Thursday, March 26, 2009

Wajah-wajah Polos Itu

Thursday, March 26, 2009
Catatan Silaturahmi Komunitas Matapena ke PP Darur Rahman Jakarta Selatan
14 Maret 2009
oleh Mahbub Dje
Aku keluar dengan tergesa-gesa. Beberapa kali, zaki maupun isma sudah memanggil lewat miscall mereka. Pas dhuhur tadi, kami memang sudah janjian akan ketemu di pelataran hotel Syahida. Dari kaca jendela, seraya menunggu pintu lift terbuka, kulihat rerintik hujan sudah membasahi aspal dan dedaunan. Ah, malas sekali kalau menjadi lebat rasanya. Berdoa semoga tak bertambah deras, kulangkahkan kaki ke dalam lift dan turun ke lantai I. Keluar dari lift, aku berlari. Lama nggak berlari. Sudah lama nggak menggerakkan tubuh. Bu Taka bilang, jika tubuh lelah dan bosan, sewaktu-waktu bergeraklah. Tapi belum lagi sepuluh langkah berlari, kudengar klakson mobil itu, dan seorang perempuan turun ketika aku menengok, dan melambaikan tangan. Aha, Isma rupanya. “Ayo cepet!” katanya dengan mimik yang memelas dan tekanan manjanya. “Dienteni, je!” Tanpa komentar, aku masuk langsung ke mobil. Menyalami para muka asing yang kemudian kuketahui sebagai teman-teman LKiS wilayah barat. Setelah menarik nafas sehembusan, barulah kusadar bahwa Isma malah keluar. “He, mau ke mana?” “Aku nggak ikut.” Lalala ola ... Btw, the show must go on! Kami pun menembus belantara jalan raya jakarta. Digempet bus kota, dikeroyok sepeda motor. Bergerak menuju PP Darurahman. Aku tidak menghitung waktu. Di jalan, aku lebih banyak tertidur daripada melihat waktu. Yang kutahu, tiba-tiba mobil melambat, memasuki sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui satu mobil, dan di ujungnya terdengar hingar-bingar speaker. Tampaknya, acara dibuat gedhe-gedhean, pikirku. Waktu maghrib hampir habis ketika kami menginjakkan kaki di Darurahman yang megah itu. Kang Slamet segera melenggang, mengerjakan tugasnya. Mencari panitia setempat. Sementara aku, zaki, dani plus temannya, dan restu, duduk menunggu di emperan. Sesekali bercengkerama. Atau melihat cewek-cewek cantik sekadar cuci mata. Kang Slamet datang. Tapi acara belum segera dimulai. Terpaksalah kami menunggu lebih lama lagi. Bagiku, Darurahman adalah pesantren yang unik, khususnya dilihat dari setting bangunannya. Gedungnya berbentuk segiempat, ruang-ruangnya saling berhadapan dengan ruang kosong di tengahnya. Di ruang kosong seukuran lapangan sepakbola ini, mobil-mobil diparkir. Suasana menjadi makin megah karena ruang kosong yang dikelilingi gedung berlantai tiga ini ditutup oleh atap mahabesar, dengan lampu-lampu terang di ujung-ujungnya seperti bulan kembar empat yang memerakkan bumi. Malam itu, seakan siang di sana. Tampaknya, hanya ada satu akses jalan keluar pesantren, yaitu jalan sempit seukuran mobil lebih sedikit yang sekarang kami tongkrongi. Santri-santri berhilir mudik, dan beberapa kali mobil keluar masuk. Kami menikmati kebosanan kami. Sebab, ternyata yang hilir mudik tak Cuma santri, tapi juga orang-orang umum yang entah siapa: Orang tua dengan anak-anaknya, cewek tak berjilbab dibonceng cowok keren, anak-anak kecil tanpa peci tanpa sarung. Dan di sini, kecurigaan kami membengkak perlahan. Mungkinkah suara hingar bingar itu bukan diperuntukkan bagi acara kami? Siapakah mereka yang hilir mudik tanpa kostum santri ini, dan dengan tujuan apa? Kecurigaan kami berbuah benar. Setelah mengorek keterangan, ternyata kami harus termangu. Ada acara hajatan di tetangga pesantren. Ah, mungkin bukan tetangga pesantren; mungkin masih kerabat pesantren.
