Monday, January 19, 2009

Di Kaki Bukit Merapi
2-4 Januari 2009
Liburan Sastra di Pesantren II

Monday, January 19, 2009

Berlibur, bersastra, dan berkarya, tetap menjadi motto kegiatan Liburan Sastra di Pesantren II yang digelar oleh Komunitas Matapena di Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta. Empat puluh lima peserta datang dari Jawa Timur dan Yogyakarta untuk mengikuti kegiatan ini dari tanggal 2-4 Januari 2009.

Diiringi gemericik hujan, kegiatan diawali dengan rancak musik hadrah oleh santri-santri Pandanaran di Aula kompleks puteri. Usai seremonial pembukaan, Akhmad Fikri yang kemudian disusul oleh Kuswaedy Syafii berbicara tentang “Sastra, Pesantren, dan Pembebasan”. Bahwa sastra sebenarnya bagian tak terpisahkan dari kehidupan pesantren. Santri bersastra selama 24 jam, lewat nazham, dzibaan, shalawatan, usfuriyah. Sastra bagi santri akan berefek pada penguatan dzauq atau kepekaan pada rasa, dan kepekaan ini yang akan meluaskan cakrawala. Bagi Kuswaedy, cakrawala luas itulah pembebasan.

Fokus liburan sastra kali ini adalah penulisan cerpen. Dimulai dengan pengumpulan naskah cerpen tulisan temen-teman, sebagai bahan diskusi kecil di pematang sawah Pandanaran. Sebelumnya ngobrol kepenulisan dengan Mahbub dan Sachree. Mereka bercerita tentang proses kreatif mereka. Seperti yang dituturkan Hilma sang moderator bahwa setiap orang yang menulis pasti punya kisah dan cerita dalam kepenulisannya. Sementara, untuk kisah dan cerita teman-teman peserta dieksplorasi labih luas di kelompok kecil, di pematang sawah Pandanaran.

Usai bercengkerama dengan alam sawah, teman-teman diajak untuk kembali ke masa kecil mereka, bermain gobak sodor. Kembali merenda lokalitas yang mulai tercerabut. Ada yang masih ingat tentang permainan itu, ada juga yang sudah melupakan atau belum pernah mengenalnya. Cunik, salah seorang peserta dari Tulungagung berkomentar, “Masak pada nggak tahu sih permainan ini?” Tapi, seru! Dari peserta, fasilitator, sampai panitia, semua terlibat dalam permainan dan tertawa bersama. Agus Noor dan Joni Ariadinata yang didaulat untuk berbicara dengan detil soal ide-alur dan penokohan berhasil memukau peserta. Pada sesi pertama, bakda zhuhur, Agus menjelaskan bagaimana ide itu penting dicatat. “Saya buat file kalimat puitik. Saya tulis, tanpa tahu itu akan berguna kapan atau enggak. Misalnya, Lima Laki-Laki Lumpuh.” Selain membagi tips bagaimana menangkap ide dan merumuskannya, dan memompa semangat peserta untuk “memaksa diri” terbiasa menulis seperti yang ia lakukan dan berhasil. “Kejam pada diri sendiri adalah latihan menulis sebagai profesi. Seperti naik sepeda. Semakin ahli dan terbiasa. Menulis itu seperti naik sepeda, ada banyak cara untuk melakukannya. Artinya problem menulis itu ditentukan oleh bagaimana penulis itu.”

Pada sesi bakda ashar, Joni menjelaskan tentang penokohan secara detil. “Banyak cerpen yang terbit, tapi begitu banyak yang kita lupakan, salah satu sebabnya karena para penulis tidak memperhatikan tokoh yang dia tulis,” begitu ia memulai. Dan, meluncurlah banyak tips bagaimana menuliskan tokoh yang unik dan tak terlupa. “Untuk seorang pemula, cari sampel. Karena untuk menandai cerita, tokoh memang harus unik. Pembohong yang harus goblok banget, lugu ya lugu banget, jangan yang setengah-setengah. Ini kan mudah dilupakan bisa juga lewat psikologi nama, setiap nama kan punya muatan yang berbeda. Misalnya, Joni kesannya dugal, suka memperkosa orang. Gak mungkin orang desa yang jujur dan dekil.”

Malam harinya, teman-teman menonton film The Fredom Writer. Film tentang kekuatan sebuah tulisan yang bisa membongkar endapan dendam dan konflik antarras para murid di sebuah kelas. “Saya awalnya tidak tertarik. Tapi, setelah mengikuti, ternyata sangat inspiratif. Problem pendidikan yang kebetulan sedang saya hadapi di lingkungan tempat saya mengajar,” jelas Zakaria takjub. Dan, hal senada juga diungkapkan oleh peserta yang lain.

