Tuesday, February 07, 2012

WC TERPANJANG #ROADSHOW

Tuesday, February 07, 2012

Dia terlahir dengan nama Muhammad Kholil. Nama yang begitu religius dan dahsyat meskipun sudah tidak asing di telinga kita. Tapi, buat Sahabat kita yang satu ini, nama lahirnya tersebut mengalami "evolusi" sedemikian rupa hingga tidak ada satu frase pun yang mengaitkannya dengan nama (popular)-nya sekarang. Sabda, begitulah kini ia disapa. Dia memang bukan siapa-siapa. Pun tidak sombong dengan menganggap dirinya sebagai siapa. Dan Sahabat-sahabat juga gak perlu khawatir, karena dia adalah Sahabat kita. Pernah dia bilang kepada dunia kalau dia ingin menjadi penulis (semoga keinginannya menyubur…). Sama seperti kita.


sekilas MA Zainul Hasan PI

Kali ini, dalam rangkaian #roadshow Matapena ke Jawa Timur, Kang Peppi dkk. bisa singgah dan silaturrahmi dengan Sahabat-sahabat santri PP Zainul Hasan Genggong Probolinggo, berkat konsolidasi Sahabat kita yang satu ini. Ya, Sabda. Tak kurang dari seminggu, Sabda menyampaikan maksud dan tujuan #roadshow ini ke pihak pesantren. Dalam hal ini merujuk pada Bpk. Haqqul Yaqin, S.Fil.I, MA. Beliau adalah kepala Madrasah Aliyah Zainul Hasan. Entah jurus apa yang dipakainya dalam konsolidasi singkat ini sehingga pihak sekolah yakin bahwa dia adalah “anak yang baik”. Lho? Hehe… (mangap, eh, maap, gurau dikit ya...).


Oke, kembali ke cerita.
Sabda, adalah alumni PP Zainul Hasan Genggong Probolinggo yang pertama kali menyambungkan komunikasi dengan pihak sekolah. Wal hasil, tim #roadshow komunitas Matapena disambut hangat dalam forum yang penuh dengan semangat belajar. Baik secara formal, pun kultural. Meskipun kali ini Matapena hanya bisa bermuwajjahah dengan Sahabat-sahabat santri puteri saja. (Semoga santri putera segera…).

Pada sesi pertama, Kang Peppi Al-Ikhtiqom mecairkan suasana dengan gaya khasnya yang memang sedikit berantakan. Terutama jenggotnya… hehe. Tapi biasanya, jenggotnya itu yang membuatnya susah untuk dilupakan orang. Kenapa? Anggap saja mangkelin…!!! (Sekali lagi, maaph. hihihi). Sementara, peserta forum terpesona dengan performanya di depan dengan alat bantu presentasi yang disiapkan panitia. Semuanya oke, pokoknya.


memukau

“Adakah di antara teman-teman yang memiliki jiwa artis…?” tanyanya. Semua peserta hanya bergemuruh, tanpa jawab. “Jika ada,” lanjutnya, “berarti sama dengan saya. Karena saya memang dilahirkan untuk menjadi artis.” Sontak saja peserta terpingkal-pingkal. Ya, begitulah sedikit tentang Kang Peppi. Dia memang dibesarkan di lingkungan artis-artis (pesantren Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta). Dari menjadi seorang teatrawan hingga menyutradarai beberapa pementasan. Termasuk pementasan-pementasan yang diselenggarakan komunitas Matapena di berbagai even. Dan, film pendek berjudul Hadrah Cinta, yang adaptasi dari novel Hadrah Cinta karya Mbak Pijer Sri Laswiji adalah buah karya pertamanya menuju sutradara kawakan. (Semoga, Amien)

Kembali ke Pesantren Zainul Hasan.
Di sana, di luar acara formal, tim #roadshow berkali-kali diingatkan oleh Sabda, bahwa mereka punya WC terpanjang se-Genggong. Karena penasaran, Kang Peppi membuktikan kesungguhan cerita Sabda. Benar saja, Kang Peppi begitu takjub setelah melihatnya secara langsung. Bahkan, untuk mengobati rasa penasarannya itu, dia mencobanya beberapa kali. Hmmmm, gimana ya rasanya? Hehe. Bagi Sahabat-sahabat Matapena yang juga penasaran, silakan sesekali berkunjung ke sana, dan buktikan sendiri. Tapi itu di asrama putera. Kalo di puteri sama gak ya? Nah, kalau itu, mari tunggu lewat novel-novel yang bakal ditulis Sahabat-sahabat kita di sana. Setujaaaa?!!


