Saturday, December 22, 2012

Hayu ka Tasik Euy...

Saturday, December 22, 2012
Yogyakarta. Sabtu, 22 Desember 2012, sehari setelah kalender suku Maya habis para penjaga Rumah Kreatif Matapena melakukan rapat koordinasi rutin untuk agenda tahun 2013. Acara yang dimulai pukul 12.30 WIB itu disudahi dengan obrolan santai menyambut LSdP #9 di Tasikmalaya. Adapun perkembangan informasi dari panitia menuju LSdP, sampai hari ini sudah 80 peserta yang mendaftar. Kebanyakan memang masih dari sekitar Jawa Barat dan Jawa Tengah. Untuk region Jawa Timur (termasuk Madura) rupanya belum ada yang mendaftarkan diri.
Untuk informasi lebih lanjut bisa dilihat langsung di berita sebelumnya, Kabar dari Tasik II. Atau menghubungi langsung, klik di sini.

1 komentar

Wednesday, November 28, 2012

Daftar 100 Santri Beasiswa Kemenag

Wednesday, November 28, 2012




8 komentar

Sunday, November 25, 2012

Check and Repack

Sunday, November 25, 2012

Malam ini akan segera dikirim 8000 eksemplar Buletin Matapena ke Jakarta. Sebuah pesanan yang tidak sedikit dari Kementrian Agama RI untuk didistribusikan kepada seluruh Kanwil di bawah wewenang Kementrian Agama RI. Dari dua edisi tahun 2012 tersebut, masing-masing berjumlah 4000 eksemplar. Pengiriman Buletin ini dijadwalkan tiba di kantor Kementrian besok pagi (25/11) dengan pengawalan langsung dari tim Matapena; Peppi al-Ikhtiqom dan Muhammad Mahrus.[]




0 komentar

Sunday, November 18, 2012

Redaksi Merapat

Sunday, November 18, 2012
Hasan, Khanif, Imron, Rohim, Adi, Wahed, Khairi, Anis

Setelah seminggu sebelumnya (11/11) komunitas Matapena kumpul di stand Matakopi ketika event pameran IKAPI DIY, guna membahas tema buletin edisi Desember 2012. Hari ini (18/11)  redaktur buletin Matapena kembali rapat redaksi. Rapat dihadiri seluruh anggota redaksi minus Halimatus Sa’diyah dan Tika Fitriyah yang sedang dalam tugas redaksi ke Jakarta. Sisanya, selain redaktur lama, ada beberapa nama baru yang mulai hari ini bergabung sebagai anggota redaksi. Mereka adalah Abdul Rahman Wahid (Wahid), Imron Hakiki (Ron), Khairi Esa Anwar (Khairi), dan Muhammad Adi (Adi). 
Rapat redaksi kali ini merencaakan penerbitan buletin satu bulan sekali. Penerbitan majalah enam bulan sekali dan pengelola buletin Matapena on line. Harapannya, dengan buletin edisi on line, bisa memudahkan khalayak luas mengakses buletin Matapena secara langsung. So, nantikan buletin edisi Desember 2012 dengan tema Pesantren dan Menulis. Semoga dengan tema ini bisa memantik jiwa kepenulisan di kalangan pesantren pada khususnya. [Ayul]


