Monday, April 21, 2008

World Book Day 2008

Monday, April 21, 2008
Undangan buat teman-teman Matapena...
Silakan datang dan kunjungi Pameran Komunitas dalam rangka World Book Day 2008 yang bertempat di Museum Bank Mandiri Jl. Lapangan Stasiun Kota No.1 Jakarta Barat dari tanggal 23--27 April 2008.

Jangan sungkan untuk mampir ke stand Komunitas Matapena no: 36. Dalam perayaan hari buku dunia 2008 ini, Komunitas Matapena juga akan mempersembahkan:

Pentas "Opera Pesantren: Laskar Hizib"
Naskah by Shacree M. Daroini
Aktor: Shacree, Ruslan Abdul Ghofur, dan Isma Kazee
Bertempat di Beranda Komunitas World Book Day 2008
Hari Jum'at, 25 April 2008
Pukul: 10.00--11.00


Selain itu, berikut adalah beberapa acara yang akan digelar...

23 April 2008
10.00-11.00 PEMBUKAAN
11.01-12.30 Lomba Berburu Buku dan Talkshow Kecil-Kecil Punya Karya
12.31-13.00 Putar Film
13.01-15.00 Story Telling dan Lomba Menggambar di Dinding
16.01-17.30 Launching Buku Pena Pundi
17.01-17.30 Putar Film

24 April 2008
10.00-11.00 Naskah-Naskah Kuno Batak: Dorothea Sinaga (Majalah Tapian)
12.01-12.30 Putar Film
13.01-15.00 Bahasa Anak, Bahasa Ibu
16.01-17.00 Acara Komunitas Bambu: Book Launching
17.01-17.30 Putar Film
18.01-19.00 New World After World War II sekaligus Bookshining

25 April 2008
10.00-11.00 Pentas Opera Pesantren: Laskar Hizib oleh Komunitas Matapena
12.01-13.30 Putar Film
14.01-15.30 Penulisan kreatif gagas media dan Bukune
15.01-15.30 Talkshow bersama Happy Salma: "Sastra untuk Anak Muda"
17.01-18.30 Talkshow: Literasi di Kampung Badui
18.31-19.00 Nonton Film Jadul: Batavia 1941
26 April 2008

08.00-10.00 Jakarta Trail bersama Komunitas Historia Indonesia
10.00-12.00 Melihat Lebih Dekat Konsep Room to Read CCFI
12.01-13.00 Workshop Pelajaran Bahasa Sindarin oleh Eorlingas
13.01-14.00 Talkshow Membuat Skenario Film sekaligus bookshining
14.01-15.00 Workshop Komik MKI
15.01-17.00 Talkshow: "Harry Potter dan Relikui Kematian"
17.01-19.00 Talkshow: Nikmatnya dunia RPG, dari pembaca menjadi penulis!"
19.01-20.30 Panggung Literasi: Brass Band Museum Bank Mandiri

27 April 2008
10.00-11.00 Ketoprak Sahabat Wacana Keluarga Peka Lingkungan
11.01-12.00 Workshop Membuat Layang-Layang gelombang 1
12.01-13.00 Lakon Anak Permainan Tradisional Simulasi "Hogwarts Class"
13.01-15.00 Talkshow: "Science Fiction Becoming Science Fact"
15.01-16.00 Simulasi Pertandingan Quidditch Match dari Indo Harry Potter
16.01-16.30 PENUTUPAN dan PENGUMUMAN LOMBA TEBAK BUKU

Jangan sampai dilewatkan....

0 komentar

Tuesday, April 08, 2008

Ngobrol dengan Novelis Malaysia, Ummu Hani

Tuesday, April 08, 2008

Hallo, aku Camilla Chisni. Aku ada sedikit cerita mengenai kedatangan Ummu Hani pada hari senin, 7 April 2008 kemarin....!

