Tuesday, January 16, 2007

Juteknya Santri

Tuesday, January 16, 2007
Judul: Ja'a Jutek
Penulis: isma kazee
Ukuran: 11 x 17 cm
Tebal: vi + 217 halaman
Cetakan I: Februari 2007
Penerbit: Matapena Jogja
Kalau dipikir-pikir, hebat juga Ita, seorang bisa membikin butek sepuluh orang teman kamarnya. Sampai mereka hanya bisa saling curhat sesama korban kejutekan.
Tentu saja pakai sembunyi-sembunyi, dan mereka suka kasih aba-aba, “Ja’a jutek, ja’a jutek!” yang berarti “Jutek datang, jutek datang,” begitu ada tanda-tanda Ita hampir masuk kamar, mengganggu curhat mereka.
Bisa jadi cuma Lintang, yang punya keberanian membuat keadaan berbalik. Ita yang bebas bersikap karena dekat dengan puteri Bu Nyai harus menerima pembalasan hingga membuatnya terpuruk dan tak berdaya. Tapi, apa iya kondisi ini bias membuat Ita jadi baik hati dan mau berbagi dengan teman-teman kamarnya? Tau’ deh.

0 komentar

Friday, January 12, 2007

Cinta versus Tujuh Tahun

Friday, January 12, 2007
Judul: Gus Yahya Bukan Cinta Biasa
Penulis: Fina Af’idatussofa
Ukuran: 11 x 17 cm
Tebal: viii + 195 halaman
Cetakan I: Januari 2007
Penerbit: Matapena Jogja



Kalau dihitung-hitung, Gus Yahya kecil memang sudah habis-habisan dengan segala cara upayanya untuk mendekati Zahra. Dari yang biasa-biasa seperti melakukan kebiasaan Zahra belajar nyeruling sama Yadi di pematang sawah, sampai yang norak abis, seperti berkirim mawar dan surat cinta yang ditaruh di teras pesantren puteri. Tidak cuma itu, Yahya juga tak kenal lelah menyapa Zahra dengan pesan kertasnya yang ditaruh di kursi taman, tempat Zahra biasa belajar, setiap hari, sepanjang waktu. Sayangnya, Zahra tetap cuek aja tuh menghadapi gerakan cinta Yahya. Meski tidak dengan marah-marah, santri baru di pesantren abahnya Yahya itu malah sibuk dengan tugas-tugas belajarnya di pesantren.
Untungnya cinta Gus Yahya tidak pupus meski harus jatuh bangun untuk membuat cinta itu bisa dimengerti. Cintanya tidak mengenal istilah habis meski harus berhadapan dengan pergantian waktu yang hampir tujuh tahun. Bahkan, sampai tiba waktunya bagi Zahra untuk keluar dari pesantren, Gus Yahya tetap tersenyum menyampaikan cintanya. Tentu saja, karena cinta Gus Yahya bukan cinta biasa.

0 komentar

Tarian Cinta: Bukan Tarian Biasa

Judul: Tarian Cinta Penulis: Maia Rosyida Ukuran: 11 x 17 cm Tebal: viii + 222 halaman, Cetakan I: Januari 2007 Penerbit: Matapena Jogja

Dahlia seorang penari, dan di antara kelima temannya, dialah yang paling manis. Tapi, bukan lantas karena itu Aiman dan Bilal secara bersamaan menyukai Dahlia. Juga, bukan karena itu Mbah Jalaluddin Rumi, ayahnya Aiman berusaha membela Dahlia ketika Kiai Umar dan ormas Islam lainnya menyudutkan Dahlia dengan tariannya.
Melainkan karena Dahlia adalah perempuan yang dipenuhi dengan cinta. Cinta kemuliaan, membuatnya rela membanting tulang menghidupi ibu dan seorang adiknya yang masih sekolah. Cinta kebaikan, membuatnya selalu ingin belajar untuk jadi lebih baik. Dan cinta ketulusan, membuatnya selalu kuat dengan kenyataan sepahit apa pun. Sepahit ketika ia harus menentukan pelabuhan cintanya, pada Bilal ataukah Aiman? Dua orang cowok yang sama-sama membuat Dahlia bisa menari dengan tarian cinta.
Di antara balutan kisah cinta itu, dengan smart penulis memasukkan konsep tentang seksualitas perempuan. Sebuah sikap penolakan atas sterotipe perempuan sebagai objek yang bisa dimanfaatkan oleh lawan jenisnya. Padahal persoalan sebenarnya tidak terdapat pada tarian Dahlia, tetapi pikiran dan imajinasi para penikmat tariannya.

0 komentar