal semelekete yang remeh temeh. Tetapi lumayan, daripada di travel yang biasanya antar penumpang hanya saling diam. Jaga imej. Mungkin karena ego para borjuis negeri ini selalu lebih besar; berbeda sekali dengan para proletar yang bisa langsung akrab meski belum kenal sebelumnya.
Begitulah. Perjalanan kami ditemani ayunan gerbong ke kanan ke kiri. Suara para asongan menawarkan jajanan dan kopi. Derit-derit roda besi. Dan terkadang tangis bayi yang terbangun di malam hari.
“Udah sampe mana, Pa, perjalanannya?” sms dari Zenal.
“Baru di stasiun Kebumen. Perkiraan sampe Cirebon 1/3 malam. Jadi kau tidur aja. Ntar kubangunin untuk qiyamulail. Hehe…” jawabku coba menjayuskan diri.
Peluit masinis melengking di depan sana. Dan bergeraklah berduyun-duyun pasukan pejalan dari stasiun Kebumen menuju Jakarta.
Nyatanya, pukul 05.30 kami baru sampai di Jaksan, stasiun besar kota Cirebon. Shalat subuh sekedarnya. Istirahat sekenanya. Lalu sms Zenal.
“Gimana nih, ada yang mo jemput?”
“Naik help aja. Jurusan Kadipaten dari Kedawung.”
“Mas-mas,” tukang becak menyambut rejeki pagi. “arep nangendi?”
“Ciwaringin.”
“O, ke kedawung dulu berarti. Ayuh, tek terna apa?” mulailah ia menebar pesonanya.
“Berapa sih, pak?” Sachri mengambil kuda-kuda membela diri. Siapa tahu kita diembat.
“Ya terserah, lah.”
“Jauh dari sini, Cidawungnya?”
“Kedawung. Bukan Cidawung. Yah, jauhnya sih nggak. Tapi nek mlaku ya lumayan.” Kami duduk. Bermusyawarah. “Gimana, sach?” bisik-bisik.
“Ayu lah, melu aku bae.”
“Pira si pak?” kataku melu-melu ngapak.
“Rongpuluh.”
Dan terperanjatlah kami berdua. Harga gila apa! Pagi-pagi udah minta duapuluh! Mau ninggalin si tukang becak, kasihan juga. Dah dari tadi mengawal kita sejak pintu stasiun hingga di tepi jalan. Mana pagi lagi! Belum terlihat angkot atau apa. Maka Kami terpekur sendiri-sendiri. Gila! Duapuluh? Jogja-Kebumen aja cuman enam belas!
“Ya wis. Tek muraih. Limalas wis.”
“Telungewu, gelem?”
Tukang becak tersungut-sungut. Muncu-muncu tuh mulut. Akhirnya, dengan tipu muslihat klasik, kami berhasil meninggalkan tukang becak yang sangat optimis menggaet kami itu. Apa jurus klasik itu? Sok pede. Ya, kami dengan pede berjalan seakan-akan kami udah hapal tlatah cirebon.
“Wis, pak. Aku arep numpak help bae,” kata kami seraya meninggalkannya dengan langkah-langkah panjang tanpa keraguan. Meski di hati kecil kami terdapat kesangsian apakah arah yang kami tempuh benar atau salah.
Untunglah kami ketemu ibu muda—yang meski tidak cantik—tetapi lumayan baik hati. (eh, apa hubungannya cantik dan informasi?) Kami tanya ini dan itu kepada malaikat baik hati kami ini, yang kemudian segera menunjukkan help apa yang harus kami naiki dan sekaligus ongkosnya. Baikan banget, kan? Coba kalau cantik. Pasti sudah kutaksir. Hehehe. Maksudnya, kutaksir dagangannya. Ibu muda ini kan sedang nata-nata dagangan di depan sebuah sekolah dasar.
***
“Kami dah naik jurusan Kadipaten. Masihkah jauh?”
“Dah dekat, koq. Minta turun di MAN Model. Sopirnya pasti tahu.” Jawab sms Zenal.
Redaksi ‘deket’ yang dipakai zenal membuat kami gelisah. Ya karena kami nggak sampai-sampai juga. Jangan-jangan kelewatan? Ini ditambah lagi keterangan si kernet yang mencla-mencle. Kami tanya, “Berapa kilo?”
“Lima kilo paling, mas.”
