Tuesday, April 17, 2007

DARI BLITAR, KEDIRI, TULUNGAGUNG, SAMPAI TRENGGALEK
22-25 Maret 2007

Tuesday, April 17, 2007

Kamis 22 maret 2007, roadsow ke Blitar, Kediri Tulungagung, dan Trenggalek dimulai. Sebelumnya Saya sama Mahbub transit dulu di kantor perwakilan LKiS di kota Malang. Direncanakan berangkat jam tujuh karena harus ke pesantren APIS Sunan Gondang Blitar tapi karena dibatalkan maka acara pemberangkatan dari Malang diundur jam 09.00. Kesempatan dua jam itu saya gunakan sama Mahbub yang juga pecinta teater untuk bertandang ke komunitas teater K2 UIN Malang. Sebelum akhirnya mendapatkan telpon untuk berangkat tepat pada pukul 09.00.

Perjalanan menuju ke Blitar lumayan lama. Pukul 11.30 kami sampai di tujuan pertama yaitu Pondok Pesantren Nasrul Ulum MAKNU, Blitar. Jam satu siang acara dimulai bertempat di sebuah musholla, para santri menyebutnya Musholla cafe, karena bangunannya yang semi etnik dan ber-AC alami, alias tanpa jendela dan tembok. Apalagi atap jerami padinya yang mengingatkan pada cafee Stall di jalan Kaliurang.

Peserta temu penulis sekamir seratus lima puluhan. Mereka mengikuti acara dengan antusias, bahkan langsung jatuh cinta sama Matapena. Padahal siang itu banyak di antara mereka yang pada puasa. Tapi perut kosong itu tampak tertutupi oleh muka yang ceria dan bersemangat.

Jam empat tim sudah dijemput saudara Wawan dari Lakpesdam NU Blitar. Kami diajak transit ke kantor Lakpesdam NU Blitar. Di kantor ini kami bertemu banyak aktivis NU dan yang jelas full food. Bahkan Kang Mahbub juga Saya sempat membaringkan tubuh dan memejamkan mata mencari mimpi di kota Peta itu.

Setelah menikmati sebungkus pecel sore yang khas dengan peyeknya, kami langsung menuju ke Pesantren Al Kamal Kunir. Di tempat ini ada cerita menarik, ketika saya membaca sebuah majalah dinding, ada cerpen berbahasa Arab yang bagus berjudul “Assirwal”. Cerpen yang kemudian jadi bahan diskusi di forum. Alhasil, para santri Al Kamal tertawa ketika saya membacakan cerpen berbahasa Arab itu. “Kalo assirwal aja jadi, mengapa tidak dijadikan Novel?’ Mereka pun manggut-manggut, entah paham entah nggak, saya nggak tahu pasti. Tapi, tak hanya itu, usai acara rupanya ada prosesi penggundulan yang dilakukan oleh keamanan. “Wah kayak santri tomboy kamu Chree,” bisik Kang mahbub. Tapi kali ini yang digundul santri putra loh!

Malam harinya selesai acara, setelah pamitan kami cabut menuju Kediri. Dalam perjalanan tak banyak yang diceritakan, masalahnya gelap, dan saya ikut tertidur karena Kang Mahbub dan Pak Choy juga terleleap. Sehingga yang bangun sepanjang jalan itu cuma Kang Irfan sang pengemudi kuda merah yang kami tumpangi. Bangun-bangun kami sudah di dalam kamar hotel Muslem di kota Kediri.

Selesai sarapan kami langsung cabut ke Pesantren Lirboyo, bertempat di gedung Tri Bakti. Waktu itu hari masih sangat pagi bahkan agak gerimis. Suasana masih sepi. Maklumlah hari itu hari jum’at hari liburnya para santri. Lumayan lama juga kami menunggu di kantor, dan setelah gedebag-gedebug telpon sana, telpon sini akhirnya jam sepuluh acara baru dimulai. Meski waktu sangat mepet dan santri yang datang juga sedikit sekamir dua puluh lima orang kami pun tetap bersemangat. Ngobrol soal Matapena sampe menjelang jumatan.