2 komentar

Friday, November 16, 2012

Info

Friday, November 16, 2012
Program Beasiswa Kepenulisan dari Kementrian Agama RI yang ditangani Komunitas Matapena sampai hari ini belum bisa direalisasikan sebagaimana rencana awal yang disampaikan kepada calon penerima beasiswa. Bahwa, 100 santri yang rencananya akan menerima beasiswa tersebut, dimintakan satu orang kepada masing-masing Rayon Komunitas Matapena dengan beberapa persyaratan, dan jumlah tersebut kin telah terpenuhi dengan asumsi pemerataan akan komposisi tersebut. 
Rencananya, program ini akan diberikan pada bulan November ini dengan mekanisme antara lain:
- Peserta melengkapi kebutuhan administrasi berupa data diri selengkap-lengkapnya
- Peserta akan diminta datang ke Yogyakarta untuk untuk mendapatkan pembekalan materi dan teori
- Peserta akan ditugaskan untuk membuat tulisan dalam bentuk fiksi/non fiksi dengan kesepakan tertentu 
- Dengan hasil tugas kepenulisan tersebut, akan dibukukan karya-karya peserta dalam bentuk antologi dan atau karya tunggal.
Akan tetapi, sampai hari ini Komunitas Matapena (selaku pelaksana teknis dari program tersebut) belum bisa menyelenggarakan pertemuan 100 santri yang sudah dimasukkan dalam program beasiswa kepenulisan tersebut. Hal ini disebabkan, antara lain, belum adanya kesepakatan waktu dengan pihak Kementrian Agama selaku pemilik program. Dimana, pertemuan tersebut membutuhkan kehadiran dan keterlibatan secara langsung dari pihak Kementrian Agama dalam rangkan memberikan sosialisasi dan pengarahan akan maksud dan tujuan program beasiswa tersebut. Karenanya, sampai pada pelaksanaannya nanti, diharapkan kepada seluruh peserta penerima beasiswa untuk menyiapkan diri meskipun kami atas nama penyelenggara teknis belum memberikan informasi secara pasti kapan pelaksanaan program tersebut dimulai.
Demikian informasi yang bisa disampaikan. Semoga dalam waktu dekat, pelaksanaan daripada program ini bisa segera direalisasikan.


Hormat Kami,
Komunitas Matapena

0 komentar

Wednesday, November 07, 2012

Kabar dari Tasik II

Wednesday, November 07, 2012
Baru beberapa menit setelah postingan Kabar dari Tasik, sekitar pukul 03.00 dini hari, tim panitia dari calon tuan rumah LSdP #9 sudah sampai di terminal Giwangan Yogyakarta. Rombongan yang menurut rencana berjumlah empat orang ternyata cuma dua orang yang datang. Noverita (ketua panitia LSdP #9) dan seorang pendamping perjalanannya.

Sementara Lena Sa'yati dan pendamping hidupnya, M. Syakhruzzaky Romadloni (selamat ya... atas pernikahan kalian), batal ikut serta dalam kunjungan ke Yogyakarta kali ini. Berdasarkan informasi dari Nove (sapaan akrab pemilik nama panjang Noverita Mustika Ati), Teh Lena tidak jadi berangkat karena sakit. Moga lekas baikan ya, Teh...

Kisaran pukul 14.00 WIB, tim fasilitator sudah menunggu Nove di Stand Matakopi Kafee yang kebetulan hari itu buka di lokasi pameran buku IKAPI DIY. Di sanalah perbincangan membahas rencana pelaksanaan LSdP #9 dimatangkan. Wal hasil, tim panitia dibantu fasilitator Komunitas Matapena sudah siap menerima pendaftaran peserta dengan ketentuan sebagai berikut:

- Peserta adalah remaja berusia 15-22 tahun.
- Mengisi formulir pendaftaran (disediakan di lokasi kegiatan).
- Membayar kontribusi @Rp150.000.
- Peserta akan mendapatkan makalah, tanda pengenal, kartu anggota komunitas, tas, sertifikat, dan buku antologi karya peserta serta fasilitas akomodasi dan konsumsi selama pelatihan.
- Menyerahkan foto diri (pose bebas tapi sopan, ukuran maksimal 3R)
- Menyerahkan salah satu karya yang pernah dibuat, baik yang pernah dimuat di media massa maupun yang belum.
- Peserta bersedia tinggal di lokasi selama kegiatan.
- Pendaftaran bisa dilakukan di sekretariat panitia; Pondok Pesantren Riyadlul ‘Ulum Wadda’wah Kp. Condong, Ds. Setianegara, Kec. Cibeureum, Kota Tasikmalaya Jawa Barat 46196 Telp. (0265) 7077821
- Pendaftaran bisa melalui 
 email: admin@komunitasmatapena.com 
          matapena_jogja@yahoo.com atau 

Informasi juga bisa diakses di www.matapenatasik.blogspot.com 

Batas waktu pendaftaran sampai hari Kamis, 20 Desember 2012.

