Tuesday, April 29, 2008

Workshop Jurnalistik dan Pentas Teater di Pekalongan

Tuesday, April 29, 2008
Rayon komunitas Matapena baru yang langsung unjuk gigi barangkali hanya Juspek Community yang berbasis di Pekalongan. Juspek Community, begitu teman-teman menyebutnya, kepanjangan dari Jurnalistik Pekalongan Community, adalah follow up dari pelatihan Jurnalistik oleh Komunitas Matapena.

Pelatihan Jurnalistik ini digelar tanggal 28-30 Maret 2008 bekerja sama dengan PMII STAIN Pekalongan dan IPPNU Pekalongan. Diikuti oleh perwakilan SMA dan Madrasah Aliyah di Pekalongan yang berjumlah 30 anak, bertempat di Gedung sekolah YMI Wonopringgo. Dengan fasilitator Zaki Zarung dan Restu RA.

Satu minggu kemudian, bersamaan dengan digelarnya Pemeran Buku Nasional di GOR Pekalongan tanggal 5-10 April 2008, Juspek Community mementaskan naskah teater “Girl Makes Trouble” karya Zaki Zarung gubahan dari novel yang ditulis oleh Restu RA. Meskipun tanpa workshop teater, berkat semangat dan keseriusan mereka untuk berlatih, juga arahan dari Mbah Marijan dan Laila, mereka berhasil membuktikan bahwa remaja memang menyimpan banyak talenta dan potensi. Dengan iringan tabuhan rebana dan zimbe, setiap aktor tampak berusaha untuk total berperan di atas panggung.

Adalah Nida yang berperan sebagai Fina. Dalam sesi berbagi pengalaman usai pentas, ia menuturkan kebanggaan hatinya bisa tampil di atas panggung memerankan tokoh utama dalam novel GMT itu. “Fina itu girl makes trouble. Tapi itu hanya cap, karena sebenarnya dia punya potensi di bidang mading,” jelasnya.

Sementara Laila, mengungkapkan rasa bangganya atas semangat teman-teman Juspek Community. “Lokasi yang jauh tak menyurutkan langkah mereka untuk terus latihan, hingga terpentaskannya teater sederhana ini,” akunya dengan mata berbinar.

0 komentar

Thursday, April 24, 2008

Keriangan dalam Bedah Novel Ning Aisya
dan Jadilah Purnamaku, Ning

Thursday, April 24, 2008
13 April 2008, gegap gempita sastra pesantren bergema di bumi Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang. Lautan ilmu yang berisikan tinta-tinta mulia sesuai dengan titah KH. Wahab Hasbullah pendiri Bahrul Ulum yang tertuang dalam surat al-Kahfi ayat 109 mulai terbaca. Minggu yang tercatat dalam benak-benak santri jadi saksi tersendiri, kalau sastra pesantren mulai meretas dalam dada mereka. Bedah novel dengan tema “Menguak Keajaiban Pesantren Melalui Pena” agaknya menjadi testimoni dalam perjalanan sastra Indonesia. Trilogi Ning Aisya yang ditulis oleh Camilla Chisni dan Jadilah Purnamaku Ning oleh Khilma Anis, menjadi bukti, pesantren tak hanya berkutat dengan tradisionalisme, lebih dari itu ternyata santri bisa meramaikan kancah dunia modern.


Kedua penulis muda berbakat tersebut merupakan kakak kelas saya di PP. Bahrul Ulum dan menempuh lintas pendidikan di MAN Tambakberas Jombang. Usai acara dibuka oleh sambutan panitia dan pengasuh, bedah novel yang merupakan rangkaian dari acara Mentoring yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Alumni Bahrul Ulum (Himabu) ini, segera diambil alih oleh saya selaku moderator.

Bedah novel Trilogi Ning Aisya (TNA) dan Jadilah Purnamaku, Ning (JPN) dimulai dengan paparan dari Pembanding, yakni Dra.Nur Faizah, guru bahasa Indonesia di MAN Tambakberas Jombang. Bu Nunung, begitu ia akrab disapa, pertama kali mengupas mengenai JPN. Bu Nunung mengatakan bahwa Khilma dalam kapasitasnya sebagai alumni kelas Bahasa, banyak menggunakan diksi yang sarat metafor. Kedekatan Khilma dengan dunia pewayangan, mengantarkan JPN sebagai novel yang penuh dengan deskripsi pewayangan yang terkadang membuat orang harus mengerutkan dahi. Kritik yang kemudian dilontarkan Bu Nunung pada Khilma adalah mengenai banyaknya kata-kata berbahasa Jawa yang sulit dimengerti karena berhubungan dengan dunia pewayangan. Dan meskipun sudah ada terjemahannya, peletakan terjemahan pada end note, membuat pembaca harus membolak-balik JPN agar mengerti kata-kata tersebut. Selain itu, Bu Nunung juga sedikit dibingungkan oleh penggunaan sudut pandang, ada kalanya menggunakan sudut pandang orang pertama, ada kalanya menggunakan sudut pandang orang ketiga.

