Friday, April 20, 2007

Bincang-Bincang Bareng Abidah El-Khaliqy

Friday, April 20, 2007

Jum'at 13 April 2007, suasana lantai 1,5 LKiS tampak sedikit berbeda. Pertemuan penulis Matapena siang itu tidak lagi membahas bakal novel dan proses kreatif bersama, tetapi 'ngobrol bareng' bersama novelis perempuan Abidah El-Khaliqy, penulis novel Perempuan Berkalung Surban.



Acara yang dihadiri para penulis Matapena, baik Assabiqunal Awwalun (generasi pertama) maupun Assabiqunatsani (generasi kedua), ditambah beberapa undangan perwakilan dari SMU dan Madrasah Aliyah di Kota Yogyakarta itu dimulai pukul 14.30 WIB. Sebagai pembukaan, Isma, penanggung jawab Matapena mengungkapkan bahwa acara siang itu dimaksudkan supaya para penulis bisa sharing pengalaman dan gagasan bersama Abidah tentang sastra pesantren.

Abidah menyampaikan beberapa kritik dan masukan untuk novel-novel pop pesantren terbitan Matapena. “Menurut saya, beberapa novel Matapena terkesan terlalu menampilkan narasi yang fisikal. Misalnya dalam novel Santri Semelekete ada bagian yang menceritakan kondisi jorok pesantren terlalu detil sehingga justru menampilkan kelemahan pesantren bagi para pembaca yang belum mengenal lingkungan pesantren.”

Bagi Abidah, dalam menulis novel hendaknya lebih menampilkan nilai. Bagaimana sekiranya sastra pesantren mampu mendistribusikan nilai-nilai pesantren pada masyarakat pembaca. Penulis harus bisa mengawinkan imajinasi dan realita. Dia juga mengkritik tentang bahasa novel pop pesantren Matapena yang terlalu ngepop. “Bahasa 'pop' itu tidak masalah jika dituliskan dalam dialog. Akan tetapi, untuk narasi penceritaan, penulis sebaiknya tetap konsisten dengan bahasa baku.”

Dalam kesempatan itu Abidah juga mengetengahkan seorang novelis, Barbara Catland. Penulis yang jumlah karyanya sudah ribuan itu selalu menceritakan kisah cinta putri kerajaan dalam novel-novelnya. Tetapi keunikannya, selain setting kota atau negara tempat sang puteri yang beragam, penulis tetap memegang prinsip bahwa dalam kisah cinta itu keperawanan sang puteri tetap terjaga sebelum pernikahan.

“Lalu, apa rahasia novel-novel Barbara Catland yang mungkin bisa menjadi pelajaran bagi para penulis Matapena, Mbak,” tanya Pijer antusias.
Abidah kemudian mengungkapkan bahwa Barbara Catland memiliki data dan catatan tentang kerajaan-kerajaan di dunia. Bahkan, dia pernah ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. “Artinya, penulis memang harus menguasai dan tahu betul tentang apa yang akan ditulisnya. Penulis harus memperkaya wawasan.”

Selain itu, Hilma juga menanyakan bagaimana proses kreatif Abidah dalam pembuatan novel Genijora yang mendapat juara kedua dalam lomba yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta, dengan setting Maroko yang demikian kuat, sementara penulis belum pernah berkunjung ke negara itu. “Saya tahu Maroko dari membaca dan informasi teman-teman,” jelas Abidah. “Jadi, penulis harus kreatif untuk bisa mendapatkan informasi dan wawasan tentang sesuatu yang akan ditulisnya,” lanjutnya mengakhiri perbincangan.

0 komentar

Thursday, April 19, 2007

World Book Day
23-29 April 2007

Thursday, April 19, 2007

Pemrakarsa: Forum Indonesia Membaca
Penyelenggara: Forum Indonesia Membaca
Didukung oleh:
The Indonesian Literacy Institute
Perpustakaan Departemen Pendidikan Nasional