Di antara sekian konsep yang sudah disiapkan tuan rumah, pelaksanaan LSdP #9 ini rencananya akan membawa peserta ke Rest Area Urug Kota Tasikmalaya pada hari ketiga. Malam harinya, penutupan acara akan menghadirkan sastrawan-sastrawan nasional seperti Acep Zamzam Noer (Sastrawan Nasional Senior), Bode Riswandi (Sastrawan dan Dosen Universitas Siliwangi Tasikmalaya), dan M. Irfan Hidayatullah (Sastrawan-Alumni PP Riyadlul 'Ulum Wadda'wah Condong Tasikmalaya). Tentu, selama kegiatan berlangsung, peserta akan didampingi oleh fasilitator-fasilitator dari Komunitas Matapena.

Dan jangan sampai lupa, LSdP #9 ini akan diselenggarakan pada 28-30 Desember 2012. Peserta terbatas untuk 200 orang.

Untuk formulir pendaftarannya bisa mengunduh bitmaps di bawah ini:


Hayu ka Tasik...[MF] 

2 komentar

Kabar dari Tasik

Di penghujung tahun ini, Liburan Sastra di Pesantren (LSdP) #9 bakal bertempat di Tasikmalaya. Sahabat Matapena Rayon Tasikmalaya, PP Riyadhul 'Ulum wad Da'wah Condong, sedang sibuk mempersiapkan segalanya. Jika pada LSdP sebelum-sebelumnya peserta ditarget maksimal 100 orang, kali ini bakal dinaikkan dua kali lipat. Melihat target sedemikian rupa itu, setidaknya mengajak kita untuk sama-sama berpartisipasi dalam rangka menyambut sekaligus mengapresiasi kerja keras yang sedang digarap Sahabat Matapena di Tasik sana.
Ya, memang jauh. apalagi jika dibayangkan jarak tempuh dari Banyuwangi dan Situbondo. Tetapi jangan dikira mereka akan menyerah dengan pertimbangan itu. Karena mereka yakin dengan kemungkinan sebaliknya, bahwa jarak sudah tidak lagi menjadi pertimbangan utama. Lain lagi jika terdapat pertimbangan waktu yang tidak berpihak dari beberapa daerah sehingga menuntut mereka untuk menunda perhelatan yang selalu dinanti-nanti tersebut.
Sebagai gambaran awal, LSdP #9 akan dilaksanakan pada 28-30 Desember 2012 di PP Riyadhul 'Ulum wad Da'wah Condong Tasikmalaya. Tempat di mana hampir setiap kali LSdP Matapena selalu ada peserta delegasi dari sana. Ya, seperti delegasi dari daerah-daerah lain seperti Banyuwangi dan Situbondo, atau bahkan Pulau Bali dan Madura. Lagi pula, LSdP yang terselenggara di luar Jogja sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2010 lalu, di STAIT Raden Wijaya Mojokerto. kemudian dijeda perhelatan di Yogyakarta lagi sebanyak 2 kali LSdP (Dusun Santan Pajangan Bantul--LSdP #5, dan PP Kaliopak Yogyakarta--LSdP3 #6). Dan pada kesempatan berikutnya, LSdP diselenggarakan di UNSIQ Wonosobo dengan tuan rumah Sahabat Matapena Rayon Wonosobo dari PP Al-Asy'ariyyah. Disambung LSdP berikutnya di MA Hasyim Asy'ari Bangsri Jepara. 
Nah, pada perhelatan terkhir itu, LSdP #9 yang bakal diselengarakan ini mulai ditarik ke sana ke mari oleh Sahabat Matapena dari beberapa daerah. Wal hasil, Tasikmalaya adalah yang paling siap untuk menjadi tuan rumah.
Rencananya, hari ini (07 November 2012) sebagian dari penggerak Matapena Tasikmalaya akan bertandang ke Yogyakarta untuk melakukan koordinasi terkait preparasi LSdP #9 nanti. Apa hasil dari koordinasi itu, akan segera kami sampaikan pada Sahabat-sahabat sekalian.
Sampai jumpa...[MF]