Selesai jum’atan, dari Lirboyo langsung cabut menuju Ploso. Sampai di Pesantren Queen Ploso Mojo jam 02.00 untuk kedua kalinya kami harus menunggu pengurus mengoprak-oprak santri supaya bangun, maklumlah hari jum’at. Bahkan acara baru bisa dimulai pada pukul 02.30. Sebenarnya mereka sudah menunggu dari jam satu, tapi karena kami molor, mereka pun balik lagi ke kamar. Ya tentu saja, tidur! Dengan peserta sekamir lima puluhan santri acara dimulai. Dialog di Pesantren Queen ini lumayan asyik meski ada juga yang ngantuk. Dan demi membangkitkan suasana, tak jarang saya harus berdiri menulis di papan tulis atau Kang Mahbub yang harus membacakan puisi-puisi cintanya.

Di pesantren Queen acara selesai tepat pukul 16.00. Setelah berpamitan ke pengurus kami bermaksud sowan ke Gus Sabud, putera Gus Miek. Tapi, sayang Gus Sabud ke Surabaya akhirnya kami istirahat di depot Bu Nyai Badriyah. Di tempat itu saya ketemu sama teman karib Saya, Kmed. Setelah numpang mandi dan ngopi juga menyelonjorkan kaki kami langsung melesat ke Pesantren Kemayan yang tidak begitu jauh dari pesantren Queen. Di pesantren berikutnya ini kami sudah ditunggu oleh para santri dan aktivis IPNU dean IPPNU. Setelah sowan Gus Fatih dan berkelakar tentang para santri yang suka corat-coret WC dan bangku kelas acara pun dimulai pada pukul 19.30.

Acara di Pesantren Kemayan sangat interaktif diikuti oleh sekamir seratus lima puluh santri putera dan santri puteri. Acara dialog dengan santri itu pun semakin enjoy karena moderatornya adalah Gus Fatih sendiri yang super heboh. “Mbok ya, santri itu jangan cuma berani menulis ai lopeyu di WC, tapi para santri harus menulis ceritanya dalam bentuk novel…,” yang disambut geerr para santri. Selesai acara yang sampai larut malam itu, kami disuguhi makanan spesial ala pondok, sambal terong. Bak terbawa angina, sambal itu lenyap dari pusarnya, rupanya kami-kami yang juga pernah merasakan pesantren seolah kembali ke masa lalu. Sambal terong.

Di Kemayan sebenarnya kami sudah disiapkan tempat istirahat malam, tapi kami harus menuju ke Tulungagung. Sampai di Tulungagung tengah malam kami istirahat di kantor PMII cabang Tulungagung. Tengah malam kami disambut oleh Kang Abid sang ketum. Kami sempat juga ngopi dan makan gorengan hingga larut malam. Pagi harinya, karena acara baru dimulai pukul 01.00, kesempatan itu digunakan Kang Irfan untuk survei toko buku bersama Pak Coy. Sementara Saya sama Mahbub tidurr abiss.

Jam 12.00 kami sudah cabut menuju Pesantern Panggung. Diikuti tak lebih dari lima puluh santri, acara dimulai. Di tengah hari yang sangat panas dan suasana ngantuk itu, rupanya para santri sangat antusias mengikuti acara. Bahkan mereka tak canggung untuk sharing dan berbagai pengalaman tentang kepenulisan. Apalagi di tempat itu kami diiringi suara gemericik air yang mengalir di bawah gedung, sungguh konstruksi bangunan yang eksotik. Makanya pesantren itu dinamakan Panggung, karena dib awahnya mengalir air sungai yang terus terang kami lupa nama sungai itu.

Selesai acara di Panggung kami kembali ke asrama PMII, menikmati kopi dan gorengan. Kang Mahbub senang sekali, apalagi kopi Tulung Agung khas dengan cetenya. “Wah kayaknya bisa dibikin novel nih, Santri Ce-te,” kelakarnya. Baru setelah isya roadshow pun kami lanjutkan ke Pesantren MIA (Ma’had Ilmu dan Amal) di tempat yang tak jauh dari asrama PMII.

Acara dimulai bakda isya, dengan menunda acara makan malam para santri. Tapi penundaan itu tidak menghalangi semangat santri yang berjumlah dua puluh limaan itu untuk berdiskusi dan curhat tentang kepenulisan. Meski di akhir-akhir acara satu per satu mereka meninggalkan forum. Kami sempat gelisah lho. Eh, setelah tahu kalau mereka kabur untuk makan, kami pun tersenyaum. “Wah dasar santri,” pikir saya.

