Tuesday, December 18, 2007

Petualangan Ning Aisya

Tuesday, December 18, 2007

Tiga novel besutan Camilla Chisni ini terbit bersamaan, dengan kredit title September 2007. Bercerita tentang Ning Aisya yang berupaya mendapatkan ingatannya kembali setelah mengalami kecelakaan. Dengan bahasa yang lincah, Mila coba membuka masa kecil Ning Aisya dalam sekuel pertama.

Memang, Aisy kecil hidup dalam lingkungan yang serba berkecukupan lengkap dengan status sosialnya sebagai puteri kiai besar. Tapi, sepertinya ia memang terlahir menjadi sosok yang 'lain' di banding saudara-saudara sekandungnya. Aisy mulai menunjukkan pemberontakannya yang khas anak kecil atas kemapanan yang melingkupinya.

Jiwa pemberontak Aisya semakin mengemuka saat ia memasuki usia remaja. Dalam sekuel dua dan tiga Mila lebih tajam memaparkannya. Pantas kalau kemudian dia banyak berseberangan dengan abah dan kakak-kakaknya yang lain.

Hanya dengan Vidhis, cowok yang phobi dengan kecoa itu, Aisy memiliki kesamaan. Dan, lewat kakak kandungnya itulah ia banyak belajar tentang dunia lain yang akan membuat dia bisa melihat bintang yang lebih indah dibanding jika ia melihatnya dari taman rumahnya. Mereka mirip tidak hanya sifat dan karakter, tapi juga wajah. Satu hal yang banyak membuat orang mengira kalau mereka kembar.

Hanya saja, kehadiran Vidhis ternyata tidak serta merta membuat lebih mudah perjuangan Aisy mendapatkan ingatannya kembali. Belum lagi beberapa kali Aisy harus mengalami trauma melihat kehadiran Elang dan Regi, dua cowok yang begitu lekat dalam ingatan Aisy meskipun tak jelas punya hubungan seperti apa.

Lalu, apakah Aisy bisa pulih seperti sedia kala? Aisy yang hebat dan penuh solidaritas terhadap sesama? Penuh cinta dan simpatik pada tiap mata yang sempat mengenalnya?

Mila membagi novel ini dalam tiga sekuel besar perubahan kehidupan seorang Aisya. Perpaduan antara bahasa yang lugas dan alur apik yang sesekali mengejutkan membuat tulisan Mila seperti sebuah petualangan yang menghampar luas dan kaya.

1 komentar

Thursday, November 22, 2007

INDAHNYA MALAM…
PENGANUGERAHAN PENGHARGAAN SASTRA INDONESIA 2007

Thursday, November 22, 2007


Sore itu agak gerimis. Tapi, saat malam menjelang, tepatnya jam 19.30 WIY (Waktu Indonesia Yogya), gerimis itu tinggal sisa basahnya di sepanjang jalan, atap, dedaunan, dan segala benda yang tak terlindung dari tatapan langit.

Mungkin semua orang tahu bahwa pada tanggal itu, 10 November 2007 adalah hari pahlawan. Di mana-mana ada perayaan peringatan hari peperangan yang konon terjadi di Surabaya itu. Tapi, hanya beberapa orang yang tahu bahwa pada malam itu, di Taman Budaya Yogyakarta ada malam yang sangat istimewa karena baru pertama kali acara itu dilaksanakan. Malam penganugerahan penghargaan Sastra Indonesia. Yaitu malam pemberian penghargaan kepada sastrawan yang berdomisili di Yogyakarta dan karyanya menjadi nominasi karya sastra terbaik.

Nah, U pada tahu nggak siapa sih sastrawan Yogya yang ketiban bulan malam itu? Hmm. Kalau kamu belum tahu, kamu boleh menduga mungkin salah satu dari penulis Matapena kali ya? Soalnya, malam itu tampak 3 penulis Matapena yang hadir; Mas Sachree, Mbak Pijer, dan Mas Zaki Zarung. Dan selidik punya selidik ternyata ada 3 penulis Matapena juga yang novelnya ikut diseleksi. Yaitu: Mbak Isma kz, Mas Sachree M. Daroini, dan Mbak Pijer. Tapi masak sih di antara mereka bertiga yang dapat penghargaan? Hebat banget?!

Pengen tahu cerita yang sebenarnya?! Ni, baca nih liputan khusus wartawan Matapena pada malam penghargaan sastra Indonesia di Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 10 November 2007.

Acara malam itu dibuka oleh seorang MC. Setelah itu sambutan dari kepala Balai Bahasa, Bapak Tirto Suwondo, M. Hum.

Menyimak sambutan Bapak Tirto Suwondo, penganugerahan Penghargaan Sastra Indonesia itu baru pertama kali dilaksanakan malam itu dengan maksud dan tujuan untuk memotivasi perkembangan sastra Indonesia, khususnya di Yogyakarta.

“… Baiklah, saat ini kita tidak perlu berpikir negatif, dan bukan pada tempatnya untuk berdebat tentang relevansi penghargaan sastra dan perkembangan sastra. Sebab, penghargaan sastra yang mulai tahun ini dan diusahakan akan berlangsung rutin setiap tahun, akan diberikan oleh Balai Bahasa Yogyakarta kepada buku, karya sastra terbaik (novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, dan drama) tidak lain dilandasi oleh keinginan yang kuat untuk memberikan dorongan dan semangat bagi siapapun yang masuk dan hidup di dunia sastra di Yogyakarta, di samping untuk turut serta membangun keindahan Yogyakarta sebagai kota seni, budaya dan sastra”, ungkap Pak Tirto Suwondo.

Jadi, ternyata acara itu memang khusus bagi sastrawan Yogyakarta. Rencananya setiap tahun akan diadakan seleksi, yaitu dengan kriteria; karya yang diikutkan seleksi tahun 2007 ini adalah karya-karya yang terbit pada tahun 2006, sedangkan untuk edisi penghargaan tahun depan (2008) adalah untuk karya-karya yang terbit pada tahun 2007. Begitu seterusnya. Nah! Makanya mumpung sekarang masih ada waktu satu setengah bulan di tahun 2007, segera berkarya! Supaya nanti bisa ikut seleksi di tahun 2008.

Setelah sambutan Pak Tirto selesai. Ada pembacaan cerpen oleh Laila Apriana, mahasiswi UAD. Lalu dilanjutkan dengan acara inti, yaitu Penganugerahan Penghargaan Sastra Indonesia.

Acara yang sudah tidak membuat dag dig dug ser karena sebelumnya sudah diliput di Kedaulatan Rakyat itu diawali dengan pembacaan berita acara oleh Pak Landung Simatupang selaku wakil dari dewan Juri. Menurut beliau sebenarnya semua penerbit di Yogyakarta telah diberi kesempatan untuk mengikutsertakan karya-karya terbitanya untuk diseleksi, tapi ternyata hanya ada 6 penerbit dengan 12 karya yang masuk seleksi. Dari sebuah novel, satu kumpulan cerpen dan satu buku puisi, para dewan juri bersepakat untuk memilih sebuah novel sebagai penerima penghargaan, yaitu novel LUMBINI karya Kris Budiman, Dosen Pascasarjana UGM, Unv. Atmajaya dan ISI Yogyakarta.

Karya beliau yang berjudul Lumbini dan bersetting di Nepal ini dianggap telah berhasil memenuhi persyaratan dari sudut tema, teknik penulisan, ekspresi dan ketepatannya. Kecermatan penulisan latar tempat, konsep-konsep, dan perilaku tokoh-tokohnya terekspresikan dengan pas dan apik. Ketelitian pembahasaan menjadi keunggulan tersendiri dari novel ini dibanding novel-novel lain yang masuk nominasi. Selain itu novel yang bercerita tentang perjumpaan Niko dan Ratna dalam sebuah peziarahan di Lumbini (tempat yang dipercaya sebagai kelahiran Sidharta) yang kemudian berbuntut panjang itu dianggap mampu menjembatani hiruk-pikuk dunia pop yang sarat dengan konsumtivisme dan superfisialitas, yaitu dengan dunia perenungan spiritual-intelektual yang mendalam.

Hehehe. Begitulah ceritanya, ternyata karya-karya para penulis Matapena belum bisa mendapatkan penghargaan sebagai karya sastra terbaik pada tahun ini. Tapi tidak apa-apa, setidaknya acara itu benar-benar akan menjadi penyemangat bagi teman-teman Matapena untuk terus berproses dan berkarya. Yuk! Fastabiqul Khoirot di tahun 2007. Siapa berani? Ayo berkarya untuk diseleksi.

Eit, tapi acaranya malam itu masih panjang lho! Setelah pemberian penghargaan kepada Pak Kris, dilanjutkan dengan Dramatisasi Puisi “Balada Sumilah” karya W.S. Rendra oleh Sanggar Sastra Indonesia. Yah, lumayan bagus gitu lah!

Emm, terus…setelah itu, dilanjutkan lagi dengan dialog sastra yang bertema “Gairah Penerbitan dan Penyebaran Sastra di Yogyakarta oleh Pak Sholeh UG dari Penerbit Navila. Tapi, sayangnya acara itu agak kurang diminati. Ketika acara dimulai, beberapa peserta yang hadir justru banyak yang keluar dari gedung. Kebanyakan mereka justru anak-anak muda. Yah, gimana nih?! Pantas saja yang dapat penghargaan generasi tua, abis generasi mudanya saja nggak bergairah begitu! (hehe, termasuk penulis).

Memang sepertinya perlu diteliti dan diselidiki sebab-sebab kenapa acara itu tidak menggairahkan. Terlihat malam itu yang bertanya pada pembicara hanya seorang sastrawan yang sudah tidak asing lagi, yaitu Pak Mustofa W. Hasyim. Yah, kalau menurut Pijer sih, tidak tepatnya jadwal itu di penghujung acara. Soalnya sudah malam. Geliatnya sudah berganti ke dunia lain. Dunia mimpi, bukan dunia sastra. Soalnya waktu Sachree sama Zaki bersemangat hendak bertanya dalam session dialog itu, Pijer memprovokasi, “Nggak usah tanya ya, biar cepet selesai! Abis aku ijinnya tadi cuma sampai jam 10 malam”. Ups! Ternyata karena alasan pribadi Pijer yang tinggal di Pesantren, dan... tu lihat siapa yang mengantarnya malam itu? Mbak Atin, seksi Keamanan Pondok Putri. Heheh! Tapi memang sih, sebaiknya acara serius seperti itu diletakkan di awal/ pra acara atau di tengah supaya pesertanya masih semangat.

Oya, acara itu ditutup dengan pembacaan penggalan novel Lumbini oleh Pak Landung Simatupang dengan iringan gitarisnya, yaitu putranya sendiri. Hanya penggalan yang tidak panjang. Cerita itu terhenti saat mata Ratna berpaut pada relief Dewi Maya (Ibunda Sidharta Gautama). (pij)

3 komentar

Monday, November 12, 2007

Tentang Undangan dari Balai Bahasa Yogya

Monday, November 12, 2007


Sabtu, 10 November 2007 tiga orang penulis Matapena mendapat undangan dari Balai Bahasa Yogyakarta dalam acara malam penganugerahan penghargaan sastra di Taman Budaya. Kebetulan hanya saya, Sakri, dan Pijer yang tinggal di Jogja dan novel mereka terbit pada tahun 2006.

Sehari sebelumnya saya sempat membaca berita di Kedaulatan Rakyat soal minimnya minat para penerbit untuk ikut serta dalam ajang ini. Mengirimkan buku sastra terbiitan bereka yang ditulis oleh penulis Yogya. Padahal kalau dihitung, cukup banyak juga jumlah penerbit di Yogyakarta. Menurut sebuah sumber, apakah ini menunjukkan bahwa buku sastra yang mereka terbitkan tidak berkualitas?

Entah iya entah tidak, jelaslah mereka punya alasan masing-masing. Kalo Matapena sendiri kenapa ikut dalam ajang ini, sebagai upaya untuk membuka peluang bagi novel pop pesantren untuk diapresiasi, lebih jauh lagi bisa diakui dan dihargai. Meskipun sangat jelas kalau tulisan Isma, Sakri, dan Pijer tidak bisa digolongkan dalam "sastra serius dan berat". Menyebutnya saja dengan novel pop pesantren.

Maka, ketika pagi itu tertulis di koran tersebut, siapa saja nominator penerima penghargaan, saya sudah maklum. Tapi ada juga sih, celetukan: "Kok ini masih ikut ya?" Mungkin sebagai celetukan kaget karena ternyata tidak banyak penulis atau sastrawan muda di Jogja yang muncul di permukaan. Nama-nama yang muncul sebagai nominator adalah nama-nama lama yang sudah sangat jelas keredibilitas mereka di dunia sastra. Ya iyalah, wong namanya penghargaan sastra. Buntutnya jadi elitis yak!

Atau, bisa jadi karena itu, lalu beberapa nama baru menjadi apatis? Atau, mungkin bisa ditambahkan kategori baru untuk pendatang baru seperti yang dilakukan KLA tahun ini: Penulis Muda Berbakat. Entah juga.

Dan, karena saya tidak bisa datang karena kesibukan *alah*, jadi laporan malam penganugerahan yang dimenangkan oleh Kris Budiman itu, akan disusulkan oleh Pijer.

0 komentar

Tuesday, November 06, 2007

Syawalan 1428 H.

Tuesday, November 06, 2007

Hari Sabtu, 27 oktober 2007, Matapena bersama teman-teman divisi lain di bawah payung Penerbit LKiS, duduk bersama melingkar di halaman kantor untuk Syawalan. Biarpun acaranya sederhana, nggak mengurangi makna dan arti diadakannya Syawalan. Apalagi, kalau ceramah agamanya disampaikan oleh Ustadz Fuad Mustafid dari Pesantren Krapyak.

"Bahwa Syawalan adalah moment final setelah satu bulan berpuasa, membayar fitrah, dan aktivitas peribadahan lain kepada Allah. Syawalan dilakukan kaitannya dengan hubungan manusia dengan manusia yang lain. Dengan demikian, manusia bisa kembali pada fitrah yang sejati, suci dari dosa-dosanya pada Allah, dan salah khilafnya kepada manusia."

