Monday, March 26, 2007

BERITA:
Tempo edisi 26 Februari-4 Maret 2007

Teenlit dari Bilik Pesantren

Monday, March 26, 2007

Novel-novel pop marak diproduksi para santri. Tabir pesantren diungkap dengan gaul.

Cinta kemuliaan, membuat Dahlia rela banting tulang menjadi penari untuk menghindari keluarganya yang miskin. Cinta kebaikan membuatnya selalu ingin belajar untuk lebih baik. Dahlia memang perempuan yang dipenuhi cinta. Tak heran jika puetra dua pengasuh pesantren, Aiman dan Bilal jatuh hati padanya.
Jalinan cerita juga memunculkan konflik. Mbah Jalaluddin Rumi, ayah Aiman, membela Dahlia ketika Kiai Umar dan ormas Islam lainnya menyudutkan Dahlia dengan tariannya--yang dianggap haram.
Ada kisah lain lagi. Seuntai mawar dan surat berisi puisi tanpa nama pengirim tiba-tiba muncul di asrama pesantren puteri tiap akhir pekan. Mawar dan puisi itu ditujukan kepada Zahra. Pesantren puteri itu pun jadi geger.
Zahra tak tahu siapa pengirimnya. Karena itu ia bungkam ketika ditanya oleh petugas keamanan pondok. Gosip pun bererdar. Ada lesbi di asrama itu yang diam-diam mencintai Zahra. Sanah, santriwati senior yang selama ini dikenal dekat dengan Zahra, jadi tertuduh.
Isu ini khas pesantren, karena memang tak boleh seorang laki-laki pun memiliki akses ke pesantren puteri, kecuali keluarga kiai.
Dua cerita di atas adalah cuplikan novel Tarian Cinta dan Gus Yahya Bukan Cinta Biasa, dua dari banyak novel bergaya teenlit yang lahir dari pesantren, sekolah yang selama ini dianggap tidak gaul.
Kehadiran teenlit (teen literature) pesantren adalah buah dari maraknya novel teenlit impor yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Teenlit terjemahan itu menampilkan tokoh dan gaya hidup remaja kota yang relatif liberal. Remaja belasan tahun sudah terbiasa berciuman dengan lawan jenis dan pergi ke pesta-pesta.
Novel remaja, karya anak muda yang hidup dalam dunia yang berkecukupan ini, kerap menampilkan tokohnya yang mempunyai mobil probadi, kerap berlibur ke seantero dunia, nongkrong di kafe, memuja bintang pop, dan berbelanja di pertokoan terkenal.
Dengan mengadaptasi gaya dan teknik penceritaan seperti itu, sejumlah pengarang muda di Indonesia menulis teenlit ala Indonesia. Jumlahnya sangat fenomenal. Bahkan, beberapa di antaranya telah diangkat ke layar perak dan layar gelas.
Kini hadir pula novel pop gubahan para santri belia yang memberi warna tersendiri dalam dunia buku sastra remaja.
Teenlit pesantren berbicara tentang remaja dan ditulis oleh remaja. Fina Af’idatussofa, penulis Gus Yahya Bukan Cinta Biasa, misalnya tahun ini baru menjelang 17 tahun. Sementara Maia Rosyida, penulis Tarian Cinta, belum lagi 20 tahun.
“Gaya bahasa yang digunakannya pun sama, yakni bahasa gaul remaja yang sedang tren: penuh dengan istilah Inggris, banyak akronim dan style Jakarta,” jelas Redaktur Majalah Seni Gong, Hairus Salim.
Tapi jika ditelesik, kata Manajer Matapena, Nur Ismah, tetap ada sesuatu yang berbeda dalam teenlit pesantren. “Ada semacam pandangan khas pesantren, yang membuat ia tidak sekadar jadi cerita cinta remaja saja,” jelas Ismah (baca: Menelusuri Lokalitas Pesantren).
Ia lalu mencontohkan karyanya, Jerawat Santri. Ada tokoh Mahsa yang memberikan semacam kuliah mengenai reproduksi berdasarkan kaca mata fikih dan psikologi sosial kepada yuniornya, Una. Dalam Coz Loving U Gus karya Pijer Sri Laswiji (2006), ada tokoh Rara yang menolak poligami. Untuk itu, Rara yang berjilbab modis mesti membatah dan berdebat dengan para seniornya di kampus.
Sedang dalam Taria Cinta karya Maia Rosyida dikisahkan kearifan dari Mbah Jalalauddin Rumi. Sang kiai tak serampangan memberi fatwa haram tarian Dahlia yang meniru gaya Toxis-nya Britney Spears.
