Monday, April 13, 2009

On Air di Puisi Pro 2 FM RRI

Monday, April 13, 2009
Paling kiri pegang mik; mbak Hanna sang penyiar puisi pro tengah ada mbak Evi Idawati penyair dan pinggir kanan dan paling berdiri; mbak Isma Kazee ketua matapena


Yang pegang mik mas Aprinus Salam (dosen sastra Indonesia dan kritikus sastra) sedang berkomentar tentang pembacaan puisi yang dilakukan para peserta lomba Puisi Pro. Di sampingnya mas Giring salah satu juri lomba hanya tersenyum saja.

Masyarakat bawah pohon; Ahmad Kekal Hamdhani sang penyair bawah pohon, dan gitaris Munajat Sunyi para aktifis Tahlilan Sastra, memukau penonton dengan musikalisasi puisi.

acara berlangsung mulai pukul 19.00 hingga pukul 21.30. semua berjalan lancar. Dari 10 finalis, ada 5 orang peserta yang datang. dan dari 5 peserta yang datang ada 3 juara yang dipilih juri. tapi maap, saya lupa siapa aja yang menang. maaf ya!

0 komentar

Saturday, April 11, 2009

Bedah Calon Novel;

Saturday, April 11, 2009
JEJAK SUNYI PENYAIR DAN NOVEL BELUM BERJUDUL
Sabtu, 4 April 2009 pukul 14.00 lebih sedikit, Rumah Kreatif Matapena kembali ramai. Sembilan orang penulis dan calon penulis melingkar di ruang tengah, ruang yang biasa digunakan untuk ngobrol dan diskusi teman-teman anggota komunitas matapena. Di tengah-tengah lingkaran ada suguhan teh anget, Fried Tahu (atau menurut tulisan di bakulnya Tahu Kentucky) dan irisan buah melon. Zaki Zarung yang membawa diskusi siang itu. Ia memperkenalkan dua penulis yang bakal novelnya akan dibedah. Hadir Humam Rimba Palangka yang sengaja hadir dari Kebumen khusus untuk acara ini. Sedangkan Rendy Jean Satria penulis Jejak Sunyi Penyair berhalangan hadir. Sedang ada acara di Bandung.

Setelah acara dibuka, Rimba mendapat kesempatan pertama untuk memresentasikan novelnya.

“Novel saya ini bercerita tentang peristiwa yang memang benar-benar pernah terjadi pada teman saya. Jadi saya ingin menuliskannya… “

Rimba memulai cerita dengan kisah temannya yang kemudian ia tuliskan dalam novel. Adalah Sunardi, pemuda yang supel, pinter, baik, dan macam-macam lagi. Ia nyantri di sebuah pesantren di Kebumen nyambi sekolah di SMU. Kisah terjadi di SMU. Ada tokoh Vina menarik perhatian Sunardi. Konflik muncul ketika Vina ternyata anak seorang yang dahulu terkena kasus salah tangkap karena dianggap oknum PKI. Sunardi berjuang untuk mengungkap kebenaran itu dan juga berusaha memperjuangkan hak Vina.

Menurutnya tidak ada dosa turunan, ketika orang tua pada jaman dulu melakukan kesalahan, lalu sang anak juga turut memanggul dosanya hingga segala konsekuensi atas dirinya menjadi buruk.

Hujan turun deras dengan tiba-tiba ketika Rimba mengakhiri presentasinya Suara petir dari langit dan deru angin yang kencang di luar Ruamh semakin menjadi. Tepat ketika Fuad memulai proses pembedahan dengan mengemukakan bahwa alur novelnya kurang ada ledakan. Pettt! Matilah lampu. Tidak cuma lampu. Rupanya listrik padam. Karena ruang lumayan gelap, Pijer Sri Laswiji segera bangkit dan mencari lilin serta korek api. Diskusi makin hangat dengan nyala redup dua buah lilin di atas gelas. “Sebelumnya saya mau tanya, Kang. Kenapa sampean mengangkat ide tentang PKI. Lalu di situ juga ada setting pesantren. Tentang ide novel sampean tersebut., sampean sebenernya ingin menyampaikan tentang apa toh? Hubungannya PKI dan dunia pesantren juga. Saya itu belum nangkap utuhnya novel sampean e…” Pijer menambahkan.