Dan, oleh karena itu, mumpung masih bulan Syawal, kami juga mau bersyawalan dengan teman-teman pembaca yang budiman. Mohon maaf lahir batin. Minal aidin walfaizin, kullu amin wa antum bikhoir. Amiin.

0 komentar

Thursday, August 09, 2007

Sebuah Laporan Perjalanan Workshop
MAN MODEL Ciwaringin Cirebon
1-2 Agustus 2007

Thursday, August 09, 2007

Sebelum harga tiket, tentu ada alasan lain mengapa kami memilih kereta api. Suasana baru—yang mungkin bisa dijadikan ide-ide segar bagi pikiran. Kebebasan bergerak, tidur, dan tentunya buang air. Juga tidak pakewuh kalau mau menyulut sigaret atau sekedar kentut—yang tanpa bunyi—mengingat angin yang terus mengganti udara di ruangan gerbong. Dan yang terakhir, terbukanya kemungkinan mendapat teman bicara yang asyik.

Memang benarlah. Harapan kami terwujud di Gaya Baru Malam Selatan. Kami duduk bersama dua kawan baru. Satu dari Purwokerto, satu dari Tegal. Keduanya berencana pulang setelah merantau di Madura. Sepanjang perjalanan kami bicara ini dan itu. Hal-hal semelekete yang remeh temeh. Tetapi lumayan, daripada di travel yang biasanya antar penumpang hanya saling diam. Jaga imej. Mungkin karena ego para borjuis negeri ini selalu lebih besar; berbeda sekali dengan para proletar yang bisa langsung akrab meski belum kenal sebelumnya.

Begitulah. Perjalanan kami ditemani ayunan gerbong ke kanan ke kiri. Suara para asongan menawarkan jajanan dan kopi. Derit-derit roda besi. Dan terkadang tangis bayi yang terbangun di malam hari.

“Udah sampe mana, Pa, perjalanannya?” sms dari Zenal.
“Baru di stasiun Kebumen. Perkiraan sampe Cirebon 1/3 malam. Jadi kau tidur aja. Ntar kubangunin untuk qiyamulail. Hehe…” jawabku coba menjayuskan diri.
Peluit masinis melengking di depan sana. Dan bergeraklah berduyun-duyun pasukan pejalan dari stasiun Kebumen menuju Jakarta.

Nyatanya, pukul 05.30 kami baru sampai di Jaksan, stasiun besar kota Cirebon. Shalat subuh sekedarnya. Istirahat sekenanya. Lalu sms Zenal.
“Gimana nih, ada yang mo jemput?”
“Naik help aja. Jurusan Kadipaten dari Kedawung.”
“Mas-mas,” tukang becak menyambut rejeki pagi. “arep nangendi?”
“Ciwaringin.”
“O, ke kedawung dulu berarti. Ayuh, tek terna apa?” mulailah ia menebar pesonanya.
“Berapa sih, pak?” Sachri mengambil kuda-kuda membela diri. Siapa tahu kita diembat.
“Ya terserah, lah.”
“Jauh dari sini, Cidawungnya?”
“Kedawung. Bukan Cidawung. Yah, jauhnya sih nggak. Tapi nek mlaku ya lumayan.” Kami duduk. Bermusyawarah. “Gimana, sach?” bisik-bisik.
“Ayu lah, melu aku bae.”
“Pira si pak?” kataku melu-melu ngapak.
“Rongpuluh.”
Dan terperanjatlah kami berdua. Harga gila apa! Pagi-pagi udah minta duapuluh! Mau ninggalin si tukang becak, kasihan juga. Dah dari tadi mengawal kita sejak pintu stasiun hingga di tepi jalan. Mana pagi lagi! Belum terlihat angkot atau apa. Maka Kami terpekur sendiri-sendiri. Gila! Duapuluh? Jogja-Kebumen aja cuman enam belas!
“Ya wis. Tek muraih. Limalas wis.”
“Telungewu, gelem?”
Tukang becak tersungut-sungut. Muncu-muncu tuh mulut. Akhirnya, dengan tipu muslihat klasik, kami berhasil meninggalkan tukang becak yang sangat optimis menggaet kami itu. Apa jurus klasik itu? Sok pede. Ya, kami dengan pede berjalan seakan-akan kami udah hapal tlatah cirebon.
“Wis, pak. Aku arep numpak help bae,” kata kami seraya meninggalkannya dengan langkah-langkah panjang tanpa keraguan. Meski di hati kecil kami terdapat kesangsian apakah arah yang kami tempuh benar atau salah.

Untunglah kami ketemu ibu muda—yang meski tidak cantik—tetapi lumayan baik hati. (eh, apa hubungannya cantik dan informasi?) Kami tanya ini dan itu kepada malaikat baik hati kami ini, yang kemudian segera menunjukkan help apa yang harus kami naiki dan sekaligus ongkosnya. Baikan banget, kan? Coba kalau cantik. Pasti sudah kutaksir. Hehehe. Maksudnya, kutaksir dagangannya. Ibu muda ini kan sedang nata-nata dagangan di depan sebuah sekolah dasar.

***

“Kami dah naik jurusan Kadipaten. Masihkah jauh?”
“Dah dekat, koq. Minta turun di MAN Model. Sopirnya pasti tahu.” Jawab sms Zenal.
Redaksi ‘deket’ yang dipakai zenal membuat kami gelisah. Ya karena kami nggak sampai-sampai juga. Jangan-jangan kelewatan? Ini ditambah lagi keterangan si kernet yang mencla-mencle. Kami tanya, “Berapa kilo?”
“Lima kilo paling, mas.”
Setelah kira-kira lima kiloan bis berjalan, kami tanya lagi. “Masih jauh?”
“Paling-paling tinggal empat kilo.”
“Weh>?./(0@#%$!”
“Sach, kamu liat sebelah kanan. Aku liat sebelah kiri. Kalau ada plang MAN model, langsung bilang ‘kiri’.”
Tapi sampai duapuluh menitan kami menjelalatkan mata, tak jua menemukan plang ataupun papan nama. Dan bertambah gebalau lah jiwa kami, ketika mobil yang kami tumpangi disalip bus besar jurusan bandung. Weh, jangan-jangan kita sampai mbandung, dab?
Ternyata tidak. Karena si kernet kemudian memukulkan recehan di kaca jendela. Lalu turunlah kami.
“Itu, mas, MAN Model.” kata si kernet. “Nyeberang jalan, masuk satu kilo.”
Kulihat hape. Jam 08.30. Wah, telat jauh nih!

***

Kami ditempatkan di madrasah, di kantor atas yang terdiri dari kamar-kamar. Entah lokasi itu biasanya digunakan untuk apa. Yang jelas, hanya kamilah yang menjadi penghuninya sejak saat itu. Mungkin perlu disebutkan di sini bahwa kamar kami memiliki fasilitas yang mencukupi: ac, dua pasang ranjang bertingkat (jadi ada empat ranjang), kasur yang berjumlah lima, bantal dan guling yang tidak terhitung, serta jendela yang—jika kami jail—bisa digunakan untuk menyeleksi siapa yang pantas jadi miss madrasah. Untung saja kami adalah para lelaki yang shaleh, berbudi tinggi, dan berakhlak mulia. Hehehe.

Setelah istirahat, mandi, dan berdandan dalam waktu yang singkat; yakni sekitar lima belas atau dua puluh menit, kami pun langsung menuju aula. Di sana anak-anak belum berkumpul semua. Baru sesudah kami menghabiskan dua batang rokok, anak-anak pun datang, dan acara pembukaan pun dimulai. Acara ini berakhir pukul 10.00.

Karena acara sudah kadung mundur, akhirnya kami berkreasi sendiri membikin memodifikasi jadwal yang sudah ditetapkan. Sachri memulai dengan sekilas motivasi. Mungkin karena sedikitnya waktu, dan juga karena sound-system yang kurang bagus, agaknya kurang mengena kepada khalayak. Apalagi waktu itu tempat duduk belum disetting sedemikian rupa, sehingga jarak penceramah dan audiens terlalu juah. Sesudah pembukaan selesai, dan guru pembimbing dengan leluasa pergi dari sidang pembelajaran, acara dilanjutkan dengan lebih santai. Anak-anak yang tadinya pada mojok digiring duduk di depan. Dan manual acara pun langsung masuk ke pembahasan fiksi dan non-fiksi, yang juga disampaikan oleh Sachree. Pada sessi ini, peserta diarahkan untuk membedakan mana karya yang fiksi dan mana yang non-fiksi.

Tanpa istirahat, aku melanjutkan masuk ke pembahasan tentang ide. Aku sebenarnya sudah nyiapin sejumput makalah sebagai bahan bacaan. Akan tetapi entah mengapa, file-nya justru ketinggalan di yogya. Akhirnya aku pun cuap-cuap aja. Tentang bagaimana cara mencari ide. Kuselang-seling acara ini, antara cuap-cuap dan main-main; pohon ide, dan kenakalan ide.

Acara sesi ini ditutup dengan menugaskan peserta untuk menuliskan idenya, yang nanti hendak dikembangkan menjadi cerpen. Dan tibalah saat yang ditunggu-tunggu: Ishoma. Bukan isho-nya yang begitu ditunggu, tetapi ma-nya. Karena memang sejak pagi kami belum makan. Hehe.

Pukul 13.30 acara dilanjutkan. Pada sesi pertama, peserta dibikin dua kelompok. Satu dipegang aku dan satu dipegang sachre. Di setiap kelompok, masing-masing peserta mengungkapkan apa ide mereka dan bagaimana alurnya. Pada sesi ini, apa yang biasa kami terapkan di komunitas matapena jogja, juga berusaha kami doktrinkan kepada mereka. Yaitu, agar peserta aktif memberikan masukan-masukan kepada teman-temannya. Sayangnya, mereka masih kaku dan sachre yang dalam sesi ini lebih menempatkan diri sebagai pendamping, bukan pembicara. Tapi meski demikian, aku salut kepada beberapa peserta, yang ternyata sebagian anak sudah mulai menuliskan novel-novel mereka.

Setelah kumpul-kumpul selesai, peserta kembali masuk barisan besar. Dan acara dilanjutkan untuk pendalaman unsur-unsur intrinsik karya sastra. Mulai dari setting, opening, konflik, penokohan, setting dan ending. Acara ini dipandu oleh sachree.

Untuk memperdalam pemahaman, pada sesi selanjutnya aku dan sachree membagi peserta menjadi lima kelompok; masing-masing kelompok diberi satu cerpen karya teman-teman langitan. Lalu dalam waktu setengah jam, setiap kelompok harus selesai menuliskan unsur-unsur cerpen itu, dan mempresentasikannya di depan setelah sebelumnya memberikan gambaran singkat cerita kepada audiens.

Ternyata waktu masih tersisa lumayan banyak. Maka kami sepakat untuk ‘mempermainkan’ peserta dengan sistem copy to master. Dari cerpen tersebut, setiap peserta harus membikin ceritanya lagi.

Acara diakhiri pukul 16.30 WIC (waktu indonesia cirebon), setelah sebelumnya kita memberikan semacam pe-er agar masing-masing peserta membikin cerpen dari hasil ide yang telah dirumuskan tadi pagi, dan dikumpulkan besok. Meski acara udah ditutup, tapi sebagian peserta masih ada yang ngerubung. Kita ngobrol-ngobrol tentang permasalahan mereka dalam menulis dan bagaimana solusinya. Pukul 17.00 kami baru bisa kembali ke kamar.

***

Acara dilanjutkan pukul 08.30 Pagi itu kami ot-bond ke luar. Ini penting, mengingat cewe-cewe yang menggigit kami semalam, selidik punya selidik, ternyata pada lari ke hutan gung-liwang-liwung di samping sekolah. Maka pasukan kami yang bersenjatakan sepucuk pena dan segepok buku, kami siapkan. Aku pimpin di depan; menjadi kepala dari barisan yang mengular menyusuri jalan setapak membelah belantara. Sachree dan panitia mengiring di belakang.

Sesampainya di tempat yang bisa dibilang romantis, dan bisa juga serem, dan bisa juga acak-acakan, kami pun mengkoordinir pasukan dan mengomando mereka agar berburu setting. Silahkan tuliskan setting tempat ini. Entah itu hutannya, daun-daunnya, semutnya, langitnya, nyamuknya, sampah-sampah yang mengering, jembatan, pohon tumbang, atau apalah.

Dan begitulah. Selayak militer, mereka pun segera melaksanakan komando. Ada yang pergi ke ujung-ujung hutan. Ada yang bernaung di bawah pohon bambu. Ada yang nongkrong di pohon tumbang yang melintang. Ada pula seorang siswi yang duduk di bawah jembatan, mengamati lorong gelap sungai yang telah mengering. Semuanya tenggelam dalam dunia imaji mereka. Dalam gerakan gemulai lengan tangan menggoreskan pena di kertas kosongan. Tentu saja, likulli syain mustasnayat…. Karena ada juga yang ngobrol sendiri dan bersendagurau di pojok-pojok hutan. Tapi biarlah. Toh mereka bukan militer. Mereka dah gede-gede, dan kedatangan kami memang bukan untuk membentak….

Acara berburu setting diakhiri pukul 09.00. Sebelum bubar, kami komando lagi mereka agar sepanjang perjalanan pulang mereka membayangkan salah satu tokoh unik yang pernah mereka jumpai di sekolah atau pesantren. Baik itu guru yang killer, guru yang mbeller, santri yang suka ngiler, ataupun siswa yang funker. Pokoknya yang unik-unik. Nah, sesampai di kelas, kita pun langsung mengasah keahlian mereka untuk menggambarkan tokoh mereka. Kami patok waktu dua puluh menit. Dalam prakteknya, kami beri toleransi sampai dua puluh lima menit.

Ternyata, hasil tulisan mereka bagus-bagus. Ngimaji-ngimaji. Melangit-melangit. Dan unik-unik. Meski tentu saja bahasa tulis mereka masih kurang alus.