“Nah, itu kan bukan sekadar cerita-cerita remaja to?” tegas Nur Ismah.
Ciri khas teenlit pesantren juga dipaparkan Hairus Salim. “Ada istilah-istilah fikih, referensi kitab dan buku pesantren, humor ala pesantren, bahasa prokem pesantren, dan lain-lain,” kata Salim yang sering meneliti sastra pesantren. Tengok polah Hadziq, santri Mbah Jalaluddin Rumi dalam Tarian Cinta, yang bersemangat membahasa kitab Qurratul Uyun. “Sengaja milih kitab yang agak menghibur. Maksudnya yang agak ‘porno’ biar nggak terlalu pusing dengan rumus nahwunya,” tulis Maia Rosyida dalam Tarian Cinta.
Ana FM dalam Cinta Lora menggunakan istilah ilmu hadis, serta panggilan khas untuk putera kiai di Madura yaitu Lora—disingkat dengan Ra—juga ditampilkan. “Menrut cerita yang dapat dipertanggungjawabkan alias mutawatir, Ra Faris dikenal sebagai aktivis yang superaktif dan tidak pernah ada kata cewek dalam kamus hidupnya,” tulis Ana.
Karya Fina, Maia, Ismah, Ana, dan banyak penulis muda lainnya itu dipublikasi penerbit Matapena yang berbasis di Yogyakarta. Lembaga ini memang paling giat membidani kelahiran teenlit pesantren. Kehadiran novel-novel itu dimaksudkan untuk mengisi kekosongan dari novel remaja yang sudah terbit. “Matapena ingin memperkenalkan sosok remaja pesantren yang selama ini luput dari perhatian, bahkan sering dianggap tidak gaul,” kata Nur Ismah.
Untuk kepentingan ini, dibentuklah Komunitas Matapena. Ini adalah komunitas penulis muda pesantren. Mereka berkeliling ke sejumlah pesantren, menggelar diskusi buku dan membuat workshop penulisan. Kini sudah ada 45 rayon yang berbasis di pesantren-pesantren di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Untuk Jakarta dan Banten sedang dirintis. “Jumlah penulis yang telah direkrut sekitar 300-an,” ujar Ismah.
Sejak berdiri pada akhir 2005, Matapena berhasil meluncurkan 20 novel. Beberapa di antaranya telah dicetak ulang, bahkan Santri Semelekete karya Ma’rifatun Baroroh dan Pangeran Bersarung sudah dibeli sebuah rumah produksi untuk diangkat ke layar sinetron.
Sedangkan Forum Lingkar Pena (FLP) yang juga giat mengembangkan kemampuan menulis di kalangan remaja Islam mengakui tidak mempunyai lini khusus yang menangani sastra pesantren. “Walaupun begitu, ada juga novel dari komunitas kami yang mengambil latar cerita kehidupan pesantren,” kata Ketua FLP Yogyakarta I. R. Wulandari.
Menurut Salim, pertumbuhan generasi baru penulis novel dari pesantren saat ini bagi cendawan di musim hujan. Unik, memang. Mengingat umumnya pesantren masih melarang santrinya membaca buku-buku ‘putih’, yaitu buku karya penulis anyar apalagi dianggap pop. “Mereka hanya diwajibkan untuk membaca dan mempelajari kitab kuning, yakni buku-buku keagamaan yang ditulis dalam bahasa Arab,” ungkap Salim.
Pandangan ‘kaku’ seperti itulah yang menyulitkan Ismah masuk ke pesantren. Tetapi setelah melakukan pendekatan kepada kalangan pimpinan pondok bahwa gerakan ini untuk kepentingan satri, barulah kehadiran mereka disambut baik. “Kini bukan lagi kami yang menawarkan, sejumlah pesantren juga telah meminta para penulis Matapena untuk memberikan workshop penulis di pesantren-pesantren mereka,” jelas Ismah.
Jika diperkirakan ada sekitar 3 jutaan santri di seluruh Indonesia, maka hadirnya karya-karya remaja pesantren jelas cukup rasional dari segi pasar. Tapi bukan soal pasar yang paling penting. Komunitas Matapena, dengan caranya sendiri telah mengembangkan kegiatan menulis. Mendorong minat baca, kini mereka jadikan sebagai suatu gerakan. Sebuah tindakan terpuji yang patut didukung, bukan dipasung.