World Book Day yang dirancang oleh UNESCO sebagai sebuah perayaan buku dan literasi yang mendunia, perayaannya telah dimulai pelaksanaannya di Indonesia tahun 2006 oleh Forum Indonesia Membaca. Pada awalnya sebagai bagian dari perayaan Hari Saint George di wilayah Katalonia abad pertengahan para pria memberikan mawar pada kekasihnya. Namun sejak tahun 1923 para pedagang buku mempengaruhi tradisi ini untuk menghormati Miguel de Cervantes, seorang pengarang yang meninggal dunia pada tanggal 23 April sehingga sejak 1925 para perempuan memberikan sebuah buku sebagai pengganti mawar yang diterimanya. Pada masa itu lebih dari 400.000 buku terjual dan ditukarkan dengan 4 juta mawar.
Pada tahun 1995, Konferensi Umum Unesco di Paris memutuskan tanggal 23 April sebagai World Book Day karena festival Katalonia serta pada tanggal Shakespeare, Cervantes, Inca Garcilaso de la Vega, dan Josep Pla meninggal dunia, juga kelahiran Maurice Druob, Vladimir Nabokov, Manuel Mejia Vallejo dan Halldor Laxness. Walaupun pada kasus Shakespeare dan Carvantes ada sedikit perbedaan karena masing-masing meninggal dihitung dengan sistem kalender yang berbeda di mana masa itu Inggris masih mempergunakan sistem Kalender Julian sedangkan Katalonia mempergunakan sistem Kalender Gregorian.
Perayaan ini merupakan bentuk penghargaan dan kemitraan antara pengarang, penerbit, distributor, organisasi perbukuan, serta komunitas-komunitas yang semuanya bekerja sama mempromosikan buku dan literasi sebagai bentuk pengayaan diri dan meningkatkan nilai-nilai social budaya kemanusiaan. Secara umum, tujuan diselenggarakannya World Book Day sebagai sebuah world even adalah untuk menyemangati masyarakat, terutama kalangan anak-anak untuk mengeksplorasi manfaat dan kesenangan yang bias didapat dari buku dan membaca.
Acara-acara yang mengangkat dunia literasi sudah diselenggarakan di Indonesia, di antaranya adalah Hari Buku Nasional, Hari Kunjungan Perpustakaan, sampai berbagai pameran dan bazaar buku, di tingkat local maupun nasional. Seiring dengan adanya globalisasi informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan, sudah saatnya kita melebarkan aktivitas kita dalam dunia perbukuan dengan ikut berpartisipasi melakukan perayaan buku berskala internasional agar lebih menggaungkan literasi di tengah masyarakat Indonesia.
Forum Indonesia Membaca (FIM), sebuah organisasi kemasyarakatan yang berkonsentrasi di aktivitas literasi, berupaya membuka ruang partisipasi seluas-luasnya kepada masyarakat dalam penguatan budaya baca. Setelah sukses dengan World Book Day yang diadakan pertama kalinya di Indonesia pada tahun 2006 di gedung A Depdiknas Senayan Jakarta dan banyaknya permintaan dari komunitas literasi, penerbit buku, dan masyarakat umum maka di tahun 2007 Forum Indonesia Membaca berusaha merealisasikan kembali pelaksanaan World Book Day di Indonesia menjadi sebuah tradisi festival yang tujuannya untuk merayakan buku dan literasi, di mana acara World Book Day membuka partisipasi masyarakat sebesar-besarnya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya buku dan membaca, serta mengapresiasi dunia perbukuan.

Tema World Book Day 2007: Buku untuk Perubahan

Tempat Kegiatan: Gedung A Depdiknas Jl. Jendral Sudirman Jakarta

Nomor Stand Matapena: 27

Jadwal Kegiatan:

Kamis, 26 April 2007
Anak dan Remaja


09.00-09.30 WIB
Pembukaan oleh Prof. Dr. Bambang Sudibyo
Panggung Utama World Book Day 2007

09.00-19.30 WIB
Pameran Komunitas Literasi dan Bursa Buku Murah
Area World Book Day 2007

09.30-17.00 WIB
LITERACY: WORKSHOP 1
Pengenalan Athenaeum Light 6.0 dan 8.5
(tempat terbatas) Ruang belajar Perpustakaan Depdiknas
Kerjasama dengan Komunitas Athenaeum Light Indonesia (KALI)

10.00-11.00 WIB
LITERACY: TALK 1
Talkshow “Buku untuk Perubahan”
Moderator: Ali Muakhir
Pembicara: Cacha, Faiz, Izzati, dan Bella
Panggung Utama World Book Day 2007
Didukung oleh penerbit Mizan

11.00-12.00 WIB
LITERACY: GAMES
Dongeng dan Lomba Berburu Buku untuk Anak
Panggung Utama World Book Day 2007
Oleh HIMAKA Library Care
Didukung oleh Penerbit Erlangga dan Mizan
Informasi hubungi Riri 08174807809