Selain itu Pijer juga menilai penokohan dalam novel Rimba masih kurang kuat, karakter tokohnya belum terwakilkan dalam narasi maupun dalam dialog.

Rimba hanya menthuk-menthuk dan mengatakan, “saya akan mencatat masukan-masukan teman-teman untuk perbaikan novel ini,”

Wawan, anggota baru dari PP Luqmaniyah Jogja berkomentar, “tentang judul kok belum ada? Terus perlu adanya pembagian sub tema biar lebih focus, diberi mungkin akan lebih baik kalau diberi subjudul…,”

Tri Wahyuningsih -yang novelnya ‘Jadi Santri’ bakalan terbit- berkomentar, “Teknis penulisan kurang nyaman dibaca, EYD kurang diperhatikan, jadinya bacanya agak terganggu,”

Zaki Zarung berkomentar tentang setting. Menurutnya, penggarapan setting suasana kurang jadi. Sebab kadang ada kata yang ga masuk. Tema tentang PKI yang diangkat penulis sebenarnya sangat bagus, cuman kurang tergarap sejak awal. “Kenapa konflik tentang keluarga Vina dengan latar belakang PKI yang jadi inti tema tidak dimunculkan dari awal,”

Mahbub mengiyakan komentar Pijer tentang penggarapan karakter tokoh-tokohnya. Menurutnya karakter belum tergarap maksimal. Apa yang ingin diceritakan, antara sinopsis denganm novel yang ditulis kurang sesuai. Apa yang diceritakan dalam sinopsis tidak didapatkan dalam novel.

Fuad, “Endingnya kurang logis, kenapa tiba-tiba Sunardi di rumah sakit, sebabnya apa? Kok kayaknya tidak ada hubungannya dengan konflik sebelumnya. Hujan semakin deras. Kritikan atas novel juga menderas. Rimba nampak basah berkeringat geram. Dalam wajahnya menyimpan dendam akan pembuktian, bahwa ia siap mengejutkan pada sesi pertemuan selanjutnya.

“Akan ku buat kalian terkejut dengan evolusi novelku. Sekarang boleh kalian mengguyurku dengan kritik tajam. Esok, kalian akan tercengang melihat kupu-kupu menguar dari novelku. Tunggulah!” kata Rimba dalam hati.

Bahasan novel Rimba selesai. Giliran novel Jejak Penyair milik Rendi Jean Satria yang dibedah. Fuad kehilangan kata-kata untuk mengatakan novel ini tidak bagus. Bahasa indahnya sudah menutup mulutnya untuk menilai aspek yang lain. Namun beda dengan Baroroh yang mengatakan kalau paragraf-paragraf yang disusun panjang-panjang, pembaca menjadi bosan.

Menurut Pijer, penokohan sudah bagus, karakter tokohnya sudah tergarap. Tapi menurutnya ini belum bisa disebut novel, karena belum ada pengembangan konflik. Konflik yang dibangun hanya satu. Lebih dekat dengan sebutan cerpen panjang, katanya. Zaki berkomentar tentang pemakaian kata. Pilihan katanya kadang kurang matching. Misal, plural da konvensional yang disandingkan dengan istilah Indonesia puitis yang kurang ngeh. Ending juga tergesa dipaparkan. Akan lebih asyik kalau dibuat menggantung aja samapi ketika akhirnya karya puisi sang tokoh dimuat di koran, kata Zaki mengakhiri komentarnya.

Ah, lagi-lagi banyak kritik. Namun secara keseluruhan novel ini sudah bagus. Tinggal sedikit digoyang sudah layak diterbitkan.

Hujan mulai reda. Satu persatu peserta bedah calon novel pulang ke kandang masing-masing. Zaki dan Rimba masih tinggal di rumah kreatif menunggu maghrib. Baru setelah maghrib mereka menuju Kotagede menemui beberapa kawan lama; reuni. Dan keesokan harinya ia pulang ke Kebumen membawa bara dalam catatannya.

0 komentar

Monday, March 30, 2009

EMOTIONAL CONECTING ?