Jam di kos-ku sudah menunjukkan pukul 08.45 saat aku tergopoh-gopoh ke Fakultas Adab. Uff, untungnya Ummu Hani Abu Hasan, penulis novel Ladang Hati Mustika dan Mangku Tempurung Nenek berkebangsaan Malaysia ini belum menapakkan kaki di Fakutas Adab. Sembari menunggu, aku berbincang ria dengan beberapa teman dari Sanggar Nun.

Tepat pukul 09.30, Ummu Hani beserta rombongan mulai menapaki lantai Adab. Dekan fakultas Adab; Pak Syihab, yang pagi itu didampingi oleh kritikus sastra, Pak Bahrum, menyampaikan luapan kegembiraannya atas kedatangan Ummu dan rombongan serta pada pihak LKiS yang turut hadir. Tak selang berapa lama, Ummu pun dipersilakan untuk bercerita mengenai novel sekaligus perkembangan dunia penulisan Malaysia.

Penulis berusia 25 tahun ini menjelaskan bahwa di Malaysia, para penulis amatlah dihargai, kesejahteraan mereka pun tercukupi. Bahkan bagi mereka yang masuk dalam penulis Perpustakaan Negara, mendapat kehormatan selayaknya Gubernur. Perhatian Pemerintah Malaysia dalam hal penulisan, baik karya sastra maupun akademik, dibuktikan dengan digulirkannya beberapa kebijakan, semisal: Sejak masih belia, anak-anak yang tampak berbakat di dunia tulis menulis diberi pelatihan gratis oleh pemerintah. Mereka di-drill untuk mampu memperbaiki kualitas tulisan mereka di sebuah Sanggar Penulisan. Selain itu, pemerintah Malaysia juga menetapkan beberapa buku yang wajib dibaca oleh semua lapisan murid, dari SD hingga SMA. Beberapa karya yang pernah diwajibkan oleh pemerintah Malaysia adalah karya-karya Pramudya Ananta Toer.

Pada diskusi yang ditranslate ke dalam bahasa Indonesia oleh Saifullah Kamalie, kandidat doktor dari Universitas Malaya, para peserta diskusi tampak antusias. Diantara jajaran peserta diskusi, ada Abidah El Khaliqy dan Hamdi Salad, dua orang sastrawan terkemuka di Indonesia. Diskusi ini pun semakin lengkap dengan kehadiran Isnainiah, dosen jurusan Dakwah STAIN Surakarta yang merangkap sebagai pengurus Forum Lingkar Pena (FLP) Solo dan kawan-kawan dari Sanggar Nun. Pada diskusi tersebut, muncul beragam pertanyaan maupun statement. Misalnya yang diungkap oleh Abidah, dia mengatakan bahwa sastra di Malaysia cenderung mengapresiasi Islam dalam tataran normatif, belum pada tataran penafsiran holistik. Hal ini mengakibatkan munculnya proteksi-proteksi yang berlebihan terhadap karya sastra. Kondisi yang terjadi di Indonesia amat berbeda dengan hal tersebut. Sastra Indonesia melaju pesat dalam berbagai genre, ideologi maupun segmentasi.

Aku sendiri berusaha menegaskan urgensi sebuah karya sastra lintas negara. Hal ini bisa direalisasikan dalam sebuah antologi cerpen yang menghimpun karya-karya terbaik dari tiga negara berbasis Melayu, yakni Indonesia, Singapura dan Malaysia. Harapanku, hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia yang meruncing dalam tataran politik praktis bisa diminimalisir melalui forum-forum sastra yang mewadahi dan merespon problematika negeri dalam bentuk karya-karya bermutu.

yang baju biru itu aku lho... lagi nandatangani novelku hehe.