11.00-13.00
LITERACY: MOVIE 1
Pemutaran Film: Multatuli (Rumah Dunia)
Ruang Tengah Perpustakaan Diknas
Oleh Rumah Dunia

12.00 WIB
LITERACY: QUIZ
Pembukaan Kuis Berburu Buku dan Tebak Buku untuk Remaja dan Dewasa
Meja informasi World Book Day 2007
Disponsori oleh Penerbit Erlangga

13.00-14.30
LITERACY: TALK 2
Literasi dalam Millenium Development Goals
Moderator: Harkrisyati Kamil
Pembicara:
1. Nasir Tamara – National Coordinator for Target MDGs UNDP
2. Amru Mahalli – Direktur CSR PT Riau Pulp and Paper
3. Perwakilan dari pendukung acara World Book Day 2007
Panggung Utama World Book Day 2007

14.30-16.00
LITERACY: COMMUNITY 1
Story Telling: Cerita dari Bilik Santri
“Pst..ssst… Dari Bilik Santri Ada Cerita Lho…”
Pembicara:
1. Zaki Zarung penulis Santri Baru Gede
2. Ruslan Ghofur penulis Geng Kopi ubruk
Panggung Anak dan Remaja
Oleh Matapena Community
Informasi hubungi Isma 08157970372


16.00-18.00
LITERACY: WORKSHOP 2
Dari Sekolah Hogwarts: “Belajar Singkat Arithmancy dan Anagram”
Panggung Anak dan Remaja
Oleh Indo-Harry Potter
Informasi hubungi Hadi 08567876956

16.00-18.00
LITERACY: MOVIE 2
Pemutaran Film the Chorus
Di Ruang Baca Perpustakaan Diknas


Jum’at, 27 April 2007
Kembali ke Masa Lalu


09.00-19.30
Pameran Komunitas Literasi dan Bursa Buku Murah
Area World Book Day 2007

09.30-11.30
LITERACY: TALK 3
Retrospeksi “Sutan Takdir Alisyabana”
Moderator: Heni Irawati
Pembicara:
1. Abu Hasan Asyari
2. Akmal Naseri B. (wartawan dan mailing list Apresiasi Sastra)
3. Ibnu Wahyudi (Dosen sastra UI)
Panggung Utama World Book Day 2007

11.00-13.00
LITERACY: MOVIE 4
Pemutaran Film Freedom Writers
Ruang Baca erpustakaan Diknas

14.00-16.00
LITERACY: TALK 4
Menilik Budaya Lisan dan Aksara Daerah
Moderator: Afzon Dakka (Komunitas Kajian Dongeng)
Pembicara:
1. Maya Ramayanthi (Pusat Kajian Dongeng UI)
2. Pudentia (Asosiasi Tradisi Lisan dan Dosen Sastra UI)
3. Aryo (Klub Pecinta Bacaan Anak)
Panggung Utama World Book Day 2007
Kerja sama dengan Komunitas Kajian Dongeng

15.00-17.00
LITERACY: WORKSHOP 3
“10 Cara Pedekate dengan Komik”
Ruang Belajar Perpustakaan Diknas
Oleh Masyarakat Komik Indonesia
Informasi hubungi Oyas 081322338807 Atau Wahyu 08151892437

16.00-17.30
LITERACY: WORKSHOP 4
Dari Sekolah Hogwarts: “Belajar Singkat dari Kartu: Trading Card Game Harry Potter, UNO Harry Potter, dan Ramalan Tarot”
Panggung Anak dan Remaja
Oleh Indo Harry Potter
Informasi hubungi Hadi 08567876956

16.00-18.00
LITERACY: MOVIE 4
Pemutaran Film dari Rumah Pelangi
Ruang Baca Perpustakaan Diknas
Oleh Rumah Pelangi

18.30-20.00
LITERACY: TALK 5
Reproduksi Cerita Lama
Moderator: Wien Muldian (Perpust Depdiknas)
Pembicara:
1. Merdy (Komunitas Wayang)
2. Pandu Ganesha (Paguyuban Karl May Indonesia)
3. Rieza Fitramuliawan (Tjerita Silat)
Ruang tengah Perpust Diknas


Sabtu, 28 April 2007
Membaca dan Menghibur
>

09.00-1930
Pameran Komunitas Literasi dan Bursa Buku Murah
Plasa Depdiknas

09.30-11.30
LITERACY: TALK 6
Read Aloud
Moderator: Rudy Sulistyawan (Britzone)
Pembicara:
1. Rito Triumbarto
2. Walter Brownsword
Panggung Utama World Book Day 2007

