Monday, March 30, 2009

EMOTIONAL CONECTING ?

Monday, March 30, 2009
; Sebuah Hubungan Yang Tidak Ramah Antara Aku dan Keledai Hitam

Malam setelah haul ke-2 almarhum Gus Zaenal Arifin Thoha aku segera meluncur ke rumah matapena, meski saat itu aku sempat tinggal gelanggang colong playu, demikian istilah Kang Mahbub untuk aku waktu itu karena memang jatahku baca puisi aku tinggal begitu saja. Karena memang waktu sudah larut malam dan aku kira aku tidak lagi kebagian tugas baca puisi. Malam itu juga aku harus istirahat, pikirku karena aku harus mendatangi Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah untuk mengadakan roadshow Matapena.

Pagi hari menjelang bangun pagi aku sudah mengumpulkan tenaga dan menghimpun kekuatan semangat. Berteriak, mengaji, sholawat atau just menyanyikan lagu tanpa syair Slamet Gundono yang memang bagus untuk oleh vocal bersama Zaki dan Kang Mahbub. Setelah itu menyiapkan ubo rampe untuk roadshow; formulir pendaftaran, daftar hadir, dan tetek bengek lainnya. Tepat jam tujuh pagi harus menemani sarapan Zaki yang harus mendongeng di depan lima ratusan santri TPA di Imogiri. Di warung akhirnya kami menemukan ide dongengan Zaki, yaitu kisah Ibnu Hajar yang bisa mengambil hikmah dari proses koneksitas alam dengan manusia. Batu yang berinteraksi dengan air, yang kemudian melahirkan pembelajaran penting bagi manusia tentang konsep sabar, dan tekun dalam mencari knowledge.

Setelah selesai membuat konsep untuk dongeng, kami langsung menuju Pondok Pesantren Nurul Ummah karena aku harus bertemu dengan Irawan Fuadi. Di pesantren itu Fuad sudah siap dengan kendaraan mungilnya yang tak lebih adalah belalang tempur milik satria baja hitam atau Keledai Hitam si Abu Nawwas. Tanpa sepion, tak ada lampu depan, kenalpot pecah dan jok belakang yang tak utuh untuk memuat pantatku yang tidak begitu lebar. Namun prinsipku barokah is number one. Karena motor itu adalah salah satu inventaris keluarga ndalem.

Dan karena keyakinan barokah itu, ternyata kami harus diuji, motor dipancal hidup namun baru berjalan tiga meter tersendat dan muntah asap. Diselah dua kali berjalan lagi ternyata masih ngadat, walhasil aku harus turun dulu dan membiarkan Fuad melatih keledai hitamnya itu berkeliling lapangan karang. Ternyata kendaraan itu perlu pemanasan dengan tanpa beban. Ya, motor itu protes sambil berteriak bahwa sepagi itu telah terjadi pen-dholim-an terhadap dirinya oleh kami. Kami membiarkan miss-conecting, antara mesin dengan kami sebagai manusia, ketika terjadi pendholiman semacam itu kamipun kemudian didholimi oleh waktu, molor!

Setelah kami bisa berakrab ria dengan keledai hitam itu, kami berjalan dengan terseok apalagi harus menuruni tanjakan jalan utara lapangan Karang, tapi semangat jihad kami sebagai militan Matapena tidak pernah surut. Allahu akbar!

Sesampai di pesantren, entah mungkin telah terjadi koneksitas vertical antar motor dan Pesantren itu ketika memasuki gerbang pesantren keledai hitam itu mogok lagi. Beberapa kali kita selah masih mogok, akhirnya saya berkesimpulan meski tidak ada tanda kendaraan harus turun kamipun harus turun! tidak hanya sampai di situ. Fuad harus kembali lagi untuk mengembalikan kamera digital yang sedianya untuk acara nanti. Puh! Tuhan ampuni kami….

Jam 08.51. pesantren masih ro’an, padahal kami mengejar jam 09.00 sebagaimana yang terjadwal. Kami maklum. Kami langsung menuju kantor, di kantor disambut oleh Kang Zaim dan beberapa pengurus lain, sayang aku lupa namanya. Sempat pula aku bertemu dengan Kang Kijun adik kelasku waktu di aliyah, dan dulu pernah satu pondok. Menjelang acara itu perbincangan sekitar pesantren Al-Luqmaniyyah. Bagaimana pesantren yang berada di tengah kota itu mampu berkembang begitu cepat, santri-santri yang kebanyakan membawa laptop, motor dan hape itu tidak gagap bersanding dengan alfiyah dan tradisi pengajian kitab klasik lainnya. Ya, Gus Najib memegang dan berperan utuh untuk menentukan arah roda pendidikan pesantrennya dengan gaya klasik -Kitab kuning- namun tak ketinggalan modernisasi.

Acarapun dimulai sekitar jam 09.40. yang dihadiri sekitar tujuh puluh peserta santri putra dan putri Pondok Pesantren Al-luqmaniyyah. Setelah pembukaan, moderator langsung mempersilahkan kami untuk berbicara, yang terjadi aku hanya menceritakan perjalanan kami di pesantren-pesantren dan pentingnya sebuah komunitas sastra yang berbasis pesantren. Sementara Fuad lebih berbicara bagaimana berkomunitas itu, sebagai genarasi lanjutan dari komunitas Matapena Fuad bercerita banyak mengenai take and give di Matapena, yang telah lenyap senioritas dan yunioritas, matapena adalah sebuah proses bersama untuk menemukan sastra alternative yang berbasis pesantren. Selain itu Fuad juga bercerita tentang fasilitas dan keasyikan ketika bergabung dengan matapena. Pernyataan ini ternyata diamini oleh Orwella yang pernah bergabung dengan salah satu komunitas sastra di Yogyakarta. Kata Orwella yang merupakan santri putri PP Al-luqmaniyyah itu, “membayar tiga puluh ribu, itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan pengalaman dan kebebasan menyampaikan imajinasi dalam bersastra pada sebuah komunitas sastra,” demikian ungkapnya dengan berapi-api. Horas Orwel!