0 komentar

Friday, September 21, 2012

GSM: Gerakan Santri Menulis

Friday, September 21, 2012
Apa kabar, Sahabat Pena Komunitas Matapena?
Semoga kebahagiaan dan keselamatan senantiasa dikuruniakan Allah kepada kita semua... Amien. Begini, sebagai admin, kali ini saya akan menginformasikan kepada Sahabat-sahabat sekalian bahwasanya pada pertengahan bulan syawal kemaren, Tim Fasilitator Komunitas Matapena (Restu RA, Peppi al-Ikhtiqom, dan Muhammad Mahrus) syawalan sekaligus workshop creative writing di bangkalan Madura. tepatnya di MA Raudlatul Ulum Tamansari Kec. Ghalis Bangkalan Madura.
Acaranya berlangsung cuma sehari, dari pukul 09.00-17.00 WIB. Ada sekitar 52 siswa-siswi dari beberapa sekolah yang turut berpartisipasi dalam workshop tersebut. Antara lain dari MA dan MTs Raudlatul Ulum sendiri (selaku tuan rumah), MA Al-Jaly (Blega, beberapa kawan sering menyebutnya "Belgia"-nya Madura) dan MA Darussalam (Pakong, Ghalis).
Nah, bagi kalian yang ingin kenal tentang mereka, atau tentang salah satu dari mereka, silakan lihat tulisan-tulisan sederhananya di http://komunitasmatapena.com/index.php?option=com_content&view=category&id=17&Itemid=305 dan silakan berikan tanggapan kepada mereka secara langsung. Katakanlah semacam salam kenal untuk saling berbagi.
Dalam pelaksanaannya, syawalan dan workshop ini diberi tema Gerakan Santri Mennulis (GSM) oleh penyelenggaranya, Madura Migrant Care (MMC). Yah... Barangkali karena Bangkalan memang salah satu kota di Madura yang sangat kuat tradisi santrinya. Tentu seperti halnya kota-kota santri lain. Sementara, akses mereka untuk mendapatkan ruang berkarya masih "terbatas". Jadi, GSM memang butuh untuk disupport demi kemajuan pendidikan anak bangsa secara umum.
Baik, Sahabat... itu aja dulu yang saya kabarkan. Tetap semangat dan berkarya. Juga, ditunggu saran dan kritiknya.[MF]

Salam SANTRI INDONESIA MENULIS

Admin,

4 komentar

Monday, May 28, 2012

Ngopi Moeng Mampir Oerip

Monday, May 28, 2012
Bagi Sahabat-sahabat yang kebetulan berkunjung ke Jogja, dan ingin silaturrahmi ke Komunitas Matapena, sekarang bisa langsung menuju ke Waroeng Kopi Matakopi. Rumah Kreatif Komunitas Matapena sekarang sudah pindah lagi (menyatu/menjadi satu/bersatu/apapun deh istilahnya, hehe) dengan Matakopi.
Matakopi sudah dibuka sejak tanggal 7 April 2012. Beralamat di Jeruk Legi Banguntapan Bantul Yogyakarta. Pastinya, tempatnya asyik dan inspiratif.




Ngopi Moeng Mampir Oerip hanya bisa dipahami setelah kalian berkunjung sendiri. Menu-menunya yang spesial dan original tidak kalah dengan racikan barista-barista Nusantara. Kopi Spiritual, Kotang Spiritual, Kopi Paranormal, Kotang Paranormal, Kopi Peppi, Kotang Peppi, Kopi Rencong, Kopi Joran, Kopi

3 komentar

Thursday, May 24, 2012

Liburan Sastra di Pesantren # 8

Thursday, May 24, 2012
Halo teman-teman...
Untuk melihat Info terbaru Komunitas Klik di sini aja ya:
http://komunitasmatapena.com/index.php?option=com_content&view=article&id=108:lsdp-8&catid=14:kabar-kegiatan&Itemid=291

Ditunggu konfirmasinya ya...