Setelah kira-kira lima kiloan bis berjalan, kami tanya lagi. “Masih jauh?”
“Paling-paling tinggal empat kilo.”
“Weh>?./(0@#%$!”
“Sach, kamu liat sebelah kanan. Aku liat sebelah kiri. Kalau ada plang MAN model, langsung bilang ‘kiri’.”
Tapi sampai duapuluh menitan kami menjelalatkan mata, tak jua menemukan plang ataupun papan nama. Dan bertambah gebalau lah jiwa kami, ketika mobil yang kami tumpangi disalip bus besar jurusan bandung. Weh, jangan-jangan kita sampai mbandung, dab?
Ternyata tidak. Karena si kernet kemudian memukulkan recehan di kaca jendela. Lalu turunlah kami.
“Itu, mas, MAN Model.” kata si kernet. “Nyeberang jalan, masuk satu kilo.”
Kulihat hape. Jam 08.30. Wah, telat jauh nih!
***
Kami ditempatkan di madrasah, di kantor atas yang terdiri dari kamar-kamar. Entah lokasi itu biasanya digunakan untuk apa. Yang jelas, hanya kamilah yang menjadi penghuninya sejak saat itu. Mungkin perlu disebutkan di sini bahwa kamar kami memiliki fasilitas yang mencukupi: ac, dua pasang ranjang bertingkat (jadi ada empat ranjang), kasur yang berjumlah lima, bantal dan guling yang tidak terhitung, serta jendela yang—jika kami jail—bisa digunakan untuk menyeleksi siapa yang pantas jadi miss madrasah. Untung saja kami adalah para lelaki yang shaleh, berbudi tinggi, dan berakhlak mulia. Hehehe.
Setelah istirahat, mandi, dan berdandan dalam waktu yang singkat; yakni sekitar lima belas atau dua puluh menit, kami pun langsung menuju aula. Di sana anak-anak belum berkumpul semua. Baru sesudah kami menghabiskan dua batang rokok, anak-anak pun datang, dan acara pembukaan pun dimulai. Acara ini berakhir pukul 10.00.
Karena acara sudah kadung mundur, akhirnya kami berkreasi sendiri membikin memodifikasi jadwal yang sudah ditetapkan. Sachri memulai dengan sekilas motivasi. Mungkin karena sedikitnya waktu, dan juga karena sound-system yang kurang bagus, agaknya kurang mengena kepada khalayak. Apalagi waktu itu tempat duduk belum disetting sedemikian rupa, sehingga jarak penceramah dan audiens terlalu juah. Sesudah pembukaan selesai, dan guru pembimbing dengan leluasa pergi dari sidang pembelajaran, acara dilanjutkan dengan lebih santai. Anak-anak yang tadinya pada mojok digiring duduk di depan. Dan manual acara pun langsung masuk ke pembahasan fiksi dan non-fiksi, yang juga disampaikan oleh Sachree. Pada sessi ini, peserta diarahkan untuk membedakan mana karya yang fiksi dan mana yang non-fiksi.
Tanpa istirahat, aku melanjutkan masuk ke pembahasan tentang ide. Aku sebenarnya sudah nyiapin sejumput makalah sebagai bahan bacaan. Akan tetapi entah mengapa, file-nya justru ketinggalan di yogya. Akhirnya aku pun cuap-cuap aja. Tentang bagaimana cara mencari ide. Kuselang-seling acara ini, antara cuap-cuap dan main-main; pohon ide, dan kenakalan ide.
Acara sesi ini ditutup dengan menugaskan peserta untuk menuliskan idenya, yang nanti hendak dikembangkan menjadi cerpen. Dan tibalah saat yang ditunggu-tunggu: Ishoma. Bukan isho-nya yang begitu ditunggu, tetapi ma-nya. Karena memang sejak pagi kami belum makan. Hehe.
Pukul 13.30 acara dilanjutkan. Pada sesi pertama, peserta dibikin dua kelompok. Satu dipegang aku dan satu dipegang sachre. Di setiap kelompok, masing-masing peserta mengungkapkan apa ide mereka dan bagaimana alurnya. Pada sesi ini, apa yang biasa kami terapkan di komunitas matapena jogja, juga berusaha kami doktrinkan kepada mereka. Yaitu, agar peserta aktif memberikan masukan-masukan kepada teman-temannya. Sayangnya, mereka masih kaku dan sachre yang dalam sesi ini lebih menempatkan diri sebagai pendamping, bukan pembicara. Tapi meski demikian, aku salut kepada beberapa peserta, yang ternyata sebagian anak sudah mulai menuliskan novel-novel mereka.
