Wednesday, July 26, 2006

Asyiknya Ikutan Workshop!

Wednesday, July 26, 2006
Sebelumnya aku tak pernah menyangka akan mendapat kesempatan dari Matapena, untuk bergabung dalam workshop penulisan skenario, 21-24 Juli 2006 di Wisma Eden II Kaliurang, bareng Hanung, Aristo, dan Agus Noor. Makanya, ketika aku dihubungi, sedikit merasa tidak percaya diri gitu. Apalagi, aku terbilang baru dalam dunia tulis-menulis.
Dapet temen baru, itu pasti. Temen-temen yang pinter nulis lagi. Dapet ilmu dan pengalaman, tentu iya. Dari para pakar perskenarioan lagi. Mataku benar-benar dibikin melek deh, sepulang dari workshop itu. Melek dunia tulisan. Soalnya, kalau aku bilang, teori nulis skenario ternyata bisa juga dipakai buat nulis cerita fiksi genre novel. Bisa bikin tulisan lebih sistematis dan fokus.
Misalnya, gimana dari awal kita musti sudah menemukan apa ide dan premis dari tulisan kita. Mau nulis apaan sih... Nah kalau yang ini sudah ketangkep, seterusnya jadi enak dan lancar aja kayaknya. Juga, pembagian dari opening, plot point I, plot point II, sampai ending. Belum lagi kalau teori sekuen juga diterapkan. Biar babakan-babakan jalan ceritanya jadi enak dibaca. Mengalir dan runtut.
Aha! Ngomongin teori emang gak ada susahnya. Tapi, jangan kira praktiknya juga gampang. Hihihihi... Soalnya dalam praktik sudah melibatkan waktu, mood, dan pikiran... But, itu sudah murni urusannya aku, yang pastinya punya niat 100% bersedia mempraktikannya dalam proses kepenulisan. Nah, kalo urusannya Matapena, mmm... terima kasih aku ya... for everything-nya... ;))

0 komentar

Saturday, April 01, 2006

Ketika Demi Cinta Harus Berkorban

Saturday, April 01, 2006

Judul: Coz Loving U Gus. Penulis: Pijer Sri Laswiji. Tebal: viii + 194 halaman. Cetakan I: April 2006

Cinta tidak memberikan apa-apa kecuali hanya dirinya Cinta pun tidak mengambil apa-apa kecuali dari dirinya Cinta tidak memiliki ataupun dimiliki Karena cinta telah cukup untuk dicinta (Kahlil Gibran)

Rara hafal sekali puisi itu. Malah di luar kepala. Tidak cuma edisi Indonesianya, Inggrisnya juga iya. Habis yang pertama memperkenalkan puisi itu kan gusnya, Gus Azka. Putera Romo Yai yang bisa bikin ia gemetar, kaku kemerah-merahan, bingung, dan grogi banget, hanya dengan mendengar nama dan suaranya.
Pantesan kalau Rara kemudian jadi berubah total. Dari aktivis kampus yang cuek bebek sama pondok, suka molor pagi hari emoh ngaji, suka sembunyi-sembunyi melanggar peraturan, eh… jadi Rara yang santri abis! Siap-siap jadi Ibu Nyai gitu. Jadi Bidadarinya Azka. Persis sama namanya, Haura. Artinya kan Bidadari.
Tapi, masak iya sih Rara bakal jadi Bidadarinya Gus Azka?

0 komentar

Wednesday, March 01, 2006

Si Tomboy dari Bilik Santri

Wednesday, March 01, 2006
Judul: Santri Tomboy Penulis: Shachree M. Daroini Tebal: vi + 180 halaman Cetakan I: Maret 2006
Di mata teman-teman santri, Amalia Zarqo’ Zaituna adalah sosok tomboy yang pemberani. Ia paling tidak suka melihat teman-teman puterinya dibuat kalah-kalahan sama anak-anak putera. Sekali saja ia menemukan kejadian itu, tanpa segan-segan ia akan mengeluarkan jurus labrak dan bombardir peluru kemarahannya.
Zarqo’ juga tak pernah bisa diam. Apalagi yang ada hubungannya sama peraturan-peraturan yang mengikat di pesantren. Bakat usil dan ‘nakal’-nya tak pernah jera mengajaknya berpetualang, Meskipun buntutnya adalah berhadapan dengan bagian Keamanan pesantren.
Hingga suatu saat, dengan kamera pinjaman sang kakak, tanpa sengaja ia berhasil merekam pelanggaran yang dilakukan pengurus pesantren, di sebuah alun-alun kota. Dari sinilah petualangan Zarqo’ dimulai. Ia merasa bertanggung jawab untuk membongkar ketidakadilan hukum di pondoknya. Bagaimanapun pengurus adalah santri juga, dan punya kewajiban untuk menaati peraturan. Jika melanggar, sepatutnya juga mendapatkan sanksi.
Tapi, ternyata perjuangan Zarqo’ tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia harus berhadapan dengan semangat nepotisme para pengurus dan image miring tentang kenakalannya. Hasilnya, ia malah dituduh menyebar fitnah karena tanpa sengaja ia kehilangan barang bukti kaset kamera yang terbawa kakaknya. Untunglah, Zarqo’ tak pernah putus asa. Meskipun rambut kepalanya sudah habis digundul bagian Keamanan, ia tetap percaya diri, menjadi sosok tomboy yang pemberani dari Bilik Santri ;))

0 komentar