1 komentar

Monday, March 12, 2012

Roadshow SMPN 1 Mojotengah

Monday, March 12, 2012
Jum'at, 10 Maret 2012 Seusai roadshow di MTsN Kalibeber, tim roadshow Matapena langsung bertandang ke SMPN 1 Mojotengah Wonosobo. Jarak tempuh dari MTsN Kalibeber tidak begitu jauh. Misalnya jalan kaki, bisa ditempuh sekitar 20 menit. Hanya saja, medannya menanjak sekitar 50 derajat. Dengan tim yang berjumlah enam orang, sementara kendaraan yang ada cuma satu (motor), terpaksa harus diangkut bertahap. Rupanya, di SMPN 1 Mojotengah para peserta sudah menunggu tim roadshow Matapena. Begitu tim masuk area, peserta yang berjumlah 45 siswa hablur ke ruang kelas. Kemudian acara dimulai dengan sedikit pengantar dari Bapak Wakasek. Setelah itu, sepenuhnya acara diserahkan pada tim roadshow. Muhammad Mahrus mengawali dengan cerita seputar komunitas dan sejarah berdirinya. Di sela-sela penyampaian yang tidak formal

0 komentar

Sunday, March 11, 2012

MTsN Kalibeber Wonosobo

Sunday, March 11, 2012
Sabtu, 10 Maret 2012 Dingin kota Wonosobo sedikit berkurang, kala tim roadshow Komunitas Matapena bertandang ke Kalibeber Wonosobo. Jarak tempuh dari PPTQ Al-Asy'ariyyah yang terajangkau membuat mereka memilih jalan kaki saja menuju MTsN Kalibeber, lokasi roadshow dalam rangkaian kegiatan baru Komunitas Matapena (Bioskop Murah untuk Rakyat). Pertimbangannya sederhana, area pedukuhan dan suasana pesawahan adalah representasi lokalitas bangsa kita. Itu saja. Rombongan tim waktu itu ada Bagi kalian yang kemarin mengikuti Liburan Sastra di Pesatren #7, kalian pasti tau rute tersebut. Kalian melewatinya pada hari kedua malam dari Unsiq menuju PPTQ Al-Asy'ariyyah untuk mengikuti sesi Tahlilan

0 komentar

Friday, February 17, 2012

Al-Falah Jember Membedah MAFIA

Friday, February 17, 2012
Gerbang kuno PP Al-Falah Jember

Hari sudah menjelang maghrib ketika rombongan tim #Roadshow Matapena sampai di PP Al-Falah Jember. Sang ketua Rayon rupanya sudah galau menunggu sejak siang. Katanya, dia sangat kahwatir kami nyasar atau sebagainya akibat jaringan media komunikasi yang (sedang) tidak stabil. Sementara, rute menuju Al-Falah sebenarnya tidak terlalu susah untuk dilacak. Memang banyak cara yang digunakan

0 komentar

Friday, February 10, 2012

Kopi Santan

Friday, February 10, 2012
Sesampai di Bumi Mustika, tanah yang pernah melahirkan seorang penulis besar dan diakui dunia onternasional, rombongan @jaringmatapena disambut dengan mesra oleh Sahabat Matapena Blora. Di rumah @ShofaunN, rombongan @jaringmatapena di nanti dengan masakan khas pantura yang super-duper pedas. Bayaran yang lebih dari setimpal atas jejalan yang bergelombang menuju Blora. Hangat-sambut laiknya raja itu memang telah berulang kali bagi @jaringmatapena di Blora, termasuk kopa-kopi yang beraneka.

Kunjungan kemarin (9/2), dalam rangka pembentukan Rayon Komunitas Matapena Blora. Beranjak dari kediaman @ShofaunN, rupanya rombongan telah dinanti Sahabat-sahabat IPNU dan IPPNU Blora, di sebuah tongkrongan ritmis pada tepian waduk Tempuran. Di sana, bersama Imam Alba, Arifudin, Ahmad Faishol, Hana, Rika, Arif, dan beberapa nama lagi, @jaringmatapena bincang santai seputar pembentukan Rayon Komunitas dan beberapa agenda kegiatan yang bakal diselenggarakan di sana.