Usai memberikan komentar pada JPN, Bu Nunung mulai membincang TNA. Dalam TNA, Bu Nunung menyatakan kemafhumannya pada bahasa lugas dan kritis yang diusung oleh penulisnya. “Tulisan Ning Mila ini khas anak IPA; lugas,” demikian komentar Bu Nunung. Yang membuat Bu Nunung salut adalah keberanian penulis untuk melakukan kritik dari dalam (internal critic) karena Camilla sendiri merupakan bagian dari pemegang estafet kepesantrenan. Berbeda dengan JPN yang menggunakan alur maju, TNA menggunakan flash back sebagai alurnya. Adapun kritik yang dilontarkan terkait dengan TNA adalah munculnya kesulitan dalam membedakan mana kisah yang terbaca dalam agenda dan mana kisah yang terjadi pada saat pembacaan terhadap agenda terjadi, dan ini adalah hal yang mengganggu keasyikan membaca TNA.

Setelah pembedah memberikan komentar, giliran Khilma menyampaikan sedikit cerita mengenai JPN yang mengetengahkan konflik percintaan yang terbelenggu dalam trah pesantren dan trah kejawen dengan Nawang Wulan sebagai tokoh utamanya. Dengan kalimat-kalimat yang lincah, Khilma banyak mengupas mengenai penulisan dan visi Matapena. Khilma menekankan tentang mudahnya menulis dan asyiknya menjadi penulis.

Tak berselang lama, giliran Mila menyampaikan sekelemit kisah terkait TNA. Mila mulai berbicara dengan berdiri di depan forum dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan atraktif sehingga forum menjadi lebih hidup. Dalam pemaparan singkatnya, ia menekankan bahwa menulis merupakan sebuah proses. Kadang mudah, kadang susah. “AA. Navis mengirimkan 99 cerpen dan kesemuanya ditolak. Sampai akhirnya, Robohnya Surau Kami, menjadi cerpen pertamanya yang diterima publik,” tandasnya. Terkait dengan TNA, penulis yang kini sedang menyelesaikan studi S2 di UIN Jogja ini mengungkapkan bahwa TNA dibangun berdasarkan pembacaan Aisya atas masa lalunya. TNA merupakan suatu karya yang mengajak pembacanya untuk berpetualang menelusuri sudut-sudut pesantren dengan melakukan pembacaan terhadap realitas di dalamnya dengan kritis namun tetap santun.

Usai pemaparan tersebut, giliran peserta melakukan tanya jawab. Pukul 13.00, usai pembagian doorprize, 70 peserta bedah buku memberikan applaus untuk ketiga narasumber. Saya pun tersenyum lega, “Alhamdulillah acara berlangsung sukses.” Tak lama, tiba-tiba pundak saya ditepuk seseorang. Sosok yang sudah saya anggap kakak sendiri itu tersenyum cengengesan, “Tar malem anak-anak Himabu kuajak ke rumah. Ya..tahlil ama dinner gitu. Nah, habis ini Iluk bantu-bantu aku ya?” Kutatap Ning Mila dengan cengiran juga, “Ok, Boss!”

Ditulis oleh Asiyah Lu’lu’ul Husna
Mahasiswi Jurusan BI UNY
Penulis puisi “Keraguanku” yang dimuat di Horison, April 2006

5 komentar

Tuesday, April 22, 2008

Diklat Jurnalistik dan Bedah Novel Ning Aisya
Di PP Al-ISLAM Joresan Mlarak Ponorogo

Tuesday, April 22, 2008
Jum’at, 11 April 2008, Pondok Pesantren Al-Islam Joresan Mlarak Ponorogo dibuat geerr oleh kedatangan penulis muda yang selalu tampak ceria, Camilla Chisni. Gadis bernama asli Nisa’ul Kamilah Chisni ini sengaja menginjakkan kaki di bumi Ponorogo untuk memenuhi undangan OPMI (istilah lain untuk OSIS) dalam rangka Diklat Pers dan Jurnalistik & Bedah Novel Trilogi “NING AISYA”.

Di hari sebelumnya, Muhammad Adib Rifa’i, jurnalis sekaligus konsultan teknologi informasi di Ponorogo menularkan keahlian jurnalistiknya pada 150-an peserta. Dan Bedah novel ini merupakan penghujung dari rangkaian acara tersebut. Meski sebagai acara penghujung, para peserta justru makin antusias dan semangat hingga acara ini selesai. Dan yang menjadi motivasi terbesar dari peserta adalah adanya bedah novel yang langsung dikupas oleh penulisnya dari Yogyakarta, begitulah tutur Usman Wahyudi selaku panitia.