Setelah kumpul-kumpul selesai, peserta kembali masuk barisan besar. Dan acara dilanjutkan untuk pendalaman unsur-unsur intrinsik karya sastra. Mulai dari setting, opening, konflik, penokohan, setting dan ending. Acara ini dipandu oleh sachree.
Untuk memperdalam pemahaman, pada sesi selanjutnya aku dan sachree membagi peserta menjadi lima kelompok; masing-masing kelompok diberi satu cerpen karya teman-teman langitan. Lalu dalam waktu setengah jam, setiap kelompok harus selesai menuliskan unsur-unsur cerpen itu, dan mempresentasikannya di depan setelah sebelumnya memberikan gambaran singkat cerita kepada audiens.
Ternyata waktu masih tersisa lumayan banyak. Maka kami sepakat untuk ‘mempermainkan’ peserta dengan sistem copy to master. Dari cerpen tersebut, setiap peserta harus membikin ceritanya lagi.
Acara diakhiri pukul 16.30 WIC (waktu indonesia cirebon), setelah sebelumnya kita memberikan semacam pe-er agar masing-masing peserta membikin cerpen dari hasil ide yang telah dirumuskan tadi pagi, dan dikumpulkan besok. Meski acara udah ditutup, tapi sebagian peserta masih ada yang ngerubung. Kita ngobrol-ngobrol tentang permasalahan mereka dalam menulis dan bagaimana solusinya. Pukul 17.00 kami baru bisa kembali ke kamar.
***
Acara dilanjutkan pukul 08.30 Pagi itu kami ot-bond ke luar. Ini penting, mengingat cewe-cewe yang menggigit kami semalam, selidik punya selidik, ternyata pada lari ke hutan gung-liwang-liwung di samping sekolah. Maka pasukan kami yang bersenjatakan sepucuk pena dan segepok buku, kami siapkan. Aku pimpin di depan; menjadi kepala dari barisan yang mengular menyusuri jalan setapak membelah belantara. Sachree dan panitia mengiring di belakang.
Sesampainya di tempat yang bisa dibilang romantis, dan bisa juga serem, dan bisa juga acak-acakan, kami pun mengkoordinir pasukan dan mengomando mereka agar berburu setting. Silahkan tuliskan setting tempat ini. Entah itu hutannya, daun-daunnya, semutnya, langitnya, nyamuknya, sampah-sampah yang mengering, jembatan, pohon tumbang, atau apalah.
Dan begitulah. Selayak militer, mereka pun segera melaksanakan komando. Ada yang pergi ke ujung-ujung hutan. Ada yang bernaung di bawah pohon bambu. Ada yang nongkrong di pohon tumbang yang melintang. Ada pula seorang siswi yang duduk di bawah jembatan, mengamati lorong gelap sungai yang telah mengering. Semuanya tenggelam dalam dunia imaji mereka. Dalam gerakan gemulai lengan tangan menggoreskan pena di kertas kosongan. Tentu saja, likulli syain mustasnayat…. Karena ada juga yang ngobrol sendiri dan bersendagurau di pojok-pojok hutan. Tapi biarlah. Toh mereka bukan militer. Mereka dah gede-gede, dan kedatangan kami memang bukan untuk membentak….
Acara berburu setting diakhiri pukul 09.00. Sebelum bubar, kami komando lagi mereka agar sepanjang perjalanan pulang mereka membayangkan salah satu tokoh unik yang pernah mereka jumpai di sekolah atau pesantren. Baik itu guru yang killer, guru yang mbeller, santri yang suka ngiler, ataupun siswa yang funker. Pokoknya yang unik-unik. Nah, sesampai di kelas, kita pun langsung mengasah keahlian mereka untuk menggambarkan tokoh mereka. Kami patok waktu dua puluh menit. Dalam prakteknya, kami beri toleransi sampai dua puluh lima menit.
Ternyata, hasil tulisan mereka bagus-bagus. Ngimaji-ngimaji. Melangit-melangit. Dan unik-unik. Meski tentu saja bahasa tulis mereka masih kurang alus.