Oleh karena itulah, setelah break-free sekitar limabelas menit, kita melangkah ke sessi selanjutnya dengan membahas eyd dan bahasa tulis. Aku gamblangkan tentang kesalahan-kesalahan tulis yang seringkali terjadi pada pemula. Mulai dari cara bikin dialog yang kerap tanpa tanda kutip, atau pake tanda kutip tetapi ngaco; bagaimana membubuhkan tanda tanya dan tanda seru; titik-koma; dan sebagainya.

Lalu sachree menambahi dengan mengoreksi kesalahan-kesalahan umum yang ada pada cerpen mereka (yang saat itu sebagian udah dikumpulkan, sebagian belum) yang berkaitan dengan eyd dan bahasa tulis. Dan karena kesalahan besar terletak pada cara menulis dialog, maka sachree menugaskan agar mereka membikin dialog antara tiga tokoh dengan cara yang benar. Kami beri waktu sepuluh menit. Uniknya, ketika mengumpulkan tugas itu, ternyata masih saja ada beberapa yang salah. Bahkan malah ada yang bikin kayak naskah drama. Huuh!

Acara diakhiri pukul 12.00. Kita break-ishoma. Pukul 13.00 lebih sedikit acara dilanjutkan. Manual acara ngritik karya mereka terpaksa kami hilangkan mengingat tidak adanya waktu untuk membaca karya mereka. Disamping itu, sampai jam istirahat berakhir baru enam atau delapan naskah yang kami terima. Jadi, ya akhirnya kami langsung masuk acara problem solving; plus penjelasan lebih lanjut tentang matapena dan visi-misi workshop I-II-III serta kesalingterkaitannya.

Nah pada sessi problem solving ini peserta bertanya ini itu. Dalam forumku, aku ajak mereka untuk mandiri. Artinya, aku tidak serta merta menjawab masalah mereka. Tetapi aku tawarkan kepada peserta lain, siapa tahu ada yang membantu. Lumayan juga, sebagian peserta berani angkat bicara. Meski sebagian yang lain masih aja malu-malu dan malu-maluin. Setelah acara problem solving selesai, kami teruskan dengan acara visi misi workshop I-II-III. Di sini kami benar-benar menekankan agar mereka berkarya sepanjang jeda antar workshop. Karena menjadi mulgho ketika workshop I belum dipraktekkan, misalnya, tiba-tiba mereka ngikutin workshop II. Wong bikin cerita yang pendek aja belum bisa bagaimana mau bikin semi-novel yang lebih panjang lagi? Dan peserta terangguk-angguk. Kayaknya yakin banget mau bikin karya….


Acara kami tutup pukul 15.30. Kami pulang setelah makan dan mandi sekilas. Eh, dalam perjalanan dapat sms: “Pak, apa kami masih bisa ketemu di sini? Ini Musa’adah. Aku mau bicarakan buku karyaku: 12 pemusnah jenuh dan satu novelku (remaja islami)….” “Oh, kami sedang dalam perjalanan pulang, ‘Nak’…. Kau kirim aja ke matapena… atau e-mailnya…. Gimana?”

Dan kami melanjutkan jejak petualang cirebonan. Sachree naik kereta dari Prujakan—kereta jalur utara langsung menuju surabaya; aku naik kereta dari Jaksan—kereta jalur selatan langsung menuju Jogja tercinta. Dan sekali lagi, di perjalanan ini aku menemukan kawan obrolan yang asyik—yang cerita tentang hal-hal yang tidak ditemukan di buku-buku. Bertemu pengamen-pengamen nakal yang layak dijadikan bahan novel, tukang kopi yang tak lelah-lelah mondar-mandir dari gerbong ke gerbong, bencong-bencong yang menjual keseksian dan suara fals mereka begitu kereta memasuki tlatah wates hingga jogja. Dan pemandangan asyik sepanjang kereta menyusuri rel yang tak putus-putusnya itu.

Wallahu a’lam….

mahbub dje August 7, 2007

4 komentar

Friday, July 27, 2007

Laporan Perjalanan Workshop II
PP Roudhotul Ulum Gondang Legi Malang
19—20 Juli 2007

Friday, July 27, 2007


Menuju Roudhotul Ulum…

Semula saya sama Pijer mau berangkat Kamis pagi naik travel. Tapi, karena ada pemberitahuan mendadak soal pembukaan acara yang bisa diajukan Kamis bakda zhuhur, pemberangkatan pun diajukan Rabu malam. Supaya Kamis pagi kami bisa istirahat, sebelum siang harinya memulai acara.
Perjalanan dengan travel relatif aman dan menyenangkan. Kecuali saya sama Pijer harus dibuat pusing oleh bau minyak wangi seorang kakek-kakek yang duduk di sebelah saya. *Maaf ya, Kek!* Ditambah teriakan mas-mas kribo-hitam menjelang subuh, gara-gara pak supirnya kelamaan berhenti di suatu tempat.
“Menemui istrinya apa ya!”
“Shalat kali,” celetuk dua penumpang cewek yang selalu nyekikik sejak berangkat dari Jogja.
“Shalat apa. Masjid aja belum bersuara!”
“Shalat sambil zikir. Yang lama kan zikirnya…”
Untung adu pendapat itu tidak berbuntut panjang. Sama seperti sikap Pak Sopir yang tidak mau memperpanjang pertanyaan si cowok kribo-item, “Kok lama, Mas?” Dia cuek saja, menginjak pedal gas, meneruskan kembali perjalanan. Mengantarkan saya sama Pijer sebagai penumpang pertama yang diantarkan, sampai tepat di depan rumah Kang Ipeng, pukul 06.00. *Makasih ya, Pak*


Workshop II

Pembukaan yang sedianya akan dilaksanakan bakda zhuhur, molor jadi bakda ashar. Diikuti 18 peserta, workshop II dibuka oleh Aisyah, nyai muda PP Roudhotul Ulum puteri. Setelah sambutan Aisyah, saya mengajak teman-teman untuk jajak kebutuhan. Ternyata dari ke-18 peserta, 12 anak sudah mengikuti workshop I sebelumnya, sementara 6 anak belum mengikuti.

Dari ke-18 kuisioner jajak kebutuhan, bisa dikerucutkan dalam 3 keinginan: 1) sharing pengalaman menulis, 2) teknik menulis: terutama membuat ending tulisan dan bagaimana menulis novel, 3) teknik editing naskah yang sudah ditulis. Need assessment selesai bertepatan dengan azan maghrib. Kami sepakat bubaran dulu, dan berkumpul kembali bakda isya, untuk materi pembahasan karya peserta pada workshop I sekaligus penajaman materi tentang unsur intrinsik karangan, dan pengayaan tema novel pop pesantren.

Malam pertama di Roudhotul Ulum kami manfaatkan untuk berbicara soal teknis kepenulisan. Peserta dibagi dua kelompok. Sambil membahas karya peserta, kami membincang unsur intrinsik tulisan, juga problem solving dalam menulis.

Kejutan bagus saya temukan ketika teman-teman saya minta untuk mencari gagasan cerita dari 4 artikel yang saya bagikan. Artikel pertama, tulisan Masdar tentang perekonomian pesantren. Artikel kedua, tulisan Imam Aziz soal pesantren puteri. Artikel ketiga, soal politik aliran di pesantren, dan artikel terakhir soal budaya dan tradisi pesantren tulisan Kang Maman. Ternyata mereka sudah bisa menemukan gagasan-gagasan itu. Misalnya dari aspek ekonomi pesantren, salah satu kelompok menemukan ide tentang masuknya warung serba ada yang bisa membunuh kehidupan para pemilik toko di sekitar pesantren. Dari aspek sosial, ada gagasan tentang isu gender; misalnya pembedaan peraturan dan akses informasi antara santri putera dan puteri. Atau dari aspek budaya misalnya tentang uniknya sarung dan peci.

Gagasan-gagasan itu membuat saya dan Pijer merasa optimis, paling tidak akan ada pergeseran ide tulisan dari tema-tema percintaan remaja ke tema seputar santri dan pesantren yang lebih variatif.

Demikian juga ketika esok harinya, pukul 07.00, saya dan Pijer membawa teman-teman out bond menuju halaman madrasah diniyah putera. *Sebelumnya harus pakai izin dan harus dikawal Nyai Aisyah*. Selama perjalanan, teman-teman diminta menuliskan 5 setting menarik, dan kemudian bisa diendapkan dan dirangkai dalam sesi meditasi untuk bahan tulisan. Di bawah bimbingan Pijer, ada juga yang menemukan ide unik, misal, santri yang berdagang.

Usai meditasi saya mengajak teman-teman untuk bermain lanjut cerita. Saya membagi potongan cerita Ning Aisya sejumlah peserta, untuk kemudian dilanjutkan versi masing-masing. Dan, hasilnya lumayan bagus. Mereka sudah bisa membuat potongan cerita itu sebagai opening atau bagian tengah. Meskipun belum ada yang sampai ending, karena terbatasnya waktu.

Bakda zhuhur kita kembali masuk kelas. Sebelum praktik dan penugasan, saya dan Pijer menguraikan lebih jauh tentang kerangka atau membuat sistematika cerita sebagai acuan yang bisa mereka kembangkan menjadi sebuah novel. Pijer membagi sistematika Hadrah Cinta, sementara saya menjelaskannya dengan mengurai sistematika novel komik Pilihan Terakhir yang rata-rata sudah dibaca oleh teman-teman. Dengan demikian, akan lebih bisa dipahami dan tergambar jelas.

Penugasan pun dimulai. Mereka kita minta untuk membuat kerangka cerita, sambil boleh bertanya-tanya. Sambil saya dan Pijer bermake a wish, semoga idenya bagus-bagus dan benar-benar ada pergeseran, hampir empat jam mereka membuat kerangka. Bukan kerangka yang sudah jadi memang. Masih seperti sinopsis, dan masih harus dikoreksi dan dikasih masukan tentunya.

Kerangka cerita yang mereka tulis tidak sore itu kita bahas. Ada beberapa yang bersetting pesantren, meskipun masih bertema kisah cinta yang sudah biasa. But, pergesekan tidak akan berakhir sampai di sini. “Kalau besok ada koreksi dan masukan untuk kerangka teman-teman, bagaimana?” tawarku ke teman-teman.

“Nggak papa, Mbak. Malah bagus. Kita kan belum bisa,” jawab mereka spontan. Detik itu, aku dan Pijer bisa menangkap dua pancaran dari mata mereka, pesimis bahwa menulis novel itu tak akan pernah bisa mereka lakukan dan optimis bahwa mereka bisa. Semoga, pancaran kedua yang akan jadi pemenangnya.


Kembali ke Jogja

Usai penutupan pukul 17.30, Kang Ipeng sekeluarga sudah menjemput. Sempat ngobrol dan berbagi cerita dengan Aisyah dan Kak Atho’. Sebelum kemudian mohon pamit, dibelikan oleh-oleh sama Kang Ipeng, menunggu travel di rumah Kang Ipeng, dan go to Jogja.
Kalau berangkatnya sempat heboh gara-gara minyak wangi dan si mas-mas kribo, pulangnya heboh sama salah seorang penumpang yang tidak mau dijemput pakai mobil jemputan. Dia maunya dihampiri mobil travel langsung. Padahal pak sopir masih asing dengan Malang, ditambah alamat rumahnya biarpun gedongan ternyata ndempis masuk gang. Alhasil, travel pun pun jadi heboh oleh suara gerundelan dan omelan Pak Sopir. Hm, ada-ada saja!

0 komentar

Friday, July 06, 2007

LIPUTAN METRO TV

Friday, July 06, 2007



Liputan tentang novel pop pesantren dan Matapena di MetroTV, Jum'at, 16 Maret 2007 pukul 20.00 WIB, program Indonesia Now.

0 komentar

Tuesday, July 03, 2007

Lebih dari Sekadar Laskar!

Tuesday, July 03, 2007



Judul: Laskar Hizib
Penulis: Mahbub Jamaluddin
Tebal: viii + 276 hlm
Cetakan: Juni 2007
Penerbit: Matapena


Laskar Hizib adalah nama klub sepak bola api anak-anak kamar Purworejo di Pesantren Syadziliyah. Klub yang memenangkan tropi kaki api pada pertandingan sebelumnya ini terkenal dengan tim intinya yang handal. Yaitu, Kang Aku dan Mbah Mushonnef, di bawah pelatihan Kang Mus-Toa. Dan, mereka bertekad untuk mempertahankan tropi itu pada pertandingan bola api tahun ini.

Tapi, masalah datang, dengan kehadiran Gus Kapsul. Santri baru, cucu Simbah Kiai Sugiri yang mbeling, egois, dan berpenampilan pas-pasan. Pada mulanya Gus Kapsul tidak tertarik dengan sepak bola api, sebelum dia kenal Farida dan tahu kalau santriwati cantik itu suka menonton pertandingan dari lantai dua pondok puteri.

Akal licik pun diatur, strategi dilancarkan untuk membuat dirinya bisa dimasukkan dalam tim. Mengingat Gus Kapsul sebenarnya tidak punya skill sama sekali. Tapi, malang akal-akalan Gus Kapsul membuat mencret pemain inti, justru menyebabkan Laskar Hizib gagal mendapatkan tropi bola api. Satu peristiwa yang sanggup memukul kecewa semua anggota kamar Purworejo, kecuali Gus Kapsul.

Sampai kemudian akal-akalan Gus Kapsul terbongkar, bersamaan dengan kenyataan pahit bahwa ternyata Farida adalah pacar Jamil, teman kamar Gus Kapsul sendiri. Gus Kapsul benar-benar terpuruk dan terpukul. Tapi, kondisi ini justru menjadi titik balik untuk Laskar Hizib perlahan mulai bangkit dan menjadi solid. Kenyataan yang juga ikut memompa Gus Kapsul untuk mengasah skill persepakbolaannya, demi menebus semua kesalahannya pada Laskar Hizib.

Tapi, bagaimana mungkin Laskar Hizib berhasil memenangkan tropi kaki api, kalau ternyata kemudian pertandingan sepak bola api malah dilarang di Pesantren Syadziliyah gara-gara keributan antara Jahlun-Cirebon dengan Dzaliman-Semarang?