Oleh: Nurul H. Maarif, Gamal Ferdhi

0 komentar

Sunday, March 25, 2007

BERITA:
Tempo edisi 26 Februari-4 Maret 2007

Menelusuri Lokalitas Pesantren
Nur Ismah, Manajer Matapena

Sunday, March 25, 2007

Kiprah perempuan mungil itu memang tidak bisa dipisahkan dari teenlit (teen literature) pesantren atau yang kadang disebut novel pop pesantren. Nur Ismah, nama perempuan kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, 23 Desember 1978 ini, adalah Manajer Matapena, sebuah divisi di penerbit Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) Yogyakarta.
Matapena khusus menerbitkan karya-karya sastra remaja dari kalangan pesantren dan bercerita tentang remaja pesantren. Namun Ismah bukan sekadar manajer. Penulis dengan nama pena Isma Kazee ini, telah membesut dua teenlit pesantren yaitu Jerawat Santri (2006) dan Ja’a Jutek (2007).
Pesantren memang bukan dunia asing bagi Ismah. Pahit manisnya masih membekas hingga sekarang. Maklum, ia menghabiskan tujuh tahun masa remajanya di Pesantren Putri Al-Fathimiyyah, Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur.
Selepas dari pesantren, Ismah hengkah ke Yogyakarta dan mengambil kuliah di Jurusan Sastra Arab, Universitas Islam Negeri (UIN), Sunan Kalijaga. Kegiatan menulis yang ia pupuk sejak nyantri dan keterlibatannya dalam dunia pers mahasiswa, mengantar Ismah ke dunia kini.
Ismah punya alasan kenapa harus membesarkan teenlit pesantren. “Selain ingin menandingi gaya hidup remaja perkotaan yang ditawarkan teenlit pada umumnya, juga ingin menunjukkan Islam pesantren yang membumi.”
Hal itu ia tunjukkan dalam karyanya. Tengok saja Jerawat Santri. Di situ ada tokoh Mahsa yang memberikan semacam kuliah mengenai reproduksi berdasarkan kaca mata fikih dan psikologi sosial kepada yuniornya, Una.
Contoh lain bisa disimak dalam Coz Loving U Gus karya Pijer Sri Laswiji (2006). Di sana, ada episode ketika tokoh Rara menyatakan poligami. Untuk itu, Rara membantah dan mendebat para senior yang disebutnya sebagai kalangan dombor. “Nah, itu kan bukan sekadar cerita cinta remaja toh?” kilah Nur Ismah.
Ismah menambahkan, ada kisah tentang kearifah Mbah Malaluddin Rumi, dalam Tarian Cinta karya Maia Rosyida. Pesan pokoknya: tak serta-merta memfatwa haram tarian Dahlia yang mirip Toxic-nya penyanyi tenar Britney-Spears. “Kalau novel lain, hal itu pasti haram,” kata Ismah.
Namun dalam cara berbicara, hobi, pakaian, selera musik dan film, jelas Ismah, teenlit pesantren tetap mengikuti pakem zamannya. “Remaja di mana pun, kini memiliki kultur gaul yang pada dasarnya adalah kultur global atau kultur MTV. Televisi jelas menjadi ‘imam’ dari kultur ini,” kata Ismah.
Karena itu, ujar Ismah, banyak orang menilai teenlit pesantren tak beda dengan teenlit pada umumnya. Bahkan dituding tak punya ciri khas. “Penilain ini kalau semata melihat kemasannya,” kata mantan reporter majalah perempuan dan anak MITRA YKF-LKPSM Yogyakarta ini.
Tapi jika ditelesik, kata Ismah, ada ciri khas dalam teenlit pesantren. “Ada semacam pandangan khas pesantren yang membuat ia tidak sekadar jadi cerita cinta remaja saja,” jelasnya.
Banyak tradisi pesantren yang belum diolah jadi cerita. Sebab itu, Ismah yakin bahwa tema-tema pesantren tidak akan pernah habis digali. “Pesantren seperti juga etnik, memiliki lokalitasnya sendiri. Nah, lokalitas-lokalitas itulah yang akan terus kita telusuri.”

Oleh: Hairus Salim dan Gamal Ferdhi

0 komentar

Saturday, March 24, 2007

BERITA: Tempo edisi 26 Februari-4 Maret 2007

Sastra Pop Kaum Sarungan

Saturday, March 24, 2007

Oleh: Ahmad Suaedy
Direktur Eksekutif The WAHID Institute—Jakarta


Dalam konteks pergeseran peran pesantren, fenomena teenlit sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Ia boleh jadi merupakan buah dari proses perubahan dan terbangunnya sistem baru dari dunia yang pernah dianggap paling kolot itu.