So. Memang hari itu tidak begitu banyak pertanyaan, karena Fuad mencoba mengkoneksikan ruangan itu dalam full imajine, para santri diminta berdiam sebentar meraih sebuah imaji dan menulis sesederhana mungkin untuk kemudian dibacakan di depan teman-teman. Sungguh luar biasa, hampir limapuluh persen para peserta mengangkat tangan ketika diminta membacakan tulisannya, ada yang menulis tentang dialog lugas Kyai gaul dengan santri cool, ada yang menulis tentang mimpi seorang santri ada juga yang menulis kisah cinta di pesantren. Aku berkesimpulan mereka luar biasa semangatnya. Sebagai tambahan aku mencoba menggelitik semangat mereka dengan menjelaskan konsep draft dalam menulis novel, ya tentunya hanya sekilas, karena tanpa terasa adzan dhuhur mulai berkumandang.

Namun aku tidak ikut berjamaah, karena Gus Najib menyandera kami untuk berdialog dan berdiskusi kecil tentang cara memotifasi santri. Dari dialog itu, saya menemukan sebuah konsep yang bagi saya sangat luar biasa untuk diterapkan di Matapena, yang pertama yaitu konsep nasibiyyah yang merupakan konsep penjaringan dan pengelompokan peserta dalam menemukan telenta dan mengukur kemampuan peserta biar tidak terjadi generalisasi. Kedua adalah at-tawazzun bainan-nafsi wal aqli, sebuah keseimbangan antar nafsu (emotional) dan akal yang semuanya bisa bertemu dalam lorong ilmu. Namun puncak dari konsep itu sebenarnya adalah essential yaitu Allah (tasawwuf). Jika keseimbangan nafsu dan akal itu terjadi maka akan terjadi yang ketiga yaitu koneksitas manusia dengan alam yang lahir dari kemutlakan ilmu (Allah). Pembentukan koneksitas itu bisa dilakukan dengan riyadhah (salik, tasawwuf). Dan jika sudah terjadi koneksitas (kearifan, keadilan, dan keseimbangan) antara alam dengan manusia maka tidak mungkin tidak lagi, di muka bumi ini akan terjadi kedamaian hakiki.

Dan kami harus berhenti untuk berdialog, ketika Gus Najib mempersilahkan kami untuk makan bersama. Selesai makan Gus Najib hendak memulai topik dialog baru tapi saya buru-buru harus segera memotong, “Sepuntene, Gus. sauntawis cekap anggen dalem sowan. dalem bade nyuwun pamit…,” dan akhirnya kami bisa menuju keledai hitam lagi untuk pamit. Meski sekali lagi kami harus adil pada motor tua itu, Fuad melatihnya kembali berjalan tanpa beban dulu baru saya ikut naik di belakangnya…

2 komentar

Friday, March 27, 2009

Sungguh, Malam Yang Bergairah!

Friday, March 27, 2009
Jalanan desa jejeran wonokromo pleret bantul yogyakarta memang lengang jika sudah memasuki waktu awabain (red: di antara maghrib dan isya’) namun sahut menyahut suara orang mengaji quran serta ustadz atau kiai membalah kitab membuat suasana hidup dalam gairah belajar tiada henti.

Satu dua kendaraan bermotor lewat. Disusul satu dua sepeda. Semua penumpangnya mengenakan peci dan bersarung. Saya dan Irawan Fuadi (anggota komunitas matapena nurul ummah), pelan mengendarai sepeda motor. Kira-kira 20 km/jam. Dari jalan imogiri barat selatan pasar wonokromo, kita ambil jalan ke timur. Sekitar 200 m baru ke selatan mengikuti jalan tanah dan di kiri jalan kira-kira setelah 100m, kami berhenti di depan asrama putri PP Fadlun Minallah komplek Halimatus-sa’diyah. Di sana kami disambut oleh Mas Yasin, salah satu ustadz pondok yang teranyata adik kelas saya di UIN Sunan Kalijaga Pendidikan matematika.

Setelah pukul 8.30, kami bertiga menuju komplek putra untuk melangsungkan acara. Ada sekitar 20 santri putra dan 30 santri putrid yang mengikuti acara ‘yuk nulis yuk bareng komunitas matapena’. Peserta diikuti oleh peserta dari umur 13 hingga 25 an. Mulai dari usia SMP hingga kuliah semester 6.

Acara dimulai dengan MC mbak Wasilatur Rahmah yang membuka dengan basmalah bersama, lalu sambutan oleh lurah pondok kang Ari Wibowo.
“nulis…” kata MC.
“yuuuukkkk….,” sambut audien.
Sungguh malam yang meriah di dusun yang penuh gairah ini.

Setelah dipersilahkan, saya mulai mengajak teman2 santri melakukan penggalian kemampuan menulis yang selama ini masih tersimpan rapi di dalam hati. Dengan sedikit permainan interaktif, acara menjadi lebih hidup malam itu. Beberapa santri; Siful, Ahsan, Mira, Shidiq, dan lainnya membagi hasil karya fiksi ‘dua menit’nya. Ada yang lucu, ada yang sedih, ada pula yang romantis. Disusul Fuad yang membagikan pengalamannya menjadi anggota komunitas dan prosesnya menulis novel. Sekitar satu jam kemudian, kita mulai sesi dialog.