Persoalan kembali muncul. Tapi, bukan bola namanya kalau tidak bulat, dan bisa ditendang dari sisi mana pun! Ia akan melesat dengan kekuatan yang berlipat dibanding energi tendangan. Begitu juga tekad yang bulat! Ada sedikit energi saja yang merangsangnya, tekad akan melesat. Menerjang apa saja! Termasuk menerjang untuk mendapatkan tropi itu. Jadi, tidak semata tergantung pada rapalan mantra, hizib,

Dan, sesungguhnya bukan pemain sepak bola api jika tidak berani menendang bola yang terbuat dari api itu! Bola panas itu! Bukan hanya di lapangan! Di kehidupan nyata, para pemainnya juga harus berani menendang dan menentang bola kezaliman. Melawan bola kesewenang-wenangan. Meski itu panas! Meski itu berarti terbakar! Dan, Gus Kapsul berhasil membuktikan hal itu, hingga ia dan timnya pantas mendapatkan tropi kaki api.

0 komentar

Monday, July 02, 2007

Antara Hitam dan Putihnya Pilihan

Monday, July 02, 2007



Judul: Diary Hitam Putih
Penulis: Restu RA
Tebal: vi + 198 hlm
Cetakan: Mei 2007
Penerbit: Matapena

“Pak Kiai, Riyan adalah anak kami satu-satunya.”

Itulah kata yang pertama kali diucapkan oleh bapak di depan orang karismatik yang berpakaian serba putih, kali pertama aku menginjakkan kaki di pesantren ini. Sedikit demi sedikit, meluncurlah kisah kelamku dari mulut bapak. Kurasakan gemetar suaranya menyayat hatiku, pilu dan ngilu. Tak luput dari penuturannya pula, tentang aku yang suka mabuk-mabukan dengan ramuan la’ang.

Yah, hidup memang punya banyak dimensi. Aku harus pandai memilih, antara sisi hitam dan sisi putih, agar selalu selamat. Aku bersyukur, Tuhan menakdirkan lain atas perjalanan hidupku. Dari hitam pekat dan buta menjadi putih terang cerah.

Meskipun pada akhirnya aku tahu, ternyata tidak mudah untuk menjadi orang baik. Walau sudah kucoba untuk tidak menuruti kehendak nafsu yang tak rela keinginannya terenggut begitu saja, aku masih harus berjuang untuk menjadi diri yang putih di mata orang lain.

1 komentar

Tuesday, June 26, 2007

ROADSHOW MATAPENA
KE PESANTREN WONOSOBO
Selasa-Rabu, 19-20 Juni 2007

Tuesday, June 26, 2007


Oleh Pijer Sri Laswiji

Selasa pagi tanggal 19 Juni 2007, tepatnya jam 05.30, setelah shalat shubuh sebelum matahari terbit, sebuah mobil box yang dikemudikan Pak Affandi berhenti di depan masjid Al-Faruq PP Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta.

"Itu apa ya mobilnya?" gumamku sembari berjalan mendekati mobil. "Pak Pandi ya?" tanyanya kemudian, karena masih agak gelap sehingga mata tidak bisa melihat dengan jelas.
"Sudah siap, Mbak Pijer?" sahut yang ditanya.
"O iya, Pak. Bentar, aku ta'ijin dan pamitan dulu sama teman-teman."

Begitulah, perjalanan roadshow ke Wonosobo dimulai. Aku, ditemani Pak Affandi, bagian pemasaran LKiS berangkat dari Yogyakarta jam 05.30 dengan mobil box yang dipenuhi kardus buku-buku LKiS. Perjalanan pagi yang sejuk menyusuri jalanan pegunungan yang berkelok-kelok dan naik turun namun penuh pemandangan hijau. Dua setengah jam kemudian tibalah di desa Munggang, kecamatan Mojotengah Wonosobo.

"Uli, kita sudah sampai nih, sekarang di depan Masjid Munggang. Kamu sini dong, aku nggak tahu rumahmu!" seruku via handphone.
Beberapa detik kemudian, muncullah Uli Maftukhah, pengarang novel Blok I dengan wajah hingar bingar menyambut. Ia segera mengajak aku dan Pak Pandi singgah di rumahnya.

Aku dan Pak Pandi bisa beristirahat agak lama di rumah Uli, karena ternyata acara bedah novel Blok I dimulai jam 10.00 WIB. Bahkan, kami sempat kenalan dan ngobrol dulu dengan beberapa panitia acara Bedah Novel tersebut yang ternyata teman-teman "gengnya" Uli. Kalau tidak salah namanya "Laskar Oneng"! Ada Fariq, Mudrikah, Jo, dan Erna. Mereka adalah para supporter Uli sehingga sukses menyelesaikan novel Blok I.


BEDAH NOVEL "BLOK I" DI SMU TAKHASUS PP AL-ASY'ARIYAH, KALIBEBER, MOJOTENGAH WONOSOBO
Selasa, 19 Juni 2007


Matahari belum juga menampakkan wajah kuningnya karena mendung begitu rata meliputi langit Wonosobo. Bahkan diiringi rintik gerimis, mobil box yang ditumpangi aku, Uli dan Pak Pandi memasuki kawasan PP Al-Asy'ariyah. Sepertinya, acaranya lumayan besar, karena dari luar tampak ramai para siswa berseragam SMU dan terdengar lantunan lagu-lagu hadrah menyambut kedatangan.

Dan benar, acara yang dilaksanakan di aula yang luas itu terkesan resmi dan penuh persiapan. Tampak Background di tengah-tengah aula bertuliskan, "BEDAH NOVEL BLOK I, REVITALISASI RELIGIUSITAS DALAM REKONSTRUKSI MORAL DAN NALAR REMAJA. PENYELENGGARA: PMII KOMISARIAT AHIMSA UNSIQ & IPNU-IPPNU KOMISARIAT HASYIM ASY'ARI"

"Wuih, serius nih, temanya aja ada 'sasi-sasi'nya!" batinku sambil berpikir memaknai arti tema yang tertulis di background tersebut. Apalagi ketika Bapak Kepala Sekolah dan beberapa Dewan Guru rawuh dan duduk di kursi paling depan. Sepertinya Novel "Blok I"nya Uli memang mendapat respon yang bagus dari almamater SMU-nya.

"Novel Blok I ini meskipun seperti catatan harian biasa tetapi kita bisa membaca dan belajar dari kisah-kisahnya. Bagaimana cara mencari ilmu seorang santri dan sebagainya," kata pak Kepala Sekolah dalam sambutannya. Dia juga berharap kelak dari santri-santri PP Al-Asy'ariyah juga ada penulis baru lagi menyusul Uli.

Setelah seremonial, Bedah Novel yang dipandu oleh seorang moderator itu dimulai. Uli Maftukhah sebagai penulis didampingi Mas Fasikhul Ihsan sebagai pembahas. Uli menyampaikan sekilas tentang novel Blok I, tentang tokoh, setting, tema dan pesan yang ingin disampaikan dalam tulisannya.

"Orang mengira Renata dalam novel Blok I ini adalah penjelmaan dari saya," ucapnya di tengah-tengah presentasinya. Tapi menurutnya, meskipun dia memang pernah mondok dan nyantri di Blok I Pondok Pesantren Al-Asy'ariyah, dia bukan Renata. Uli hanya menuliskan beberapa pengalamannya tinggal di pesantren yang diramu dengan khayalannya tentang kehidupan Renata.

"Banyak yang bisa digali dari Pesantren dan diceritakan lewat novel sehingga hampir seperti realita," kata Mas Ihsan saat menyampaikan komentarnya terhadap novel Blok I. Sebagai pembahas, ia juga memberikan wawasan-wawasan tentang pesantren dan sastra santri.

Acara semakin semarak ketika dibuka forum dialog dengan dua termin pertanyaan. Pada termin pertama dan kedua, sebenarnya banyak peserta yang ingin menyampaikan pertanyaan. Tetapi karena hanya ada 5 novel Matapena sebagai doorprize, yaitu 3 novel Blok I karya Uli dan 2 novel Kidung Cinta Puisi Pegon karyaku, akhirnya moderator harus membatasi dan hanya memilih 5 orang penanya.

Mereka cukup antusias menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kepada Uli dan Mas Ihsan. Pertanyaan seputar novel Blok I, pengalaman Uli yang menarik dalam novel, bagaimana meramu budaya pesantren dengan budaya populer sehingga menjadi sebuah novel dan bagaimana sistem di pesantren ketika menyikapi perkembangan teknologi.

Bedah Novel selesai jam 13.00 WIB. Sebelum acara ditutup, aku maju ke mimbar untuk menyosialisasikan Matapena dan Komunitas Matapena. Dan ternyata, responnya cukup bagus. Beberapa peserta sudah ada yang mendaftar saat prosesi 'fans minta tanda tangan penulis'. Untuk selanjutnya, aku mengalihkan tugas pengumpulan data pendaftar anggota Komunitas Matapena itu kepada Uli.


MUHIBAH KE PP AL-MUBAROK,
MANGGISAN, MOJOTENGAH WONOSOBO.


Dari SMU Takhasus, rombongan kembali ke rumah Uli untuk beristirahat dan makan siang sambil menunggu jeda waktu untuk menuju PP Al-Mubarok Manggisan. Saat jam menunjukkan pukul 15.00, aku dan Uli yang baru bangun dari qoilulah (tidur siang) segera bersiap-siap karena pukul 16.00 harus sudah sampai di PP Al-Mubarok.

Aduh, hari memang lagi sejuk dan dingin, apalagi diiringi rintik hujan. Mobil box yang dikemudikan Pak Affandi sempat bolak-balik di jalan karena lupa pertigaan mana yang dilewati untuk menuju ke PP Al-Mubarok. Namun setelah akhirnya Uli memutuskan untuk turun dari mobil sejenak dan bertanya, terbukalah petunjuk jalan menuju tempat tujuan.

Nah, akhirnya rombongan sampai juga ke PP Al-Mubarok dengan masjid, asrama pesantren, dan menaranya yang tinggi. Suara riuh gaduh, sedikit cuap-cuap dan 'suit-suit' terdengar dari asrama santri putera yang berada di bagian samping depan ndalem Pak Kiai ketika Pak Pandi yang diiringi Uli dan aku menuju ndalem untuk 'kulonuwun'. Rombongan disambut oleh Bapak K.H. Nur Hidayat dan Ibu Nyai di ruang tamu ndalem. Pak Affandi segera 'matur' tentang maksud kedatangan rombongan Matapena, meskipun sebelumnya, pihak Matapena sudah menghubungi dan konfirmasi tentang kunjungan dan muhibbah tersebut.

Awalnya, mental Uli dan aku hampir surut ketika melihat roman muka dan tanggapan pak kiai. Ada semacam 'tawar-menawar' sejenak tentang acara tersebut. Bapak K.H. Nur Hidayat mengatakan bahwa dia dan santri-santrinya lebih suka buku-buku ilmiah keislaman, bukan 'novel'. Karena menurutnya 'novel' itu hanya seperti 'catatan harian'. Dia juga memberikan gambaran tentang santri-santrinya sehingga merasa kurang yakin jika sore itu acaranya bisa diikuti sebagian besar santrinya, terutama putra.

"Pembicaranya dua gadis yang masih 'kinyis-kinyis' ini?" ucap Pak Kiyai sambil tertawa. "Wah, kalau misalnya lebih tua sedikit begitu saya berani membawa mereka ke hadapan santri-santri saya," lanjutnya.

Begitulah pak kiai memberikan alasan. Karena di pesantren tersebut, intensitas bertemunya santri putra dan santri putri memang sangat terbatas. Sehingga dikhawatirkan dalam acara nanti justru tidak serius, tapi malah jadi 'gojlogan'. Wah, sebenarnya aku tidak gentar dengan penggambaran tersebut, tapi menurut Pak Affandi mereka harus menghormati 'tradisi lokal' pesantren. Akhirnya, acara dilaksanakan di pondok putri dan hanya diikuti para santri putri yang berjumlah kurang lebih 50 orang.

Di ruangan yang kira-kira berukuran 5x6 meter itu, para santri putri sudah duduk bersimpuh. Mereka begitu 'anteng' dan khusyuk saat Pak K.H Nur Hidayat memberikan pengantar sejenak. Wajah-wajah mereka tertunduk, tidak ada yang berani mengangkat wajah. Setelah pak kiai "miyos" dari ruangan, aku dan Uli dipersilahkan untuk maju dan memulai acara.

Aku yang mendapat kesempatan pertama untuk berbicara, menyampaikan salam kenal dari Matapena. Memperkenalkan novel-novel pop pesantren sebagai genre baru dan bacaan santri serta memprovokasi mereka untuk mengembangkan sastra pesantren. Selanjutnya, giliran Uli yang berbicara, ia beruasaha membangkitkan semangat santri dalam dunia tulis-menulis. Uli juga sedikit membagi pengalaman menulisnya pada Novel Blok I.

Suasana agak sedikit kaku. "Diniyah banget!" batinku ketika menyaksikan para santri yang semuanya membawa buku tulis dan bolpen, mencatat materi yang diberikan pembicara seperti mencatat pelajaran. "spaneng". Bahkan ketika aku menjawab pertanyaan Opi, salah satu santri yang menanyakan bagaimana cara memulai dan menyelesaikan novel, mereka minta didekte ulang tentang '5 W 1 H".

Maklum, mungkin acara seperti itu masih jarang dilakukan di pesantren. Santri kelihatan masih pasif. Saat dibuka termin dialog, mereka masih malu-malu untuk bertanya. Tapi sebenarnya, bakat menulis mereka justru bisa dikembangkan dari hal tersebut. Mencatat pelajaran. Selain Opi, Arini juga bertanya tentang bagaimana novel yang baik, dan dijawab aku, "Novel yang baik adalah novel yang selesai dan bermanfaat".

Acara dialog dan temu penulis Matapena tersebut hanya berlangsung sebentar karena azan maghrib sudah berkumandang. Aku dan Uli segera menutup acara. Setelah itu mereka keluar dan langsung memburu bazar buku. Beruntunglah punya teman seperti teman-temannya Uli yang senantiasa membantu dan mendukung. Karena Pak Affandi tidak diperkenankan masuk ke kawasan pondok puteri, akhirnya staf 'badal' anggota "laskar"nya Uli, yaitu Mudrikah, Erna dan Jo yang menggantikan Pak Affandi mengurus Bazar Buku.