Oleh karena itulah, setelah break-free sekitar limabelas menit, kita melangkah ke sessi selanjutnya dengan membahas eyd dan bahasa tulis. Aku gamblangkan tentang kesalahan-kesalahan tulis yang seringkali terjadi pada pemula. Mulai dari cara bikin dialog yang kerap tanpa tanda kutip, atau pake tanda kutip tetapi ngaco; bagaimana membubuhkan tanda tanya dan tanda seru; titik-koma; dan sebagainya.
Lalu sachree menambahi dengan mengoreksi kesalahan-kesalahan umum yang ada pada cerpen mereka (yang saat itu sebagian udah dikumpulkan, sebagian belum) yang berkaitan dengan eyd dan bahasa tulis. Dan karena kesalahan besar terletak pada cara menulis dialog, maka sachree menugaskan agar mereka membikin dialog antara tiga tokoh dengan cara yang benar. Kami beri waktu sepuluh menit. Uniknya, ketika mengumpulkan tugas itu, ternyata masih saja ada beberapa yang salah. Bahkan malah ada yang bikin kayak naskah drama. Huuh!
Acara diakhiri pukul 12.00. Kita break-ishoma. Pukul 13.00 lebih sedikit acara dilanjutkan. Manual acara ngritik karya mereka terpaksa kami hilangkan mengingat tidak adanya waktu untuk membaca karya mereka. Disamping itu, sampai jam istirahat berakhir baru enam atau delapan naskah yang kami terima. Jadi, ya akhirnya kami langsung masuk acara problem solving; plus penjelasan lebih lanjut tentang matapena dan visi-misi workshop I-II-III serta kesalingterkaitannya.
Nah pada sessi problem solving ini peserta bertanya ini itu. Dalam forumku, aku ajak mereka untuk mandiri. Artinya, aku tidak serta merta menjawab masalah mereka. Tetapi aku tawarkan kepada peserta lain, siapa tahu ada yang membantu. Lumayan juga, sebagian peserta berani angkat bicara. Meski sebagian yang lain masih aja malu-malu dan malu-maluin. Setelah acara problem solving selesai, kami teruskan dengan acara visi misi workshop I-II-III. Di sini kami benar-benar menekankan agar mereka berkarya sepanjang jeda antar workshop. Karena menjadi mulgho ketika workshop I belum dipraktekkan, misalnya, tiba-tiba mereka ngikutin workshop II. Wong bikin cerita yang pendek aja belum bisa bagaimana mau bikin semi-novel yang lebih panjang lagi? Dan peserta terangguk-angguk. Kayaknya yakin banget mau bikin karya….
Acara kami tutup pukul 15.30. Kami pulang setelah makan dan mandi sekilas. Eh, dalam perjalanan dapat sms: “Pak, apa kami masih bisa ketemu di sini? Ini Musa’adah. Aku mau bicarakan buku karyaku: 12 pemusnah jenuh dan satu novelku (remaja islami)….” “Oh, kami sedang dalam perjalanan pulang, ‘Nak’…. Kau kirim aja ke matapena… atau e-mailnya…. Gimana?”
Dan kami melanjutkan jejak petualang cirebonan. Sachree naik kereta dari Prujakan—kereta jalur utara langsung menuju surabaya; aku naik kereta dari Jaksan—kereta jalur selatan langsung menuju Jogja tercinta. Dan sekali lagi, di perjalanan ini aku menemukan kawan obrolan yang asyik—yang cerita tentang hal-hal yang tidak ditemukan di buku-buku. Bertemu pengamen-pengamen nakal yang layak dijadikan bahan novel, tukang kopi yang tak lelah-lelah mondar-mandir dari gerbong ke gerbong, bencong-bencong yang menjual keseksian dan suara fals mereka begitu kereta memasuki tlatah wates hingga jogja. Dan pemandangan asyik sepanjang kereta menyusuri rel yang tak putus-putusnya itu.
Wallahu a’lam….
mahbub dje August 7, 2007
Label: WORKSHOP 4 komentar
Friday, July 27, 2007
Laporan Perjalanan Workshop II
PP Roudhotul Ulum Gondang Legi Malang
19—20 Juli 2007
by
isma
di
10:16 AM
Friday, July 27, 2007
Menuju Roudhotul Ulum…
Semula saya sama Pijer mau berangkat Kamis pagi naik travel. Tapi, karena ada pemberitahuan mendadak soal pembukaan acara yang bisa diajukan Kamis bakda zhuhur, pemberangkatan pun diajukan Rabu malam. Supaya Kamis pagi kami bisa istirahat, sebelum siang harinya memulai acara.