Monday, March 30, 2009
; Sebuah Hubungan Yang Tidak Ramah Antara Aku dan Keledai Hitam

Malam setelah haul ke-2 almarhum Gus Zaenal Arifin Thoha aku segera meluncur ke rumah matapena, meski saat itu aku sempat tinggal gelanggang colong playu, demikian istilah Kang Mahbub untuk aku waktu itu karena memang jatahku baca puisi aku tinggal begitu saja. Karena memang waktu sudah larut malam dan aku kira aku tidak lagi kebagian tugas baca puisi. Malam itu juga aku harus istirahat, pikirku karena aku harus mendatangi Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah untuk mengadakan roadshow Matapena.

Pagi hari menjelang bangun pagi aku sudah mengumpulkan tenaga dan menghimpun kekuatan semangat. Berteriak, mengaji, sholawat atau just menyanyikan lagu tanpa syair Slamet Gundono yang memang bagus untuk oleh vocal bersama Zaki dan Kang Mahbub. Setelah itu menyiapkan ubo rampe untuk roadshow; formulir pendaftaran, daftar hadir, dan tetek bengek lainnya. Tepat jam tujuh pagi harus menemani sarapan Zaki yang harus mendongeng di depan lima ratusan santri TPA di Imogiri. Di warung akhirnya kami menemukan ide dongengan Zaki, yaitu kisah Ibnu Hajar yang bisa mengambil hikmah dari proses koneksitas alam dengan manusia. Batu yang berinteraksi dengan air, yang kemudian melahirkan pembelajaran penting bagi manusia tentang konsep sabar, dan tekun dalam mencari knowledge.

Setelah selesai membuat konsep untuk dongeng, kami langsung menuju Pondok Pesantren Nurul Ummah karena aku harus bertemu dengan Irawan Fuadi. Di pesantren itu Fuad sudah siap dengan kendaraan mungilnya yang tak lebih adalah belalang tempur milik satria baja hitam atau Keledai Hitam si Abu Nawwas. Tanpa sepion, tak ada lampu depan, kenalpot pecah dan jok belakang yang tak utuh untuk memuat pantatku yang tidak begitu lebar. Namun prinsipku barokah is number one. Karena motor itu adalah salah satu inventaris keluarga ndalem.

Dan karena keyakinan barokah itu, ternyata kami harus diuji, motor dipancal hidup namun baru berjalan tiga meter tersendat dan muntah asap. Diselah dua kali berjalan lagi ternyata masih ngadat, walhasil aku harus turun dulu dan membiarkan Fuad melatih keledai hitamnya itu berkeliling lapangan karang. Ternyata kendaraan itu perlu pemanasan dengan tanpa beban. Ya, motor itu protes sambil berteriak bahwa sepagi itu telah terjadi pen-dholim-an terhadap dirinya oleh kami. Kami membiarkan miss-conecting, antara mesin dengan kami sebagai manusia, ketika terjadi pendholiman semacam itu kamipun kemudian didholimi oleh waktu, molor!

Setelah kami bisa berakrab ria dengan keledai hitam itu, kami berjalan dengan terseok apalagi harus menuruni tanjakan jalan utara lapangan Karang, tapi semangat jihad kami sebagai militan Matapena tidak pernah surut. Allahu akbar!

Sesampai di pesantren, entah mungkin telah terjadi koneksitas vertical antar motor dan Pesantren itu ketika memasuki gerbang pesantren keledai hitam itu mogok lagi. Beberapa kali kita selah masih mogok, akhirnya saya berkesimpulan meski tidak ada tanda kendaraan harus turun kamipun harus turun! tidak hanya sampai di situ. Fuad harus kembali lagi untuk mengembalikan kamera digital yang sedianya untuk acara nanti. Puh! Tuhan ampuni kami….

Jam 08.51. pesantren masih ro’an, padahal kami mengejar jam 09.00 sebagaimana yang terjadwal. Kami maklum. Kami langsung menuju kantor, di kantor disambut oleh Kang Zaim dan beberapa pengurus lain, sayang aku lupa namanya. Sempat pula aku bertemu dengan Kang Kijun adik kelasku waktu di aliyah, dan dulu pernah satu pondok. Menjelang acara itu perbincangan sekitar pesantren Al-Luqmaniyyah. Bagaimana pesantren yang berada di tengah kota itu mampu berkembang begitu cepat, santri-santri yang kebanyakan membawa laptop, motor dan hape itu tidak gagap bersanding dengan alfiyah dan tradisi pengajian kitab klasik lainnya. Ya, Gus Najib memegang dan berperan utuh untuk menentukan arah roda pendidikan pesantrennya dengan gaya klasik -Kitab kuning- namun tak ketinggalan modernisasi.