Sambil menunggu prosesi jual beli buku, aku, Uli, Mudrikah, Erna dan Jo bergantian shalat magrib. Setelah itu kami dipersilahkan untuk menikmati hidangan di ruang makan ndalem dulu. “Terima kasih, Pak Kiai. Suguhannya enak!” Jam 06.15 WIB, kami pamitan kepada Bapak Kiai dan Ibu Nyai.


MUHIBBAH KE PP ROUDLOTUT THULAB

Rabu, 20 Juni 2007. Pagi kembali hadir mengawali hari dengan wajah cerahnya. Sepertinya cuaca sedikit hangat dibanding hari sebelumnya. Mobil box yang ditumpangi rombongan Matapena berangkat dari rumah Uli menuju PP Roudlotut Tholibin. Jam 09.00, rombongan tiba. Uli dan aku turun lebih dulu lalu segera menuju ruang tamu pondok puteri Roudlotut Thulab. Sementara Pak Affandi memarkir mobil dahulu baru menyusul.

Di ruang tamu, rombongan disambut hangat oleh Bapak Selamet Zakariya dan Mbak Jamilatun Nafiroh selaku pengurus PP Roudlotut Thulab. Kami berbincang-bincang sebentar, membicarakan model acara yang akan dilaksanakan. Pak Selamet mohon maaf karena hari itu bertepatan dengan acara "Manasik" jadi perhatian di pondok terbagi. Selain itu ia juga menjelaskan bahwa untuk menjaga tradisi di pesantren, karena pembicaranya putri semua, acara diselenggarakan di pondok putri dan hanya diikuti santri putri. Saat Pak affandi menyinggung tentang buku-buku bacaan santri, Pak Selamet mengatakan bahwa bacaan santri di PP Roudlotut Thulab sangat dibatasi. Hanya sebatas buku-buku pelajaran dan kitab untuk mengaji.

Jam 09.30 WIB, acara dimulai. Uli dan aku dipersilakan menuju aula kegiatan yang berada dilantai 2. Saat memasuki aula yang luas dan memanjang itu penuh dengan para santri, aku dan Uli merasa optimis. Apalagi ketika Pak Selamet Zakariya membuka acara, memperkenalkan para penulis. Dan ketika aku bertanya "Siapa di antara teman-teman santri ini yang ingin menjadi penulis?" hampir semua peserta yang berjumlah kurang lebih 100 orang itu mengacungkan jari.

Aku memulai pembicaraan dengan bercerita panjang lebar tentang Novel-Novel Pop Pesantren dan Matapena. Tentang latar belakang dan masa depan novel-novel pop pesantren Matapena sebagai genre baru sastra pesantren yang menjadi bacaan alternatif santri dan remaja nonsantri pada umumnya. Dan seperti sebelumnya, karena memang sudah berbagi tugas, giliran Uli yang harus bisa memprovokasi santri untuk mengembangkan budaya tulis-menulis.

Tiba saatnya dibuka termin dialog, Mazidah mengawali dengan bertanya, "bagaimana cara membuat novel dan apa novel itu? Bedanya dengan buku dan majalah?" Wah, disinilah kepekaan aku dan Uli harus terangsang. Ternyata istilah "novel, majalah, dan buku" saja masih ambigu, belum paham betul, jadi harus berusaha mendekati mereka dengan bahasa yang sederhana.

Aku menjelaskan tentang macam-macam bentuk karya tulis, dari yang berupa fiksi maupun nonfiksi. Yang berjenis buku, novel, majalah. Sementara Uli menambahkan tentang majalah diding yang kemudian direspon oleh Mbak Uun sang ketua Pondok. Bahwasanya di pesantren tersebut belum memiliki media kreatifitas santri untuk menulis sejenis majalah dinding. Mereka minta diberi sedikit materi tentang bagaimana membuat majalah dinding.

Para santri cukup antusias mengikuti kegiatan tersebut. Terbukti banyak santri yang merespon dengan berbagai macam pertanyaan. Ada yang bertanya tentang teknik-teknik membuat novel dari membuat judul sampai ending, bagaimana proses kreatif penulis dalam menyelesaikan novel dan bagaimana cara mengirim novel. Selain itu, ada beberapa santri yang sudah terbiasa membaca novel, menanyakan perbedaan antara novel pop pesantren dengan novelnya Mira W, Ayat-ayat Cinta-nya Mas Habiburrohman, dan novel popnya T. Andar. Aku pun menjelaskan bahwa bedanya adalah novel-novel pop pesantren berkisah tentang cerita-cerita dari pesantren, berusaha menggali khazanah pesantren dan mengemban misi dan amanat pendidikan pesantren.

Aku juga menyampaikan bahwa mendidik dengan cerita itu lebih bisa menyentuh nurani pembaca ketika ada seorang santri yang bertanya "apakah novel tidak termasuk cerita bohongan, dan cerita bohong adalah dosa". Katanya, dulu dia pernah ditakut-takuti temannya dengan sebuah hadits "wa la tujalisu ma'al qashisin", tapi toh hadits tesebut bukan termasuk hadits shahih. Apalagi, bukankah Al-Qur'an juga mengajarkan bagaimana mendidik lewat kisah-kisah para nabi dalam ayat-ayatnya?

Di akhir acara, aku membacakan sedikit cuplikan novel "Coz Loving U, Gus" yang mendapat sambutan meriah dari para santri, karena kebetulan ada beberapa nama yang sama dengan santri dan ustadz di pondok pesantren tersebut. Juga, mengumumkan tentang "woro-woro" pembukaan pendaftaran anggota Matapena dulu beserta syarat-sayaratnya. Jam 12.30 WIB acara ditutup.


MUHIBBAH KE PP AL-MANSUR

Siang itu, rombongan tidak mampir dulu ke rumah Uli, tetapi langsung menuju ke PP Al-Mansur di kawasan Kauman Wonosobo. Karena waktu sudah menunjukkan jam 13.05 dan Pak Affandi sudah dikontak Mas Haqi Anshori bahwa para santri di PP Al-Mansur sudah siap, meskipun cuma sedikit. Karena para santri kalau siang hari banyak kegiatan di luar.

Jam setengah dua siang, rombongan Matapena tiba di PP Al-Mansur. Uli dan aku segera memasuki aula yang sudah siap dipandu oleh Mas Haqi. Tampak para santri putera di sebelah kiri dan santri puteri di sebelah kanan. Acara langsung dimulai. Mas Haqi memberikan pengantar sejenak dan memperkenalkan kedua penulis beserta novel-novelnya. Setelah itu aku mengawali sosialisai novel-novel pop pesantren dan Matapena. Lalu Uli tentang provokasi terhadap budaya tulis-menulis.

Mas Haqi sebagai moderator cukup mampu membangkitkan semangat para santri untuk bertanya kepada para penulis. Ada Nadzir yang bertanya tentang bagaimana pertama kali memulai proses menulis. Sofa yang bertanya tentang bagaimana menuliskan ide yang ada di otak. Lalu bagaimana cara membangkitkan semangat untuk menulis, memilih kata, dan hal-hal tentang proses kreatif. Uli dan aku bergantian membagi pengalaman kepada mereka.

Ternyata pertanyaan mereka tidak hanya seputar proses kreatif tetapi juga wacana bacaan. "Kenapa kok novel-novel Matapena itu rata-rata bercerita tentang kisah cinta di pesantren. Menurut saya itu temanya hampir seragam. Lalu, kalau novel pop Matapena juga novel islami, apa bedanya dengan novel-novel yang diterbitkan Forum Lingkar Pena," komentar Untung, salah seorang santri.

Aku mengungkapkan bahwa novel-novel Pop Matapena berbeda dengan novel-novel FLP yang cenderung mengarah pada Islam “normative”, sementara novel-novel pop Matapena adalah khas pesantren dengan budaya lokalnya yang membumi.

Selain santri putera, beberapa santri puteri juga mendapat kesempatan bertanya. Aku memperkenalkan tentang Komunitas Matapena dan adanya Bulletin Bianglala ketika Ari bertanya apakah Matapena bisa memfasilitasi mereka untuk berproses kreatif.

Jam 14.30 WIB, menjelang ashar, Mas Haqi mengakhiri acara. Sebelum penutup, sempat dibagikan doorprize dua buku. Rencananya dua buku untuk penanya terbaik itu adalah Blok I karya Uli dan salah satu novel karyaku. Tapi karena persediaan novel-novelku sudah habis ditinggal di kopontren PP Roudlotut Tholibin, akhirnya aku memungut satu novel Santri Baru Gede karya Zaki Zarung.


MUHIBBAH KE PP MUKHTARUL MUKHTAJ, KONGSI

Inilah perjalanan terakhir.
Sungguh tidak terbayangkan di benak kami tentang keunikan-keunikan pesantren yang ada di daerah Kongsi itu. Memang sebelumnya ada yang bercerita, kalau pesantren tersebut adalah pesantren santri kalong. Santri-santrinya tidak diasramakan, tetapi hanya datang ketika jadwal pengajian lalu pulang dan tidur di rumah masing-masing yang tak jauh dari pesantren tersebut.

Jam 18.30 WIB. Rombongan berangkat dari rumah Uli menuju PP Mukhtarul Mukhtaj. Meskipun jalanan malam berkabut, akhirnya rombongan tiba juga di komplek Pesantren Mukhtarul Mukhtaj. Seorang tinggi besar bernama Pak Yono menyambut rombongan dan menunjukkan tempat acara. Di antar Mas Jabir, koordinator acara, Uli, aku dan Pak Affandi menuju aula kegiatan di lantai dua.

Oh, sebuah pemandangan yang unik bagiku dan Uli, meskipun mereka sama-sama santri. Di ruangan yang kira-kira berukuran 4x 6 meter itu, tampak beberapa santri puteri yang masih memakai mukena duduk bersimpuh. Ada juga beberapa santri putera.

Awalnya aku agak ragu untuk memulai acara. Agak canggung mau memulai dari mana karena menurutku suasana malam itu mirip pengajian PKR (Pesantren Kilat Romadhon)nya di Gunung Kidul. Unik banget. Tapi akhirnya, aku pun memulai acara. Memperkenalkan diri, memperkenalkan Uli, Matapena dan Novel Pesantren. Begitu juga Uli, ia memperkenalkan tentang dunia tulis menulis. Mulai dari yang sederhana, yaitu SMS lalu majalah dinding.

Sebuah wacana baru bagi Uli dan aku tentang Pesantren Santri Kalong. Berbagai jenis santri dari berbagai macam latar belakang pendidikan. Wah, Uli hampir terpingkal-pingkal ketika seorang santri bertanya tentang "penulisan", tetapi yang dimaksud adalah bentuk tulisan tangan, 'gedrek' dan 'latin' supaya bagus. Atau istilah kerennya adalah "font". Selain itu aku dan Uli juga harus bersusah payah dulu menjelaskan tentang yang dimaksud dengan "tulis-menulis" dan novel. Meskipun agak kocak dengan pertanyaan beberapa santri putera yang konyol-konyol melebar tentang seni tulis dekorasi dan kaligrafi, tapi ada beberapa santri putri yang cukup antuisias bertanya tentang proses kreatif membuat cerpen lalu mengembangkannya menjadi sebuah novel.

Bincang-bincang antara santri PP Mukhtarul Mukhtaj berlangsung cukup lama. Sehingga akhirnya Uli memberikan saran kepada mereka untuk mulai belajar membuat mading. Belajar mengenal tulisan dan budaya tulis menulis dari yang sesuatu yang sederhana yaitu majalah dinding.

Perjalanan Roadshow di beberapa Pesantren Wonosobo berakhir jam 20.00 WIB di PP Mukhtarul Mukhtaj. Setelah itu kembali ke rumah Uli, shalat isya dan kembali ke Yogyakarta.

2 komentar

Monday, June 25, 2007

Membincang MATABACA Edisi Juni 2007

Monday, June 25, 2007



MATABACA Juni mengupas soal “Sastra Islami, Oh Indahnya”. Katanya karena boming Ayat-Ayat Cinta… Bagi yang suka novel bernuansa Islam, judul itu tidak asing lagi, saking bomingnya mungkin lalu kemudian ini dipandang sebagai fenomena untuk “sastra islami”.

Sebenarnya saya kurang begitu sreg dengan istilah sastra islami. Karena, termaknakan sebatas label, kemasan, dan berbau-bau Islam. Lebih bagus Sastra Islam pemaknaannya daripada Sastra Islami. Cuma, lagi-lagi, perdebatan selanjutnya adalah soal pemaknaan istilah dan definisi. Dan saya, temasuk orang yang paling tidak mau terjebak soal perdebatan itu.

Kalaupun kemudian Matapena yang menerbitkan novel pop pesantren didaulat untuk jadi salah satu responden, mungkin karena pesantren identik dengan Islam. Sudah pasti. Lalu, novel pop pesantren dikelompokkan dalam “sastra islami”. Ini menurut kacamata MATABACA.

Cuma, pada prinsipnya, kata si redaktur Matapena, “Kami tidak familiar dengan label sastra islami. Kami lebih memilih untuk menyebut karya kami dengan novel pop pesantren. Novel karena berbentuk novel, pop karena dikemas dengan kemasan dan bahasa yang populer/dikenal, pesantren karena memang bercerita tentang kehidupan pesantren.” Jadi, masih menurutnya, tanpa label “islami”-pun, novel pop pesantren sudah jelas Islam.