10.00-12.00
LITERACY: MOVIE 5
Sejarah yang Gaul dan Enak Dikonsumsi
Pemutaran Film Dokumenter Kota Lama dan Diskusi
Ruang baca Perpustakaan Diknas
Oleh Komunitas Historia
Informasi hubungi Rommy 0816100622

11.30-13.30
LITERACY: COMMUNITY 2
Bengkel Pena FLP (konsultasi penulisan)
Panggung Anak dan Remaja Oleh FLP
Informasi hubungi Koko 081367675459

12.00-13.30
LITERACY: COMMUNITY 3
Create a Poem
Pembicara: Melanie
Ruang Baca Perpustakaan Diknas
Oleh Britzone Library@Senayan Speaking Club
Informasi hubungi Pras 085692028625

12.00-13.30
LITERACY: COMMUNITY 4
Selamat Datang di Hogwarts
Panggung Utama World Book Day 2007
Oleh Indo Harry Potter
Informasi hubungi Hadi 08567876956

13.00-17.00
LITERACY: TALK 7
Read and Write: Jika Cerdas Tidak Harus Mahal
Dibuka oleh Sarwono Kusumaatdja (DPD DKI Jakarta)
Moderator: Oni Suryaman
Pembicara:
1. How to Read a Book oleh Bagus Takwin dan Rieke Dyah Pitaloka
2. Writing Without Teacher oleh Donny Gahral dan Fira Basuki
Ruang Tengah Perpustakaan Diknas
Oleh Indonesia Publishing
Informasi hubungi Ari 0818126 707

13.30-14.00
LITERACY: EVENT 1
Penyerahan sumbangan buku dari Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia dan Himpunan Mahasiswa Indonesia Utrecht kepada SDN I Legokherang-Kuningan dan SD Perguruan Rakyat 2 Jakarta.
Panggung Utama World Book Day 2007
Aoleh Asosiasi Pekerja Informasi Sekolah Indonesia (APISI)

14.00-16.00
LITERACY: TALK 8
Biblioholic Lifestyle
Moderator: Firman Venayaksa
Pembicara:
1. Joko Pinurbo (Budayawan)
2. Iwan Gayo (Penulis)
3. Dessy Sekar Astina (Forum Indonesia Membaca)
Panggung Utama World Book Day 2007

15.00-17.00
LITERACY: WORKSHOP 4
“10 Cara Pedekate Dengan Komik”
Ruang Belajar Perpustakaan Diknas
Oleh Masyarakat Komik Indonesia
Informasi Kedau Sinau dan PP Muhammadiyah

16.00-17.30
LITERACY: BOOK
Bedah Buku Khadijah
Panggung Utama World Book Day 2007
Oleh Penerbit Pena Pundi Aksara

18.30-21.00
LITERACY: ART
Ajang Kumpul Komunitas Buku
Musikalisasi puisi oleh SASINA UI, Teater Dils, Roma Merana Rumah Baca Kwartet, Tari Salsa Trio Ceriwis, Duet Pianika, Rumah Pelangi, Library Lovers Club SMU 49 Jakarta
Panggung Utama World Book Day 2007


Minggu, 29 April 2007 Komunitas

09.00-19.30
Pameran Komunitas Literasi dan Bursa Buku Murah
Plasa Depdiknas

09.30-10.30
Operet Anak dan Soft Launching Website KKS Melati
Panggung Utama World Book Day
Oleh KKS Melati

09.00-11.00
LITERACY: WORKSHOP 5
“10 Cara Pedekate Dengan Komik”
Ruang Belajar Perpustakaan Diknas
Oleh Masyarakat Komik Indonesia
Informasi hubungi Oyas 081322338807 atau Wahyu 08151892437

09.00-15.00
LITERACY: COMMUNITY 6
Literasi untuk Keluarga Muda
Ruang Tengah Perpustakaan Depdiknas
Oleh Lembaga Bina Anak dan Pengembangan Masyarakat Fedus


10.31-11.30
LITERACY: WORKSHOP 6
Pelajaran Tengwar
Panggung Anak dan Remaja
Oleh Eorlingas
Informasi hubungi Riri 0811968625

11.30-13.00
LITERACY: COMMUNITY 7
Bengkel Pena FLP (Konsultasi Penulisan)
Panggung Anak dan Remaja
Oleh Forum Lingkar Pena
Info hubungi Koko 081367675459