Selain pematang sawah Pandanaran, pada hari kedua teman-teman juga diajak berdekatan dengan alam kaki merapi, sambil berbincang soal setting dengan Evi Idawati. Menurut Evi, penulisan setting yang baik, mulailah dengan menuliskan apa adanya dari objek yang ditangkap, baru kemudian dibumbui dengan imajinasi dan pemaknaan. “Bahan penulisan setting bisa dengan datang langsung ke suatu tempat, wawancara, foto, gambar, rekaman video.” Dari kaki merapi, teman-teman dikondisikan untuk pementasan malam penutupan. Mementaskan Satu Babak tentang Hujan, karya Shachree adaptasi dai cerpen Aphoria Hujan karya Rasyid A, salah seorang peserta dari Darul Ulum Jombang. Malam penutupan dimeriahkan oleh pentas dadakan dari santri puteri Pandanaran juga peserta dengan pembacaan puisi dan olah suara. Faisal Kamandobat dan Retno juga ikut membacakan puisi. Kang Acep dan Goenawan Mohamad yang sedianya diundang hadir untuk orasi budaya bersama Bisri Efendi dari Lipi, berhalangan hadir. Dalam orasinya, Bisri mengungkapkan salah satu temuan filologi menarik tentang komik yang ditulis oleh seorang kiai. Selain bahwa sastra pesantren seyogianya tidak membuat ruang sendiri dan eksklusif.

Usai penutupan, teman-teman berkumpul di aula untuk acara perkomunitasan Matapena dan perpisahan. Banyak kesan, banyak kenangan, banyak semangat untuk tetap menulis. Tunggu kiriman antologi cerpen teman-teman… Sampai jumpa di Liburan Sastra berikutnya ya…

0 komentar

Friday, December 12, 2008

Liburan Sastra di Pesantren II

Friday, December 12, 2008

Komunitas Matapena akan kembali menggelar kegiatan Liburan Sastra di Pesantren. Buat teman-teman yang ingin ikutan, informasi lengkapnya sebagai berikut:
Kegiatan ini berangkat dari kegelisahan akan minimnya apresiasi sastra para siswa di lembaga pendidikan formal. Selain sebagai tawaran kegiatan positif bagi remaja di masa liburan sekolah, untuk penggalian dan pengasahan skill writing di kalangan remaja. Maka, diadakanlah kegiatan LIBURAN SASTRA DI PESANTREN (LSdP). Dengan tema: “BERLIBUR, BERSASTRA, BERKARYA”

Target Kegiatan:
-Peserta dapat mengapresiasi karya sastra.
-Peserta bisa menuliskan ide, imajinasi, dan gagasan dalam bentuk karya sastra.
-Peserta bisa menjaga kekompakan dan saling menghargai antarteman yang berbeda latar belakang sosial, budaya, dan agama.



Liburan Sastra di Pesantren adalah pelatihan sastra yang dilaksanakan dalam nuansa liburan bertempat di pesantren. Untuk LSDP II ini, Materi kegiatan difokuskan pada teknik penulisan cerpen meliputi: penentuan ide dan gagasan, alur dan penokohan, setting, dan apresiasi cerpen dalam pementasan. Ditemani oleh para pemateri dari sastrawan nasional seperti Agus Noor dan Joni Ariadinata. Dengan metode fasilitasi dan memanfaatkan potensi alam dan lokal. Target materi dalam liburan ini adalah antologi cerpen hasil karya para peserta. Puncak kegiatan akan diisi dengan pementasan cerita pendek, pembacaan puisi oleh Faisol Kamandobat dan Aning Ayu Kusuma, dan orasi budaya oleh Bisri Efendi.

LSDP II akan dilaksanakan pada Jum’at, Sabtu, Minggu, tanggal 2, 3, 4 Januari 2009. Bertempat di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta. Rencananya akan diikuti oleh 50 remaja, berusia 18-22 tahun, berasal dari seluruh Indonesia dan memenuhi syarat-syarat pendaftaran.

Ketentuan Pendaftaran:
-Peserta adalah remaja berusia 18-22 tahun.
-Mengisi formulir pendaftaran.
-Membayar kontribusi peserta, dan akan mendapatkan makalah, tanda pengenal, kartu anggota komunitas, tas, sertifikat, dan buku antologi cerpen peserta
-Menyerahkan photo diri (pose bebas tapi sopan, ukuran maksimal 3R)
-Menyerahkan salah satu karya yang pernah dibuat, baik yang pernah dimuat di media massa maupun yang belum.
-Peserta bersedia tinggal di Pondok Pesantren selama kegiatan.
-Pendaftaran bisa dilakukan di sekretariat panitia; Komunitas Matapena, Jl Parangtritis Km, 4,4 Salakan Baru No. 1 Sewon Bantul Yogyakarta.
-Pendaftaran bisa melalui email: matapena_jogja@yahoo.com. Hp: 0818374593 (Sdri. Khilma) atau 085878933456 (Sdri. Isma).
-Pendaftaran sampai hari Senin, 29 Desember 2008.