Perbincangan dianggap cukup kala matahari tergelincir. Acara ditutup dengan ramah tamah menu ikan bakar. Hmmm, sambalnya tentu tidak ketinggalan. Dan, perjalanan berlanjut menuju Jepang-(rejo). Dimana Kopi Santan bermula.

Kalau ada sumur di ladang
Boleh kita menumpang mandi
Kalau ada sumur di jalan
Tak mengapa asal ada kopi

Sepanjang jalan dari Tempuran-Jepangrejo, dan hampir keseluruhan jalanan Blora, memang tidak begitu bagus. Meskipun tiap tahun diperbaiki, masih saja rusak. Kiranya ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Antara lain, tanahnya sendiri yang memang tergolong tanah gerak (menurut @kongdraman, tanah yang bergerak dapat dipastikan daerah yang didasarnya mengandung minyak bumi). Di sisi lain, konstruksi jalan yang dilakukan sebatas tambal sulam. Sementara, hampir di setiap jalanan di Blora adalah akses yang digunakan kendaraan-kendaraan berat dari berbagai arah. Menurut cerita lisan, jalur di Purwodadi dan Blora adalah jalur utama yang telah digunakan sejak jaman kerajaan Majapahit. Pilihan jalur ini memang cukup rasional. Apalagi melihat medannya yang berbeda dengan jalur pantura (yang teramat memutar), jalur tengah Madiun-Ngawi (yang berliku), dan jalur selatan (yang bergunung-gunung). Tentunya kereta-kereta jaman dahulu akan memilih jalur tersebut.

Gelombang jalanan ini juga terjadi akibat ketidakmaksimalan pembangunan jalan oleh pemerintah setempat. Dalam arti, setidaknya telah ada banyak pilihan penanggulangan akan bahaya kerusakan jalanan tersebut terhadap pengguna jalan. Mengingat, fenomena jalan rusak sudah kerap terjadi dan niscaya. Dalam hal ini, barangkali juga dengan kesadaran menjaga “masa lalu” yang tak ternilai di sekitar jalanan.

Di sana, di Jepangrejo Blora, seorang Ibu rumahan memutuskan untuk melanjutkan keahlian turun temurun dari nenek moyang. Keahlian menyeduh Kopi Santan. Ia dikenal dengan nama Rukmini. Bersama keluarga, membuka kedai kopi warisan Ibu dan neneknya. Selain karena keahlian turun temurun, Rukmini muda sadar bahwa di sekitarnya sudah tidak banyak orang yang pandai membuat Kopi Santan. Informasi dari Sahabat-sahabat Matapena di Blora, sampai hari ini tinggal 2 tempat saja yang membuka kedai Kopi Santan. Salah satunya Ibu Rukmini. Menurut mereka pula, Kedai itu yang lebih enak dan nyaman. Sesederhana apapun penyeduhannya, di situ lebih mementingkan hasil dan cara penyajian.

Di kedai Ibu Rukmini, pembeli memang harus menunggu lebih lama. Karena kelapa baru akan diparut ketika ada yang memesan. Artinya, santan yang akan dikotok relatif lebih segar daripada menggunakan santan yang telah lama dibuat. Selebihnya, takaran kopi dan gula yang dikotok bersamaan dengan santan segar itu. Kata Ibu Rukmini, sebutir kelapa ukuran standart hanya bisa digunakan untuk tiga gelas 400 gram. Jika kurang atau lebih, tentu akan mempengaruhi pada kualitas dan cita rasa.

Di satu sisi, orang-orang Blora sendiri tidak tahu menahu soal awal mula kopi itu dibuat. Tapi tentunya mengandung khasiat tertentu. Menurut para pengunjung yang kebetulan sedang di sana, di hari-hari libur, biasanya para pejabat pemerintah menyempatkan untuk menikmati cita rasa Kopi Santan di Kedai Ibu Rukmini. Bahkan, para penikmat kopi dari luar daerah banyak yang telah singgah di sana. Kesemuanya rata-rata bermula dari cerita ke cerita. Serta, satu hal lagi, Ibu Rukmini sudah sekitar tiga kali direportase oleh tiga media-media kita. Soal manfaat untuk kesehatan, kiranya bisa kita kupas di lain kesempatan.[MF]