11.00-12.30
LITERACY: FORUM 2
Kopi Darat Komunitas Literasi Maya
Pembicara: Para Moderator Milist Literasi
Panggung Utama World Book Day 2007

13.00-14.00
LITERACY: TALK 9
Bincang Santai “Menunggu Harry Potter 7 Terbit: Catatan, Prediksi, dan Harapan”
Pembicara:
1. Poppy Kartadikarya (Penerjemah Magical World of Harry Potter)
2. Andari Karina Anom (Wartawan Tempo)
3. Hadi Patronossto
Moderator Indo Harry Potter
Panggung Utama World Book Day 2007
Oleh Indo Harry Potter Info Hubungi Hadi 08567876956

13.00-15.00
LITERACY: EVENT 2
Lomba Membuat Komik
Tema”Pengalaman Tak Terlupakan Seumur Hidup”
Panggung Anak dan Remaja
Oleh Masyarakat Komik Indonesia

14.00-14.30
LITERACY: COMMUNITY 8
Pertunjukan Teater Meldic
Panggung Utama World Book Day
Oleh Yayassan Mitra Netra

14.30-15.00
LITERACY: EVENT 3
Pengumauman Lomba Asah Otak
Taman Bacaan Mutiara Ilmu
Di Panggung Utama Worl Book Day
Oleh Mutiara Ilmu

15.00-17.00
LITERACY: FORUM 3
Semua Bisa Melakukan Perubahan
Moderator : Agus Irham
Pembicara:
1. Ibu Jaojah (Library Lovers Club SMU 49)
2. Ima (Mutiara Ilmu)
3. Anya (Komunitas Bunga Matahari)
Panggung Utama World Book Day 2007

17.00-17.30
Pengumuman Lomba Berburu Buku dan Tebak Buku untuk Remaja dan Dewasa sekaligus Penutupan Perayaan World Book Day 2007. Panggung Utama World Book Day 2007

Jadi, silakan menyemarakkan World Book Day 2007... :)

0 komentar

Tuesday, April 17, 2007

DARI BLITAR, KEDIRI, TULUNGAGUNG, SAMPAI TRENGGALEK
22-25 Maret 2007

Tuesday, April 17, 2007

Kamis 22 maret 2007, roadsow ke Blitar, Kediri Tulungagung, dan Trenggalek dimulai. Sebelumnya Saya sama Mahbub transit dulu di kantor perwakilan LKiS di kota Malang. Direncanakan berangkat jam tujuh karena harus ke pesantren APIS Sunan Gondang Blitar tapi karena dibatalkan maka acara pemberangkatan dari Malang diundur jam 09.00. Kesempatan dua jam itu saya gunakan sama Mahbub yang juga pecinta teater untuk bertandang ke komunitas teater K2 UIN Malang. Sebelum akhirnya mendapatkan telpon untuk berangkat tepat pada pukul 09.00.

Perjalanan menuju ke Blitar lumayan lama. Pukul 11.30 kami sampai di tujuan pertama yaitu Pondok Pesantren Nasrul Ulum MAKNU, Blitar. Jam satu siang acara dimulai bertempat di sebuah musholla, para santri menyebutnya Musholla cafe, karena bangunannya yang semi etnik dan ber-AC alami, alias tanpa jendela dan tembok. Apalagi atap jerami padinya yang mengingatkan pada cafee Stall di jalan Kaliurang.

Peserta temu penulis sekamir seratus lima puluhan. Mereka mengikuti acara dengan antusias, bahkan langsung jatuh cinta sama Matapena. Padahal siang itu banyak di antara mereka yang pada puasa. Tapi perut kosong itu tampak tertutupi oleh muka yang ceria dan bersemangat.

Jam empat tim sudah dijemput saudara Wawan dari Lakpesdam NU Blitar. Kami diajak transit ke kantor Lakpesdam NU Blitar. Di kantor ini kami bertemu banyak aktivis NU dan yang jelas full food. Bahkan Kang Mahbub juga Saya sempat membaringkan tubuh dan memejamkan mata mencari mimpi di kota Peta itu.