Dalam dialog diketahui ternyata ludah banyak yang punya hobi menulis, baik puisi, cerpen bahkan bakal novel. Ada Resti, Nayla, Farid, juga mahmudah yang sharing ide dan pertanyaan. Selanjutnya mas Ari wibowo, pak lurah pondok, tunjuk tangan paling akhir. “Saya harap kegiatan ini masih akan berlanjut bukan hanya sampai di sini. Banyak sebenarnya santri yang punya hobi dan keinginan serta kemampuan menulis, namun semua masih tak tahu mau diapakan tulisan itu. Dengan adanya pendampingan dari komunitas matapena ini semoga kemampuan habit itu bias menjadi lebih hebat lagi di masa datang.”
“Amien, jawab saya lirih.

Sungguh, pondok di tengah dusun asuhan Kiai Khatib Mashudi K ini sangat nyaman dan bergairah. Pukul 22.10 menit saya dan Fuad meninggalkan tempat asri itu. Dan seolah ada satu yang tertinggal di sana: rindu!

0 komentar

Thursday, March 26, 2009

Mendadak Diskusi Bareng Katrin Bandel

Thursday, March 26, 2009
; Lokalitas dalam Sastra

(Jogja RKKM, Sabtu, 21 Maret 2009) Garasi rumah kreatif lumayan sejuk waktu itu. Semilir angin yang masuk lebih banyak dari pada yang di dalam ruang tengah. Katrin yang semula ada di dalam ruang tengah kini beranjak ke garasi di susul teman-teman lain; pijer, isma, mahbub, sachree, dan zaki. Banyak senyum menghias bibir Katrin siang itu. Ia nampak ramah dan bahagia. Ia senang karena memang sudah lama ingin bertemu dengan penulis-penulis matapena untuk menyampaikan komentar-komentarnya mengenai novel-novel pop pesantren matapena.
Tepat pukul 13.20 ketika teman-teman lain berkumpul, -ufi, shofa, jajang, ahsin, irfan ipenk, aya, dan umi- zaki membuka acara dengan salam dan sedikit pengantar tentang mendadak diskusi di siang itu.

“tema kali ini adalah lokalitas dalam sastra. Jadi apa sih yang dimaksud dengan lokalitas dalam sastra itu? Dan local itu yang bagaimana? Bagaimana lokalitas dalam karya matapena? Bagaimana menulis novel yang melokal dan menarik?” lalu zaki mempersilakan Katrin untuk memaparkan pandangannya tentang hal-hal tersebut.

“Matapena sudah sangat local dan menarik kok,” kata katrin.

“kenapa?” lanjutnya, “Tahun 70-an ada novel warna local: seperti Ronggeng Dukuh Paruk yang memaparkan adat local atau etnis tertentu. Sedangkan Matapena bukan hanya memuat lokalitas etnis tertentu, namun satu institusi tertentu. Nilai-nilai pruralitas menjadi kelebihan novel-novel pesantren matapena. Novel yang mengungkapkan etnis tertentu biasanya hanya mengagungkan entitas tertentu. Pendatang sebagai pengganggu dan jahat. Pesantren lebih plural. Dan itu menarik.

“Lalu yang dimaksud dengan warna local itu apa? Lokalitas itu apa?”

“Dalam novelnya, Ahmad Tohari menggambarkan setting tempat dengan sangat teliti.

Begitu pula Matapena, novel-novel ini sudah mengambarkan dengan teliti sebuah pesantren. Warna local sudah digambarkan dengan baik. Yang khas dari matapena sendiri adalah bahasa yang hybrid dan campur baur –Indonesia, Arab, Inggris, Sunda, Madura, Jawa, dll-. Itu sangat menarik. Apalagi jika ditambah dengan glosari, itu akan lebih akan menarik lagi sebab karena bahasa yang beragam dengan idiom, Inggris, Arab, Indoneisa, Jawa, Madura, dan lain sebagainya kadang membuat orang yang belum kenal pesantren jadi perlu dibantu dengan glosari tersebut,”

“Yang penting dalam buku berwarna local adalah nilai local. Ahmad Tohari menggambarkan nilai moral pada novel pertama Dukuh Paruk yang agak menyimpang dari sekitarnya dengan wajar. Di akhir trilogy Dukuh Paruk seolah harus dibawa ke nilai islam. Di matapena, nilai-nilai di pesantren yang berbenturan terjadi negosiasi dengan berbagai nilai. Yang pada akhirnya menemukan pemecahannya sendiri.”

Kira-kira itulah yang menarik dari novel-novel pesantren matapena menurut Katrin Bandel. Pertanyaan pertama muncul dari Zaki tentang apakah novel local itu tidak universal? Lalu maksud dari Universalitas dalam karya sastra itu bagaimana?

Menjawab pertanyaan Zaki, Katrin mengajak flashback ke masa lalu, bahwa pernyataan tentang universalitas itu adalah nonsen. Universal itu tak lain adalah nilai yang diciptakan barat. Di Indonesia? Novel remaja yang kota justru lebih sempit.

“Jika dibandingkan antara novel Ahmad Tohari dan Ayu Utami? Ahmad Tohari lebih menarik karena menawarkan hal baru. Novel Ayu Utami itu sok universal; Amerika dan Indonesia seolah tidak ada bedanya. Sok mengglobal yang pada akhirnya malah terkesan dibuat-buat. Ayu Utami banyak ngomong tentang sex yang ia sendiri tidak fahami,”

“Satu lagi yang menarik; sastra warna local ditulis oleh orang yang memahami yang dibicarakan. Pengalaman langsung itu kerasa sekali. Pemula menulis pengalaman pribadi,”

Lalu perlahan katrin membuka tumpukan novel di depannya dan mengangkat sebuah novel berjudul Perempuan Berkalung Sorban (PBS).