Perjalanan dengan travel relatif aman dan menyenangkan. Kecuali saya sama Pijer harus dibuat pusing oleh bau minyak wangi seorang kakek-kakek yang duduk di sebelah saya. *Maaf ya, Kek!* Ditambah teriakan mas-mas kribo-hitam menjelang subuh, gara-gara pak supirnya kelamaan berhenti di suatu tempat.
“Menemui istrinya apa ya!”
“Shalat kali,” celetuk dua penumpang cewek yang selalu nyekikik sejak berangkat dari Jogja.
“Shalat apa. Masjid aja belum bersuara!”
“Shalat sambil zikir. Yang lama kan zikirnya…”
Untung adu pendapat itu tidak berbuntut panjang. Sama seperti sikap Pak Sopir yang tidak mau memperpanjang pertanyaan si cowok kribo-item, “Kok lama, Mas?” Dia cuek saja, menginjak pedal gas, meneruskan kembali perjalanan. Mengantarkan saya sama Pijer sebagai penumpang pertama yang diantarkan, sampai tepat di depan rumah Kang Ipeng, pukul 06.00. *Makasih ya, Pak*
Workshop II
Pembukaan yang sedianya akan dilaksanakan bakda zhuhur, molor jadi bakda ashar. Diikuti 18 peserta, workshop II dibuka oleh Aisyah, nyai muda PP Roudhotul Ulum puteri. Setelah sambutan Aisyah, saya mengajak teman-teman untuk jajak kebutuhan. Ternyata dari ke-18 peserta, 12 anak sudah mengikuti workshop I sebelumnya, sementara 6 anak belum mengikuti.
Dari ke-18 kuisioner jajak kebutuhan, bisa dikerucutkan dalam 3 keinginan: 1) sharing pengalaman menulis, 2) teknik menulis: terutama membuat ending tulisan dan bagaimana menulis novel, 3) teknik editing naskah yang sudah ditulis. Need assessment selesai bertepatan dengan azan maghrib. Kami sepakat bubaran dulu, dan berkumpul kembali bakda isya, untuk materi pembahasan karya peserta pada workshop I sekaligus penajaman materi tentang unsur intrinsik karangan, dan pengayaan tema novel pop pesantren.
Malam pertama di Roudhotul Ulum kami manfaatkan untuk berbicara soal teknis kepenulisan. Peserta dibagi dua kelompok. Sambil membahas karya peserta, kami membincang unsur intrinsik tulisan, juga problem solving dalam menulis.
Kejutan bagus saya temukan ketika teman-teman saya minta untuk mencari gagasan cerita dari 4 artikel yang saya bagikan. Artikel pertama, tulisan Masdar tentang perekonomian pesantren. Artikel kedua, tulisan Imam Aziz soal pesantren puteri. Artikel ketiga, soal politik aliran di pesantren, dan artikel terakhir soal budaya dan tradisi pesantren tulisan Kang Maman. Ternyata mereka sudah bisa menemukan gagasan-gagasan itu. Misalnya dari aspek ekonomi pesantren, salah satu kelompok menemukan ide tentang masuknya warung serba ada yang bisa membunuh kehidupan para pemilik toko di sekitar pesantren. Dari aspek sosial, ada gagasan tentang isu gender; misalnya pembedaan peraturan dan akses informasi antara santri putera dan puteri. Atau dari aspek budaya misalnya tentang uniknya sarung dan peci.
Gagasan-gagasan itu membuat saya dan Pijer merasa optimis, paling tidak akan ada pergeseran ide tulisan dari tema-tema percintaan remaja ke tema seputar santri dan pesantren yang lebih variatif.
Demikian juga ketika esok harinya, pukul 07.00, saya dan Pijer membawa teman-teman out bond menuju halaman madrasah diniyah putera. *Sebelumnya harus pakai izin dan harus dikawal Nyai Aisyah*. Selama perjalanan, teman-teman diminta menuliskan 5 setting menarik, dan kemudian bisa diendapkan dan dirangkai dalam sesi meditasi untuk bahan tulisan. Di bawah bimbingan Pijer, ada juga yang menemukan ide unik, misal, santri yang berdagang.