0 komentar

Tuesday, February 07, 2012

WC TERPANJANG #ROADSHOW

Tuesday, February 07, 2012

Dia terlahir dengan nama Muhammad Kholil. Nama yang begitu religius dan dahsyat meskipun sudah tidak asing di telinga kita. Tapi, buat Sahabat kita yang satu ini, nama lahirnya tersebut mengalami "evolusi" sedemikian rupa hingga tidak ada satu frase pun yang mengaitkannya dengan nama (popular)-nya sekarang. Sabda, begitulah kini ia disapa. Dia memang bukan siapa-siapa. Pun tidak sombong dengan menganggap dirinya sebagai siapa. Dan Sahabat-sahabat juga gak perlu khawatir, karena dia adalah Sahabat kita. Pernah dia bilang kepada dunia kalau dia ingin menjadi penulis (semoga keinginannya menyubur…). Sama seperti kita.


sekilas MA Zainul Hasan PI

Kali ini, dalam rangkaian #roadshow Matapena ke Jawa Timur, Kang Peppi dkk. bisa singgah dan silaturrahmi dengan Sahabat-sahabat santri PP Zainul Hasan Genggong Probolinggo, berkat konsolidasi Sahabat kita yang satu ini. Ya, Sabda. Tak kurang dari seminggu, Sabda menyampaikan maksud dan tujuan #roadshow ini ke pihak pesantren. Dalam hal ini merujuk pada Bpk. Haqqul Yaqin, S.Fil.I, MA. Beliau adalah kepala Madrasah Aliyah Zainul Hasan. Entah jurus apa yang dipakainya dalam konsolidasi singkat ini sehingga pihak sekolah yakin bahwa dia adalah “anak yang baik”. Lho? Hehe… (mangap, eh, maap, gurau dikit ya...).


Oke, kembali ke cerita.
Sabda, adalah alumni PP Zainul Hasan Genggong Probolinggo yang pertama kali menyambungkan komunikasi dengan pihak sekolah. Wal hasil, tim #roadshow komunitas Matapena disambut hangat dalam forum yang penuh dengan semangat belajar. Baik secara formal, pun kultural. Meskipun kali ini Matapena hanya bisa bermuwajjahah dengan Sahabat-sahabat santri puteri saja. (Semoga santri putera segera…).

Pada sesi pertama, Kang Peppi Al-Ikhtiqom mecairkan suasana dengan gaya khasnya yang memang sedikit berantakan. Terutama jenggotnya… hehe. Tapi biasanya, jenggotnya itu yang membuatnya susah untuk dilupakan orang. Kenapa? Anggap saja mangkelin…!!! (Sekali lagi, maaph. hihihi). Sementara, peserta forum terpesona dengan performanya di depan dengan alat bantu presentasi yang disiapkan panitia. Semuanya oke, pokoknya.


memukau

“Adakah di antara teman-teman yang memiliki jiwa artis…?” tanyanya. Semua peserta hanya bergemuruh, tanpa jawab. “Jika ada,” lanjutnya, “berarti sama dengan saya. Karena saya memang dilahirkan untuk menjadi artis.” Sontak saja peserta terpingkal-pingkal. Ya, begitulah sedikit tentang Kang Peppi. Dia memang dibesarkan di lingkungan artis-artis (pesantren Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta). Dari menjadi seorang teatrawan hingga menyutradarai beberapa pementasan. Termasuk pementasan-pementasan yang diselenggarakan komunitas Matapena di berbagai even. Dan, film pendek berjudul Hadrah Cinta, yang adaptasi dari novel Hadrah Cinta karya Mbak Pijer Sri Laswiji adalah buah karya pertamanya menuju sutradara kawakan. (Semoga, Amien)