“Ini novel jelek. Lebih menarik matapena. Dalam novel-novel matapena ada kritik untuk pesantren tetapi selalu ada negosiasi. Rasa cinta penulis pada pesantren begitu terasa, namun tak menutup untuk tetap berbenah, harus ada yang diubah lebih baik lagi,"

“Pada PBS, ia tidak menggarap setting lokalitas, sosiologis pesantren dengan baik. Seperti apa pergaulan di dalam pesantren. PBS menggambarkan pesantren itu tertutup dan mengerikan. Yang ada hanya gambaran hitam putih tentang moralitas pesantren. Hitam putih digambarkan lewat tokoh yang kadang 100% persen jahat dan kadang 100% baik. Itu membuat membosankan. Tokoh matapena memiliki juga kesalahan, aka tetapi tetap berusaha memperbaiki diri.”

“Jika novel matapena dibaca orang non-islam; ini sebagai jihad yang diterima, dunia pesantren menjadi dunia yang ramah dan bisa dibayangkan sebagai sesuatu yang tidak mengerikan. Namun pada PBS, dunia Islam itu terasa kaku dan menggerikan; tertutup dan perempuan ditindas di dalamnya. Harusnya lebih bernuansa. Dilihat pula kontribusi pesantren pada kebaikan.”



Isma bertanya. “Sebagai pemula, sepertinya lebih menarik jika ditarik ke ranah lebih luas, lokalitas di tingkat global itu bagaimana? Bagaimana tentang pandangan local itu tidak ngetrend dan tidak popular. Bagaimana menggali kemauan remaja menulis tentang dirinya?”

Katrin menjawab. “fenomena novel remaja sangat khas. Remaja menulis itu suatu hal yang menggembirakan. Remaja Islami yang sains fiction menarik juga.”

Ufi bertanya, “kesImpulan lokal sangat menarik bagi yang di luar. Bagaimana jika ingin membuat imajinasi yang dahsyat? Apakah itu juga menarik?”

Katrin menjawab, “Sains fiction itu bias jadi lokal? Biasanya konflik yang timbul berangkat dari renungan jaman sekarang. Hubungan pengalaman dengan membaca? Tentu saja saya tertarik dengan sesuatu yang belum saya kenal. Namun saya juga tertarik dengan dunia saya yang ditulis orang lain, karena akan ada prespektif berbeda. Merefleksikan pengalaman sendiri bisa nyambung. Kalo mencoba meniru jadinya mentah. Kalo di kontek Indonesia, kurang universal dan kurang menarik, kekhasan Indonesia itu pluralitas; bahwa setiap karya ada tarik menarik dalam budaya Indonesia tentang pesantren dan dunia luar pesantren. Islam dan non-islam. Ketat dan non-ketat. Pertemuan antar etnis di pesantren. Bukan hanya tentang pesantren di Jawa. Tapi semuanya. Saya pernah berkunjung ke pesantren di Kalimantan, dan memang tipologinya hampir sama dengan pesantren di Jawa.”

“Dalam karya sastra yang ‘universal’, semisal karya Ayu Utami seakan-akan tidak ada konflik moral. Dia tidak menggarap konflik moral. Dia hanya mau provokasi bahwa seakan-akan semua orang berlaku seperti para tokohnya. Padahal tidak sama sekali bahkan di Amerika. Ayu Utami tidak menggarap konflik itu.”

“Lalu lokalitas itu sebenarnya apa? ya tidak ada! Semuanya universal,” Tapi implementasi nilai-nilainya saja yang berbeda antara sebuah masyarakat tertentu dengan masyarakat di luarnya. Novel yang membahas tentang kalangan menengah atas biasanya tidak disebut dengan warna local tapi universal. Hal ini dikarenakan definisinya yang tidak adil. Universalitas dikaitkan dengan global, yang umumnya barat.”

“Dunia jadi global karena ada kolonialisme. Global itu Amerika maka menjadi universal karena relasi kekuasaan global. Selalu ada konteks politik di dalam kontoks sosial.”

Diskusi terus berlanjut, Jajang menganggap bahwa sebenarnya tidak ada nilai universal. Katrin hanya menggaris bawahi pentingnya negosiasi dalam konflik karya sastra. Dan referensi sangat penting agar semakin banyak prespektif dalam karyanya. Ia juga menjawab pertanyaan Pijer tentang haruskah lokalitas itu tidak ada di tempat lain? Ia menjawab tidak, yang penting kesadaran lokal itu di pupuk. Bahkan menjadi lokalitas universal, kata zaki mencoba menambah.

Diskusi berakhir pukul 15.10. tak terasa sudah dua jam lebih. Juga tak terasa dari tadi hujan deras mengguyur membuat dingin hawa siang itu. Sebab yang terasa adalah hangat bara pencarian ilmu. Yang menguarkan pesona lokalitas masing-masing individu menyatu dalam universalitas nilai; keinginan untuk membuat dunia lebih baik. (zz)

0 komentar

Olala, Resmi-Phobia!

PP Darun-Najah Jakarta Selatan
15 Maret 2009
oleh Mahbub Dje


Meski sudah janjian pukul 15.00, kenyataannya kami baru dijemput bakda ashar, sekitar pukul 17.00. Sebelumnya, kami harus menyamakan persepsi dulu dengan Zaki Zarung, mengingat sebelumnya terdapat sedikit kesalahpahaman. Setelah terjadi negosiasi, akhirnya kami berangkat bersama. Seperti kemarin, kami menjemput Restu di depan UIN. Sementara Restu datang, Zaki menemui sahabat lamanya, dan melobi dia untuk ikutan roadshow. Sebab, memang agenda hari itu adalah roadshow. Mungkin sekitar 10 menit, dan dari depan UIN, di saat maghrib mulai menggantung, kami meluncur menuju Darun Najah.