***
Acara dimulai pukul 20.00, di lantai II. Kang Slamet dan baladewanya sudah menggelar buku-buku di luar. Zaki masuk, mengomando dan mengajak audiens berdiri. Bernyanyi “Kalau kau suka hati tepuk tangan ...”. Aku dan Restu masih di luar, berusaha mendengarkan suara Zaki yang—dari arah kami—kalah keras dari hingar bingar shalawatan modern yang bergemuruh dari samping pesantren, dari arah acarah hajatan itu. Kuamati wajah-wajah itu, wajah-wajah polos yang masih suci dari dosa. Tampaknya mereka masih kelas 1 atau kelas 2 SMP. Kuhitung acak, sekitar 60 anak. Putra-putri hampir seimbang. Kulihat lagi, satu deretan putri yang paling depan tampak lebih dewasa. Mungkin mereka berusia SMA-nan, dan jumlah mereka hanya 6 anak. Nantinya, akan kulihat bahwa merekalah yang paling antusias daripada yang lain; mungkin karena usia? Aku masuk forum setelah Zaki mempersilakan. Juga Restu. Kami duduk di depan dan Zaki mulai mengajak peserta bermeditasi. Setelah cukup, aku berbicara. Aku turun dari kursi dan menjemput mereka. Tapi, terus terang, suara bising di luar itu bikin konsentrasiku buyar. Aku berusaha konsisten menggali motivasi kepenulisan mereka. Meski aku nggak tahu, apakah pesan sampai atau tidak. Wajah-wajah mereka yang polos—bahkan terkesan tanpa ekspresi—membuatku agak pesimis. Meski demikian, alhamdulillah semua unsur-unsur negatif itu dapat kutampik, walau agak kecewa karena antusiasme audiens tergolong rendah, terlihat dari respon dan partisipasi mereka yang kurang baik. Lalu Restu masuk. Dengan gaya khasnya, Restu mengajak audiens kepada cara-cara praktis menulis novel. Restu bilang, saat menulis novel, seseorang harus menghilangkan pikirannya. Ia harus menulis dengan hati, menumpahkan seluruh isi jiwanya ke dalam kertas. “Meski tidak nyambung, tidak apa-apa. Teruskan sampai selesai. Baru setelah selesai, kemudian diedit lagi.” Bahkan, Restu mendiktekan point-point praktis menulis novel, lalu mengetes audiens dengan tanya jawab. Meski agak bergaya ‘guru’, beberapa kali audiens merespon juga dengan lumayan baik. Setelah Zaki masuk lagi dan sessi pertanyaan digelar, juga setelah cuap-cuap tentang komunitas matapena, acara diakhiri pada pukul 21.55.
***
Pasca acara, sambil menunggu Kang Slamet mengemas barang-barangnya, kami berbincang-bincang dengan santri senior di sana. Bincang-bincang tidak resmi, sebab masing-masing dari kami mendekati orang yang berbeda. Setelah berpamitan, kami pun melenggang. Penat-penat, dan dah ngantuk. Mobil pun menjadi media yang paling nikmat menumpahkan mata berat ini. Nyaris tanpa perbincangan, setelah mengantar restu di depan UIN, kami sampai di Syahida Inn pukul 23.45. Kepala pening dan mata ngantuk itu terkurangi ketika sekelebatan wajah para santri Darurahman yang polos itu kembali terbayang. Ah, semoga dari sana, dari wajah-wajah polos itu, kan lahir karya-karya yang berkarakter. Amin.