Ohya, saya tertarik sama pernyataan Dian Guci, seorang penulis yang kebetulan juga berkomentar tentang “sastra islami” dalam MATABACA. Katanya:
“Sastra Islami itu sebetulnya nggak perlu mengusung ayat-ayat segala macam. Tidak perlu menyebutkan identitas Islam sebetulnya. Tidak perlu menerjemahkan suatu ayat Al-Qur’an, tapi merupakan nilai universal yang dikandung dalam agama Islam. Sebenarnya saya capek dengan label sastra islami ini. Kalau kita lihat karya Steinback yang berjudul The Grapes of Wrath, bercerita mengenai kemiskinan yang bisa mengkafirkan orang. Belum lagi karya Hamka dan Harimau-Harimau Mochtar Lubis. Menurut saya, karya-karya mereka merupakan sastra yang mengandung nilai Islam. Kebanyakan karya islami yang ada sekarang hanya mengobarkan cuap-cuap doang alias hanya bisa menyebut bahwa saya orang Islam dan harus berdakwah.”

Nah, ini kan pendapat. Dan, setiap orang berhak punya pendapat. Bukankah perbedaan adalah rahmat?

0 komentar

Thursday, June 21, 2007

Ledakan Sastra Pesantren Mutakhir:
Cinta, Kritisisme, dan Industri
Sabtu, 3 Maret 2007

Thursday, June 21, 2007


Esai: Ridwan Munawwar

Sejak sekitar awal millennium ke-3, sastra pesantren di Indonesia menunjukkan geliat yang tidak main-main. Kreatifitas dan produktivitas sastra pesantren meningkat drastis baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Tentunya ini suatu hal yang signifikan dan positif, meski menyimpan komplikasi keunikan tersendiri di belakangnya. Di satu sisi, fenomena ledakan sastra pesantren menunjukkan sekaligus mengukuhkan eksistensi pesantren sebagai salah satu unit peradaban yang tak pernah kering dari penciptaan-penciptaan baru, khususnya dalam dunia kesusasteraan.

Padahal kita tahu, bahwa terma kesenian sampai saat sekarang masih menjadi suatu hal yang problematik dalam paradigma dan mainstream keagamaan kalangan pesantren. Seni (fan) dan kesenian (al-fannan) dianggap urusan yang tidak esensial, bahkan dicurigai sebagai sesuatu yang bisa melenakan orang, membuat penikmatnya berleha-leha, melalaikan orang dari urusan syari'at (Zainal Arifin Toha, 2002).

Klaim ini diperkuat oleh adanya suatu histeria historis; dimana banyak sekali literatur keilmuan klasik (fiqh) yang dipergunakan pesantren yang menghukumi seni itu syubhat, makruh bahkan haram. Celakanya, hukum-hukum fiqih ini kemudian difahami dengan sempit, rigid dan membuta, tidak disertai dengan penggalian dengan wawasan hermeneutik. Interpretasi terhadap teks-teks fiqih terhadap kesenian seharusnya kritis dan kompherensif dalam mempertimbangkan berbagai konteks (asbabul wurudl) dimana hukum fiqih tertentu dikeluarkan; situasi sosio-kulturnya, situasi historis, situasi politik, bahkan situasi psikologis saat itu.

Padahal, diharamkannya anasir kesenian tidak lepas kondisi historis saat itu, yakni adanya political clash dan cultural clash antara umat Islam dengan umat Kristen. Kebetulan saat itu peradaban umat Kristen terkenal dengan keseniannya yang amat kental, sehingga mengundang ketegasan kaum agamawan Islam (fuqaha) untuk menumbuhkan militansi umatnya dengan melakukan berbagai langkah preventif agar umatnya tidak meniru kebudayaan lain.

Karena itu, ledakan sastra pesantren boleh dikatakan sebagai pemberontakan terhadap rigiditas dalam menjalankan syari'at, skripturalisme, tekstualisme, otoritarianisme fiqih minded yang terkadang membelenggu kreativitas berbudaya dan 'buta konteks'. Kesusasteraan pesantren meronta-ronta dalam hasrat yang menggebu untuk senantiasa menghidupkan dan membumikan nilai-nilai estetika sebagai ejawantahan atas prinsip; "Tuhan itu indah dan mencintai keindahan" (Al Hadits).


Kanon Sastra Pesantren


Dewasa ini, secara kualitatif, dinamika sastra pesantren bisa kita analisis salah satunya adalah melalui pelbagai macam perubahan serta pergeseran corak orientasi paradigmatik yang menjadi substansi dalam karya sastra yang bersangkutan. Maka, bertambahlah 'spesies' baru, genre baru ke dalam khazanah sastra pesantren mutakhir; sastra pop pesantren dan sastra pesantren yang subversif. Keberadaan dua spesies baru ini tidak hanya melengkapi dan menemani kanon sastra pesantren yang sudah ada, tetapi juga di banyak sisi menyimpan suatu potensi dialektis dan kritis baginya; intertextual clash (benturan intertekstual).

Sebagaimana kita kenal dari jejak historisnya, sastra pesantren kita dikenal sebagai genre sastra yang giat mengangkat tema-tema nilai esoterik keagamaan; Cinta Illahiyyah, pengalaman-pengalaman sufistik, cinta sosial (habluminannaas), atau ekspresi dan impresi transendental keindahan alam semesta (makrokosmos). Mayoritas begitu kental dengan nuansa religius. Ini terlihat begitu jelas dalam karya-karya sastrawan pesantren tahun 90-an Acep Zamzam Noor, D Zawawi Imron, Zainal Arifin Toha, Jamal D Rahman, Abidah el-Khaeliqi, Kuswaidi Syafi'ie, Faizi L. Kaelan dan sastrawan-sastrawan lain yang ruang kreasi mereka bertempat di lingkungan geografis yang bernama pesantren.

Akibat kentalnya nuansa tasawwuf, sastra pesantren sering diidentikan dengan sastra sufistik atau sastra profetik (nubuwwah). Dengan kata lain, karakter sastra sufistik telah menjadi kanon sastra (mainstream literature) dalam tradisi kesusasteraan pesantren. Dengan Cinta Ilahiyyah dan spirit religius yang menjadi grand theme, paradigma estetika utama dalam etos berkreasi, sastra pesantren sebenarnya membawakan relevansi yang cukup signifikan terhadap vitalitas tradisi keilmuan di pesantren itu sendiri; sastra pesantren menjadi salah satu media alternatif bagi para apresian untuk mengenal dunia tasawwuf. Dengan apresiasi yang kontinyu, paling tidak sedikit demi sedikit nilai estetika dan kearifan humanis-teologis yang inheren dalam karya sastra dapat membentuk suatu sikap yang eklektik dalam beragama bagi para apresian, salah satunya dicirikan dengan terbangunnya sinergitas pemahaman terhadap fiqih dan tasawwuf.

Dengan kentalnya nuansa Cinta Illahiyah ini pula, lengkaplah sudah sastra pesantren sebagai subjek mayoritas dari keluarga besar sastra Indonesia yang mengusung dan meng-eksplorasi simbol-simbol serta nilai religiusitas (Islam). Sekalipun tentu saja, secara hakiki nilai-nilai sufistik dan profetik tidak bersifat ekslusif untuk golongan tertentu, melainkan juga terbuka luas untuk kalangan non-pesantren. Namun, dewasa ini ada perkembangan yang cukup menarik; bahwa kalangan sastrawan pesantren ternyata tidak hanya menjadikan ke-tasawwuf-an sebagai grand theme dalam etos kreativitasnya; satu persatu mulai terlihat adanya keliaran, muntahan-muntahan kegelisahan untuk merambah ke sisi-sisi lain. Sastra pesantren berada dalam kegelisahan yang panas. Di sinilah saya melihat munculnya genre sastra pesantren yang subversif.

Yang paling ekstrim barangkali adalah novel Mairil (Pilar Media, Yogyakarta; 2005) karangan Syarifuddin yang sedemikian berani mengangkat sisi gelap pesantren; yakni abnormalitas perilaku seksual yang terjadi di pesantren (mairil; homoseksual). Detail-detail ilustrasi peristiwa yang diangkat dari fakta itu dinarasikan sedemikian vulgar. Boleh dikatakan bahwa novel ini subversif terhadap sistem tradisi pesantren; bukankah seksualitas dan cinta lawan jenis selama ini menjadi suatu hal yang (di) tabu (kan) di lingkungan pesantren? Faktanya; pembatasan pergaulan lawan jenis yang berlebihan merupakan faktor utama dari disorientasi seksual yang terjadi di pesantren. Meskipun tidak bisa tidak, di sisi lain novel ini potensial menciptakan suatu bias eksternal; dimana ia mengundang stigma buruk kalangan masyarakat terhadap pesantren sebagai institusi pendidikan berbasis agama.

Sayangnya, kritisitas novel Mairil ini tidak diimbangi dengan kebaruan corak dan wawasan estetika. Prestasi dari novel Mairil adalah kualitas dokumenter (Faruk HT, 2000) dimana ia berhasil mendongkrak sisi tersembunyi pesantren sebagai suatu sistem yang dinamis, dan bukan kualitas literer; kualitas stilistika, capaian estetika sastrawinya masih cenderung nge-pop. Namun, bagaimanapun inilah satu bentuk muntahan otokritik baru. Revolusioner terhadap kultur pesantren yang secara mayoritas cenderung patriarkhal dan mono-referen (hanya terpaku pada sistem referensi pemahaman tunggal).

Secara implisit, dapat kita interpretasikan bahwa kehadiran novel Mairil berusaha membuka cakrawala baru pemahaman tentang cinta; bahwa Cinta Illahiyah -yang sufistik- tidak begitu saja dengan gampang diraih secara instant. Demi kesuksesan dalam perjalanan mendaki tangga-tangga cinta, seorang insan mesti sabar dalam melewati tahapan-tahapan dimensional dari Jalan Cinta. Bukankah Ibn 'Arabi, sang maestro sufi itu pernah memberikan formulasi tentang Jalan Cinta; Cinta alami (cinta lawan jenis dan unifikasi makrokosmis), Cinta Ruhani, dan Cinta Illahi. Dan Cinta Alami menempati posisi yang amat vital; bukankah Ibn Arabi juga mampu menelurkan banyak karya lantaran motivasi psikologis yang kuat dari Nidzam, seorang wanita Baghdad yang dicintainya? Karenanya jatuh cinta terhadap lawan jenis merupakan suatu hal yang manusiawi dan tak bisa ditinggalkan.

Di wilayah sosio-internal, novel Mairil kiranya layak untuk mendapat perhatian dari kalangan elit pesantren. Suatu tantangan untuk berintrospeksi; bagaimana merekontruksi dan merevisi kembali penataan lingkungan pergaulan (millieu) antar lawan jenis, atau mulai mempertimbangkan pendidikan seksual yang efektif dan proporsional bagi santri-santrinya.

Secara kuantitatif, sastra pop pesantren semakin menyemarakkan industri perbukuan. Sederetan nama sastrawan pesantren yang rata-rata berusia muda dengan karyanya tampil ke muka: Santri Semelekete (karya Ma'rifatun Baroroh), Bola-Bola Santri (Shachree M Daroini), Kidung Cinta Puisi Pegon (Pijer Sri Laswiji), Dilarang Jatuh Cinta (S. Tiny), dan Santri Baru Gede (Zaki Zarung) Salahkah Aku Mencintaimu (Ahmad Fazlur Rosyad) dan sederet nama lain yang tak bisa disebutkan satu-persatu. Motivasinya bisa beragam, atau barangkali sastra pop pesantren dipandang lebih prospektif dalam hal laba finansial? Terlepas dari semua itu, ini akan menjadi aset ekonomi para sastrawan.

Banyak kalangan elit sastra yang cenderung 'mengejek' akan keberadaan sastra pop, termasuk sastra pop pesantren. Budi Darma dalam esainya "Sastra Mutakhir Kita" (Horison, Februari 2000) menyatakan kekhawatirannya bahwa dengan industri, keberadaan sastra pop bukan hanya sekedar keberadaan, melainkan juga kekuatan yang akan menggeser keberadaan sastra serius". Ini saya kira suatu kekahawatiran yang agak berlebihan. Sementara, St Sunardi (2006) mengatakan" dalam setiap kebudayaan pop ada suatu jaringan kekuatan. Namun bagaimana kebijakan kita mengarahkannya untuk kepentingan-kepentingan kemanusiaan."

Dalam konteks sastra pesantren saya melihat bahwa relasi sastra serius pesantren dan sastra pop pesantren cenderung bersifat hierarkis, sinergis dan interdependen; bahwa dari minat terhadap karya sastra pop yang ringan itulah embrio tradisi membaca bisa terbangun. Karena itu animo masyarakat dan kalangan santri terhadap sastra pop pesantren tetaplah harus kita pandang positif. Bahkan penyair Jamal D Rahman dalam sebuah perbincangan tentang proses kreatifnya, mengaku mendapat modal senang membaca karena awalnya keranjingan membaca novel-novel 'kacangan' Freddy. S, tapi seiring dengan waktu dan intelegensinya yang terus berkembang ia pun beralih membaca dan menulis karya sastra sufistik yang high-quality.

Sastra pop juga berfungsi untuk 'latihan pemula', dan ini akan melanggengkan tradisi bersastra (baik kepenulisan maupun apresiasi) sehingga kontinuitasnya terjaga; bukankah hanya dengan hal itu literacy culture di pesantren bisa hidup, menyala dan terus memberi sumbangan-sumbangan berarti bagi peradaban? ***



Catatan Redaksi: Ridwan Munawwar, penyair dan esais. Saat ini menjadi ketua MUSIKATA gesellschaft (MG) Yogyakarta). Selain itu bergiat di Rumah Poetika dan Jamaah Seni KUTUB di kota yang sama. Domisili; Amabarukmo 01/01 no.84 Yogyakarta 55281.Kontak Person: 0817 0418187. Email: profesorridwan@yahoo.com

SUMBER: KLIK!

0 komentar

Wednesday, June 20, 2007

Sastrawan Muda (Pinggiran) di Pesantren
Minggu, 31/12/2006

Wednesday, June 20, 2007


TAHUN 2006, tahun penuh warna, akan segera berlalu.Tahun 2006,tentu menyisakan banyak cerita seputar jagat seni menulis. Sepanjang tahun penuh bencana itu, jagat seni menulis dan jagat perbukuan Indonesia masih didominasi karya sastra. Karya-karya sastra dari pelbagai macam genre muncul merebut simpati publik.