Hari itu minggu sore, dan jalanan lumayan lancar. Memang, selancar-lancarnya Jakarta, masih saja ada yang macet. Di beberapa ruas jalan, terutama di beberapa kilo sebelum Darun Najah, kemacetan terjadi. Iring-iringan kendaraan bergerak seperti semut. Seorang relawan—ah, benarkah ia relawan?—berdiri di tengah pertigaan, berusaha mengatur lalu lintas yang padat. Saat melewatinya, sopir kami membuka kaca jendela dan memberikan selembar uang seribuan untuknya.

Satu tarikan gas, mobil pun sampai di depan pintu gerbang pesantren. Perlahan, mobil memasuki pelataran pesantren. Luas sekali. Dan gelap. Tampaknya mati lampu. Hanya masjid berlantai dua itu yang kelihatan benderang. Santri besar kecil terlihat hilir mudik. Mobil berhenti di samping masjid, dan kami pun turun.

Kang Slamet langsung beraksi. Dengan baju seragam hitam-merahnya, ia segera menelpon panitia lokal. Ternyata, yang ditelepon sudah berada di depan masjid. Dari remang-remang, lelaki itu muncul dan menyalami kang Slamet. Kemudian, kami diajak ke tempat penerimaan tamu. Lilin menyala di meja-meja. Beberapa gadis cantik (cantik, sebab remang-remang—entah kalau terang) terlihat mempersiapkan minuman dan ube rampenya. Ustadz Masruin yang kemudian banyak menemani kami. Dia masih muda. Kutaksir, usianya sekitar 25-an tahun. Alumni pesantren Gontor yang asli Pemalang ini, beberapa saat kemudian mempersilakan kami pindah tempat duduk; ke meja makan. Wow, baik banget.

Yup, ternyata sate dan sop segar sudah menanti kami. Kang Slamet, Mas Dani, Zaki, dan teman-teman lain masih malu-malu. Aku malah berlagak jadi tuan rumah, mempersilakan mereka, mengajak Ustadz Masruin untuk turut serta menemani. Diselingi ngobrol ringan, kami pun menikmati makan malam yang segar dan romantis itu. Aku katakan romantis sebab lilin-liln menyala, dan pembicaraan yang hangat demikian asyik mengalir seakan kami sudah begitu dekat. Wah-wah-wah.

Sambil menanti listrik hidup, dilatari oleh suara-suara santri dari arah masjid, kami berbincang banyak hal. Mulai dari pengalaman hidup Ustadz Masruin di Gontor hingga hukum rokok di pesantren. Kisaran 20 menit kemudian, acara siap dimulai. Kami pun diajak ustadz Masruin ke tempat acara; sebuah aula besar terbuka di belakang masjid. Dari jauh, aku sudah keder dulu melihat tatanan ruangan yang begitu resmi. Kursi berjajar dibagi dua kelompok. Panggung setinggi setengah meter melebar di depan. Meja yang tinggi tertulis ‘pemateri’; ‘moderator’, aqua botol dan gelas-gelas bening ala pesta bergaya Eropa. Ah, resmi sekali. Kayak sarasehan aja.


Kami duduk di shofa bagian paling depan. Tempat duduk vip, sebab para peserta duduk di kursi plastik ala mantenan. Lalu acara dimulai. Kulihat arloji di hp-ku sudah menunjukkan pukul 20.00 ketika seorang santri naik ke mimbar, menjadi MC sekaligus membuka acara dengan resminya. Lalu pembacaan ayat suci al-Qur’an. Hm, resmi sekali. Untung gak pake sambutan segala. Sebab, MC langsung menyerahkan forum ke kami.

Kemudian, Zaki menyerahkan forum kepadaku. Aku mengajak para audiens merenungkan kembali tentang pentingnya kepenulisan. Kubuka dengan kata-kata sayyidina Ali, “Al-‘Ilmu Shoid wal-kitabah qayyiduh.” Lalu kuajak peserta menyelami, bagaimana nasib ummat islam jika al-qur’an tidak dituliskan. Bagaimana kalau hadits-hadits dan kitab-kitab keagamaan tidak dibukukan. Ilmu umat Islam tentu habis terkikis. Milan Kundera bilang, “Jika kamu ingin menghancurkan peradaban suatu bangsa, hancurkanlah buku-bukunya.” Maka, lihatlah bagaimana mundurnya peradaban Islam ketika buku-buku umat Islam dibakar dan dihanyutkan oleh Hulagu Kan saat Baghdad kalah perang. Setelah aku cukup, Restu masuk. Seperti biasa, Restu memberikan teori singkat kepenulisan novelnya. Menulis novel harus ‘tanpa kepala’. Perasaan, jiwa, tumpahkan saja. Lalu setelah selesai, baru dikoreksi ulang, kalau perlu cari teman sebagai pembaca pertama.


Pada sessi berikutnya, acara tanya jawab pun digelar. Sesudah dirasa cukup, Zaki kembali membawa audiens untuk mempraktikkan cara praktis menulis. Zaki meminta audiens menuliskan 4 kalimat dialog antara dua tokoh. Kemudian beberapa voulentir dari peserta membacakannya. Setelah dirasa cukup, Zaki meminta peserta memperbaiki tulisannya dengan menambahkan setting dan narasi. Dan, jadilah tulisan itu lebih baik dan lebih enak dibaca. “Nah, gampang kan bikin novel?”