seorang peserta yang naskahnya kini dalam proses pembacaan kepala sekolah
dan segera, akan dikirim ke komunitas matapena

Terakhir yang sempat terekam dari Zainul Hasan, adalah harapan panitia akan kunjungan Matapena di lain waktu dan kesempatan. Mereka ingin ada ikatan silaturrahim yang kuat sehingga teman-teman yang lain, yang belum berkesempatan mengenal Matapena secara langsung, pada saatnya mendapat kesempatan tersebut. Nah, jika demikian, silakan teman-teman mengkoordinir yang lain untuk bergabung dengan komunitas Matapena. Sederhananya, teman-teman nantinya akan semakin bertambah kenalan dari berbagai penjuru Jawa, dan kelak se-Nusantara. Dalam rangka menghidupkan tradisi kepenulisan dan sastra pesantren. Dimana secara keseluruhan dibingkai dalam SANTRI INDONESIA MENULIS.[MF

3 komentar

Wednesday, February 01, 2012

DI MALANG TAK MALANG

Wednesday, February 01, 2012
Roadshow Komunitas Matapena kali ini mengambil secara acak di beberapa daerah di Jawa Timur. Titik pemberangkatan awal berlokasi di Malang, tepatnya di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I Gondanglegi Malang. Menurut informasi dari Kang Mahbub Djamaluddin, Raudlatul Ulum Gondanglegi termasuk dari tempat yang dikunjungi Matapena pada Roadshow gelombang pertama, kira-kira pada pertengahan tahun 2007. Di sana pula awal kali Matapena melakukan workshop selain di beberapa pesantren. Ada sejumlah anggota dari Raudlatul Ulum Gondanglegi yang ternyata samapai saat ini masih menetap. Kesemuanya adalah santri puteri.


Di Raudlatul Ulum, kunjungan Matapena kali ini diisi dengan bedah novel MAFIA THREE IN ONE karya Muhammad Mahrus, santri pesantren tersebut yang kini tinggal di Yogyakarta. Acara digelar pertama kali di komplek puteri dengan dihadiri hamper seluruh penghuni asrama puteri. Antusiasme santri puteri begitu hebat menjamu tim roadshow sewaktu forum berlangsung. Barangkali karena buku yang dibedah adalah buah tangan santri sana sendiri. Tampaknya, mereka juga ingin suatu ketika, karya mereka juga akan diapresiasi semacam itu.


Dari raut muka mereka, ada banyak yang ingin diutarakan. Entah dalam bentuk curahatan, tanggapan, pertanyaan, dan sebagainya. Sayangnya, mau atau tidak acara mesti dibatasi. Pun, acara yang dimulai sejak selepas isya’ itu berakhir sekitar jam setengah dua belas malam. Ya… barangkali harus diadakan di lain waktu lagi. Kan tinggal mereka yang menentukannya. Iya, to?


Di malam berikutnya, acara digelar di aula putera. Pesertanya tak kalah banyak, sih. Tapi rata-rata mereka lebih memilih diam. Beda dengan yang puteri. Di sisi-lain, kebanyakan dari santri putera di sana memang relatif masih kecil. Ketika bedah novel berlangsung, sebagian dari mereka cuma bengong. Bisa jadi karena memang mereka nggak nyambung dengan tema diskusinya. Wah, sayang sekali. Tapi setidaknya, beberapa dari mereka yang nyambung masih bisa menghidupkan forum. Bahkan, sebelum acara diakhiri, mereka minta diputarin film pendek produksi Matapena; HADRAH CINTA.[MF]

0 komentar

Saturday, November 12, 2011

Remaja di Hawaii Belajar tentang Indonesia

Saturday, November 12, 2011
Cerita tentang Fall Conference 2011 di Hawaii
Oleh Isma Kazee

Sepulang dari Canada, aku langsung asyik dengan persiapan Fall Conference untuk remaja tentang Indonesian culture, yang pelaksanaannya atas inisiatif Pacific Asian Affairs Council (PAAC). Tepatnya Sabtu, 22 Oktober 2011, sehari penuh. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin PAAC setiap tahunnya, dan kenapa Indonesian culture diangkat sebagai tema, sepertinya karena dua sebab. Pertama, kebetulan karena momen APEC di Hawaii, di mana Indonesia sebagai salah satu anggotanya, dan kedua, karena hasil penelitian Ann Dunham, ibunya Obama, tentang Indonesia tengah digelar di East West Center, dan ini menjadi salah satu tempat yang dikunjungi para peserta.