105 komentar

Tuesday, March 24, 2009

TAHLILAN SASTRA KE-2

Tuesday, March 24, 2009
Lampu 50 watt di atas panggung menyala. Wajah Zaki Zarung yang malam itu mengantarkan acara “tahlilan sastra kedua”, mulai terlihat. Ia membuka acara dengan mengajak peserta menciptakan hening dalam diri mereka, mengisi relung jiwa dengan lirih doa. Satu menit. Dan sebuah syair keluar dari mulut zaki.

bukan cerita tv ; joni af seperti terlempar ke masa lalu saat rumputan masih hijau di bawah rumah panggung yang rimbun reriuh seribu masalah di atasnya yang belum tercium dan ketika air kali membuat becek jalanan menuju surau dan cerita hantu menjelang petang membuat enggan beranjak dari pembaringan tak hendak diri mengaji meski belum ada tv yang begitu memenjara mata dan hati mulutmu memahat arca candi relief hidup yang tak terlupa ada mawar ada carun yang kesemua-mua sangat santun mengalir hanyutkan diri di kali belajar dari mulutmu kawan dari hati jangan henti memahat, kawan jangan henti sebelum aku kembali ke penjara, kawan ke dalam kotak tv Jogja, 25 nov 2007

Kemudian Mahbub Jamaludin menuju panggung ia baca sebuah puisi Akhmad Fikri AF tentang pengalaman naik pesawat terbang. Katanya, “lebih hebat dari shalat,” sebab begitu dekat dengan Sang Pemilik Hayat.

Puisi ini termuat dalam antologi tunggal Bebek Kong Draman (2009). Seletah Mahbub, Hugeng S Dharma beraksi membaca puisi lamanya ketika merangsang cinta kawula muda. Rupanya ia bernostalgia. Kadang proses awal kepenyairan seseorang sangat laik tuk dikenang.

Malam tahlilan sastra itu tambah meriah ketika Muhammad Mahrus membacakan cerpen berjudul “orang tua di tiang gantung”.

Namun ternyata tak kalah meriah lagi ketika komunitas bawah pohon – Danny, Faisal dan Irul melakukan eksplorasi pembacaan puisi. Mereka menamakannya ‘raperisasi puisi’. Menyanyikan lagu Bondan Prakosa dengan iringan gitar. Gelora para muda ini menguar. Membuat tahlilan lebih khusuk dalam keriangan.

Langsung sebelum momen dahsyat ini lewat, Teguh Wangsa Gandhi, membacakan syair ‘busuk’-nya yang gelap dan mengakhirinya dengan geguritan yang padang tentang manusia serupa burung terbang disalah musim. “mabur salah mongso” katanya. Semua jadi terangguk, kadang bahkan sering manusia tak berbuat dengan tepat, banyak khilaf dan keliru.

Setelah penyair-wan menguasai dari mula, kini giliran penyair-wati; Retno Iswandari memukau penonton lewat lentik kuat suara hatinya. Mengabarkan puisi eropa milik penyair ketika masa tua; duduk tergugu di depan perapian yang kian padam. Maka buku adalah teman dan sekaligus halaman tempat bermain dan menyiram kehidupan. Dan satu puisinya meluncur lebih dahsyat, tentang ‘rindu tak perlu bertemu’ hingga ‘tentang terbakar tanpa api’. Ia menghafal semua puisinya meski kadang mengakui, “saya sedikit lupa, jadi maaf,”

Dilanjut Sachree M Daroini membaca dua puisi Akhmad Fikri AF. Dengan suara dan mimik jiwa yang menguarkan bara semangat tak kenal padam, ia sukses membuat audien yang semula akan pamit menjadi enggan meninggalkan ruang.

Berturur selanjutnya adalah sahabat dari Kutub, Selendang Sulaiman (nama orang), yang bertutur tentang sosok sastrawan yang pada minggu ini diperingati haulnya, KH Zaenal Arifin Thoha (Alm). Lalu Andi baitul kilmah menutup malam tahlilan sastra dengan imaji ke negeri meraih mimpi.