Tak terasa, matahari sudah mencapai takhtanya saat diskusi berakhir. Pada dentang 12.30, dengan dua mobil yang disediakan Fakultas Adab, Ummu beserta rombongan, aku, serta dua kawan dari Sanggar Nun, Yudin dan Hadi, berangkat menuju basecamp Matapena. Sesampainya di sana, kami semua disambut oleh para punggawa Matapena dan LKiS, juga teman-teman Penulis Matapena seperti Mahbub, Sachree M Daroini, Zaki Zarung dan Pijer. Beberapa pertanyaan pun muncul, seperti yang ditanyakan Zaki mengenai proses kreatif novel dan bagaimana proses pembinaan tulis menulis di Malaysia. Mbak Retno mempertanyakan mengenai bagaimana bentuk apresiasi pemerintah terhadap penulis dan karya sastra. Pertanyaan tidak melulu dari kawan-kawan LKiS ke Ummu. Ummu pun banyak bertanya mengenai penerbitan di Indonesia, terutama yang sedang dilakoni kelompok penerbit LKiS.

bareng penulis Matapena, ada aku, Sakri, Pijer, Zaki,
Mahbub juga temen2 LKiS, dan dari Sanggar Nun.


Yup, guyuran hujan dan lecutan petir merendengi keasyikan diskusi yang diakhiri pada pukul 13.40 ini. Usai diskusi, rombongan tidak langsung pulang karena hujan deras. Setelah ditunggu sekian lama dan hujan tak kunjung reda, kami nekat pamitan dan sedikit demi sedikit laju mobil mulai menjauh dari base camp Matapena.

Tak berselang lama, demi meredam nyanyian perut yang sedari pagi belum disuplai, kami mampir ke Ayam Bakar Wong Solo. Uhh, nikmatnya nasi gratisan... ^_^

Jarum jam tepat di angka 4 saat rombongan Malaysia mulai berhenti melempar joke dan menyalami kami satu per satu. Ah, tinggal aku, Yudin, Hadi dan Pak Sopir sekarang...
”Eh, tadi buku yang dikasih Matapena nggak kubawa ya?” Aku baru ingat!
Yudin meringis, ”Kayaknya ketinggalan di LKiS, Mbak!”
Sudah begitu, belum sempat tarik nafas dua kali...
”Hey, ini jalan menuju rel Timoho kan?” Wajahku mendadak pucat.
Temen-teman Sanggar Nun mengiyakan dengan nada khawatir. ”Mang kenapa lagi Mbak?”
Sembari menjinjing tas, aku berkata terburu ke Pak Sopir, ”Turun di depan aja, Pak. Mila harus les Bahasa Inggris nih. Kelupaan! Telat lagi!”
”Hahahahaa....” Kawan-kawan Sanggar Nun malah menertawakan muka pucat dan sifat pelupaku. Uuuh! BY: CAMILLA CHISNI

5 komentar

Sunday, April 06, 2008

“No, I’m not the girl who always makes trouble.”

Sunday, April 06, 2008
Judul: Girl Makes Trouble
Penulis: Restu RA
Tebal: x + 183 hlm
Cetakan I: April 2008


Di mata teman-teman, para guru, juga ibu nyai, Fina adalah “GMT”. Alias Girl Makes Trouble. Gara-gara kebiasaannya nongkrong di kantin saat jam pelajaran berlangsung. Suka ribut sendiri dengan Ucha saat bu nyai tengah mengajar kitab. Kabur tanpa ketahuan pengawas sudah bukan hal baru lagi buatnya. Terakhir, ia ketahuan membawa Hp yang biasa ia pakai untuk curhat dengan Noval, santri putera.

Tapi, tetap saja Fina tak pernah bisa terima dengan label “GMT” itu. “No, I’m not the girl who always makes trouble,” sanggahnya. Dan, itu coba dibuktikannya dengan sebuah kerja keras demi mengharumkan nama besar pesantren dalam ajang lomba Mading di Surabaya. Meskipun palu “dikeluarkan” sudah siap diketok untuknya.

So, apakah Fina berhasil menghapus label “GMT” itu?


0 komentar