Kembali ke Pesantren Zainul Hasan.
Di sana, di luar acara formal, tim #roadshow berkali-kali diingatkan oleh Sabda, bahwa mereka punya WC terpanjang se-Genggong. Karena penasaran, Kang Peppi membuktikan kesungguhan cerita Sabda. Benar saja, Kang Peppi begitu takjub setelah melihatnya secara langsung. Bahkan, untuk mengobati rasa penasarannya itu, dia mencobanya beberapa kali. Hmmmm, gimana ya rasanya? Hehe. Bagi Sahabat-sahabat Matapena yang juga penasaran, silakan sesekali berkunjung ke sana, dan buktikan sendiri. Tapi itu di asrama putera. Kalo di puteri sama gak ya? Nah, kalau itu, mari tunggu lewat novel-novel yang bakal ditulis Sahabat-sahabat kita di sana. Setujaaaa?!!


seorang peserta yang naskahnya kini dalam proses pembacaan kepala sekolah
dan segera, akan dikirim ke komunitas matapena

Terakhir yang sempat terekam dari Zainul Hasan, adalah harapan panitia akan kunjungan Matapena di lain waktu dan kesempatan. Mereka ingin ada ikatan silaturrahim yang kuat sehingga teman-teman yang lain, yang belum berkesempatan mengenal Matapena secara langsung, pada saatnya mendapat kesempatan tersebut. Nah, jika demikian, silakan teman-teman mengkoordinir yang lain untuk bergabung dengan komunitas Matapena. Sederhananya, teman-teman nantinya akan semakin bertambah kenalan dari berbagai penjuru Jawa, dan kelak se-Nusantara. Dalam rangka menghidupkan tradisi kepenulisan dan sastra pesantren. Dimana secara keseluruhan dibingkai dalam SANTRI INDONESIA MENULIS.[MF

3 komentar

Wednesday, February 01, 2012

DI MALANG TAK MALANG

Wednesday, February 01, 2012
Roadshow Komunitas Matapena kali ini mengambil secara acak di beberapa daerah di Jawa Timur. Titik pemberangkatan awal berlokasi di Malang, tepatnya di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I Gondanglegi Malang. Menurut informasi dari Kang Mahbub Djamaluddin, Raudlatul Ulum Gondanglegi termasuk dari tempat yang dikunjungi Matapena pada Roadshow gelombang pertama, kira-kira pada pertengahan tahun 2007. Di sana pula awal kali Matapena melakukan workshop selain di beberapa pesantren. Ada sejumlah anggota dari Raudlatul Ulum Gondanglegi yang ternyata samapai saat ini masih menetap. Kesemuanya adalah santri puteri.


Di Raudlatul Ulum, kunjungan Matapena kali ini diisi dengan bedah novel MAFIA THREE IN ONE karya Muhammad Mahrus, santri pesantren tersebut yang kini tinggal di Yogyakarta. Acara digelar pertama kali di komplek puteri dengan dihadiri hamper seluruh penghuni asrama puteri. Antusiasme santri puteri begitu hebat menjamu tim roadshow sewaktu forum berlangsung. Barangkali karena buku yang dibedah adalah buah tangan santri sana sendiri. Tampaknya, mereka juga ingin suatu ketika, karya mereka juga akan diapresiasi semacam itu.


Dari raut muka mereka, ada banyak yang ingin diutarakan. Entah dalam bentuk curahatan, tanggapan, pertanyaan, dan sebagainya. Sayangnya, mau atau tidak acara mesti dibatasi. Pun, acara yang dimulai sejak selepas isya’ itu berakhir sekitar jam setengah dua belas malam. Ya… barangkali harus diadakan di lain waktu lagi. Kan tinggal mereka yang menentukannya. Iya, to?


Di malam berikutnya, acara digelar di aula putera. Pesertanya tak kalah banyak, sih. Tapi rata-rata mereka lebih memilih diam. Beda dengan yang puteri. Di sisi-lain, kebanyakan dari santri putera di sana memang relatif masih kecil. Ketika bedah novel berlangsung, sebagian dari mereka cuma bengong. Bisa jadi karena memang mereka nggak nyambung dengan tema diskusinya. Wah, sayang sekali. Tapi setidaknya, beberapa dari mereka yang nyambung masih bisa menghidupkan forum. Bahkan, sebelum acara diakhiri, mereka minta diputarin film pendek produksi Matapena; HADRAH CINTA.[MF]

0 komentar