Semuanya serbariuh dan gemerlap. Namun, di balik gejala menggembirakan bagi dunia sastra itu, karyakarya sastra yang banyak bertebaran ternyata lebih banyak dihasilkan oleh para pemain lama, nyaris tanpa ada nama baru, apalagi penulis muda. Hanya ada nama Radhar Panca Dahana, Jakob Sumardjo, Remy Sylado, Maman S Mahayana,Ayu Utami, Nirwan Dewanto,Seno Gumira Aji Darma, Hudan Hidayat,Agus Noor,Puthut EA, Djenar Maesa Ayu,dan Dewi Lestari.

Mereka seolah dianggap sebagai ”selebritis” sastra yang tidak tergoyahkan. Adapun mereka adalah penulis yang telah teruji karya-karyanya, hal itu tidak perlu diperdebatkan lagi. Berderet karya berkualitas mereka adalah bukti nyata yang mampu menyaput sinisme yang diarahkan. Namun, bila dilacak lebih jauh lagi, bisa jadi itu adalah gejala minimnya kreativitas kita dalam menghasilkan penulis-penulis muda berbakat.Terutama, bagi kaum muda yang ada di pelosok desa atau juga di pesantren yang masih dianggap sebagai lembaga pendidikan nonformal yang udik.

Memang,ada banyak penulis muda yang muncul di tengah kesemarakan dunia penerbitan sastra kita. Buktinya, lima tahun terakhir ini, dunia penerbitan sastra banyak disemarakkan karya sastra pop dari penulis muda.Terbitnya buku-buku chicklitteenlit adalah bukti nyata menyeruaknya ”ruang gelisah” publik sastra kita untuk menggugat kemapanan penulispenulis tersohor.

Sedikit nama, di antaranya, sebut saja Rachmania Arunita dengan novel Eiffel I’m in Love yang laris manis bak kacang goreng di pasaran. Kemunculan Rachmania cukup fenomenal.Novelnya sejak terbit tiga tahun lalu, sudah naik cetak beberapa kali.Bahkan,meski sedikit berlebihan, Rachmania bisa disamakan dengan kisah novelis Helen Fielding yang novelnya, Bridget Jone’s Diary,menjadi buruan di pasar internasional.

Selain Rachmania,ada nama Icha Rahmawati sebagai penulis muda nan berbakat. Novelnya, Cintapuccino, booming dan kini sudah naik cetak dua belas kali. Di satu sisi, kemunculan penulispenulis muda itu patut mendapat apresiasi.Namun,di sisi lain,hal itu juga menunjukkan perbedaan budaya tulis yang mencolok antara anak muda kota dan anak muda di pelosok desa. Dua penulis muda yang saya contohkan di atas adalah ”produk” dari perkotaan.

Bagaimana dengan anak muda dari dunia pesantren? Jawabannya jelas, dalam dunia penerbitan sastra kita, sangat sulit ditemui nama yang ”berbau”pesantren. Namun itu dulu. Cerita muram tentang minimnya karya sastra dari pelosok atau komunitas yang selama ini dianggap ”pinggiran” seperti pesantren kini telah berakhir. Setahun belakangan ini, tidak sedikit karya sastra dari sastrawan muda ”pinggiran” itu yang berhasil menghiasi etalase-etalase toko buku di Tanah Air.

Ada nama Shachree M Daroini, Ma’rifatun Baroroh,Fahrudin Nasrulloh, Pijer Sri Laswiji, Zaki Zarung, S Tiny, dan Mahbub Jamaludin. Shachree M Daroini menulis novel Bola-Bola Santri, Ma’rifatun Baroroh menulis Santri Semelekete, Pijer Sri Laswiji menulis Kidung Cinta Puisi Pegon, Zaki Sarung menulis Santri Baru Gede, S Tiny menulis Dilarang Jatuh Cinta, dan Mahbub Jamaludin menulis Pangeran Bersarung.

Novelnovel yang ditulis oleh sastrawan belia pesantren tersebut meminjam analisis puisi model Hipolyte Taive, pada dasarnya merupakan perwujudan dari teori ketergantungan karya literer dengan fenomena pada zaman dan lingkungannya. Karya literer (puisi, novel) selalu mencobamerefleksikan,mencatat,dan menafsirkan problematika zaman dan lingkungannya. Paling tidak, karya tersebut memang berusaha menjadikan dirinya sebagai saksi atas berbagai peristiwa dan kondisi sosial.

Dalam konteks ini,tangan-tangan kreatif dari komunitas ”lain” bernama pesantren itu mencoba memotret realitas keseharian pesantren lengkap dengan dinamikanya. Realitas keseharian, seperti perilaku gus (putra kiai) ketika santri jatuh cinta dan kerja keras untuk belajar di tengah kesederhanaan disajikan dengan sangat jujur dan bernas. Masyarakat yang menganggap pesantren sebagai komunitas udik dengan baju kumal dan penyakit kulit para santri akan dibuat ”insaf”bahwa pesantren ternyata juga sangat berpotensi dalam penerbitan sastra. Novel Bola-Bola Santri karya Shachree,misalnya, mampu memotret dengan cukup utuhperjalananhidupseoranggusalias putra kiai.

Kisah pergaulan gus dengan sesama gus,para santri,juga warga sekitar kampung mengusung nilai lokalitas ala pesantren yang cukup kental. Novel-novel mereka memang kental dengan nuansa pesantren. Suasana udik ala pesantren ditampilkan apa adanya.Novel-novel ini, meski masih sangat sederhana, sudah bisa mengusung semangat estetika lokal—semangat yang melandasi pelaksanaan Kongres Cerpen Indonesia di Riau beberapa waktu lalu.

Meski tak sesempurna Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari dalam mengusung semangat lokalitas, novel-novel mereka tetap mampu menyeruakkan aroma pesantren. Penggunaan istilah-istilah yang biasa dipakai di pesantren,seperti roan, ghasab, pawestren, ndalem, dan takzir sangat membantu novel-novel mereka menjadi semakin terasa ”nyantri”. Lalu, apa langkah yang tepat bagi sastrawan muda ”pinggiran” ini ke depannya?

Langkah awal brilian berupa lahirnya novel-novel di atas perlu lebih didukung publik sastra guna pengembangan sebuah karya sastra yang lebih serius dan tematik,mulai dari plot maupun materi cerita. Dengan begitu, kemunculan mereka tidak sekadar ”hangat-hangat tahi ayam”sehingga kita bisa memacu lahirnya sastrawan-sastrawan muda dari pesantren.

Terkait dengan itu, mungkin ada yang menganggap saya berlebihan dengan menyebut mereka sebagai ”sastrawan” hanya karena karya mereka belum benar-benar teruji seperti karya ”selebritis” sastra papan atas Indonesia. Sudahlah, buang jauh pola pikir positivisme seperti itu.Toh mereka juga berkarya. Itu sudah cukup untuk mengatakan bahwa pemilik tangan-tangan kreatif dari pesantren itu sebagai seorang sastrawan, meski dengan embel-embel ”pinggiran”.(*)


MOHAMMAD ERI IRAWAN Santri ”jalanan” di sejumlah pesantren di Jember, aktif di Rumah Baca dan Diskusi Taman Katakata Jember, Jatim

SUMBER: KLIK!

5 komentar

Thursday, May 31, 2007

PILOSOPI PUTASO DAN POTAKER
Sebuah catatan Workshop II matapena di PP Al-falah II Nagreg Bandung
Senen-Selasa, 14-15 Mei 2007

Thursday, May 31, 2007


Dua orang berdebat.
“Mau tidak mau kamu harus mau berangkat duluan. Minggu!”
“Ra iso! Mau tidak mau kita harus berangkat bersama,”
“Why? Aku tidak bisa berangkat minggu!”
“Ya, senin!”
Dua orang itu adalah Zaki dan Mahbub.
Dan sore hari Sabtu, 12 Mei akhirnya Mahbub nongol dari balik pintu kamar Zaki.
“Aku berangkat duluan!”
“Yes!” Zaki lega. Akhirnya ia bisa lebih tenang melakukan perjalanan ke Ponorogo. Mahbub pun berangkat ke Gombong Kebumen Jateng bareng dua cewek imut, Nahwa dan emboknya Nahwa. Baru dari sana ia berangkat ke PP Al-Falah Nagreg, Bandung untuk ngisi Workshop II. Ia sampai di bawah tulisan selamat datang persis pukul 17.30 WIB.
Sedang Zaki? Yah, dia berangkat dari Jogja naik Bus jurusan Cirebon hari senin, 13 Mei pukul 10.55 WIB dari terminal Giwangan. Turun di Terminal Wangon Banyumas dan melanjutkan perjalanan ke Nagreg dengan Bus jurusan Bandung.

20.00 – 23.00 WIB

Di Al-Falah, acara dimulai sesuai rencana yaitu pukul 20.00 WIB hari Senin, 14 Mei. Yang ngisi Sobri Obri dari Alumni, Kariem Abdul yang Asistennya Sobri, adiknya mas Ahmad Fikri AF, yaitu Ahmad Dawami AD, serta Mahbub Jamaluddin sang peworkshop. Tak lupa acara itu didampingi bagian kesiswaan pondok, Ustadz Uyun yang hari itu rambutnya tampak lebih gondrong daripada setahun yang lalu ketika Matapena pertama kali ke Al Falah.
Nah, pas lagi asyik-asyiknya acara diisi Mahbub, tiba-tiba dari arah pintu muncul sosok yang ditunggu-tunggu baik sama Mahbub yang mengira ia tak jadi nongol hari itu maupun dari para audiens yang lain. Yaitu, Zaki. Sayang, ia tampak kusut karena berusan sampai dan langsung didaulat masuk ke arena pertemuan tanpa dikasih waktu istirahat.
Materi pertama yang berisi provokasi buat anak-anak untuk nulis novel pesantren berjalan mulus. Seperti halnya kalimat Mahbub yang keluar dari mulutnya, “Karya yang bagus adalah karya yang selesai.”
Yang membuat kaget adalah kenyataan bahwa yang ikutan Workshop kali ini ada 50 lebih santri. Puterinya ada 49 dan putra ada 10, jadi jumlahnya 59. Dari 59 Santri itu yang ikutan WS I hanya 7 orang. Lebih banyak anak barunya.
Acara ditutup pukul sebelas malem meski para audiens masih bersemangat bab moderator si Obri Sobri tidak tega demi melihat mata temen-temen pemateri sudah 5 watt, terutama Ahmad Dawami AD yang dengan lirih mulutnya mengeluarkan bunyi, “Gue lagi putaso neh!” Dan disepakatilah besok pagi mereka akan mulai acara pukul 06.00 tepat.

07.00-12.15 WIB

Tepat! Tepat melesetnya. Baru pukul 7 mereka berkumpul. Di kelas dan dilanjutkan Out bond ke bukit di belakang pondokan.
Seletah sampai di tempat tujuan sekitar satu kiloan dari kelas, Zaki tampak terbengong-bengong, “Wuih, subhanallah, bagus banget nih bukit,” selorohnya. Yap, di sana memang terbentang pemandangan yang asyik banget; sebuah bukit kapur yang berdanau dua, berait putih dengan batu-batu hitam yang menjulang kokoh di atasnya. Meski tak 100% alami, tapi masih menyimpan keindahan alam yang pas banget buat acara pagi itu, yaitu melatih kepekaan pancaindera dengan Olah suara, olah tubuh, olah muka, olah rasa, dan olah-olah yang lain.

Setelah itu mereka dibawa satu persatu oleh para pemateri, Zaki dan Mahbub, dibantu oleh, Kariem, Sarti Iman, dan Ahmad Dawami AD, menuju tiap-tiap obyek yang diamati yang terdiri dari; batu, air, akar, daun, pohon, menara, tanah, dan lain sebagainya. Sayang, tak ada satu pun yang ikutan mengamati potaker di pucuk batu hitam paling besar kecuali Ahmad Dawami AD. Setelah pukul 9, mereka kembali ke pondok untuk mandi dan makan dan berkumpul lagi pukul 11.00 untuk evaluasi hasil pengamatan benda di bukit hingga pukul 12.15.
Diluar dugaan, hasil dari pengamatan mereka ternyata unik-unik. Ada yang mengamati pohon duri lalu menuliskan tentang kisah panglima genit. Ada yang mengamati air lalu menulis tentang patah hati, dan lain sebagainya. Ternyata pengamatan dengan panca indera, mampu memberikan ide yang segar. Para peserta perlahan mulai berjalan menuju pintu pembebasan dari belenggu indera penglihatan. Bravo!
Setelah selesai pembahasan, materi dilanjutkan tentang pengayaan materi ekstrinsik karangan berupa kondisi sosial, ekonomi, politik dan hal lain berkaitan dengan kondisi pesantren. Endingnya adalah pemberian PR membuat alur Novel dari hasil pengamatan mereka.

14.11 – 16.30 WIB

Setelah makan siang, dan shalat serta mandi yang kedua, acara selanjutnya adalah pembahasan kembali masalah alur. Sebagian besar masih kebingungan membuat alur novel. Baru ketika dikasih sedikit contoh, para peserta kemudian bisa praktik dan membuka cakrawali idenya. Dan hasilnya, dievaluasi dan dikasih masukan sama Mahbub dan Zaki. Di situ mereka diajak membuka pintu-pintu idenya dari berbagai arah, hingga akhirnya mereka pada nyadar bahwa ternyata, satu hal yang tampaknya sederhana ternyata bisa dibuat seribu macam cerita. Di situ juga dibahasa panjang lebar masalah membuat konflik yang berliku. Untungnya para peserta tidak ada yang ikutan konflik. Peace, man! Kita harus tetap Putaso!

20.00 – 23.00 WIB

Meski merombak total jadwal yang semula kita buat, tapi akhirnya semua materi dapat diakomodir. Pada malam terakhir, materi dan praktik tentang opening-ending, karakter serta suspens di obok-obok habis. Dan, acara tuntas di penghujung pukul sebelas malam.
Nah, setelah selesai dan acara ditutup oleh Obri Sobri, akhirnya gelombang massa yang merangsek ke depan tak bisa terbendung. Sambil santai minta tanda tangan, komentar serta gambar-gambar lucu, mereka tanya-tanya masalah penulisan banyuak banget! Hingga tak terasa dah nyampai pukul 12 kurang seperempat. Namun sayang di Bandung tidak ada foto, akhirnya kita tidak ada kenangan dalam bentuk foto, dech! Tapi santai masih ada kenangan dalam bentuk poto! Hehehe… dan tentu saja putaso.