Pada sessi ketiga, pembaca diajak mengenal lebih jauh tentang matapena, bagaimana cara-cara menjadi anggota komunitas, dan pengumuman bahwa Ustadz Masruin adalah koordinator pendaftaran. Lalu zaki menyerahkan acara kepada MC kembali. Kulihat ustadz Masruin dipersilakan memimpin doa ketika hp-ku menunjukkan pukul 21.59. Setelah doa, kami bertiga—Zaki, aku, Restu—dikasih kenang-kenangan dari Darun Najah. Tas kertas berisi kalender Darun Najah, CD profil, dan leaflet profil pesantren. Kami pun berpamitan.


“Bagaimana Kang Slamet?” tanyaku ketika mobil perlahan menyusuri pelataran pondok. “Alhamdulillah.” “Alhamdulillah piye?” “Suksess... sing penting kan acara sukses. Kalau masalah dagangannku, tak usah terlalu dibahas...”


Aku tahu apa maksud Kang Slamet, dan tak pernah bertanya lagi. Menikmati perjalanan, ataupun ngobrol santai, lebih nikmat untuk dilakukan daripada ngobrol serius apalagi ngobrol resmi kayak tadi.[]

0 komentar

Wajah-wajah Polos Itu

Catatan Silaturahmi Komunitas Matapena ke PP Darur Rahman Jakarta Selatan
14 Maret 2009
oleh Mahbub Dje
Aku keluar dengan tergesa-gesa. Beberapa kali, zaki maupun isma sudah memanggil lewat miscall mereka. Pas dhuhur tadi, kami memang sudah janjian akan ketemu di pelataran hotel Syahida. Dari kaca jendela, seraya menunggu pintu lift terbuka, kulihat rerintik hujan sudah membasahi aspal dan dedaunan. Ah, malas sekali kalau menjadi lebat rasanya. Berdoa semoga tak bertambah deras, kulangkahkan kaki ke dalam lift dan turun ke lantai I. Keluar dari lift, aku berlari. Lama nggak berlari. Sudah lama nggak menggerakkan tubuh. Bu Taka bilang, jika tubuh lelah dan bosan, sewaktu-waktu bergeraklah. Tapi belum lagi sepuluh langkah berlari, kudengar klakson mobil itu, dan seorang perempuan turun ketika aku menengok, dan melambaikan tangan. Aha, Isma rupanya. “Ayo cepet!” katanya dengan mimik yang memelas dan tekanan manjanya. “Dienteni, je!” Tanpa komentar, aku masuk langsung ke mobil. Menyalami para muka asing yang kemudian kuketahui sebagai teman-teman LKiS wilayah barat. Setelah menarik nafas sehembusan, barulah kusadar bahwa Isma malah keluar. “He, mau ke mana?” “Aku nggak ikut.” Lalala ola ... Btw, the show must go on! Kami pun menembus belantara jalan raya jakarta. Digempet bus kota, dikeroyok sepeda motor. Bergerak menuju PP Darurahman. Aku tidak menghitung waktu. Di jalan, aku lebih banyak tertidur daripada melihat waktu. Yang kutahu, tiba-tiba mobil melambat, memasuki sebuah gang sempit yang hanya bisa dilalui satu mobil, dan di ujungnya terdengar hingar-bingar speaker. Tampaknya, acara dibuat gedhe-gedhean, pikirku. Waktu maghrib hampir habis ketika kami menginjakkan kaki di Darurahman yang megah itu. Kang Slamet segera melenggang, mengerjakan tugasnya. Mencari panitia setempat. Sementara aku, zaki, dani plus temannya, dan restu, duduk menunggu di emperan. Sesekali bercengkerama. Atau melihat cewek-cewek cantik sekadar cuci mata. Kang Slamet datang. Tapi acara belum segera dimulai. Terpaksalah kami menunggu lebih lama lagi. Bagiku, Darurahman adalah pesantren yang unik, khususnya dilihat dari setting bangunannya. Gedungnya berbentuk segiempat, ruang-ruangnya saling berhadapan dengan ruang kosong di tengahnya. Di ruang kosong seukuran lapangan sepakbola ini, mobil-mobil diparkir. Suasana menjadi makin megah karena ruang kosong yang dikelilingi gedung berlantai tiga ini ditutup oleh atap mahabesar, dengan lampu-lampu terang di ujung-ujungnya seperti bulan kembar empat yang memerakkan bumi. Malam itu, seakan siang di sana. Tampaknya, hanya ada satu akses jalan keluar pesantren, yaitu jalan sempit seukuran mobil lebih sedikit yang sekarang kami tongkrongi. Santri-santri berhilir mudik, dan beberapa kali mobil keluar masuk. Kami menikmati kebosanan kami. Sebab, ternyata yang hilir mudik tak Cuma santri, tapi juga orang-orang umum yang entah siapa: Orang tua dengan anak-anaknya, cewek tak berjilbab dibonceng cowok keren, anak-anak kecil tanpa peci tanpa sarung. Dan di sini, kecurigaan kami membengkak perlahan. Mungkinkah suara hingar bingar itu bukan diperuntukkan bagi acara kami? Siapakah mereka yang hilir mudik tanpa kostum santri ini, dan dengan tujuan apa? Kecurigaan kami berbuah benar. Setelah mengorek keterangan, ternyata kami harus termangu. Ada acara hajatan di tetangga pesantren. Ah, mungkin bukan tetangga pesantren; mungkin masih kerabat pesantren.
***
Acara dimulai pukul 20.00, di lantai II. Kang Slamet dan baladewanya sudah menggelar buku-buku di luar. Zaki masuk, mengomando dan mengajak audiens berdiri. Bernyanyi “Kalau kau suka hati tepuk tangan ...”. Aku dan Restu masih di luar, berusaha mendengarkan suara Zaki yang—dari arah kami—kalah keras dari hingar bingar shalawatan modern yang bergemuruh dari samping pesantren, dari arah acarah hajatan itu. Kuamati wajah-wajah itu, wajah-wajah polos yang masih suci dari dosa. Tampaknya mereka masih kelas 1 atau kelas 2 SMP. Kuhitung acak, sekitar 60 anak. Putra-putri hampir seimbang. Kulihat lagi, satu deretan putri yang paling depan tampak lebih dewasa. Mungkin mereka berusia SMA-nan, dan jumlah mereka hanya 6 anak. Nantinya, akan kulihat bahwa merekalah yang paling antusias daripada yang lain; mungkin karena usia? Aku masuk forum setelah Zaki mempersilakan. Juga Restu. Kami duduk di depan dan Zaki mulai mengajak peserta bermeditasi. Setelah cukup, aku berbicara. Aku turun dari kursi dan menjemput mereka. Tapi, terus terang, suara bising di luar itu bikin konsentrasiku buyar. Aku berusaha konsisten menggali motivasi kepenulisan mereka. Meski aku nggak tahu, apakah pesan sampai atau tidak. Wajah-wajah mereka yang polos—bahkan terkesan tanpa ekspresi—membuatku agak pesimis. Meski demikian, alhamdulillah semua unsur-unsur negatif itu dapat kutampik, walau agak kecewa karena antusiasme audiens tergolong rendah, terlihat dari respon dan partisipasi mereka yang kurang baik. Lalu Restu masuk. Dengan gaya khasnya, Restu mengajak audiens kepada cara-cara praktis menulis novel. Restu bilang, saat menulis novel, seseorang harus menghilangkan pikirannya. Ia harus menulis dengan hati, menumpahkan seluruh isi jiwanya ke dalam kertas. “Meski tidak nyambung, tidak apa-apa. Teruskan sampai selesai. Baru setelah selesai, kemudian diedit lagi.” Bahkan, Restu mendiktekan point-point praktis menulis novel, lalu mengetes audiens dengan tanya jawab. Meski agak bergaya ‘guru’, beberapa kali audiens merespon juga dengan lumayan baik. Setelah Zaki masuk lagi dan sessi pertanyaan digelar, juga setelah cuap-cuap tentang komunitas matapena, acara diakhiri pada pukul 21.55.
***
Pasca acara, sambil menunggu Kang Slamet mengemas barang-barangnya, kami berbincang-bincang dengan santri senior di sana. Bincang-bincang tidak resmi, sebab masing-masing dari kami mendekati orang yang berbeda. Setelah berpamitan, kami pun melenggang. Penat-penat, dan dah ngantuk. Mobil pun menjadi media yang paling nikmat menumpahkan mata berat ini. Nyaris tanpa perbincangan, setelah mengantar restu di depan UIN, kami sampai di Syahida Inn pukul 23.45. Kepala pening dan mata ngantuk itu terkurangi ketika sekelebatan wajah para santri Darurahman yang polos itu kembali terbayang. Ah, semoga dari sana, dari wajah-wajah polos itu, kan lahir karya-karya yang berkarakter. Amin.

