Tuesday, August 01, 2006

Menjadi Dewasa? So What ...

Tuesday, August 01, 2006
Judul: Jerawat Santri
Penulis: isma kazee
Tebal: vi + 196 halaman
Cetakan I: Agustus 2006

Apa yang akan kamu lakukan ketika di usia 15 tahun, kamu belum juga menemukan tanda-tanda kedewasaan, fisik dan psikis, pada dirimu? Masih pakai kaos dalam, sementara teman-teman yang lain sudah pakai bra? Belum kenal bedak apalagi merasa suka sama cowok? Sibuk membayangkan bagaimana menstruasi itu, sementara teman-teman kamu sudah sibuk memilih pembalut yang cocok? Kira-kira, kamu akan biasa-biasa saja, atau jangan-jangan akan gelisah dan cemas seperti Launa?
Yap! Launa memang cemas. Meskipun ia tahu persis usia datangnya perubahan fisik dan psikis pada seseorang tak bisa disamakan. Apalagi belakangan tambah banyak saja pertanyaan dan gojlokan yang muaranya ke tanda-tanda kedewasaan itu. Membuat Launa sadar betul kalau dirinya memang telat! Karena di antara 30 anak yang menghuni kamar Pena 4, kamar yang ia tinggali sejak pertama masuk pesantren, cuma dirinya saja yang masih “anak-anak”, belum menstruasi! Lengkap sudah kecemasannya. Dan, sejak saat itu ia terus bertanya-tanya: Kapan aku bisa seperti mereka?
Ini adalah potret psikologi seorang Launa yang tinggal di pesantren. Pada saat ia jauh dari orang tua, ternyata sahabat adalah sosok kedua yang bisa berperan dalam proses kedewasaannya. Dari sekadar menjadi tempat bertanya tentang bagaimana memakai pembalut yang benar, tentang cinta, sampai tempat belajar untuk menentukan pilihan sikap. Yang jelas, karena sahabat juga, Launa menjadi paham, kalau usia tua itu pasti, sementara dewasa adalah pilihan ;))

0 komentar

Wednesday, July 26, 2006

Asyiknya Ikutan Workshop!

Wednesday, July 26, 2006
Sebelumnya aku tak pernah menyangka akan mendapat kesempatan dari Matapena, untuk bergabung dalam workshop penulisan skenario, 21-24 Juli 2006 di Wisma Eden II Kaliurang, bareng Hanung, Aristo, dan Agus Noor. Makanya, ketika aku dihubungi, sedikit merasa tidak percaya diri gitu. Apalagi, aku terbilang baru dalam dunia tulis-menulis.
Dapet temen baru, itu pasti. Temen-temen yang pinter nulis lagi. Dapet ilmu dan pengalaman, tentu iya. Dari para pakar perskenarioan lagi. Mataku benar-benar dibikin melek deh, sepulang dari workshop itu. Melek dunia tulisan. Soalnya, kalau aku bilang, teori nulis skenario ternyata bisa juga dipakai buat nulis cerita fiksi genre novel. Bisa bikin tulisan lebih sistematis dan fokus.
Misalnya, gimana dari awal kita musti sudah menemukan apa ide dan premis dari tulisan kita. Mau nulis apaan sih... Nah kalau yang ini sudah ketangkep, seterusnya jadi enak dan lancar aja kayaknya. Juga, pembagian dari opening, plot point I, plot point II, sampai ending. Belum lagi kalau teori sekuen juga diterapkan. Biar babakan-babakan jalan ceritanya jadi enak dibaca. Mengalir dan runtut.
Aha! Ngomongin teori emang gak ada susahnya. Tapi, jangan kira praktiknya juga gampang. Hihihihi... Soalnya dalam praktik sudah melibatkan waktu, mood, dan pikiran... But, itu sudah murni urusannya aku, yang pastinya punya niat 100% bersedia mempraktikannya dalam proses kepenulisan. Nah, kalo urusannya Matapena, mmm... terima kasih aku ya... for everything-nya... ;))

0 komentar

Saturday, April 01, 2006

Ketika Demi Cinta Harus Berkorban

Saturday, April 01, 2006

Judul: Coz Loving U Gus. Penulis: Pijer Sri Laswiji. Tebal: viii + 194 halaman. Cetakan I: April 2006

Cinta tidak memberikan apa-apa kecuali hanya dirinya Cinta pun tidak mengambil apa-apa kecuali dari dirinya Cinta tidak memiliki ataupun dimiliki Karena cinta telah cukup untuk dicinta (Kahlil Gibran)

Rara hafal sekali puisi itu. Malah di luar kepala. Tidak cuma edisi Indonesianya, Inggrisnya juga iya. Habis yang pertama memperkenalkan puisi itu kan gusnya, Gus Azka. Putera Romo Yai yang bisa bikin ia gemetar, kaku kemerah-merahan, bingung, dan grogi banget, hanya dengan mendengar nama dan suaranya.
Pantesan kalau Rara kemudian jadi berubah total. Dari aktivis kampus yang cuek bebek sama pondok, suka molor pagi hari emoh ngaji, suka sembunyi-sembunyi melanggar peraturan, eh… jadi Rara yang santri abis! Siap-siap jadi Ibu Nyai gitu. Jadi Bidadarinya Azka. Persis sama namanya, Haura. Artinya kan Bidadari.
Tapi, masak iya sih Rara bakal jadi Bidadarinya Gus Azka?

0 komentar