Thursday, March 26, 2009
Wajah-wajah Polos Itu
by matapena di 8:21 PM Thursday, March 26, 2009Label: ROADSHOW 105 komentar
Tuesday, March 24, 2009
TAHLILAN SASTRA KE-2
by matapena di 8:06 PM Tuesday, March 24, 2009bukan cerita tv ; joni af seperti terlempar ke masa lalu saat rumputan masih hijau di bawah rumah panggung yang rimbun reriuh seribu masalah di atasnya yang belum tercium dan ketika air kali membuat becek jalanan menuju surau dan cerita hantu menjelang petang membuat enggan beranjak dari pembaringan tak hendak diri mengaji meski belum ada tv yang begitu memenjara mata dan hati mulutmu memahat arca candi relief hidup yang tak terlupa ada mawar ada carun yang kesemua-mua sangat santun mengalir hanyutkan diri di kali belajar dari mulutmu kawan dari hati jangan henti memahat, kawan jangan henti sebelum aku kembali ke penjara, kawan ke dalam kotak tv Jogja, 25 nov 2007
Kemudian Mahbub Jamaludin menuju panggung ia baca sebuah puisi Akhmad Fikri AF tentang pengalaman naik pesawat terbang. Katanya, “lebih hebat dari shalat,” sebab begitu dekat dengan Sang Pemilik Hayat.
Puisi ini termuat dalam antologi tunggal Bebek Kong Draman (2009). Seletah Mahbub, Hugeng S Dharma beraksi membaca puisi lamanya ketika merangsang cinta kawula muda. Rupanya ia bernostalgia. Kadang proses awal kepenyairan seseorang sangat laik tuk dikenang.
Malam tahlilan sastra itu tambah meriah ketika Muhammad Mahrus membacakan cerpen berjudul “orang tua di tiang gantung”.
Namun ternyata tak kalah meriah lagi ketika komunitas bawah pohon – Danny, Faisal dan Irul melakukan eksplorasi pembacaan puisi. Mereka menamakannya ‘raperisasi puisi’. Menyanyikan lagu Bondan Prakosa dengan iringan gitar. Gelora para muda ini menguar. Membuat tahlilan lebih khusuk dalam keriangan.
Langsung sebelum momen dahsyat ini lewat, Teguh Wangsa Gandhi, membacakan syair ‘busuk’-nya yang gelap dan mengakhirinya dengan geguritan yang padang tentang manusia serupa burung terbang disalah musim. “mabur salah mongso” katanya. Semua jadi terangguk, kadang bahkan sering manusia tak berbuat dengan tepat, banyak khilaf dan keliru.
Setelah penyair-wan menguasai dari mula, kini giliran penyair-wati; Retno Iswandari memukau penonton lewat lentik kuat suara hatinya. Mengabarkan puisi eropa milik penyair ketika masa tua; duduk tergugu di depan perapian yang kian padam. Maka buku adalah teman dan sekaligus halaman tempat bermain dan menyiram kehidupan. Dan satu puisinya meluncur lebih dahsyat, tentang ‘rindu tak perlu bertemu’ hingga ‘tentang terbakar tanpa api’. Ia menghafal semua puisinya meski kadang mengakui, “saya sedikit lupa, jadi maaf,”
Dilanjut Sachree M Daroini membaca dua puisi Akhmad Fikri AF. Dengan suara dan mimik jiwa yang menguarkan bara semangat tak kenal padam, ia sukses membuat audien yang semula akan pamit menjadi enggan meninggalkan ruang.
Berturur selanjutnya adalah sahabat dari Kutub, Selendang Sulaiman (nama orang), yang bertutur tentang sosok sastrawan yang pada minggu ini diperingati haulnya, KH Zaenal Arifin Thoha (Alm). Lalu Andi baitul kilmah menutup malam tahlilan sastra dengan imaji ke negeri meraih mimpi.
Acara berakhir pukul 21.41, dan dilanjut dengan bincang santai di rumah kreatif matapena hingga mata tak lagi kuat menahan kantuk.
Tiba-tiba Pijer Sri Laswiji mengirim sms ke beberapa teman: Acara ini lebih baik dari kemarin. Aku jadi ingin bisa bikin puisi dan sekaligus membacakannya dengan hebat seperti teman-teman lain, tapi sayang yang perempuan pada kemana ya? Apakah perempuan enggan melukis dunia dengan syair mereka?
Tak ada yang menjawab tuntas pertanyaan itu. Yang jelas malam itu, dari 30 orang yang hadir, hanya 3 orang perempuan yang datang. Itupun retno iswandari saja satu-satunya yang menulis dan membacakan puisinya. Atau karena acara yang diadakan malam hari? Entahlah. Yang jelas perlu kita lihat satu bulan lagi, pada tahlilan satra ke-3 nanti. Semoga semua menjadi lebih indah adanya… (zz)
Label: kegiatan 0 komentar
Tuesday, March 03, 2009
Grand Opening Rumah Kreatif Matapena
by isma di 11:38 AM Tuesday, March 03, 2009
Rumah Kreatif ini didedikasikan untuk para anggota dan remaja pada umumnya sebagai tempat untuk berkreasi dan berekspresi bersama di bidang sastra dan kepenulisan. Untuk menggali pengalaman hidup dan menunjukkan identitas diri yang berakar pada lokalitas dan tradisi.
Acara ini dimeriahkan oleh hadrah kompleks Q Krapyak, monolog Hugeng Stya Dharma, pembacaan cerpen oleh Aufannuha Ihsani, pembacaan puisi oleh Retno Iswandari dan yang lain. Sawung Jabo and friends juga berkesempatan hadir, menyanyikan musik alternatifnya yang memukai hadirin. "Matapena semoga bisa menjadi kelanjutan Matabatin untuk memaknai denyut-denyut nadi kehidupan," ucapnya sebelum memetik gitarnya.



Ada banyak kegiatan yang akan digelar di Rumah Kreatif ini. Di antaranya yang dilaksanakan mingguan adalah:
- Ngobrol calon novel untuk sharing gagasan novel yang sedang ditulis.
- Tahlilan sastra adalah forum kumpul antarkomunitas2 dengan baca puisi, cerpen, monolog dan ngobrol seputar isu-isu komunitas
- Koran Sore, menelisik cerpen2 yang dimuat di koran
- Nobar alias nonton bareng film-film bagus di Rumah Kreatif
- Ngangkring yuuuk, bincang seputar sastra dan kepenulisan dengan mengundang nara sumber dengan menu khas kopi hitam dan gorengan
- Nyulik alias mengundang sastrawan atau penulis yang kebetulan main ke Jogja untuk didaulat ngobrol di Matapena
- SMS atau sinau menulis sampeiso, belajar nulis reguler satu tahun dua angkatan, diadakan secara kontineu dari gimana sih menulis itu sampai praktik dan siap dipublish.
Selain kegiatan seperti penerbitan bulletin, bikin film, roadshow ke sekolah-sekolah dan pesantren, Liburan Sastra di Pesantren, workshop kepenulisan dan perfilman, ikut serta dalam kegiatan komunitas lain.
Tertarik ingin bergabung?
Caranya mudah, cukup isi formulir dan mengganti biaya pembuatan kartu anggota Rp30.000. Juga, akan mendapat satu buku terbitan komunitas. Bisa datang langsung ke Rumah Kreatif Matapena, via email: matapena_jogja@yahoo.com.
Label: kegiatan 0 komentar