187 komentar

Tuesday, March 24, 2009

TAHLILAN SASTRA KE-2

Tuesday, March 24, 2009
Lampu 50 watt di atas panggung menyala. Wajah Zaki Zarung yang malam itu mengantarkan acara “tahlilan sastra kedua”, mulai terlihat. Ia membuka acara dengan mengajak peserta menciptakan hening dalam diri mereka, mengisi relung jiwa dengan lirih doa. Satu menit. Dan sebuah syair keluar dari mulut zaki.

bukan cerita tv ; joni af seperti terlempar ke masa lalu saat rumputan masih hijau di bawah rumah panggung yang rimbun reriuh seribu masalah di atasnya yang belum tercium dan ketika air kali membuat becek jalanan menuju surau dan cerita hantu menjelang petang membuat enggan beranjak dari pembaringan tak hendak diri mengaji meski belum ada tv yang begitu memenjara mata dan hati mulutmu memahat arca candi relief hidup yang tak terlupa ada mawar ada carun yang kesemua-mua sangat santun mengalir hanyutkan diri di kali belajar dari mulutmu kawan dari hati jangan henti memahat, kawan jangan henti sebelum aku kembali ke penjara, kawan ke dalam kotak tv Jogja, 25 nov 2007

Kemudian Mahbub Jamaludin menuju panggung ia baca sebuah puisi Akhmad Fikri AF tentang pengalaman naik pesawat terbang. Katanya, “lebih hebat dari shalat,” sebab begitu dekat dengan Sang Pemilik Hayat.

Puisi ini termuat dalam antologi tunggal Bebek Kong Draman (2009). Seletah Mahbub, Hugeng S Dharma beraksi membaca puisi lamanya ketika merangsang cinta kawula muda. Rupanya ia bernostalgia. Kadang proses awal kepenyairan seseorang sangat laik tuk dikenang.

Malam tahlilan sastra itu tambah meriah ketika Muhammad Mahrus membacakan cerpen berjudul “orang tua di tiang gantung”.

Namun ternyata tak kalah meriah lagi ketika komunitas bawah pohon – Danny, Faisal dan Irul melakukan eksplorasi pembacaan puisi. Mereka menamakannya ‘raperisasi puisi’. Menyanyikan lagu Bondan Prakosa dengan iringan gitar. Gelora para muda ini menguar. Membuat tahlilan lebih khusuk dalam keriangan.

