Saturday, April 01, 2006

Ketika Demi Cinta Harus Berkorban

Saturday, April 01, 2006

Judul: Coz Loving U Gus. Penulis: Pijer Sri Laswiji. Tebal: viii + 194 halaman. Cetakan I: April 2006

Cinta tidak memberikan apa-apa kecuali hanya dirinya Cinta pun tidak mengambil apa-apa kecuali dari dirinya Cinta tidak memiliki ataupun dimiliki Karena cinta telah cukup untuk dicinta (Kahlil Gibran)

Rara hafal sekali puisi itu. Malah di luar kepala. Tidak cuma edisi Indonesianya, Inggrisnya juga iya. Habis yang pertama memperkenalkan puisi itu kan gusnya, Gus Azka. Putera Romo Yai yang bisa bikin ia gemetar, kaku kemerah-merahan, bingung, dan grogi banget, hanya dengan mendengar nama dan suaranya.
Pantesan kalau Rara kemudian jadi berubah total. Dari aktivis kampus yang cuek bebek sama pondok, suka molor pagi hari emoh ngaji, suka sembunyi-sembunyi melanggar peraturan, eh… jadi Rara yang santri abis! Siap-siap jadi Ibu Nyai gitu. Jadi Bidadarinya Azka. Persis sama namanya, Haura. Artinya kan Bidadari.
Tapi, masak iya sih Rara bakal jadi Bidadarinya Gus Azka?

0 komentar

Wednesday, March 01, 2006

Si Tomboy dari Bilik Santri

Wednesday, March 01, 2006
Judul: Santri Tomboy Penulis: Shachree M. Daroini Tebal: vi + 180 halaman Cetakan I: Maret 2006
Di mata teman-teman santri, Amalia Zarqo’ Zaituna adalah sosok tomboy yang pemberani. Ia paling tidak suka melihat teman-teman puterinya dibuat kalah-kalahan sama anak-anak putera. Sekali saja ia menemukan kejadian itu, tanpa segan-segan ia akan mengeluarkan jurus labrak dan bombardir peluru kemarahannya.
Zarqo’ juga tak pernah bisa diam. Apalagi yang ada hubungannya sama peraturan-peraturan yang mengikat di pesantren. Bakat usil dan ‘nakal’-nya tak pernah jera mengajaknya berpetualang, Meskipun buntutnya adalah berhadapan dengan bagian Keamanan pesantren.
Hingga suatu saat, dengan kamera pinjaman sang kakak, tanpa sengaja ia berhasil merekam pelanggaran yang dilakukan pengurus pesantren, di sebuah alun-alun kota. Dari sinilah petualangan Zarqo’ dimulai. Ia merasa bertanggung jawab untuk membongkar ketidakadilan hukum di pondoknya. Bagaimanapun pengurus adalah santri juga, dan punya kewajiban untuk menaati peraturan. Jika melanggar, sepatutnya juga mendapatkan sanksi.
Tapi, ternyata perjuangan Zarqo’ tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia harus berhadapan dengan semangat nepotisme para pengurus dan image miring tentang kenakalannya. Hasilnya, ia malah dituduh menyebar fitnah karena tanpa sengaja ia kehilangan barang bukti kaset kamera yang terbawa kakaknya. Untunglah, Zarqo’ tak pernah putus asa. Meskipun rambut kepalanya sudah habis digundul bagian Keamanan, ia tetap percaya diri, menjadi sosok tomboy yang pemberani dari Bilik Santri ;))

0 komentar

Wednesday, February 01, 2006

Please, Kiai. I Love Her!

Wednesday, February 01, 2006
Judul: Santri Nekat Penulis: Otto Sukatno Tebal: iv + 176 hlm. Cetakan I: Februari 2006
Jaka tertangkap basah mencuri di pesantren Kiai Hasan. Ia memang babak belur terkena pukulan nyasar para santri. Selama satu bulan, sesuai kesepakatan, ia juga dihukum oleh sang kiai untuk mengelola perairan pesantren ples mengumandangkan azan tiap waktu shalat tiba. Tapi boleh jadi, peristiwa pagi itu merupakan berkah tiada tara buat dirinya. Berkah mendapatkan tempat tinggal dan pengobatan, makan minum gratis, uang jatah tiga ribu rupiah per hari, lingkungan hidup yang lebih terjamin dari sebelumnya, dan berkah mendapat cinta dari puteri kiai yang cantik, Ummu Mufidah.

Masalahnya, bisakah Jaka mempertahankan berkah itu? Termasuk berkah mempersunting puteri kiai? Preman yang tidak jelas asal usulnya. Biasa mencuri dan bermain dengan perempuan, di masa lalunya?

Oho. Kayaknya sih berat! Untungnya Jaka orang yang nekat. Orang nekat biasanya tak kenal kata menyerah. Masa hukuman yang hanya satu bulan, bisa ia ulur hingga berbulan-bulan. Untuk melancarkan jurus maut pada si Ummi, dan untuk membalik logika sepadan bobot, bibit, bebet dalam pernikahan yang dipegang kukuh oleh Pak Kiai. Jaka memang pintar, berhasil membuat orang tua Umi Mufidah itu mengerutkan kening dan berpikir-pikir. ;)

0 komentar