So, jangan sampai ketinggalan ya, karena peserta terbatas.

0 komentar

Friday, November 21, 2008

Tentang Komunitas Matapena

Friday, November 21, 2008
Komunitas Matapena adalah komunitas literasi yang lahir dari kegelisahan remaja Indonesia terhadap budaya generasi bangsa. Komunitas Matapena memilih tradisi baca tulis sebagai jalan untuk mencoba mengubah diri mereka sendiri dan remaja Indonesia ke arah yang lebih baik. Komunitas Matapena adalah sebuah rumah tempat kita dapat berkreasi bersama, belajar, berdiskusi, berorganisasi, mengunduh ilmu dan pengalaman, mengasah potensi dan ketrampilan, dan segala hal yang takkan terlupakan sebab menentukan arah hidup kita ke depan. Komunitas Matapena menjadi ajang kita menulis dan meramu pengalaman hidup kita, dari yang lucu-wagu yang mungkin dianggap sepele orang, sampai yang kritis-nyinyir yang bisa dibaca serius, semua adalah cerita manis dari bilik-bilik pesantren, dari kelas-kelas sekolah, dari kamar-kamar kos, dari ceruk jiwa remaja Indonesia.
VISI
Komunitas Matapena bertujuan menciptakan budaya literasi di kalangan remaja dengan menggali kekayaan lokal, nilai dan tradisi yang mengakar, untuk pengayaan khazanah kesusastraan Indonesia.
MISI
Komunitas Matapena berkomitmen menyebarkan gagasan tentang sastra pesantren dan sastra yang berpijak pada nilai-nilai lokal dan tradisi yang membumi, yang mengedepankan nilai-nilai tasamuh (toleransi), tawazun (proporsional), ta'adul (keadilan), dan tawasuth (moderat). Komunitas Matapena juga menawarkan diri sebagai rumah kreatif bagi remaja untuk mengembangkan potensi, minat, dan bakat dalam menulis dan bersastra. KEGIATAN 1. SMS Sekolah Nulis Sampeiso. Keren kan? Sampeiso bahasa Indonesianya, kira-kira ya Sampai Bisa. Terbayangkan gak sih, kamu ikutan sekolah menulis dengan harga terjangkau, tapi dipantau terus sampai kamu benar-benar bisa menulis? Di SMS, kamu akan dibimbing para sastrawan ternama, belajar bersama dengan para fasilitator, serta berbagi dan berkreasi dalam literasi. 2. Bikin Buletin Ini merupakan ajang kamu berlatih menulis, berlatih jurnalistik, dan belajar berorganisasi. 3. Tahlilan Sastra Tahlian Sastra, sebuah forum kamu berekspresi. Baca puisi, baca cerpen, atau baca novel di atas panggung. Di sini kamu dapat ketemu pula dengan komunitas lain dan berjejaring. 4. Ngobrol Sastra Wah, di forum ini kamu bakalan surprise ketemu sastrawan-sastrawan besar. Yang pernah datang dan ngobrol dengan anggota Komunitas Matapena, misalnya, Ahmad Tohari, D. Zawawi Imron, Acep Zamzam Noor, Agus Noor, Joni Ariadinata, Agus Sunyoto, Abidah el-Khaeliqy, Binhad Nurrohmat, Evi Idawati, dan lainnya. 5. Bermaya Kita juga dapat ngirim karya ke dunia maya, melalui web-site Komunitas Matapena yang cantik dan ciamik. Alamatnya, www.matapena.org 6. Nerbitin karya Sampai saat ini, Komunitas Matapena sudah nerbitin 30-an novel, kumpulan cerpen, dan kumpulan puisi. Ingin menyusul? Karya kamu yang layak terbit pasti diterbitin deh. 7. Roadshow Para penulis Komunitas Matapena juga melaksanakan Roadshow ke sekolah dan pesantren di beberapa daerah. Sampai saat ini sudah ada 150-an lebih sekolah dan pesantren yang dikunjungi oleh Komunitas Matapena. 8. Liburan Sastra di Pesantren Emang Sastra diliburkan? Nggaklah. Maksudnya, Komunitas Matapena juga mengadakan kegiatan pendampingan sastra yang dikemas secara fun di waktu liburan sekolah semester satu (bulan Januari) dan semester 2 (bulan Juli) . Sudah dua kali Komunitas Matapena mengadakan Liburan Sastra, yakni di Pesantren Kaliopak (2008) dan Pesantren Sunan Pandanaran (2009), dihadiri oleh sastrawan dan budayawan nasional dan ikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia. 9. Workshop dan Pelatihan Komunitas Matapena juga kerap mengadakan Workshop dan Pelatihan, di antaranya: Workshop Penulisan Novel, Workshop Penulisan Cerpen, Workshop Penulisan Skenario, Workshop Jurnalistik, dan lain-lain.

0 komentar