Usai meditasi saya mengajak teman-teman untuk bermain lanjut cerita. Saya membagi potongan cerita Ning Aisya sejumlah peserta, untuk kemudian dilanjutkan versi masing-masing. Dan, hasilnya lumayan bagus. Mereka sudah bisa membuat potongan cerita itu sebagai opening atau bagian tengah. Meskipun belum ada yang sampai ending, karena terbatasnya waktu.
Bakda zhuhur kita kembali masuk kelas. Sebelum praktik dan penugasan, saya dan Pijer menguraikan lebih jauh tentang kerangka atau membuat sistematika cerita sebagai acuan yang bisa mereka kembangkan menjadi sebuah novel. Pijer membagi sistematika Hadrah Cinta, sementara saya menjelaskannya dengan mengurai sistematika novel komik Pilihan Terakhir yang rata-rata sudah dibaca oleh teman-teman. Dengan demikian, akan lebih bisa dipahami dan tergambar jelas.
Penugasan pun dimulai. Mereka kita minta untuk membuat kerangka cerita, sambil boleh bertanya-tanya. Sambil saya dan Pijer bermake a wish, semoga idenya bagus-bagus dan benar-benar ada pergeseran, hampir empat jam mereka membuat kerangka. Bukan kerangka yang sudah jadi memang. Masih seperti sinopsis, dan masih harus dikoreksi dan dikasih masukan tentunya.
Kerangka cerita yang mereka tulis tidak sore itu kita bahas. Ada beberapa yang bersetting pesantren, meskipun masih bertema kisah cinta yang sudah biasa. But, pergesekan tidak akan berakhir sampai di sini. “Kalau besok ada koreksi dan masukan untuk kerangka teman-teman, bagaimana?” tawarku ke teman-teman.
“Nggak papa, Mbak. Malah bagus. Kita kan belum bisa,” jawab mereka spontan. Detik itu, aku dan Pijer bisa menangkap dua pancaran dari mata mereka, pesimis bahwa menulis novel itu tak akan pernah bisa mereka lakukan dan optimis bahwa mereka bisa. Semoga, pancaran kedua yang akan jadi pemenangnya.
Kembali ke Jogja
Usai penutupan pukul 17.30, Kang Ipeng sekeluarga sudah menjemput. Sempat ngobrol dan berbagi cerita dengan Aisyah dan Kak Atho’. Sebelum kemudian mohon pamit, dibelikan oleh-oleh sama Kang Ipeng, menunggu travel di rumah Kang Ipeng, dan go to Jogja.
Kalau berangkatnya sempat heboh gara-gara minyak wangi dan si mas-mas kribo, pulangnya heboh sama salah seorang penumpang yang tidak mau dijemput pakai mobil jemputan. Dia maunya dihampiri mobil travel langsung. Padahal pak sopir masih asing dengan Malang, ditambah alamat rumahnya biarpun gedongan ternyata ndempis masuk gang. Alhasil, travel pun pun jadi heboh oleh suara gerundelan dan omelan Pak Sopir. Hm, ada-ada saja!
Label: WORKSHOP 0 komentar
Thursday, May 31, 2007
PILOSOPI PUTASO DAN POTAKER
Sebuah catatan Workshop II matapena di PP Al-falah II Nagreg Bandung
Senen-Selasa, 14-15 Mei 2007
by
matapena
di
3:29 PM
Thursday, May 31, 2007
“Mau tidak mau kamu harus mau berangkat duluan. Minggu!”
“Ra iso! Mau tidak mau kita harus berangkat bersama,”
“Why? Aku tidak bisa berangkat minggu!”
“Ya, senin!”
Dua orang itu adalah Zaki dan Mahbub.
Dan sore hari Sabtu, 12 Mei akhirnya Mahbub nongol dari balik pintu kamar Zaki.
“Aku berangkat duluan!”
“Yes!” Zaki lega. Akhirnya ia bisa lebih tenang melakukan perjalanan ke Ponorogo. Mahbub pun berangkat ke Gombong Kebumen Jateng bareng dua cewek imut, Nahwa dan emboknya Nahwa. Baru dari sana ia berangkat ke PP Al-Falah Nagreg, Bandung untuk ngisi Workshop II. Ia sampai di bawah tulisan selamat datang persis pukul 17.30 WIB.
Sedang Zaki? Yah, dia berangkat dari Jogja naik Bus jurusan Cirebon hari senin, 13 Mei pukul 10.55 WIB dari terminal Giwangan. Turun di Terminal Wangon Banyumas dan melanjutkan perjalanan ke Nagreg dengan Bus jurusan Bandung.