Tengah malam kami langsung cabut dari Tulungagung menuju Trenggalek. Di kota yang dua pertiga wilayahnya gunung itu kami sampai di tempat tujuan pertama yaitu Pesantren Raden Paku pukul 01.40. Saking ngantuknya saya tidur di dalam mobil sampai pagi, malas pindah ke ruang tamu yang disediakan. Bangun-bangun mobil Kuda merah sudah berada di tengah para santri yang sedang berkegiatan. Saya otomatis keget dan bengong sendirian. Wah, pahlawan kesiangan nih!

Setelah mandi dan sarapan, kami memasuki forum diskusi dan temu penulis Matapena. Sungguh luar biasa! Kami disuguhi pemandangan yang sangat indah. Ternyata ruang diskusi yang terbuka itu berlatar bukit dan sawah yang menghijau. Peserta santri yang berjumlah tiga puluhan orang itu begitu semangat mengikuti acara. Padahal waktu yang disediakan hanya satu jam. Maklumlah roadshow di pesantern Raden Paku memang tidak direncanakan. Dan, jam sembilan pagi kami kemudian cabut dari Raden Paku diantar salah satu aktivis IPNU menuju Pesantren Hidayatutholab Kamulan.

Di pesantren salafiyah itu acara begitu marak. Diikuti oleh tigapuluh orang yang terdiri atas santri dan aktifis IPNU dan IPPNU. Di awal acara Kang Irfan yang juga aktivis IPNU sempat memberikan ucapan selamat atas Harlah IPNU. “Wah kembali ke habitat,” bisik saya ke Kang Mahbub. Meski Kang Irfan setelah mengucapkan selamat tertidur hingga selesai acara…

Dari Hidayatut Thulab, kami langsung menuju Pesantren Qomarul Hidayah Tugu. Sepanjang perjalanan kami papasan sama orang-orang yang mau berkumpul dibalai desa untuk melaksanakan Pilkades. Hari itu serentak di Kabupaten Trenggalek diadakan Pilkades. Bahkan sebagian santri yang seharusnya ikut acara temu penulis banyak yang jadi panitia pilkades. Sampai di pesantren, kami sowan kiai dan ngobrol banyak tentang Pilkades dan politik Indonesia. Kang mahbub manggut-manggut, saya yang tak tahu-menahu tentang politik hanya “inggih dan iya”.

Acara temu penulis Matapena pun dimulai, diikuti oleh tujuh puluh santri. Waktu itu sempat surprise juga melihat antusiasme para santri, secara posisi geografis tempat mereka yang terjepit di antara pegunungan. Bahkan beberapa buku Matapena ternyata tak asing lagi di mata mereka, khususnya santri putri. Malah Gus-nya yang memberi sambutan di awal acara begitu bersemangat memberikan stimulus kepada santri untuk menulis. Wah, horas Gus!

Selesai acara tepat ketika azan ashar berkumandang. Tapi karena hujan lumayan lebat, kami tertahan di ndalem kiai. Kami pun kembali mendengar kiai memberikan pandangan politiknya. Dan, baru setelah hujan reda kami pamitan. Kuda merah langsung melesat menuju Pesantren Darussalam Sumberingin. Tapi, sebelumnya kami shalat maghrib di mesjid kecamatan sembari istirahat barang beberapa menit.

Acara di pesantren Darussalam dimulai bakda isya, setelah sebelumnya kami sowan kepada kiai. Acara berlangsung semarak. Meskipun sempat terhambat oleh mati lampu segala. Maklumlah di hari terakhir itu saya dan Kang Mahbub all out, habis-habisan memberi semangat kepada para santri untuk menulis dan bergabung bersama Matapena. Kang Mahbub dengan puisi-puisinya dan saya yang sering memakai bahasa katrok! Sehingga ketika akhir acara ketika kami ngobrol, ada santri yang nyeletuk, “Wah kayak habis nanggap Tukul ya?”

Malam hari kami menginap di Pesantren Darussalam, dan baru pagi harinya kami berpamitan. Sampai terminal bus, kami berpisah. Kang Irfan sama Pak Coy ke Malang dengan kuda merah. Saya sama Kang Mahbub langsung ke Yogya, tapi mampir dulu ke Madiun di tempatnya saya. Dan, sekian catatan perjalanan saya. Sangat mengesankan!