Keseluruhan program terbagi menjadi dua kegiatan, pertama adalah cultural booth. Ini menjadi tanggung jawab panitia dari Indonesian student. Dimulai pukul 09.00 sampai 11.30 AM. Pesertanya lumayan banyak, ada 200 remaja. Mereka dibagi ke dalam beberapa grup, bergerak secara bergiliran dan berantai ke beberapa pemberhentian. Pemberhentian pertama adalah ballroom, untuk mendengar penjelasan tentang bagaimana sih Indonesia itu, lalu menuju ke pemberhentian kedua yaitu music gamelan di art bulding. Berlanjut ke East West Center gallery untuk melihat pameran kerajinan Indonesia, dan pemberhentian terakhir adalah cultural booth yang ditungguin sama mahasiswa Indonesia. Setiap grup, mereka dibagi ke dalam tiga kegiatan: bermain, memakai baju daerah, dan menari. Setelah grup pertama ini selesai, grus kedua datang menggantikan giliran, begitu seterusnya. Per grup mendapat jatah 15 menit doang. Singkat banget.

banyak peserta, kami kuwalahan hehe
menjelaskan tentang peta Indonesia

Sayangnya, mahasiswa Indonesia yang terlibat tak begitu banyak, kurang dari 10 orang kalau tak salah. Biasa, dengan alasan sibuk mengerjakan tugas atau alasan lain. Padahal, menurutku ini momen bagus untuk promote Indonesian culture, sasarannya remaja lagi. Mungkin karena pekerjaanku di rumah berhubungan juga dengan remaja, aku jadi tertarik dan suka sekali. Para ABG Hawaii itu juga tampak sangat menikmati. Bermain lompat tali dengan tali karet yang dianyam. Lucunya, ada seorang guru yang tampak antusias ingin belajar bagaimana menganyam karet untuk lompat tali. Roma yang kebagian tugas menjaga stand ini, tampak lihai melompati tali dan menantang teman-teman untuk melompat setinggi-tingginya. Dan berhasil, hehe. Anak-anak itu jadi tertantang untuk ikut juga jumpalitan.

lompat tali
lari-lari tali hehe

Di bagian baju daerah, kami menyediakan seragam tari saman, kebaya, baju bodo, baju Bima, baju palembang dan baju Jawa. Tak banyak koleksinya, itu pun memakai baju koleksi pribadi. Tapi, tetap seru! "Do you wanna try this?" kami menawarkan. Dengan berbinar mereka menjawab, "Sure." Mulailah kami sibuk melayani hehe. Pasang ini dan itu, lalu dipotret. Mereka kelihatan cantik dan elegan. Komentarnya macam-macam, tapi rata-rata mereka mengatakan, "wow, it's hot." Hehe, maklum. Biasanya pakai tengtop, trus pakai kebaya dan jarik, jelas berbeda rasanya. Mereka juga bertanya, kapan kostum ini dipakai, untuk harian atau pada event tertentu. Atau bertanya, bagaimana cara membuatnya, terbuat dari apa dan lain sebagainya.

stand baju daerah
panembahan senopati bule hehe
nona-nona bermata sipit pakai baju daerah
calon miss universe nih anak, tinggi, cantik hehe

Booth yang ketiga adalah belajar menari poco-poco. Arum yang menjadi pengajarnya. Tadinya sempat bermasalah dengan sound system. Aku sampai naik ke kamar untuk ambil laptop gedeku supaya suara musiknya bisa lebih kenceng. Tapi, syukur bantuan alat-alat sound system segera datang. Seru dan ramai. Meskipun gerakannya sederhana, poco-poco lumayan menantang juga. Karena gerakannya ngebit juga musti ingat apakah bergerak ke kanan atau ke kiri. Aku suka sekali poco-poco, dan karena Arum sendirian, aku kadang bolak-balik, dari booth baju daerah ke booth tarian. Untuk info tentang poco-poco, kami sediakan pamflet yang bisa mereka baca.

menari poco-poco
penari Gandrung

Lalu, bagian kedua dari Fall Conference ini dimulai pukul 13.00 sampai 16.00 berupa Quiz contest tentang APEC dan di sela-sela menunggu pengumuman pemenang, kami menari Gandrung, tarian khas Lombok. Debut pertama grup Cinta Indonesia dengan tari Gandrung. Selesai acara, capekku luar biasa. Tapi senang dan puas, selain karena bisa memperkenalkan budaya Indonesia juga belajar tentang kemasan kegiatan menarik untuk remaja :))

1 komentar