Teenlit (teen literature) pesantren atau sastra pop remaja pesantren boleh jadi merupakan kelanjutan perubahan dunia pesantren yang terlanjur terbuka atas informasi dan tak bisa lagi menolak perubahan. Namun, dunia dan bakat alam mereka seperti luput dari pengamatan banyak pihak. Para santri remaja itu begitu tekun dengan dunia mereka sendiri, tak peduli hiruk-pikuk para orang tua mereka.
Meskipun kini pesantren sedang digempur dari berbagai arah dan ditarik kanan kiri, para santriwan yang suka pakai sarung dan mukena bagi santriwati, itu rela berjam-jam nongkrong di depan komputer.
Mereka menulis, merefleksi dan menggugat lingkungan dan pemikiran dunia mereka sendiri yang selama ini dianggap menyesakkan. Hasilnya adalah novel, cerpen, kumpulan puisi, dan karangan lainnya. Beberapa karya mereka bahkan dibeli oleh production house (PH) untuk diangkat ke sinetron TV.
Dahsyatnya arus informasi melalui berbagai saluran, tidak mungkin dicegah dengan cara apa pun. Internet dengan seluruh situsnya dan TV dengan semua kanal yang ada dengan mudah bisa diakses oleh segala umur. Hanya kesadaran pribadi dan lingkungann yang bisa membimbing mereka. Para penulis remaja itu, adalah di antara mereka yang mampu memanfaatkan arus informasi tersebut dengan maksimal untuk memproduksi gagasan.
Dilihat dari bahasa, jalan cerita, istilah yang digunakan, tak ada bedanya dunia para penulis pesantren ini dengan sastra pop remaja atau teenlit umumnya. Bedanya novel-novel itu banyak mengambil setting pesantren. Tak sedikit yang memakai term-term kutab kuning, menyinggung kehidupan agama, terkadang berupa kritik dengan sangat tajam.
Para santri remaja nan kreatif ini tentu harus terus didorong. Mereka sedang mencari dunia mereka sendiri dengan menggunakan referensi yang mereka pelajari di pesantren. Hal ini lalu mereka kaitkan dengan realitas yang mereka serap dari dunia nyata.
***
Dalam konteks pergeseran peran pesantren, fenomena teenlit sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Ia boleh jadi merupakan buah dari proses perubahan dan terbangunnya sistem baru dari dunia yang pernah dianggap paling kolot itu. Sejak digagas oleh Gus Dur dan kawan-kawan atas dunia pesantren dan Nahdhatul Ulama, gerakan pembaharuan itu bergulis terus hingga kini, melampaui apa yang dipikirkan saat itu.
Di pelbagai daerah, dari tingkat kecamatan hingga desa, di kawasan basis pesantren, para santri umunya punya komunitas tersendiri. Terbentuklah berbagai kelompok, seperti kelompok remaja, pelajar, dan mahasiswa yang berlatar belakang pesantren. Ada kelompok diskusi, kajian kitab kuning, bahtsul masail sampai kelompok advokasi serta tulis-menulis sampai pendidikan alternatif.
Tengok saja di ‘sekolah alternatif’ SMP dan SMU Qoryah Tayyibah, di Desa Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah. Di sekolah yang baru empat tahun berdiri itu, lahir tiga penulis berbakat, yaitu Maia Rosyida, Fina Af’idatussofa dan Upik. Sekolah ini dikelola dengan pendekatan semacam komunitas riset untuk anak-anak seusia pelajar. Mereka diberi fasilitas internet 24 jam sehari dan perpustakaan, serta dipersilakan untuk memilik topik kajian secara orang per orang dan kelompok. Tetapi setiap zuhur dan ashar mereka wajib berjamaah bersama dan di malam hari harus mengikuti sekolah diniyah di pesantren desa itu. Dan, guru hanya berfungsi sebagai pembimbing.
Komunitas Azan di desa Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat lain lagi. Kelompok yang dipimpin Acep Zamzam Noor, yang bergerak di wilayah kajian sastra, telah melahirkan puluhan seniman dan penulis. Bersama seniman di Tasikmalaya lainnya, mereka berhasil meyakinkan pemerintah daerah untuk mendirikan Gedung Kesenian, sejak 6 tahun lalu. Konon, ini adalah Gedung Kesenian pertama di Kabupaten di Indonesia.
Lambat-laun terbangun pula sistem penerbitan, percetakan, dan pemasaran. Penghargaan untuk para penulis, pemantauan bakat, dan mobilisasi karya-karya mereka makin digalakkan. Saya jadi ingat kata-kata Gus Dur suatu saat pada tahun 70-an di Institue Teknologi Bandung (ITB) bahwa kebangkitan Islam hanya akan terjadi jika telah ada kebebasan berkreasi dan kebebasan berekspresi di dunia Islam.

0 komentar