20.00 – 23.00 WIB
Di Al-Falah, acara dimulai sesuai rencana yaitu pukul 20.00 WIB hari Senin, 14 Mei. Yang ngisi Sobri Obri dari Alumni, Kariem Abdul yang Asistennya Sobri, adiknya mas Ahmad Fikri AF, yaitu Ahmad Dawami AD, serta Mahbub Jamaluddin sang peworkshop. Tak lupa acara itu didampingi bagian kesiswaan pondok, Ustadz Uyun yang hari itu rambutnya tampak lebih gondrong daripada setahun yang lalu ketika Matapena pertama kali ke Al Falah.
Materi pertama yang berisi provokasi buat anak-anak untuk nulis novel pesantren berjalan mulus. Seperti halnya kalimat Mahbub yang keluar dari mulutnya, “Karya yang bagus adalah karya yang selesai.”
Yang membuat kaget adalah kenyataan bahwa yang ikutan Workshop kali ini ada 50 lebih santri. Puterinya ada 49 dan putra ada 10, jadi jumlahnya 59. Dari 59 Santri itu yang ikutan WS I hanya 7 orang. Lebih banyak anak barunya.
Acara ditutup pukul sebelas malem meski para audiens masih bersemangat bab moderator si Obri Sobri tidak tega demi melihat mata temen-temen pemateri sudah 5 watt, terutama Ahmad Dawami AD yang dengan lirih mulutnya mengeluarkan bunyi, “Gue lagi putaso neh!” Dan disepakatilah besok pagi mereka akan mulai acara pukul 06.00 tepat.
07.00-12.15 WIB
Tepat! Tepat melesetnya. Baru pukul 7 mereka berkumpul. Di kelas dan dilanjutkan Out bond ke bukit di belakang pondokan.
Seletah sampai di tempat tujuan sekitar satu kiloan dari kelas, Zaki tampak terbengong-bengong, “Wuih, subhanallah, bagus banget nih bukit,” selorohnya. Yap, di sana memang terbentang pemandangan yang asyik banget; sebuah bukit kapur yang berdanau dua, berait putih dengan batu-batu hitam yang menjulang kokoh di atasnya. Meski tak 100% alami, tapi masih menyimpan keindahan alam yang pas banget buat acara pagi itu, yaitu melatih kepekaan pancaindera dengan Olah suara, olah tubuh, olah muka, olah rasa, dan olah-olah yang lain.
Setelah itu mereka dibawa satu persatu oleh para pemateri, Zaki dan Mahbub, dibantu oleh, Kariem, Sarti Iman, dan Ahmad Dawami AD, menuju tiap-tiap obyek yang diamati yang terdiri dari; batu, air, akar, daun, pohon, menara, tanah, dan lain sebagainya. Sayang, tak ada satu pun yang ikutan mengamati potaker di pucuk batu hitam paling besar kecuali Ahmad Dawami AD.
Setelah pukul 9, mereka kembali ke pondok untuk mandi dan makan dan berkumpul lagi pukul 11.00 untuk evaluasi hasil pengamatan benda di bukit hingga pukul 12.15.
Diluar dugaan, hasil dari pengamatan mereka ternyata unik-unik. Ada yang mengamati pohon duri lalu menuliskan tentang kisah panglima genit. Ada yang mengamati air lalu menulis tentang patah hati, dan lain sebagainya. Ternyata pengamatan dengan panca indera, mampu memberikan ide yang segar. Para peserta perlahan mulai berjalan menuju pintu pembebasan dari belenggu indera penglihatan. Bravo!
Setelah selesai pembahasan, materi dilanjutkan tentang pengayaan materi ekstrinsik karangan berupa kondisi sosial, ekonomi, politik dan hal lain berkaitan dengan kondisi pesantren. Endingnya adalah pemberian PR membuat alur Novel dari hasil pengamatan mereka.
14.11 – 16.30 WIB
Setelah makan siang, dan shalat serta mandi yang kedua, acara selanjutnya adalah pembahasan kembali masalah alur. Sebagian besar masih kebingungan membuat alur novel. Baru ketika dikasih sedikit contoh, para peserta kemudian bisa praktik dan membuka cakrawali idenya. Dan hasilnya, dievaluasi dan dikasih masukan sama Mahbub dan Zaki. Di situ mereka diajak membuka pintu-pintu idenya dari berbagai arah, hingga akhirnya mereka pada nyadar bahwa ternyata, satu hal yang tampaknya sederhana ternyata bisa dibuat seribu macam cerita. Di situ juga dibahasa panjang lebar masalah membuat konflik yang berliku. Untungnya para peserta tidak ada yang ikutan konflik. Peace, man! Kita harus tetap Putaso!