Setelah menikmati sebungkus pecel sore yang khas dengan peyeknya, kami langsung menuju ke Pesantren Al Kamal Kunir. Di tempat ini ada cerita menarik, ketika saya membaca sebuah majalah dinding, ada cerpen berbahasa Arab yang bagus berjudul “Assirwal”. Cerpen yang kemudian jadi bahan diskusi di forum. Alhasil, para santri Al Kamal tertawa ketika saya membacakan cerpen berbahasa Arab itu. “Kalo assirwal aja jadi, mengapa tidak dijadikan Novel?’ Mereka pun manggut-manggut, entah paham entah nggak, saya nggak tahu pasti. Tapi, tak hanya itu, usai acara rupanya ada prosesi penggundulan yang dilakukan oleh keamanan. “Wah kayak santri tomboy kamu Chree,” bisik Kang mahbub. Tapi kali ini yang digundul santri putra loh!

Malam harinya selesai acara, setelah pamitan kami cabut menuju Kediri. Dalam perjalanan tak banyak yang diceritakan, masalahnya gelap, dan saya ikut tertidur karena Kang Mahbub dan Pak Choy juga terleleap. Sehingga yang bangun sepanjang jalan itu cuma Kang Irfan sang pengemudi kuda merah yang kami tumpangi. Bangun-bangun kami sudah di dalam kamar hotel Muslem di kota Kediri.

Selesai sarapan kami langsung cabut ke Pesantren Lirboyo, bertempat di gedung Tri Bakti. Waktu itu hari masih sangat pagi bahkan agak gerimis. Suasana masih sepi. Maklumlah hari itu hari jum’at hari liburnya para santri. Lumayan lama juga kami menunggu di kantor, dan setelah gedebag-gedebug telpon sana, telpon sini akhirnya jam sepuluh acara baru dimulai. Meski waktu sangat mepet dan santri yang datang juga sedikit sekamir dua puluh lima orang kami pun tetap bersemangat. Ngobrol soal Matapena sampe menjelang jumatan.

Selesai jum’atan, dari Lirboyo langsung cabut menuju Ploso. Sampai di Pesantren Queen Ploso Mojo jam 02.00 untuk kedua kalinya kami harus menunggu pengurus mengoprak-oprak santri supaya bangun, maklumlah hari jum’at. Bahkan acara baru bisa dimulai pada pukul 02.30. Sebenarnya mereka sudah menunggu dari jam satu, tapi karena kami molor, mereka pun balik lagi ke kamar. Ya tentu saja, tidur! Dengan peserta sekamir lima puluhan santri acara dimulai. Dialog di Pesantren Queen ini lumayan asyik meski ada juga yang ngantuk. Dan demi membangkitkan suasana, tak jarang saya harus berdiri menulis di papan tulis atau Kang Mahbub yang harus membacakan puisi-puisi cintanya.

Di pesantren Queen acara selesai tepat pukul 16.00. Setelah berpamitan ke pengurus kami bermaksud sowan ke Gus Sabud, putera Gus Miek. Tapi, sayang Gus Sabud ke Surabaya akhirnya kami istirahat di depot Bu Nyai Badriyah. Di tempat itu saya ketemu sama teman karib Saya, Kmed. Setelah numpang mandi dan ngopi juga menyelonjorkan kaki kami langsung melesat ke Pesantren Kemayan yang tidak begitu jauh dari pesantren Queen. Di pesantren berikutnya ini kami sudah ditunggu oleh para santri dan aktivis IPNU dean IPPNU. Setelah sowan Gus Fatih dan berkelakar tentang para santri yang suka corat-coret WC dan bangku kelas acara pun dimulai pada pukul 19.30.

Acara di Pesantren Kemayan sangat interaktif diikuti oleh sekamir seratus lima puluh santri putera dan santri puteri. Acara dialog dengan santri itu pun semakin enjoy karena moderatornya adalah Gus Fatih sendiri yang super heboh. “Mbok ya, santri itu jangan cuma berani menulis ai lopeyu di WC, tapi para santri harus menulis ceritanya dalam bentuk novel…,” yang disambut geerr para santri. Selesai acara yang sampai larut malam itu, kami disuguhi makanan spesial ala pondok, sambal terong. Bak terbawa angina, sambal itu lenyap dari pusarnya, rupanya kami-kami yang juga pernah merasakan pesantren seolah kembali ke masa lalu. Sambal terong.

Di Kemayan sebenarnya kami sudah disiapkan tempat istirahat malam, tapi kami harus menuju ke Tulungagung. Sampai di Tulungagung tengah malam kami istirahat di kantor PMII cabang Tulungagung. Tengah malam kami disambut oleh Kang Abid sang ketum. Kami sempat juga ngopi dan makan gorengan hingga larut malam. Pagi harinya, karena acara baru dimulai pukul 01.00, kesempatan itu digunakan Kang Irfan untuk survei toko buku bersama Pak Coy. Sementara Saya sama Mahbub tidurr abiss.