Langsung sebelum momen dahsyat ini lewat, Teguh Wangsa Gandhi, membacakan syair ‘busuk’-nya yang gelap dan mengakhirinya dengan geguritan yang padang tentang manusia serupa burung terbang disalah musim. “mabur salah mongso” katanya. Semua jadi terangguk, kadang bahkan sering manusia tak berbuat dengan tepat, banyak khilaf dan keliru.

Setelah penyair-wan menguasai dari mula, kini giliran penyair-wati; Retno Iswandari memukau penonton lewat lentik kuat suara hatinya. Mengabarkan puisi eropa milik penyair ketika masa tua; duduk tergugu di depan perapian yang kian padam. Maka buku adalah teman dan sekaligus halaman tempat bermain dan menyiram kehidupan. Dan satu puisinya meluncur lebih dahsyat, tentang ‘rindu tak perlu bertemu’ hingga ‘tentang terbakar tanpa api’. Ia menghafal semua puisinya meski kadang mengakui, “saya sedikit lupa, jadi maaf,”

Dilanjut Sachree M Daroini membaca dua puisi Akhmad Fikri AF. Dengan suara dan mimik jiwa yang menguarkan bara semangat tak kenal padam, ia sukses membuat audien yang semula akan pamit menjadi enggan meninggalkan ruang.

Berturur selanjutnya adalah sahabat dari Kutub, Selendang Sulaiman (nama orang), yang bertutur tentang sosok sastrawan yang pada minggu ini diperingati haulnya, KH Zaenal Arifin Thoha (Alm). Lalu Andi baitul kilmah menutup malam tahlilan sastra dengan imaji ke negeri meraih mimpi.

Acara berakhir pukul 21.41, dan dilanjut dengan bincang santai di rumah kreatif matapena hingga mata tak lagi kuat menahan kantuk.

Tiba-tiba Pijer Sri Laswiji mengirim sms ke beberapa teman: Acara ini lebih baik dari kemarin. Aku jadi ingin bisa bikin puisi dan sekaligus membacakannya dengan hebat seperti teman-teman lain, tapi sayang yang perempuan pada kemana ya? Apakah perempuan enggan melukis dunia dengan syair mereka?

Tak ada yang menjawab tuntas pertanyaan itu. Yang jelas malam itu, dari 30 orang yang hadir, hanya 3 orang perempuan yang datang. Itupun retno iswandari saja satu-satunya yang menulis dan membacakan puisinya. Atau karena acara yang diadakan malam hari? Entahlah. Yang jelas perlu kita lihat satu bulan lagi, pada tahlilan satra ke-3 nanti. Semoga semua menjadi lebih indah adanya… (zz)


0 komentar

Tuesday, March 03, 2009

Grand Opening Rumah Kreatif Matapena

Tuesday, March 03, 2009
Minggu, 1 Maret 2009 Rumah Kreatif Komunitas Matapena yang beralamat di Jl Parangtritis Km4 Perum Perwita Regency jl Beta no12 Salakan Baru Sewon Bantul, dibuka secara resmi oleh Akhmad Fikri, pembina komunitas. Ditandai dengan pemotongan tumpeng di depan para anggota, undangan dari komunitas lain di Jogja.

Rumah Kreatif ini didedikasikan untuk para anggota dan remaja pada umumnya sebagai tempat untuk berkreasi dan berekspresi bersama di bidang sastra dan kepenulisan. Untuk menggali pengalaman hidup dan menunjukkan identitas diri yang berakar pada lokalitas dan tradisi.

Acara ini dimeriahkan oleh hadrah kompleks Q Krapyak, monolog Hugeng Stya Dharma, pembacaan cerpen oleh Aufannuha Ihsani, pembacaan puisi oleh Retno Iswandari dan yang lain. Sawung Jabo and friends juga berkesempatan hadir, menyanyikan musik alternatifnya yang memukai hadirin. "Matapena semoga bisa menjadi kelanjutan Matabatin untuk memaknai denyut-denyut nadi kehidupan," ucapnya sebelum memetik gitarnya.


Ada banyak kegiatan yang akan digelar di Rumah Kreatif ini. Di antaranya yang dilaksanakan mingguan adalah:
- Ngobrol calon novel untuk sharing gagasan novel yang sedang ditulis.
- Tahlilan sastra adalah forum kumpul antarkomunitas2 dengan baca puisi, cerpen, monolog dan ngobrol seputar isu-isu komunitas
- Koran Sore, menelisik cerpen2 yang dimuat di koran
- Nobar alias nonton bareng film-film bagus di Rumah Kreatif
- Ngangkring yuuuk, bincang seputar sastra dan kepenulisan dengan mengundang nara sumber dengan menu khas kopi hitam dan gorengan
- Nyulik alias mengundang sastrawan atau penulis yang kebetulan main ke Jogja untuk didaulat ngobrol di Matapena
- SMS atau sinau menulis sampeiso, belajar nulis reguler satu tahun dua angkatan, diadakan secara kontineu dari gimana sih menulis itu sampai praktik dan siap dipublish.

Selain kegiatan seperti penerbitan bulletin, bikin film, roadshow ke sekolah-sekolah dan pesantren, Liburan Sastra di Pesantren, workshop kepenulisan dan perfilman, ikut serta dalam kegiatan komunitas lain.

Tertarik ingin bergabung?
Caranya mudah, cukup isi formulir dan mengganti biaya pembuatan kartu anggota Rp30.000. Juga, akan mendapat satu buku terbitan komunitas. Bisa datang langsung ke Rumah Kreatif Matapena, via email: matapena_jogja@yahoo.com.

0 komentar