20.00 – 23.00 WIB
Meski merombak total jadwal yang semula kita buat, tapi akhirnya semua materi dapat diakomodir. Pada malam terakhir, materi dan praktik tentang opening-ending, karakter serta suspens di obok-obok habis. Dan, acara tuntas di penghujung pukul sebelas malam.
Nah, setelah selesai dan acara ditutup oleh Obri Sobri, akhirnya gelombang massa yang merangsek ke depan tak bisa terbendung. Sambil santai minta tanda tangan, komentar serta gambar-gambar lucu, mereka tanya-tanya masalah penulisan banyuak banget! Hingga tak terasa dah nyampai pukul 12 kurang seperempat. Namun sayang di Bandung tidak ada foto, akhirnya kita tidak ada kenangan dalam bentuk foto, dech! Tapi santai masih ada kenangan dalam bentuk poto! Hehehe… dan tentu saja putaso.
06.00 – 09.00 WIB
Pagi yang berkabut, rengang suara ngaji menderu. Semua santri sedang suntuk mengaji mendengar ustadz membalah kitab. Lima buah angsa berdzikir putaso. Lalu…
Drrrttt…ddrrrttt… drrttt…
Getar HP menandakan ada sms.
Pg2 enknya minum teh
Dari:
Soobery
06.11 16/05/07
Di dalam kobong asatidz di pojokan komplek, anak-anak yang terjajar rapi di atas tempat tidur itu terprovokasi kecuali Ahmad Dawami AD yang lagi sibuk ngurusi ‘putaso’. Akhirnya kami berempat menyusuri jalanan membelah Al-Falah yang belum lama di aspal menuju warung kopi di tepian rel kereta api.
Sambil merasakan getaran tanah ditimpa roda-roda besi rel kereta api, kami saling menyeruput kopi dan the masing-masing. Dan terjadilah percakapan pagi.
“Ada bebarapa hal yang bisa kita pelajari:
- putaso
- putaso
- putaso
- dan potaker.” Kata Mahbob mengawali percakapan.
Kariem mencoba untuk mengerti.
“Sebenarnya kita bisa menggali lagi makna terdalam putaso. Sayang sang suhu sedang tak ikutan,” Zaki menambah.
Kariem masih mencoba untuk mengerti.
Soberi hanya manggut-manggut. Tampaknya ia punya prespektif lain tentang putaso. Katanya, “Salah satu hakikat putaso adalah bahwa kadang apa yang kita rencanakan, tak musti dapat terlaksana sedemikian.”
Kariem terus berusaha mengerti.
Gantian Mahbub menambah, “Betul, putaso juga bermakna, kebijakan adalah ketika kita mampu memberi solusi terbaik untuk segala kejanggalan yang terjadi.”
Kariem semakin berkeringat saja.
“Meski anak-anak yang ikutan kebanyakan baru, artinya sempat terputus dari tali silatuworkshop pertama, tapi tak berarti mereka tak bisa mengikuti. Aku yakin untuk workshop yang ketiga, sebuah kejutan akan mereka getarkan pada seluruh bulu kuduk kita.”
Zaki tampak berapi-api.
Dan semuanya berseru, “PASTI…!”
Nah, akhrirnya Kariem dapat lega menghirup teh pahitnya karena bisa paham makna putaso yang sesungguhnya yaitu: optimisme dan kesungguhan.
“Lalu, makna potaker apa?” tiba-tiba tanpa di nyana penjual kopi ikutan nimbrung.
Dengan kompak keempat pemuda itu menjawab, “Tanya aja ndiri ama suhu Ahmad Dawami AD.”
“!!!???...” penjual kopi bengong.
Label: WORKSHOP 1 komentar
Thursday, December 21, 2006
TATAPAN SEPASANG MATA BIRU
by matapena di 9:15 AM Thursday, December 21, 2006Label: WORKSHOP 0 komentar
Wednesday, July 26, 2006
Asyiknya Ikutan Workshop!
by isma di 9:45 AM Wednesday, July 26, 2006
Label: WORKSHOP 0 komentar