Jam 12.00 kami sudah cabut menuju Pesantern Panggung. Diikuti tak lebih dari lima puluh santri, acara dimulai. Di tengah hari yang sangat panas dan suasana ngantuk itu, rupanya para santri sangat antusias mengikuti acara. Bahkan mereka tak canggung untuk sharing dan berbagai pengalaman tentang kepenulisan. Apalagi di tempat itu kami diiringi suara gemericik air yang mengalir di bawah gedung, sungguh konstruksi bangunan yang eksotik. Makanya pesantren itu dinamakan Panggung, karena dib awahnya mengalir air sungai yang terus terang kami lupa nama sungai itu.

Selesai acara di Panggung kami kembali ke asrama PMII, menikmati kopi dan gorengan. Kang Mahbub senang sekali, apalagi kopi Tulung Agung khas dengan cetenya. “Wah kayaknya bisa dibikin novel nih, Santri Ce-te,” kelakarnya. Baru setelah isya roadshow pun kami lanjutkan ke Pesantren MIA (Ma’had Ilmu dan Amal) di tempat yang tak jauh dari asrama PMII.

Acara dimulai bakda isya, dengan menunda acara makan malam para santri. Tapi penundaan itu tidak menghalangi semangat santri yang berjumlah dua puluh limaan itu untuk berdiskusi dan curhat tentang kepenulisan. Meski di akhir-akhir acara satu per satu mereka meninggalkan forum. Kami sempat gelisah lho. Eh, setelah tahu kalau mereka kabur untuk makan, kami pun tersenyaum. “Wah dasar santri,” pikir saya.

Tengah malam kami langsung cabut dari Tulungagung menuju Trenggalek. Di kota yang dua pertiga wilayahnya gunung itu kami sampai di tempat tujuan pertama yaitu Pesantren Raden Paku pukul 01.40. Saking ngantuknya saya tidur di dalam mobil sampai pagi, malas pindah ke ruang tamu yang disediakan. Bangun-bangun mobil Kuda merah sudah berada di tengah para santri yang sedang berkegiatan. Saya otomatis keget dan bengong sendirian. Wah, pahlawan kesiangan nih!

Setelah mandi dan sarapan, kami memasuki forum diskusi dan temu penulis Matapena. Sungguh luar biasa! Kami disuguhi pemandangan yang sangat indah. Ternyata ruang diskusi yang terbuka itu berlatar bukit dan sawah yang menghijau. Peserta santri yang berjumlah tiga puluhan orang itu begitu semangat mengikuti acara. Padahal waktu yang disediakan hanya satu jam. Maklumlah roadshow di pesantern Raden Paku memang tidak direncanakan. Dan, jam sembilan pagi kami kemudian cabut dari Raden Paku diantar salah satu aktivis IPNU menuju Pesantren Hidayatutholab Kamulan.

Di pesantren salafiyah itu acara begitu marak. Diikuti oleh tigapuluh orang yang terdiri atas santri dan aktifis IPNU dan IPPNU. Di awal acara Kang Irfan yang juga aktivis IPNU sempat memberikan ucapan selamat atas Harlah IPNU. “Wah kembali ke habitat,” bisik saya ke Kang Mahbub. Meski Kang Irfan setelah mengucapkan selamat tertidur hingga selesai acara…

Dari Hidayatut Thulab, kami langsung menuju Pesantren Qomarul Hidayah Tugu. Sepanjang perjalanan kami papasan sama orang-orang yang mau berkumpul dibalai desa untuk melaksanakan Pilkades. Hari itu serentak di Kabupaten Trenggalek diadakan Pilkades. Bahkan sebagian santri yang seharusnya ikut acara temu penulis banyak yang jadi panitia pilkades. Sampai di pesantren, kami sowan kiai dan ngobrol banyak tentang Pilkades dan politik Indonesia. Kang mahbub manggut-manggut, saya yang tak tahu-menahu tentang politik hanya “inggih dan iya”.

Acara temu penulis Matapena pun dimulai, diikuti oleh tujuh puluh santri. Waktu itu sempat surprise juga melihat antusiasme para santri, secara posisi geografis tempat mereka yang terjepit di antara pegunungan. Bahkan beberapa buku Matapena ternyata tak asing lagi di mata mereka, khususnya santri putri. Malah Gus-nya yang memberi sambutan di awal acara begitu bersemangat memberikan stimulus kepada santri untuk menulis. Wah, horas Gus!