Acarapun dimulai sekitar jam 09.40. yang dihadiri sekitar tujuh puluh peserta santri putra dan putri Pondok Pesantren Al-luqmaniyyah. Setelah pembukaan, moderator langsung mempersilahkan kami untuk berbicara, yang terjadi aku hanya menceritakan perjalanan kami di pesantren-pesantren dan pentingnya sebuah komunitas sastra yang berbasis pesantren. Sementara Fuad lebih berbicara bagaimana berkomunitas itu, sebagai genarasi lanjutan dari komunitas Matapena Fuad bercerita banyak mengenai take and give di Matapena, yang telah lenyap senioritas dan yunioritas, matapena adalah sebuah proses bersama untuk menemukan sastra alternative yang berbasis pesantren. Selain itu Fuad juga bercerita tentang fasilitas dan keasyikan ketika bergabung dengan matapena. Pernyataan ini ternyata diamini oleh Orwella yang pernah bergabung dengan salah satu komunitas sastra di Yogyakarta. Kata Orwella yang merupakan santri putri PP Al-luqmaniyyah itu, “membayar tiga puluh ribu, itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan pengalaman dan kebebasan menyampaikan imajinasi dalam bersastra pada sebuah komunitas sastra,” demikian ungkapnya dengan berapi-api. Horas Orwel!

So. Memang hari itu tidak begitu banyak pertanyaan, karena Fuad mencoba mengkoneksikan ruangan itu dalam full imajine, para santri diminta berdiam sebentar meraih sebuah imaji dan menulis sesederhana mungkin untuk kemudian dibacakan di depan teman-teman. Sungguh luar biasa, hampir limapuluh persen para peserta mengangkat tangan ketika diminta membacakan tulisannya, ada yang menulis tentang dialog lugas Kyai gaul dengan santri cool, ada yang menulis tentang mimpi seorang santri ada juga yang menulis kisah cinta di pesantren. Aku berkesimpulan mereka luar biasa semangatnya. Sebagai tambahan aku mencoba menggelitik semangat mereka dengan menjelaskan konsep draft dalam menulis novel, ya tentunya hanya sekilas, karena tanpa terasa adzan dhuhur mulai berkumandang.

Namun aku tidak ikut berjamaah, karena Gus Najib menyandera kami untuk berdialog dan berdiskusi kecil tentang cara memotifasi santri. Dari dialog itu, saya menemukan sebuah konsep yang bagi saya sangat luar biasa untuk diterapkan di Matapena, yang pertama yaitu konsep nasibiyyah yang merupakan konsep penjaringan dan pengelompokan peserta dalam menemukan telenta dan mengukur kemampuan peserta biar tidak terjadi generalisasi. Kedua adalah at-tawazzun bainan-nafsi wal aqli, sebuah keseimbangan antar nafsu (emotional) dan akal yang semuanya bisa bertemu dalam lorong ilmu. Namun puncak dari konsep itu sebenarnya adalah essential yaitu Allah (tasawwuf). Jika keseimbangan nafsu dan akal itu terjadi maka akan terjadi yang ketiga yaitu koneksitas manusia dengan alam yang lahir dari kemutlakan ilmu (Allah). Pembentukan koneksitas itu bisa dilakukan dengan riyadhah (salik, tasawwuf). Dan jika sudah terjadi koneksitas (kearifan, keadilan, dan keseimbangan) antara alam dengan manusia maka tidak mungkin tidak lagi, di muka bumi ini akan terjadi kedamaian hakiki.

Dan kami harus berhenti untuk berdialog, ketika Gus Najib mempersilahkan kami untuk makan bersama. Selesai makan Gus Najib hendak memulai topik dialog baru tapi saya buru-buru harus segera memotong, “Sepuntene, Gus. sauntawis cekap anggen dalem sowan. dalem bade nyuwun pamit…,” dan akhirnya kami bisa menuju keledai hitam lagi untuk pamit. Meski sekali lagi kami harus adil pada motor tua itu, Fuad melatihnya kembali berjalan tanpa beban dulu baru saya ikut naik di belakangnya…

2 komentar