Tepat pukul 09.00, acara bedah novel dibuka oleh sang moderator Nurdiana santri kelas II Aliyah. Tak lama kemudian, Camilla menunjukkan kepiawaiannya dalam mengelola dan menggairahkan forum dengan berdiri di depan peserta dan berinteraksi langsung dengan mereka. Ia mengawali penuturannya dengan bertanya, “Ayo, yang suka nulis di agenda angkat tangan...” Dan para peserta pun mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. Dalam penuturannya, Camilla banyak melempar joke, pertanyaan bahkan bisa tertawa lepas di depan forum. Para peserta pun tampak antusias ketika Mila meminta mereka untuk tunjuk tangan dan mengungkapkan realitas negatif yang terdapat di pesantren. Mila pun menghubungkannya dengan petualangan Ning Aisya yang mencoba untuk mencari paradigma alternatif dalam memaknai sebuah problem di tubuh pesantren.

“Misalnya ada santri yang pacaran trus langsung dikeluarkan dari pondok, apa dia akan menjadi lebih baik?” demikian salah satu pertanyaan yang langsung direspon dengan beragam jawaban. “Dunia kita tidak hanya memiliki dua warna, hitam dan putih. Di sana ada abu-abu, kuning, coklat, dan sebagainya. Maka kenapa kita selalu memandang setiap masalah secara hitam putih?” Mungkin itulah yang menjadi misi Mila. Ia adalah orang yakin bahwa tidak ada kesempurnaan yang instan, semua butuh proses dan perjuangan.

Setelah berhasil membuat peserta Bedah Buku melempar applause berkali-kali, giliran Bu Tutik, guru Bahasa Indonesia yang mendapat jatah untuk menelaah Ning Aisya. Dalam pemaparannya, Bu Tutik memberikan ulasan mengenai urgensi sastra dan pengharapannya terhadap anak didiknya ke depan agar bisa seperti Aisya.

“Ning Aisya memang sedikit nakal, tapi nakalnya adalah nakal dalam rangka pencarian jati diri dan dia bertanggung jawab atas pencariaannya tersebut. Ning Aisya adalah prototipe anak yang selain cerdas, penuh prestasi dan penuh rasa ingin tahu, dia juga orang yang tidak mengandalkan trah kepesantrenan dan bisa maju tanpa embel-embel bapaknya yang seorang kiai.”

Sebelum season tanya jawab dibuka, Camilla memberikan intruksi agar peserta membuat puisi dan berani membacakannya di depan forum. Keantusiasan peserta terlihat pada sesi tanya jawab, mereka saling berebut untuk menyampaikan berbagai pertanyaan dan pendapat mereka, ada yang bertanya mengenai proses kreatif, penggalian ide, penokohan, hingga pada pertanyaan mengenai nilai-nilai apa yang ingin diungkap oleh penulis melalui novel Ning Aisya. Dengan senyum yang khas, Mila menjawab pertanyaan demi pertanyaan sembari menegaskan kembali mengenai pentingnya mencari jati diri dengan mengungkapkan maqolah, “seorang pemuda bukanlah orang yang bangga mengatakan inilah bapakku, tapi yang dengan tegas mengatakan inilah aku!”
Di akhir acara, Mila mempersilakan para santri utuk unjuk kebolehan dalam berpuisi. Para santri yang berebut tersebut tidak dapat tampil semuanya karena yang ditunjuk hanya empat orang dan mereka pun mendapatkan reward berupa novel. “Waw, bagus-bagus ya puisinya!” puji Mila pada peserta yang kontan membuat mereka tersipu.

Dan sebelum rangkaian acara ini ditutup oleh pimpinan pondok Drs. Ali Fikri, M.Pd.I, Camilla memberikan reward kepada Sriyanto sebagai penanya terbaik. Pada dentang ke-11, setelah acara usai para peserta langsung menyerbu penulis guna mendapatkan tanda tangan. Akhirnya, dikarenakan ada jum’atan, panitia mempersilahkan santri putra untuk meminta tanda tangan terlebih dahulu. Lucunya, di tengah-tengah kerubutan santri yang antre tanda tangan. Gadis alumni UIN Malang ini berbisik padaku, “La’, perutku mules. Mo ke kamar mandi. Takut gak keburu.”
“Walah Neng...Aneh-aneh wae!” timpalku sembari mengkode santri putri agar tanda tangannya di asrama saja.

Ah, jum’at yang indah...
Azan pun mulai bertalu menggetarkan naluri ubuddiyah...

Ditulis oleh Lailatu Rohmah, S.Pd.I
Mahasiswi S2 MKPI, pembimbing bagian Bahasa OPMI dan Forum Ilmiah Santri PP.Al Islam Joresan Mlarak Ponorogo.

4 komentar