Selesai acara tepat ketika azan ashar berkumandang. Tapi karena hujan lumayan lebat, kami tertahan di ndalem kiai. Kami pun kembali mendengar kiai memberikan pandangan politiknya. Dan, baru setelah hujan reda kami pamitan. Kuda merah langsung melesat menuju Pesantren Darussalam Sumberingin. Tapi, sebelumnya kami shalat maghrib di mesjid kecamatan sembari istirahat barang beberapa menit.

Acara di pesantren Darussalam dimulai bakda isya, setelah sebelumnya kami sowan kepada kiai. Acara berlangsung semarak. Meskipun sempat terhambat oleh mati lampu segala. Maklumlah di hari terakhir itu saya dan Kang Mahbub all out, habis-habisan memberi semangat kepada para santri untuk menulis dan bergabung bersama Matapena. Kang Mahbub dengan puisi-puisinya dan saya yang sering memakai bahasa katrok! Sehingga ketika akhir acara ketika kami ngobrol, ada santri yang nyeletuk, “Wah kayak habis nanggap Tukul ya?”

Malam hari kami menginap di Pesantren Darussalam, dan baru pagi harinya kami berpamitan. Sampai terminal bus, kami berpisah. Kang Irfan sama Pak Coy ke Malang dengan kuda merah. Saya sama Kang Mahbub langsung ke Yogya, tapi mampir dulu ke Madiun di tempatnya saya. Dan, sekian catatan perjalanan saya. Sangat mengesankan!

0 komentar

Sunday, April 08, 2007

Never Give Up!

Sunday, April 08, 2007




Judul: Blok I
Penulis: Uli Mahtuhah
Tebal: viii + 206 hlm
Cetakan: April 2007
Penerbit: Matapena


Ada beberapa alasan kenapa Renata tidak bisa menikmati kehidupan barunya di blok i. Pertama, ibarat perumahan, blok i lebih pantas disebut sebagai gudang dan lebih sederhana dari RSSS. Jauh dari bayangan menyenangkan. Enggak bisa bebas, selalu terkekang, dan kalau mau ngapa-ngapa harus izin.

Kedua, harus tinggal bersama penghuninya yang overkuota, lima puluh empat anak. Padahal sebelumnya Re bisa merajai kamarnya yang luas seorang diri.

Ketiga, rebut! Ini salah satu cirri khas blok I dengan jumlah penghuni yang overkuota itu. Suasana yang membuat Re tidak bisa menghafal rumus matematika dan fisika. Apalagi waktunya menjelang sekolah. Ada yang sibuk menyiapkan jadwal pelajaran. Ada yang antri memakai cermin untuk berdandan atau sekadar membenarkan letak jilbab yang rusak. Tapi, ada juga yang masih santai sarapan sambil mendengarkan lagu-lagu India dari radio--satu-satunya alat elektronika yang boleh dibawa ke pesantren.

Keempat, si rese maula. Makhluk aneh yang tidak pernah bisa bersikap manis sejak kedatangan Re di blok i. makhluk yang membuat Re merasa tak ada gunanya terus bertahan di blok i.

Kelima, Re kehabisan jawaban, bagaimana ia bisa bertahan?

0 komentar

Thursday, April 05, 2007

Pemuja Rahasia: Asyik atau Sakit?

Thursday, April 05, 2007


Judul: Pemuja Rahasia
Penulis: Fina Af'idatussofa
Tebal: vi + 184 hlm
Penerbit: Matapena
Cetakan: April 2007

Jadi pemuja Rahasia?

Waduh! Dijamin harus bersahabat dengan rasa kangen dan gelisah nih. Seperti juga Vanya, sejak ia tanpa sengaja melihat sosok Dira melintas di depan rumah. Cowok yang ternyata sepupu teman sekelasnya itu, sudah berhasil membuat dirinya bingung tak karuan. Mencari-cari cara bagaimana biar bisa kenal dan dekat dengan Dira. Meski ternyata, gagal terus. Sampai membuat Vanya hanya bisa tertangis-tangis kecewa.

Tapi, ketika perkenalan itu suadah benar-benar terjadi, Vanya malah lebih memilih untuk jadi pemuja rahasia. Kenapa ya Vanya mau jadi pemuja rahasia?

0 komentar