06.00 – 09.00 WIB

Pagi yang berkabut, rengang suara ngaji menderu. Semua santri sedang suntuk mengaji mendengar ustadz membalah kitab. Lima buah angsa berdzikir putaso. Lalu…
Drrrttt…ddrrrttt… drrttt…
Getar HP menandakan ada sms.
Pg2 enknya minum teh
Dari: Soobery
06.11 16/05/07
Di dalam kobong asatidz di pojokan komplek, anak-anak yang terjajar rapi di atas tempat tidur itu terprovokasi kecuali Ahmad Dawami AD yang lagi sibuk ngurusi ‘putaso’. Akhirnya kami berempat menyusuri jalanan membelah Al-Falah yang belum lama di aspal menuju warung kopi di tepian rel kereta api.
Sambil merasakan getaran tanah ditimpa roda-roda besi rel kereta api, kami saling menyeruput kopi dan the masing-masing. Dan terjadilah percakapan pagi.
“Ada bebarapa hal yang bisa kita pelajari:


  1. putaso
  2. putaso
  3. putaso
  4. dan potaker.” Kata Mahbob mengawali percakapan.

Kariem mencoba untuk mengerti.
“Sebenarnya kita bisa menggali lagi makna terdalam putaso. Sayang sang suhu sedang tak ikutan,” Zaki menambah.
Kariem masih mencoba untuk mengerti.
Soberi hanya manggut-manggut. Tampaknya ia punya prespektif lain tentang putaso. Katanya, “Salah satu hakikat putaso adalah bahwa kadang apa yang kita rencanakan, tak musti dapat terlaksana sedemikian.”
Kariem terus berusaha mengerti.
Gantian Mahbub menambah, “Betul, putaso juga bermakna, kebijakan adalah ketika kita mampu memberi solusi terbaik untuk segala kejanggalan yang terjadi.”
Kariem semakin berkeringat saja.
“Meski anak-anak yang ikutan kebanyakan baru, artinya sempat terputus dari tali silatuworkshop pertama, tapi tak berarti mereka tak bisa mengikuti. Aku yakin untuk workshop yang ketiga, sebuah kejutan akan mereka getarkan pada seluruh bulu kuduk kita.”
Zaki tampak berapi-api.
Dan semuanya berseru, “PASTI…!”
Nah, akhrirnya Kariem dapat lega menghirup teh pahitnya karena bisa paham makna putaso yang sesungguhnya yaitu: optimisme dan kesungguhan.
“Lalu, makna potaker apa?” tiba-tiba tanpa di nyana penjual kopi ikutan nimbrung.
Dengan kompak keempat pemuda itu menjawab, “Tanya aja ndiri ama suhu Ahmad Dawami AD.”
“!!!???...” penjual kopi bengong.


1 komentar

Thursday, May 10, 2007

World Book Day 2007
26-29 April 2007
Gedung A Depdiknas Jakarta

Thursday, May 10, 2007

Rabu, 25 April 2007
Persiapan


Berangkat sore hari, pakai travel. Dengan pikiran kosong dari gambaran dan bayangan, akan seperti apa acara WBD besok. Karena belum ada satu pun dari kita yang pernah mengikuti Community Fair. Dan, ini menjadi pengalaman pertama yang mudah-mudahan bisa memberikan banyak pelajaran dan manfaat.
Sampai Jakarta, rencananya mau langsung istirahat di penginapan, tapi belum ada kamar kosong, secara jam cek out adalah pukul 13.00 WIB. Padahal waktu itu baru jam enam pagi. Kita pun kemudian meluncur ke Lakpesdam, tampat Sahal bekerja. Selain bisa buka mail untuk ngeprint beberapa berkas, kita juga dapat gratisan makan pagi dan siang.
Siang hari, setelah cek in, kita langsung ke lokasi WBD untuk menata stand. Dibantu sama Slamet dari perwakilan Jakarta. Beberapa perlengkapan yang belum ada, misalnya tali dan kertas manila, kita cari di Carrefour yang lokasinya cuma di sebelah gedung Diknas. Tikar yang sejak beberapa hari lalu sudah kita pesan, ternyata belum tersedia. Akhirnya sebagai alternatif, kita pakai selimut sebagai alas duduk lesehan. Acara beres-beres berlangsung sampai pukul setengah sepuluh. Dengan membawa beberapa PR bikin ilustrasi untuk hiasan dinding tripleks, dipasang esok harinya.


Kamis, 26 April 2007
Hari Pertama


Setelah makan pagi, kita menuju ke lokasi WBD. Banyak stand sudah terlihat rapi dan cantik. Rencana pertama adalah meneruskan dekorasi, sambil mengikuti pembukaan WBD di Panggung Utama yang terletak di depan stand Matapena. Acara dibuka oleh Prof Dr. Bambang Sudibyo. Dihadiri juga oleh Tantowi Yahya.


Acara diskusi atau workshop diadakan di dua panggung, Panggung Utama WBD dan Pangung Anak dan Remaja WBD. Lokasi Panggung Utama WBD lebih strategis karena di tengah jajaran stand komunitas. Sedangkan Panggung Anak dan Remaja, terletak di ujung pojok gedung A Diknas.
Semula acara Storytelling Matapena akan digelar di Panggung Anak dan Remaja. Panggung yang menurut kita kurang strategis. Apalagi pada jam yang sama Panggung Utama juga tidak dipakai. Mungkin karena pertimbangan itu, panitia kemudian memindahkan acara Storytelling Matapena ke Panggung Utama. Zaki dan Ruslan bertindak sebagai pemateri sekaligus storyteller, ditambah Adinda, adiknya Ruslan, sementara Hilma sebagai host. Saya sebagai penjaga stand, mengingat dua stand yang lain di hari pertama sudah kehilangan laptop masing-masing. Ambil dokumentasi juga terpaksa saya titipkan ke panitia.
Memang pesertanya tidak banyak, mengingat cuaca di luar hujan. Undangan yang sudah kita hubungi juga beralasan demikian. Tapi, pada sesi dialog lumayan juga yang berpartisipasi. Setiap penanya atau komentator mendapat kenang-kenangan buku dan pin. Berjumlah lima orang.
Kegiatan selama sehari, selain manggung storytelling, kita melayani beberapa pertanyaan pengunjung yang bertandang ke stand. Rata-rata ketertarikan mereka bermula dari foto yang kita pajang, kemudian berlanjut ke pertanyaan seputar teknis pengadaan workshop. Belum lagi kalau yang mereka inginkan adalah peserta dari anak-anak usia SD, secara mereka adalah guru sekolah dasar. Di luar kegiatan kita selama ini kan? Tapi, kita tetap optimis, memberikan jawaban, itu bisa direncanakan dan akan kita agendakan.
Tutup acara, pukul 09.00. Kali ini, kita mencoba berkenalan dengan busway. Kalau ingin menemukan suasana lelahnya ibukota dari wajah-wajah para penghuninya, naik saja angkutan ini. Sebuah potret yang membuat para pendatang seperti kita jadi ingin cepat kembali ke kampung halaman.

Jum’at, 27 April 2007
Hari Kedua


Acara hari kedua tetap sama. Menerima kunjungan dan menjawab pertanyaan pengunjung. Sambil bergantian kita berkeliling mengunjungi stand komunitas yang lain. Rata-rata cuma dihuni oleh panjaga stand. Paling ramai stand Komunitas Historia, stand yang berlokasi tepat di depan stand Matapena. Mereka adalah orang-orang yang suka berkeliling mengunjungi kota dan peninggalan sejarah di Jakarta. Mereka juga punya milis yang beranggotakan ribuan orang. “Ternyata belajar sejarah itu mengasyikkkan,” jelas Asep, si penggagas ide. Tentu saja karena dikemas dalam bentuk jalan-jalan, untuk masyarakat Jakarta bisa jadi alternatif mengisi hari libur.
Dari ke-43 stand yang ikut dalam WBD, datang dari Jakarta, Bogor, dan Bandung. Sementara sisanya dari Jogja dan Jawa Tengah: Matapena, Perpus keliling Satu Nama, Rumah Pelangi-Magelang. Rata-rata mereka juga menjual asesoris, misal Pin, pulpen, gantungan kunci, juga kaos. Padahal dalam WBD ada peraturan stand komunitas tidak boleh melakukan jual-beli. Malah ada stand Komunitas Kalam Bogor, yang semula sepi, tapi setelah menerima order bikin pin, stand pun jadi ramai dikunjungi. Tapi, buntutnya kita tahu, kalau itu menjadi alternatif kas masuk untuk membiayai kegiatan mereka. Salut ya!
Kita juga mengikuti acara yang berlangsung di Panggung Utama, cukup dengan duduk lesehan di stand sambil mendengarkan jalannya diskusi. Rata-rata pesertanya memang tidak banyak. Karena kebanyakan yang datang paling jalan-jalan mengelilingi pameran stand, setalah dari pameran buku, lalu pulang.
Stand Matapena yang rencananya mau memutar film, terpaksa dibatalkan, karena ada sepasang kabel colokan yang tidak terbawa. Alhasil, seperangkat tv dan salon cuma jadi hiasan, tiap malam diangkut dititipkan ke panitia, lalu diambil lagi esok paginya. Katanya kabel colokannya mau diambilkan, tapi tak kunjung datang juga. Jadi, kita memutar film pakai laptop, dengan tanpa suara.
Malam kedua acara cuma sampai pukul 08.00. Tadinya mau jalan-jalan. Tapi, mengingat kita mau bikin profil Matapena untuk difotokopi, kita pun balik lagi ke penginapan.


Sabtu, 28 April 2007
Hari Ketiga


Acara pertama meneruskan pembuatan profil Matapena, yang sering kali ditanyakan sama pengunjung. Selengkap-lengkapnya. Karena ternyata mereka lebih suka membawa kopian profil Matapena daripada mencatat alamat dan nomor telpon pada banner. Ya pastinya.
Hari ketiga, rencananya kita menawarkan pada pengunjung untuk uji coba menulis cerita singkat. Tapi, maaf. Tidak berjalan dengan baik. Meskipun pengumumannya sudah disebarkan lewat undangan via Insan Purnama, brosur, dan pengumuman di kertas manila. Mungkin karena merepotkan, daripada refreshing dan jalan-jalan, melihat-lihat, yang terkesan lebih rileks. Sementara undangan yang kemarin kita kirimkan ke SMA via Insan Purnama, terbukti belum ada yang memenuhi. Yang terlihat nongol cuma anak-anak PMII, dan pengurus IPNU juga cuma mengantar majalah edisi profil Fina Af’idatussofa karena ada rapat. Sempat juga jalan-jalan mengunjungi Panggung Anak dan Remaja, yang waktu itu ada Bengkel Kepenulisan dari FLP. Ternyata sama juga. Pesertanya cuma 10-an orang. Tidak lebih.
Meskipun demikian, profil Matapena yang ditaruh untuk diambil cuma-cuma, habis tak tersisa. Ada yang bertanya, “Ini di La Tansa ya?” sambil menunjuk foto kegiatan Matapena. Ada juga seorang ibu guru yang tertarik bertanya, “Kalau untuk anak SD bisa ngadain workshop gak?” Soal pertanyaan yang kedua ini, hampir setiap hari ada yang menanyakan. Sampai kita kepikiran untuk bikin program workshop untuk ditawarkan ke sekolah-sekolah SD. Hehehe.
Malam harinya sebelum ditutup, ada acara Ajang Kumpul Komunitas. Dengan menampilkan kreasi dan hiburan untuk semua. Matapena menampilkan Adinda, adiknya Ruslan, sama Zaki untuk baca puisi dan cerpen. Ada yang menampilkan operet dangdutan Roma Irama, tari salsa, lagu balada, dll. Tapi, kita tidak mengikuti acara sampai selesai, sudah larut malam.

Minggu, 29 April 2007
Hari Penutupan

Hari penutupan, di Panggung Utama masih berlangsung 2 sesi diskusi. Tentang prediksi terbitan Harry Potter dan prospek perjalanan komunitas ke depan. Beberapa acara pementasan yang direncanakan di Panggung Utama, sepertinya tidak jadi ditayangkan. Dilanjut dengan pengumuman lomba tabak buku, berburu buku, dan penutupan acara World Book Day 2007 oleh Kepala Dinas Perpustakaan Nasional Jakarta.
Dalam acara penutupan ini, dibuka dialog, untuk menyampaikan kritik dan saran. Asep dari Komunitas Historia, memandang positif kegiatan WBD. Hanya saja, publikasinya memang kurang bagus di samping terlalu mendadak. Kritikan ini juga diakui oleh Bapak Kepala Dinas yang baru mendapatkan undangan seminggu sebelum acara. “Jangankan Jakarta, orang satu gedung Depdiknas saja tidak semuanya tahu soal kegiatan ini kok.”
Pak Kadin juga sempat mempublikasikan kegiatan Community Fair serupa yang katanya akan dilaksanakan di TMII bulan Juni depan. Kok mendadak lagi? Bocoran sejenis ini juga didapat Zaki, yang katanya WBD tahun depan akan diadakan di Jogja. Sepertinya kita harus menunggu kebenaran 2 bocoran itu. Harapannya sih bocoran yang kedua yang benar terbukti. Jadi, selain Matapena sudah berpengalaman soal gambaran bagaimana pameran komunitas itu, juga lokasinya tidak perlu jauh-jauh naik travel. Amiin.
Pukul 17.15 kita resmi cabut, dengan travel yang sudah menunggu di depan gedung depdiknas. Mungkin bagi beberapa komunitas, ini pemandangan yang cukup mengherankan. Apalagi pas mereka tahu kita menginap di hotel. Secara hampir semua komunitas adalah swadaya dan minim fasilitas. Mereka menginap di stand. Yah, seperti kegiatan-kegiatan kampus dan gerakan mahasiswa gitulah. Salut ya!

0 komentar