Acara berakhir pukul 21.41, dan dilanjut dengan bincang santai di rumah kreatif matapena hingga mata tak lagi kuat menahan kantuk.

Tiba-tiba Pijer Sri Laswiji mengirim sms ke beberapa teman: Acara ini lebih baik dari kemarin. Aku jadi ingin bisa bikin puisi dan sekaligus membacakannya dengan hebat seperti teman-teman lain, tapi sayang yang perempuan pada kemana ya? Apakah perempuan enggan melukis dunia dengan syair mereka?

Tak ada yang menjawab tuntas pertanyaan itu. Yang jelas malam itu, dari 30 orang yang hadir, hanya 3 orang perempuan yang datang. Itupun retno iswandari saja satu-satunya yang menulis dan membacakan puisinya. Atau karena acara yang diadakan malam hari? Entahlah. Yang jelas perlu kita lihat satu bulan lagi, pada tahlilan satra ke-3 nanti. Semoga semua menjadi lebih indah adanya… (zz)


0 komentar

Tuesday, March 03, 2009

Grand Opening Rumah Kreatif Matapena

Tuesday, March 03, 2009
Minggu, 1 Maret 2009 Rumah Kreatif Komunitas Matapena yang beralamat di Jl Parangtritis Km4 Perum Perwita Regency jl Beta no12 Salakan Baru Sewon Bantul, dibuka secara resmi oleh Akhmad Fikri, pembina komunitas. Ditandai dengan pemotongan tumpeng di depan para anggota, undangan dari komunitas lain di Jogja.

Rumah Kreatif ini didedikasikan untuk para anggota dan remaja pada umumnya sebagai tempat untuk berkreasi dan berekspresi bersama di bidang sastra dan kepenulisan. Untuk menggali pengalaman hidup dan menunjukkan identitas diri yang berakar pada lokalitas dan tradisi.

Acara ini dimeriahkan oleh hadrah kompleks Q Krapyak, monolog Hugeng Stya Dharma, pembacaan cerpen oleh Aufannuha Ihsani, pembacaan puisi oleh Retno Iswandari dan yang lain. Sawung Jabo and friends juga berkesempatan hadir, menyanyikan musik alternatifnya yang memukai hadirin. "Matapena semoga bisa menjadi kelanjutan Matabatin untuk memaknai denyut-denyut nadi kehidupan," ucapnya sebelum memetik gitarnya.


Ada banyak kegiatan yang akan digelar di Rumah Kreatif ini. Di antaranya yang dilaksanakan mingguan adalah:
- Ngobrol calon novel untuk sharing gagasan novel yang sedang ditulis.
- Tahlilan sastra adalah forum kumpul antarkomunitas2 dengan baca puisi, cerpen, monolog dan ngobrol seputar isu-isu komunitas
- Koran Sore, menelisik cerpen2 yang dimuat di koran
- Nobar alias nonton bareng film-film bagus di Rumah Kreatif
- Ngangkring yuuuk, bincang seputar sastra dan kepenulisan dengan mengundang nara sumber dengan menu khas kopi hitam dan gorengan
- Nyulik alias mengundang sastrawan atau penulis yang kebetulan main ke Jogja untuk didaulat ngobrol di Matapena
- SMS atau sinau menulis sampeiso, belajar nulis reguler satu tahun dua angkatan, diadakan secara kontineu dari gimana sih menulis itu sampai praktik dan siap dipublish.

Selain kegiatan seperti penerbitan bulletin, bikin film, roadshow ke sekolah-sekolah dan pesantren, Liburan Sastra di Pesantren, workshop kepenulisan dan perfilman, ikut serta dalam kegiatan komunitas lain.

Tertarik ingin bergabung?
Caranya mudah, cukup isi formulir dan mengganti biaya pembuatan kartu anggota Rp30.000. Juga, akan mendapat satu buku terbitan komunitas. Bisa datang langsung ke Rumah Kreatif Matapena, via email: matapena_jogja@yahoo.com.

0 komentar